Langsung ke konten utama

Suara-suara yang Ditiupkan ke dalam Dada (4)

Jusuf An
http://www.kompasiana.com/jusuf_an

Di kamar Gazali kau menemukan banyak buku, majalah, kliping koran, seperangkat komputer dan lukisan kaligrafi di dinding. Ia mengijinkanmu mengetik puisi-puisimu di komputernya kapan saja. Ia juga memberimu alamat-alamat majalah dan koran, dan menyuruh mengirimkan karya-karyamu. Gazali sering pula mengajakmu mengunjungi beberapa penulis yang tinggal di Jogja, yang karya-karyanya pernah kau baca dan kau terkagumi. Disarankannya pula kau membaca buku ini dan itu, mengecek koran hari Minggu, dan dinasehati untuk tetap bersabar jika tulisanmu tidak dimuat.

Hampir segala saran Gazali kau turuti.

“Puisimu bagus, tetapi redaktur tidak menyukainya,” kata Gazali pada Minggu pagi ketika mendapatimu pulang dari loper koran dengan wajah murung. Mendengar itu, semangatmu kembali bangkit. Kau mulai mempelajari karakter puisi yang dimuat di koran dan majalah. Dan bersabar. Hasilnya, sebulan kemudian puisimu terpampang di halaman sastra sebuah koran nasional. Kau nampak begitu bergembira waktu itu. Dan ketika kau terima honor tulisanmu, kau ajak Gazali makan malam dengan menu lele bakar. Kau gunakan pula honor tulisanmu untuk membeli berketeng-keteng rokok mahal dan dua buah buku antologi cerpen.

Kian lama kian banyak tulisanmu yang dimuat di media massa. Tak hanya puisi, tetapi juga cerita pendek dan sesekali esai sastra. Gazali sering mengagumi puisi-puisi dan cerita pendekmu, tetapi tidak untuk esai sastra yang kau tulis. Menurutnya, kau lebih cocok menjadi penulis cerita pendek ketimbang puisi apalagi esai sastra. Katanya lagi, gaya bahasa dan teknik dalam cerita pendekmu ada kemirip-miripan dengan salah seorang penulis peraih nobel sastra. Apa yang Gazali katakan itu kau sadari kebenarannya setelah kau kembali membaca karya-karyamu. Dan sejak itu kau mulai jarang menulis puisi dan lebih sering menulis cerita pendek.

Meski demikian dalam kebencianku dengan kegiatan menulis yang kau lakukan akan tetapi ada saja hal yang aku senangi dari kegiatanmu yang satu ini, antara lain saat melihatmu tergesa-gesa ingin segera merampungkan tulisan dan kemudian mengirimkannya ke media massa. Juga saat kau lupa pada waktu, ingin segera mendapatkan uang, dan berangan-angan menjadi penulis terkenal. Aku sering berkelebat-kelebat di atas kepalamu, menyuruhmu menuliskan ini-itu, memaksamu menjiplak beberapa kalimat penulis lain dengan sedikit mengaburkannya. Ketika kau rasakan pikiranmu buntu membuat akhir sebuah cerita dan kemudian duduk berlama-lama di atas kloset, aku sering membantumu memberikan ending cerita yang buruk tetapi kau sukai. Yang paling membuatku senang adalah ketika aku memberimu ide-ide cemerlang di saat kau tengah shalat. Aku sudah hidup selama ratusan tahun, mengalami banyak kejadian, mempunyai pengalaman hidup yang sangat banyak, hingga untuk sekadar memberimu ide-ide cerita itu pekerjaan yang sangat gampang bagiku. Aku pilihkan beberapa ide cerita dan menghembuskannya ke kepalamu saat kau tengah tegak menghadap kiblat. Ide yang aku hembuskan kemudian akan menempel di kepalamu, mengiang bersama bacaan-bacaan shalatmu. Tapi begitu kau selesai shalat aku akan segera menghapus ide-ide yang aku berikan itu. Hingga kau tak ingat apa pun dan hanya membuat shalatmu sekadar gerakan-gerakan senam.

Sesekali kau bertanya dalam hati, “Adakah orang tuaku pernah membaca cerpen dan puisiku?” Andai pernah, kau yakin, mereka tak akan tahu bahwa itu adalah tulisanmu, sebab kau telah menggunakan nama samaran dan memalsukan tanggal kelahiranmu dalam biodata yang kau lampirkan di setiap tulisan. Kau menebak kalau orang tuamu tak akan setuju kau menjadi seorang penulis. Kau sadari bahwa orang tuamu lebih menginginkanmu menjadi seorang ulama, ahli agama. Berpikir tentang hal itu, sering membuat tidak bisa menulis untuk beberapa hari. Baru kemudian ketika kau melihat tulisan Gazali atau kawan-kawanmu yang lain dimuat di media massa mood menulismu akan kembali tumbuh.

***

Suatu malam (aku sudah menantikan ini sejak lama) ketika kau tengah duduk mengetik di kamar Gazali dan idemu membanjir meminta segera dituang, Gazali tiba-tiba menepuk pundakmu dari belakang. Ia berkata, ingin mengetik tugas kuliah. Kau menjawab sebentar lagi. Namun Gazali seakan tergesa-gesa sekali dan tak bisa menunggumu terlalu lama. Itulah waktu yang menjadi permulaan permusuhanmu dengan Gazali. Waktu yang telah sekian lama aku tunggu.

bersambung….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…