Langsung ke konten utama

Naturalisme

Hasan Junus
http://www.riaupos.co/

DI DUNIA sastra (novel) dan sastra dunia, gerakan literature, pendiri dan penganut gerakan naturalis adalah Imile Frangois Zola (Pengucapan Perancis: [emil zo’la], yang mengemukakan fahamnya bahwa ‘’alam terlihat melalui temperamen’’ yang dikenal dengan istilah Zola Naturalisme. Ia lahir di Paris, Perancis, dan dikenal dalam dunia sastra dan sastra dunia sebagai novelis dan kritikus Perancis, selain kontributor penting untuk pengembangan naturalisme teater.
Di antara novel-nya yang terkenal ialah Les Rougon-Macquart (1870); L’assomoir (1877) dalam bahasa Inggeris The Dram Shop, bercerita tentang penderitaan para pekerja Paris; Nana (1880), suatu novel yang bercerita tentang prostitusi; Germinal (1885), yang menggambarkan industri pertambangan. Dapat dilihat pada kaki-dashi (kalimat pembuka karya sastra) novel Germinal:

Dans la plaine rase, sous la nuit sans itoiles, d’une obscuriti et d’une ipaisseur d’encre, un homme suivait seul la grande route de Marchiennes ‘ Montsou, dix kilomhtres de pavi coupant tout droit, travers les champs de betteraves. Devant lui, il ne voyait mjme pas le sol noir, et il n’avait la sensation de l’immense horizon plat que par les souffles du vent de mars, des rafales larges comme sur une mer, glacies d’avoir balayi des lieues de marais et de terres nues. Aucune ombre d’arbre ne tachait le ciel, le pavi se diroulait avec la rectitude d’une jetie, au milieu de l’embrun aveuglant des tinhbres.

Atau dalam terjemahan bahasa Inggeris:

‘’OVER the open plain, beneath a starless sky as dark and thick as ink, a man walked alone along the highway from Marchiennes to Montsou, a straight paved road ten kilometres in length, intersecting the beetroot-fields. He could not even see the black soil before him, and only felt the immense flat horizon by the gusts of March wind, squalls as strong as on the sea, and frozen from sweeping leagues of marsh and naked earth. No tree could be seen against the sky, and the road unrolled as straight as a pier in the midst of the blinding spray of darkness’’.

DI ATAS dataran terbuka, di bawah langit berbintang sebagian gelap dan tebal seperti tinta, seorang pria berjalan sendirian di sepanjang jalan raya dari Marchiennes ke Montsou, jalan beraspal lurus sepuluh kilometer panjangnya, yang memotong ladang ubi. Ia bahkan tidak dapat melihat tanah hitam di depannya, dan hanya merasa cakrawala datar besar oleh hembusan angin Maret, badai kuat di laut, dan beku menyapu rawa dan bumi yang telanjang. Pohonan tidak dapat dilihat pada langit, dan jalan membuka gulungan lurus seperti dermaga di tengah-tengah kegelapan memancar menyilaukan.

Apakah naturalisme dalam sastra? Dalam Ensiklopedia Wikipedia, naturalisme adalah gerakan sastra yang menggunakan realisme yang rinci, menunjukkan bahwa kondisi sosial, keturunan, dan lingkungan memiliki kekuatan tak terhindarkan dalam membentuk karakter manusia. Digambarkan sebagai ‘’gerakan sastra’’ yang berusaha untuk mereplikasi realitas sehari-hari, sebagai lawan dari gerakan seperti romantisisme atau surealisme, yakni subyek yang sangat simbolis, idealis, atau bahkan supranatural.

Selain Zola, Gustave Flaubert (1821-1880), seorang penulis dan guru sastra Perancis abad ke-19, serta novelis terbesar yang paling berpengaruh di zamannya; adalah sebagai penganjur, pembuka pintu gerbang ‘’naturalism’’, dan dalam ke-sastra-an memberikan pengaruh kepada Guy de Maupassant, Edmond de Goncourt, Alphonse Daudet dan Emile Zola. Novelnya yang paling terkenal adalah Madame Bovary, yang bercerita tentang ibu rumah-tangga yang tidak bahagia, tinggal di sebuah kota kecil di Perancis, mencari hiburan dalam mimpi cinta yang ideal; selain Memories of a Madman (1838), November (1842), Salammbt (1862),The Sentimental Education (1869),The Candidate (1873),The Temptation of Saint Anthony (1874), Tree Tales (1877): A Simple Heart, Herodias, The Legend of Saint Julian the Hospitalier, Bouvard and Picuchet (1881), Correspondence (1887-1893). Perhatikan kaki-dashi novel Madame Bovary:

‘’We were in class when the head-master came in, followed by a “new fellow,” not wearing the school uniform, and a school servant carrying a large desk. Those who had been asleep woke up, and every one rose as if just surprised at his work’’.

Saya lengkapkan tokoh ‘’naturalism’’ yang merupakan salah-seorang pengarang cerita-pendek dari Perancis terbaik di dunia yaitu Guy de Maupassant. Beberapa cerita-pendek-nya yang terkenal seperti Boule de suif ( Ball of Fat) dan La Parure (The Necklace), sementara novel terbaiknya yakni: Pierre and Jean dan Bel-Ami, dan ia dipengaruhi oleh Gustave Flaubert, yang juga penulis yang meneruskan aliran ‘’naturalism’’. Guy de Maupassant seorang pengarang cerita-pendek atau novel yang hanya terdiri dari beberapa halaman, kadang-kadang hanya satu atau dua halaman saja. Gayanya ceritanya bebas dari sentimentalitas atau idealism, mengekspos realitas secara rinci, selain gaya yang lain ‘’sederhana’’ dan ‘’langsung’’, kadang-kadang komik dan ironis. Karyanya mencerminkan emosional semua kelas dan gairah bagi perempuan, dan de Maupassan unggul dalam mengungkapkan sisi tersembunyi seseorang.

Keberhasilan awal, dari salah-satu cerita pendek terbaiknya, Boule de suif, mengungkapkan kemunafikan dan borjuis yang tidak tahu berterimakasih dalam menghadapi sikap heroik seorang wanita jalanan; La Maison Tellier (The House of Madame Tellier and Other Stories) menceritakan secara satir dan lucu kisah jalan-jalan penghuni sebuah rumah-sakit provinsi yang bereputasi. Sementara Le Horla dan La Peur menggambarkan kegilaan dan dengan akurasi yang mengerikan, dan akhirnya membawa kematiannya. Guy de Maupassant meninggal-dunia di rumah-sakit jiwa pada usia yang masih muda, 42 tahun.
Sebelum dan selanjutnya, siapakah penganut aliran naturalisme di sini? ***

15 Januari 2012

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan