Langsung ke konten utama

Suara-suara yang Ditiupkan ke dalam Dada (3)

Jusuf An
http://www.kompasiana.com/jusuf_an

“Seperti kebanyakan orang di dunia, aku mengutuk kekejaman Amerika, tetapi seperti kebanyakan orang pula aku tak menyukai jalan perang.” Kau menunduk, lalu membuka-buka koran yang tadi disodorkan Gazali.

“Bukankah Allah telah menyuruh kita memerangi orang-orang yang memusuhi Islam. Jelas sekali itu tercantum dalam surat al-Baqarah ayat 190,” kata Gazali lancar seakan sudah mengatakannya berkali-kali.

“Sepertinya kau belum membaca buku ini,” katamu, setelah mendongak sebentar memandang buku-buku di rak, mengambil sebuah buku dan memberikannya kepada Gazali. “Barangkali kau akan dapat memahami apa itu teks dan realitas,” lanjutmu.

Dengan kasar Gazali menolak buku yang kau berikan itu. Ia mengaku pernah membaca buku itu dan bahkan sudah mendiskusikannya berkali-kali. Ia tetap teguh dengan pendapatnya dengan menderetkan alasan tentang pembenaran jalan perang. Kau seolah sudah tahu isi kepalanya dan malas mendengarkan. Kau hanya menunduk, membalik-balik koran tadi. Dan ketika menemukan sebuah lembaran berisi baris-baris puisi kau berhenti. Kau cukup kaget ketika menemukan nama Gazali tercantum di halaman itu.

“Ini puisimu?”

Gazali yang nampak masih muak denganmu melengos. Setelah kau membaca biodata di bagian bawah puisi di koran itu dan yakin benar bahwa nama Gazali, penulis puisi di koran yang tengah kau baca itu adalah orang yang kini berada di depanmu, kau lantas membacakan puisi itu keras-keras. Kau mencoba menghentikkan ocehan Gazali dengan berlagak bagai pelawak. Dan usahamu itu berhasil. Gazali menghentikan ocehannya. Ia kemudian juga mau mengakui bahwa puisi yang dimuat di koran itu memang puisinya. Tetapi Gazali segera meninggalkanmu setelah kau, dengan tak sengaja, kembali menyulut amarahanya: “Adakah kau sadar bahwa dengan menulis puisi ini sebenarnya kau telah berperang melawan Amerika?” Kau tak tahu kenapa setelah berkata begitu Gazali mendadak merebut koran yang masih kau pegang dan segera menghambur keluar kamar.

Selama berminggu-minggu setelah itu, Gazali tak pernah tersenyum padamu. Ketika tak sengaja kalian bertemu Gazali tak pernah menjawab sapamu. Kau juga sudah berkali-kali memintanya mengajari bagaimana agar puisi bisa dimuat di koran, tetapi Gazali seolah tak mau mendengar permintaanmu. Hingga suatu malam, ketika kau tengah menghisap sebatang rokok yang kau beli dari yang kau pinjam dari seseorang, Gazali kembali mengetuk pintu kamarmu. Ia menjabat tanganmu dan meminta maaf atas sikapnya padamu selama ini. Juga berterimakasih padamu karena kau telah menyadarkannya untuk tidak terburu-buru menafsirkan ayat-ayat Qur’an. Ia mengatakan, sependapat dengan apa yang kau katakan tempo dulu, dan menambahkan bahwa jalan dialog adalah jalan yang terbaik mendamaikan Barat dan Islam. Ia juga mengajakmu makan malam di sebuah warung lesehan di pinggir jalan kemudian menceritakan banyak hal, terutama tentang kawan-kawannya yang tetap konsisten untuk berjihad dengan kekerasan.

“Jarang orang yang berani merubah apa yang dulu diyakini sekalipun telah menyadari akan kelemahannya,” katamu, membesarkan hati Gazali. Gazali tersenyum. Dan obrolan kalian berlanjut. Panjang. Sampai pada obrolan yang paling kau tunggu-tunggu, yakni perihal cara mengirimkan karya ke media massa.

***

BAGIKU, Gazali lebih membahayakan ketimbang Madun. Gazali memiliki aqidah yang begitu kuat. Sebuah jalan keimanan yang sederhana telah ia temukan. Mulanya ia memeluk Islam memang karena doktrin dari kedua orang tuanya, tetapi ia telah berhasil melintasi jurang keraguan yang menghadang setelah ia dewasa. Ia pernah meragukan Allah, tetapi kemudian, setelah ia membaca terjamahan Al-Qur’an dan menemukan banyak keajaiban di dalamnya ia segera kembali mengimani Allah sebagai Tuhan yang tunggal. Aku tahu semua itu dari percapakan antara kau dengan Gazali.

Betapa aku dapat melihat cahaya Qur’an memancar dari dada Gazali. Cahaya yang luar biasa menyilaukan pandanganku dan melemaskan otot-ototku. Tetapi sebenarnya, yang paling menakutkan dari Gazali adalah kegigihannya dalam membandingkan pendapat-pendapat para ahli agama untuk kemudian meyakini salah satu di antaranya yang ia anggap paling benar.

Aku mencoba mencari celah yang bisa kumasuki untuk mengobarkan api permusuhan antara kau dengan Gazali. Berbulan-bulan lamanya tak aku dapatkan celah itu. Hubunganmu dengan Gazali kian akrab, bahkan lebih akrab ketimbang hubunganmu dengan Madun yang justru merupakan kawan sekamarmu. Kerap kau dan Gazali makan malam bersama di angkringan, ngobrol soal buku tanpa saling menghujat. Kalian saling memberikan masukan baik soal puisi maupun masalah kehidupan sehari-hari. Kau kagum ketika Gazali memperlihatkan dokumen tulisan-tulisannya yang dimuat di media massa. “Menulis, selain bisa mengembangkan pikiran juga dapat menambah uang jajan,” jelas lelaki yang tak merokok itu.

Sontak aku berbisik di dadamu: “Tak perlu kau percaya padanya, Rijal. Sudah terlampau banyak penulis di dunia ini. Tidakkah kau lihat, berapa juta buku tercetak tetapi tak terbaca. Pekerjaan menulis akan sia-sia belaka. Negeri ini tak lagi membutuhkan seorang penulis yang hanya berkoar-koar di atas kertas. Negerimu ini butuh kerja yang nyata, Rijal.”

Tetapi kau tak mempercayaiku. Kau membenarkan apa yang dikatakan Gazali bahwa dengan menulis pikiran akan terbuka. Kau ingat apa yang pernah kau baca pada sebuah buku: berpikir merupakan prinsip dan kunci seluruh kebaikan. Berpikir adalah aktifitas hati yang paling afdhal dan berguna. Dan dengan menulis manusia akan selalu berpikir. Akan selalu berguna.

Sial!

Bersambung…….

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan