Langsung ke konten utama

RENDEZVOUS– Sebuah buku Antologi puisi

Abdul Wachid B.S. *
http://duniadibalikjendela.blogspot.com/

Antologi puisi berjudul Randezvous, yang diterbitkan oleh Taman Budaya Jawa Tengah 2011, cukup menarik perhatian saya. Dikatakan oleh Wijang J. Riyanto bahwa: “wilayah Banyumas, Semarang, Pati dan sekitarnya, merupakan contoh sebagian wilayah yang memiliki potensi literasi puitik yang patut diperhitungkan dan dicatat.” Ini memang benar sekali, mengingat puisi menampilkan representasi, baik realitas, praktik sosial, maupun makna sosial. Referensial yang dibangun oleh bahasa setiap penyair pada aspek hakikinya adalah ruang yang memiliki entitas.

Puisi memiliki ruang: ada ruang imajinasi, ruang ekspresi, juga tentang cara teks (baca: puisi) berelasi. Ruang bukanlah tempat secara teritorial, ekspresi subjektif maupun praktik sosial yang membentuk wacana telah memobilitas puisi menjadi ruang itu sendiri. Pendeknya, ruang tercipta berdasarkan konstruks sosial, di mana penyair sebagai intelektualitas berusaha untuk menampilkan sisi tertentu berdasarkan pengetahuan dan visi-misinya. Persona ruang itu sendiri akan sangat berbeda antara penyair yang satu dengan yang lainnya dengan pengetahuan dan pandangan memiliki partikel tersendiri.

Ruang yang dibangun oleh A. Ganjar Sudibyo dengan sisi sosial yang disampaikan secara puitik dengan nuansa yang sedikit menyayat. Publik sebagai aktivitas sosial disikapi secara subjektif: naome, kita kini hidup–makan dan tidur di rumah polusi negeri cepat saji. Indeks yang dibangun pada “di rumah polusi negeri cepat saji” menjadi identitas sosial, namun cara menyampaikan dengan seperti berkabar pada Naome sebagai konstruksi emosional.

Begitupun dengan puisi “Senja yang Berbatas” Arif Hidayat, meskipun di situ ruang diinventarisasi karena ada ruang yang digenderkan, yakni posisi perempuan yang di rumah. Representasi perempuan sebagai suatu dunia dalam praktik spasial juga hadir pada Mumamad Baihaqi Lathif dalam Sajak “Suaminya Sejahtera itu Miskin” , Guri Ridola dalam Sajak “Perempuan di Dasar Laut”, Arif Fitra Kurniawan dalam sajak “Sampek-Engtay”, “Ken Dedes-Ken Arok” dan “Lemari yang Menyimpan Ibu”. Adapun sistem sosial perempuan juga ditandai oleh Pandi Subarong, dalam sajak “Perawan Kesorean” dan “Perempuan-perempuan” dengan polanya dihadirkan sebagai mimesis, bukan representasi: dia sang perawan kesorean/mengais sisa-sisa peradaban/ di tengah euphoria jaman bebal. Memang, tidak semua penyair membangun realitas sosial menjadi realitas baru melalui penyatuan imajinasi dan kekuatan emosional di dalam puisi.

Ruang dapat terlihat di mana saja karena bukan tempat, melainkan cara wacana di dalam teks berkelindan untuk menampilkan bentuk kebenaran. Cara Syaiful Arif membentuk style merupakan substansi yang ingin disampaikan secara samar, meksipun tataran ideologis dapat terbaca pada: Oh, di negeri terjajah/ Hanya ada darah// Manusia kalah / Oleh system/ Mereka olah// yang mencoba untuk mengkritisi fenomena modern, yang sesungguhnya juga telah diketahui secara umum. Di dalam pandangan lain, ruang akan berbeda; dengan makna yang terfragmentasi. Konstruksi kode di dalam teks membutuhkan referen sehingga dapat terbaca ideologinya.

Ada juga konstruksi simbolik yang hadir berdasarkan imajinasi. Dimas Indianto S. menyusun simbol-simbol dalam citra romantik. Simbol-simbol itu menjadi kuat dengan adanya wacan religius, seperti dalam sajak “Demi hujan yang Menyudahi Tasbihnya”: Demi hujan yang menyudahi tasbihnya./ Aku lelah menjadi lilin dalam malam-malammu. Cara-cara ini membutuhkan arena imajinasi dan kekuatan wacana yang lebih individual karena kode mengalami pembalikan dan perubahan sehingga tampak begitu sureal. Wiwit Mardianto juga memainkan simbol religi secara konseptual: //Dahan-dahan yang bersujud di hadapan badai/ Tak akan lagi mengenalmu. Karena jiwanya melaju/ Menembus wajah-wajah kotor telaga/ Dan juga sisa waktu yang belum ternoktah sebelumnya//, namun ia lebih imajis dengan membiarkan bayangan ayam berkembang secara natural, yang kemudian secara perlahan telah berada di sisi yang religi.

Puisi berkembang dengan interakis individu dalam relasi sosial, yang bisa saja terlibat dalam praktik-praktinya, atau juga hanya mengamati dengan memaknainya. Maka, yang hadir di dalam puisi adalah proyeksi pandangan seorang penyair, di mana subjektivitas menjadi sudut pandang sebagai sisi dari ruang. Tidak mengherankan, jika ruang yang berbeda dari waktu ke waktu selalu berusaha untuk disuarakan, seperti yang dinyatakan oleh Arif Fitra Kurniawan dalam sajak “Rendezvous” : //bertahun-tahun ruang ini/ membiarkan raungan kita diluapkan usia/ rentangnya membuat bulu-bulu rubuh,/ tabah menadah dingin diwaktu subuh//. Ruang sebagai aktivitas antar entitas dalam setiap susunan kata merupakan poyeksi dari pertemuan internal dan eksternal. Setiap ruang memiliki wacana yang kompleks, tergantung pada setiap penyair melihatnya sebagai fenomena sosial-budaya yang unik, maka sajiannya pun akan berbeda.

Pandangan terhadap agama, kehidupan sehari-hari, dan pengalaman puitis dapat memberi kerangka konseptual pada proses kepenyairan seseorang. Semua itu, terjalin dalam dekonstruksi kata-kata, di mana diri penyair menyingkap peristiwa publik berdasarkan petunjuk-petunjuk yang ia tangkap seperti yang dinyatakan oleh Anna Subekti: jutaan pertanda tang tak mampu kubaca, yang sesungguhnya ia telah memahami petunjuk itu sendiri karena sadar tidak bisa menjangkau pengetahuan Tuhan sepenuhnya. Cinta dan rindu dapat pula hanyalah keterkesanan pada objek, namun bagi Wiwit Mardianto dapat juga sebagai aktivitas sosial sehari-hari.

Bagi saya, buku puisi Randezvous ini, bukan hanya sebatas pertemuan penyair antardaerah di Jawa Tengah ini. Pada buku ini, ada idealitas penyair dalam memandang realitas untuk disajikan dengan bahasa baru, yang lebih indah, menarik, menggugah perasaan, dan membuat pengetahuan kita bertambah. Penyair-penyair di dalam buku ini mampu melihat potensialitas ruang yang perlu untuk diwacanakan menjadi puisi sehingga akan mengajak kita lebih kreatif dalam menjumpai zona kehidupan, yang mungkin kau akan protes/ karena ada bahasa yang berbeda dengan kenyataan.

Sebenarnya, yang terpenting adalah usaha terus-menerus untuk memuncul dielaktika baru—dari penyair yang terantologikan di sini—menjadi lebih kompleks untuk menandai fenomena sosial yang tumbuh di setiap daerah mereka berada. Karena, “masih ada” beberapa wacana yang disampaikan masih mengacu pada relasi dan implikasi perkembangan puisi itu sendiri, bukan pada kepekaan menangkap fenomena sebagai bagian dari intensitas publik.
_______________________________
*) Abdul Wachid B.S. lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Achid alumnus Sastra Indonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora), jadi dosen-negeri di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto. Buku tunggal yang menghimpun karya Achid, antara lain : (1) Rumah Cahaya (edisi revisi Gama Media, 2003) merupakan buku puisi yang menghimpun karya awalnya. Buku puisi Rumah Cahaya ini sempat dikritik oleh Adi Wicaksono secara panjang-lebar di buku Histeria Kritik Sastra (Bentang, 1996), dan menjadi polemik berkepanjangan di koran Kedaulatan Rakyat. (2) Sastra Melawan Slogan (FKBA, 2000) merupakan bunga rampai esainya yang diberi kata penutup oleh Dr. Faruk. (3) Religiositas Alam : dari Surealisme ke Spiritualisme D. Zawawi Imron (Gama Media, 2002) merupakan buku yang diangkat dari karya ilmiah S-1, dan diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo. (4) Buku pilihan puisi cinta 1986-2002, Ijinkan Aku Mencintaimu (Buku Laela, Cet.I-2002, Cet.II-2004), diberi kata pengantar oleh peneliti sastra dari Jepang, Urara Numazawa. (5) buku puisi Tunjammu Kekasih (Bentang, 2003). (6) Beribu Rindu Kekasihku (Amorbooks, 2004) merupakan buku pilihan puisi cinta, diberi kata pengantar oleh Dr. Katrin Bandel (peneliti sastra Indonesia berkebangsaan Jerman). (7) Buku kajian sastra, Membaca Makna dari Chairil Anwar ke A. Mustofa Bisri (Grafindo, 2005). (8) Buku esai, Sastra Pencerahan (Grafindo, 2005). (9) Gandrung Cinta (buku kajian sastra dan tasawuf; Pustaka Pelajar, 2008). (10) Analisis Struktural Semiotik: Puisi Surealistis Religius D. Zawawi Imron (Penerbit Cintabuku, 2009). Dan (11) buku puisi Yang (Penerbit Cintabuku, 2011). Website: www.wachid.8m.com E-mail: achidbs99@yahoo.com

Dijumput dari: http://duniadibalikjendela.blogspot.com/2011/07/rendezvous-sebuah-buku-antologi-puisi.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…