Langsung ke konten utama

Suara-suara yang Ditiupkan ke Dalam Dada (6)

Jusuf An
http://www.kompasiana.com/jusuf_an

Sampai pada suatu malam, ketika kau bermaksud meminjam uang pada salah seorang kawan, kawanmu itu justru memperkenalkan dengan pekerjaan yang menyenangkan.

“Kau benar tak punya uang, Rijal?” tanya kawanmu.

“Sekadar untuk makan dan rokok satu batang pun aku tak bisa membelinya sekarang. Maklum, tanggal tua.”

“Kalau begitu ikutlah aku!”

“Kemana?”

“Bawa gitarmu.”

Itulah awal mula kau mengenal sebuah pekerjaan yang tak kau duga sebelumnya akan kau lakukan. Mengamen. Dari satu tenda ke tenta makan yang berbaris di trotoar yang buka hanya saat malam, mengucap beberapa patah kata pembuka, memainkan gitar sembari bernyanyi sesuka hati, dan kemudian menyodorkan gelas bekas minuman mineral; koin demi koin kau kumpulkan. Waktu pertama kali kau masuk ke salah sebuah warung dan bernyanyi, suaramu terdengar sumbang, keringat dingin membasahi bajumu. Tetapi pada warung kedua kau mulai merasakan sedikit nyaman, bisa mengontrol nada suara dan tak lagi mengeluarkan keringat, pada warung ketiga dan seterusnya kau begitu menikmati pekerjaan itu.

“Hitunglah, Rijal. Lebih dari cukup untuk sekadar makan malam,” ujar kawanmu, setelah lima belas warung kau masuki. Kau mengeluarkan semua koin dan beberapa uang kertas di gelas bekas minuman mineral itu dan mulai menghitungnya.

“Wah, kita bisa makan lele malam ini.”

“Mungkin lain kali kita bisa makan bersama,” balas kawanmu.

“Uang ini?”

“Itu milikmu.”

“Kau tak butuh?”

“Aku masih ada. Oya, Rijal, kau punya suara dan bermain gitar yang bagus, kenapa itu kau sia-siakan? Kau bisa ngamen sendiri setiap hari di sini.”

“Di sini?”

“Di sepanjang jalan Solo ini.”

“Apa kau yakin aku berani?”

“Apa yang kau takutkan, Kawan?”

Di tempat-tempat lain, seperti Malioboro, depan Benteng Vredeburg, pangkalan-pangkalan angkutan kota, terminal bus, atau di pantai Parangtritis dan Baron mungkin sudah ada pihak-pihak yang menganggap berkuasa dan kemudian melarang siapa pun untuk mengamen tanpa seijinnya. Tetapi, benar, tak ada yang kau takutkan lagi setelah kawanmu itu menerangkan tentang keramahan kota Jogya; siapa pun boleh mengamen, khusunya di sepanjang jalan Solo.

Malam itu, kau akhirnya pergi sendiri ke sebuah warung makan dan memesan lele bakar serta segelas es teh, sementara kawanmu itu sudah terlebih dulu pergi entah ke mana.

Nitse, begitu kau biasa dan senang memanggil kawanmu itu. Tentu saja ada sebab yang membuatmu memanggilnya dengan nama itu. Bermula dari peristiwa di ruang kuliah di mana ia tengah mempresentasikan sebuah makalah filsafat dengan tema nihilisme, dan kau, yang menjadi salah satu pendengarnya memberikan komentar atas apa yang ia sampaikan, terutama berkaitan tentang pandangan-pandangan Nietzhe tentang kehidupan (aku tahu, bahwa kau tak benar-benar paham dengan apa yang kau katakan waktu itu). Belum tuntas kau mengoceh dengan menggerak-gerakkan tangan, sang Dosen memandang jam tangannya, dan beberapa jenak kemudian mengatakan kalau waktu kuliah sudah habis.

“Sebentar, Pak, saya belum selesai.”

“Tapi waktu sudah habis,” kata dosen itu sembari menata tasnya.

“Tadi Bapak masuknya terlambat setengah jam.”

“Tapi ruangan ini akan digunakan untuk kuliah lain. Kau bisa simpan dulu pertanyaanmu untuk minggu depan.” Setelah berkata begitu, Dosen itu mengucap salam dan keluar dari ruangan.

Kau nampak kecewa karena tak diberi kesempatan merampungkan bicara. Nitse menghapirimu sembari tersenyum, dan kemudian mengajakmu ke kantin kampus, dan di sana ia mengajakmu melanjutkan diskusi yang belum selesai di ruang kuliah.

“Menurutku God is Death tak relevan, bahkan sebelum gagasan itu lahir.”

“Tapi tadi di kelas kau katakan bahwa Tuhan hidup kembali pasca 19 orang pembajak pesawat Amerika berhasil menabrakkannya di WTC. Kalau Tuhan hidup kembali berarti ia pernah mati dong,” sanggah Nitse ketus.

“Mungkin aku tak sadar mengatakan hal itu tadi.”

“Tak sadar? Justru menurutku analisamu bagus, Rijal. Aku juga merasakan Tuhan kembali bangkit pasca peristiwa 11 September. Aku yakin, jika Nietzhe hidup sekarang dan menyaksikan tragedi itu, ia juga akan mengatakan Tuhan hidup kembali bahkan dengan kekuatan penuh, dan telah menyulutkan keberanian pada dada-dada manusia untuk berperang.”

“Kau terlalu berlebihan mengagumi Nietzhe, seperti Hitler saja.”

“Kau mungkin juga akan mengaguminya kelak. Aku tahu, kau belum membaca karya-karyanya.”

Kata-katanya yang terakhir itu cukup membuatmu tertegak. Karena tak ingin berbohong, kau hanya memalingkan wajah, menahan malu. Tetapi kau bukanlah orang yang begitu saja membiarkan rasa malu menggerogoti hidup. Kau hanya merasakan malu yang tipis dan tak begitu ambil pusing. Maka, sehari setelah pertemuan itu, kau justru mendatangi kamar kawanmu itu. Di sana kau seratusan buku-buku yang bertumpuk di lantai, sebuah mesin ketik manual, botol-botol kosong, sebuah gitar yang senarnya tinggal tiga, baju-baju bergelantungan di balik pintu, sebuah meja duduk, sebuah poster bergambar Nietzhe berukuran jumbo, dan beberapa lukisan yang dibuat dengan pensil di atas kertas HVS.

“Kau tak pantas menyandang nama Muhammad Shalihin,” ujarmu.

“Aku juga berpikir itu sebuah kecelakaan sejarah. Tapi, apalah arti sebuah nama, begitu Sarkasphere berkata.”

“Kau tentu lebih menyukai aku panggil Nitse, bukan Shalihin, apalagi Muhammad.”

Ia hanya tertawa, seakan mengiyakan kata-katamu.

bersambung….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…