Langsung ke konten utama

Suara-suara yang Ditiupkan ke dalam Dada (5)

Jusuf An
http://www.kompasiana.com/jusuf_an

Peristiwa itu membuatmu jengkel dan tak pernah lagi memasuki kamar Gazali. Selama itu kau banyak menghabiskan waktu di sanggar teater yang kebetulan tengah berencana mementaskan sebuah naskah drama yang mengisahkan tentang ajaran Syekh Siti Jenar. Tahu rencana itu kau tergoda untuk mengikutinya.
Maka, kau ikuti rapat-rapat berikutnya dan tahu kalau pentas itu rencananya akan digelar di beberapa kota di pulau Jawa. Tambah besar keinginanmu untuk ikut sebab sudah lama kau beringinan berkeliling kota. Pasti sangat menyenangkan, pikirmu. Maka ketika diadakan casting pemilihan aktor, kau mendaftar menjadi aktor utama. Seperti yang aku tebak, karena kehebatanmu memeragakan peran dan barangkali karena kau dekat dengan sutradaranya, maka kau terpilih menjadi aktor utama.

Seketika itu pula kau meninggalkan beberapa cerita yang belum kau rampungkan dan hanya menulis ide-ide cerita baru yang terus menderas di kepalamu dalam sebuah buku saku. Kau berlatih pentas hampir setiap malam, joging saban pagi untuk menguatkan fisik, dan tak lupa membaca buku-buku tasawut dan filsafat untuk mendukung keaktoranmu, terutama buku-buku yang berkaitan dengan Syekh Siti Jenar. Dua hari sebelum berangkat untuk pentas keliling jawa, kau teringat rutinitas selepas subuhmu dan khawatir. Tetapi kekhawatiranmu akan dimarahi oleh ayah dan ibumu masih lebih kecil dibanding rasa takutmu kalau-kalau kawan-kawan sanggar meninggalkanmu jika kau mengundurkan diri menjadi aktor utama.

Aku hanya tersenyum-tak bisa tertawa-ketika kau baru menyadari bahwa pentas itu akan dilangsungkan selama sebulan tanpa terlebih pulang ke Jogja. Selama sebulan itu kau mencoba melupakan hal-hal lain yang berhubungan dengan aktor yang kau perankan. Tetapi setelah panggung demi panggung kau naiki hingga pentas selesai, sebagaimana sudah aku duga, kau kembali lagi menjalani rutinitas yang kau lakukan selapas subuh di masjid yang tak jauh dari kamar kosmu itu. Kau juga menanyakan pada Madun, tentang apa yang diajarkan selama kau pergi dan kemudian kau menuliskannya di buku khusus untuk berjaga-jaga jika ayahmu bertanya perihal kitab yang kau pelajari. Selesailah kekhawatiran yang dulu kau rasakan itu.

***

SUATU PAGI, sepulang kau dari mengaji, Gazali menemuimu dan meminta maaf padamu atas kekhilafannya waktu itu. Kau menjabat tangannya dan mengatakan dirinya tak bersalah, meskipun dalam hatimu telah kembali aku bangkitkan ingatan tentang peristiwa menyebalkan tempo hari itu, hingga membuatmu tak sepenuhnya memaafkannya. Gazali bertanya, apa kau tak lagi menulis. Kau menjawab masih. Lalu Gazali melanjutkan, di mana kau mengetik. Di dalam pikiran, jawabmu. Gazali tertawa kecil, kemudian menyuruhmu menggunakan komputernya sebelum ide-idemu terlupakan. Tetapi kau sudah terlanjur jengkel pada lelaki itu. Meski begitu, kau mencoba memendam apa yang kejengkelanmu dan hanya menjawab: Kapan-kapan.

Kapan? Tak pernah lagi kau menginjakkan kaki di kamar Gazali. Jika ingin menulis kau pergi ke rental komputer atau ke kawan lain yang memiliki komputer selain Gazali. Kau begitu giat menulis dan berencana menabung untuk membeli komputer sendiri. Tapi kau tak pandai merawat uang lama-lama. Dan sebelum keinginanmu itu terkabul, kau sudah terlebih dulu menyadari adanya politik sastra yang busuk di media massa serta tak dapat lagi menanggung kesal atas ulah redaktur yang sering mengedit tulisanmu dengan semena-mena sebelum dimuat. Marahmu meledak-ledak tak terelak. Tapi kau tetap menulis, meski mulai jarang mengirimkannya ke media massa. Kau juga mulai menyadari kelemahan-kelemahanmu, terutama perihal seringnya kau terburu-buru merampungkan tulisan, dan mengharapkan honor. Kau ingin menulis tanpa beban. Tanpa mengikuti selera redaktur yang kau anggap polisi jahat yang seenaknya dapat memutuskan mana karya yang layak dan tidak. Sayangnya kau kadang tak bisa memegang prinsipmu. Saat uangmu mulai menipis kau akan kembali mengirimkan tulisan-tulisanmu ke koran dan berdoa agar Tuhan mau meluluhkan hati redaktur untuk memuat tulisanmu. Dan betapa kau kesal, ketika selama lebih dari tiga bulan, setelah kau kirimkan semua cerita pendek dan semua puisi-puisi, tak satupun ada yang dimuat. Mereka, para redaktur sastra itu, sungguh telah memihak para penulis tua, batinmu. Kau ragu apakah redaktur-redaktur koran itu membaca tulisanmu sebelum tidak dinyatakan layak muat atau tidak. Bertambah lebar senyumku ketika kau tak punya semangat menulis selama berhari-hari setelah membatin begitu. Tetapi sungguh, aku masih belum bisa tertawa. Bagaimana aku bisa tertawa? Kau memang tak menulis, tetapi kau gunakan waktumu untuk membaca dan mencatat beberapa judul cerita di buku saku yang kau bawa ke mana-mana. Kau juga masih sering berkunjung ke sanggar teatermu dan di sana, kau akan bermain gitar, menyanyi, dan mengikuti tahlilan puisi. Juga, kau masih rajin mendatangi kedai kopi, sesekali mengikuti kuliah, dan masih rutin bangun pagi untuk mengaji.

bersambung….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…