Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Amien Kamil

http://oase.kompas.com/
Percakapan Dengan Elliot

“Ia telah menjadi mummi!”

Entah apa yang ada dipikiran Isa hingga menjadikan dirinya layak dikenang bagai Fir'aun. Kabarnya sebelum singgah hadir ke dunia dan diberi nama “Elliot”, ia migrasi lewat kiriman paket patung bouroq seorang teman dari pulau dewata. Wujudnya berupa beberapa butir telur cecak yang tersembunyi pada sambungan bagian sayap, lantas menetas saat bulu-bulu angsa luruh beterbangan dari angkasa saat musim dingin menyelimuti kota Berlin.

Entah ada proses evolusi yang terjadi atau tekanan udara dalam lambung burung besi yang memboyongnya sebabkan embrio itu matang lantas menetas hingga akhirnya menghirup udara jauh dari tanah airnya, hidup langsung yatim-piatu.

Embrio lainnya juga menetas namun kawanan bayi cecak itu langsung mati. Bagi Isa, Kehadirannya menjadi kabut misteri dan rejeki yang harus disyukuri. Paling tidak, ia punya hewan piaraan sekaligus teman yang menemani kala kesepian.

Pikiran Isa menerawang ke negerinya yang jauh di seberang. Ia ingat teman-temannya; ada yang piara Iguana bernama Zilo, piara Anggora bernama Betsy atau mengadopsi Rottweiler bernama Aria juga bagai sahabat penanya yang punya Chihuahua bernama Mei Hwa.

Malam itu, wajah Isa bercahaya bagai saksikan keajaiban semesta. Disentuhnya reptil itu, dibaringkan pada kardus sepatu beralas beludru. Penuh perhatian dan kasih sayang, disuapinya cecak mungil itu dengan cairan susu dan remah roti yang telah dihaluskan.

Isa tinggal sendiri di lantai 5, flat sederhana milik seorang Rusia di kawasan Kreuzberg, dimana bermukim para imigran Turki dan Polandia. Ia selalu berusaha kerja apa saja, menyisihkan koin yang didapat untuk bayar kontrakan kontan tiap bulan. Walau kadang ia masih dapat kiriman uang dari ayahnya di kampung halaman.

Sebelumnya hampir tiap minggu ia menenteng kopor loncat kemana saja, kadang bermukim di bekas gudang atau berbagi ruang dengan tunawisma atau serdadu punk di reruntuhan gedung yang ditinggal penghuni saat kota masih terbelah. Ia punya beberapa teman namun enggan tuk menumpang. Ia tahu mereka masih berjuang dan kebanyakan selalu buang badan.

Temannya bilang, “Hidup itu adalah sekedar permainan, kalkulasi antara kecerdikan juga kelicikan”. Tapi Isa bilang, “Sobat, jadikan pengalaman sebagai pelajaran yang melahirkan kesadaran. Kita kan menyadari hidup itu penuh keindahan; desir angin, rintik hujan, pelangi juga wajah bayi. Nikmati hidupmu, jaga nurani dan berjuanglah mengejar mimpi-mimpi.”

Sejak itu, Isa melesat bagai kilat. Mengisi hari dari malam hingga pagi dengan bernyanyi dan bekerja tanpa surat resmi, bermain kucing-kucingan dengan petugas sebagai pekerja gelap, kadang jadi doorman di sebuah restoran cepat saji, asisten koki di restoran Italy atau cleaning service di sebuah galeri.

Absurd! Ada banyak persoalan yang kita tak tahu. Perkara rejeki, hidup, mati, perpisahan dan pertemuan kami pun terjadi kebetulan. Sejak itu kami berteman, kadang temu janji di Café Zapata, ngobrol ngalor ngidul soal Indonesia sambil menghirup Mai-thai dan menghisap Ganja. O, ternyata ia juga meredam rindu pada tanah kelahirannya; Surabaya.

Suatu ketika, sebelumnya kupikir ia bercanda hingga akhirnya aku terpesona. Saat ia bilang berteman dengan cecak. Mulutku menganga menyimak cerita tentang kesulitannya mencari nyamuk atau laron dan bagai Profesor Calculus eksperimen di laboratorium, ia beri reptil piaraannya Yougurt atau Vitamin E, lantas dengan kaca pembesar diteliti reaksi yang terjadi. Peristiwa itu telah terjadi saat cecak itu masih bayi hingga kalender memasuki musim semi.

“Guten Morgen, Elliot”

Setiap pagi sehabis berkubang di bathtub, mematut diri di cermin, menjerang air, mengaduk kopi, mengunyah omelette serta roti lapis mentega. Setelah merapikan seprai di ranjang, Isa senantiasa menengok reptil sahabatnya serta melakukan ritus rutin demi kelangsungan hidup Elliot.

Isa tak tahu silsilah keluarga Elliot. Sungguh beda dengan Den Sastro Djoko Damono, carik desa di kampungnya yang memelihara “Kyai Cindil” perkutut katuranggan berharga jutaan dan sangat percaya burung kesayangannya itu keturunan perkutut Songgo Ratu ; reinkarnasi putra Raja Bali jaman Majapahit yang dikejar musuh dan mati di Banyuwangi.

Harum seberbak wangi bunga 7 warna. Purnama menyembul dari balik kaca jendela. Kilaunya menerobos flat lantai 5, menerangi paras Isa yang lelap berbalut selimut batik ibunya. Entah dari mana sumbernya terdengar suara tapi tiada rupa. “Cinta kasih itu bagai bunga yang bersemai di hatimu. Pabila kau sirami, kelopaknya kan mekar dan aroma kan menyebar pada ragamu.” Suara itu bergema, gaungnya masih tersisa pada udara. “Cinta kasih itu kan menerangi hati dan ketulusannya menyelubungi jiwa dengan aura surga.”

Isa merasa seluruh cakra dalam dirinya terbuka seakan dapat cahaya. Isa terpesona, “Astaga!.” Isa terkejut sampai digaruk kepala dan tak percaya apa yang dilihatnya saat tahu bahwa Elliot, cecaknya yang bicara. Lantas perbincangan mereka mengalir lancar hingga menjelang fajar. Namun Isa pun tak tahu, kejadian itu kenyataan atau hanya impian atau rekaan pikiran yang muncul secara kebetulan dan terjadi diluar kesadaran.

Sejak kejadian itu Elliot menghilang. Hari-hari Isa terasa hampa. Seakan lagu pilu senantiasa berkumandang dalam jiwanya.

Saat ketemu di malam Sabtu, Isa kisahkan semua itu padaku. Aku menghela nafas panjang, mereka kata mencari cara menenangkan dirinya. “Tak usah galau. Biar semua terjadi dan tak usah disesali.” Kami beradu pandang, kulihat mendung di bola matanya. “Bukan tak mungkin, Ia mokhsa!” Ujarku sambil tertawa.

Bukan alarm, tapi teriakan parau Tom Waits yang jadi nada panggil telpon genggam bangunkanku dari mimpi di Minggu pagi. Dengan tersedu, Isa kabarkan berita dukacita ; Elliot telah mati dalam usia 8 bulan 11 hari. Sebab musababnya tak kutanya. Mungkin saja tergencet buku atau terperangkap dalam teko. Mungkin saja ……

Esok harinya, aku berkunjung kerumahnya. Kusaksikan Elliot telah menjadi mummy dalam bingkai kaca tertempel di dinding kamar dan di hadapannya terjuntai dari langit-langit, Bouroq terbang di udara. Saat itu, dengan menunggang kuda terbang Elliot mungkin telah ada di langit ketiga atau kelima dan bisa jadi telah ada di surga.

“Kematian adalah tidur panjang dan bukanlah akhir kehidupan melainkan kelanjutannya. Melewatinya kita menyadari indahnya kehidupan, manisnya persahabatan.”

Copenhagen, Mei 2011



Chatastrope Elegi untuk Pramudya Ananta Toer

/1/ Hari itu, udara bagai tungku. Sementara berhala kekuasaan telah lama menggantikan tuhan. Mesin jagal bak taring srigala, siap mengerkah siapapun yang beda warna siap menggilas lagi yang lain ideologi.

"Ssstttt.......... intrik berdengung, bersiul nyaring di bawah meja desas-desus berhembus Dewan Jendral kudeta. Ssssttt..........."

Hukum rimba merasuki urat nadi menjadi duri melanda negri, adu domba antar kasta jadi petaka meletus prahara! Tanda silang di pintu korban sungai berdarah hanyutkan dendam. Tiada puisi apalagi asuransi kecuali kata sandi, penentu hidup mati. Lewat corong penindasan terdengar warta: "Mereka semua sudah dikuburkan, tunggu kabar kematian berikutnya"

Laskar serdadu penindasan menunggangi kuda kematian berderak menyapu kota serta desa-desa. Perkebunan tebu jadi ladang pembantaian lumbung kematian dan beribu korban tertanam tanpa ritus penguburan apalagi nisan.

(Mayat menggunung, sepanjang Oktober 65 awan hitam membumbung di angkasa, Pancaroba sejarah, menelan ribuan korban mati sia-sia.) Hari itu, hati kita membatu terbagi dalam kubu-kubu serta keyakinan semu.

Langit mendung mengurung Nusantara pembantaian massal dimana-mana, pribumi lugu tanpa dosa diburu, dibuang ke Pulau Buru

/2/ :"Tapol" cap itu dilekatkan pada kami, menghitung hari terkurung sangkar besi dikelilingi kawat berduri. Dari kesunyian yang panjang terentang, dikucilkan tanpa pengadilan suara dibungkam kesaksian diperam dalam pikiran.

"Nyai, aku sekarang terkurung disini. Semoga di fajar mendatang, nurani mereka tak terkebiri lagi. Prahara sejarah tak kan terulang dan cukuplah sekali. Cukup sekali."

Jakarta, 8 Februari 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…