MEMAKNAI PUISI, SEBERAPA SUSAHKAH?

Wardjito Soeharso
http://duniadibalikjendela.blogspot.com/

(1)

Saya termasuk orang yang memaknai puisi dengan sederhana. Bagi saya, puisi adalah rangkaian kata-kata yang indah. Keindahan itu dapat diperoleh dengan berbagai cara: mengatur rima, irama; pemilihan kata (diksi); sampai gaya penulisan (tipografi). Prinsipnya, di mana kata-kata disusun sedemikian rupa, lalu dari susunan itu diperoleh suatu keindahan (estetika), maka susunan kata-kata itu layaklah disebut sebagai puisi.

Dengan pemahaman seperti ini, saya bisa menjumpai banyak puisi di banyak tempat. Di pinggir-pinggir jalan, di geber-geber warung makan (daftar menu makanan jadi layak disebut puisi: nasi goreng, bakmi goreng; teh, kopi, susu), di tembok-tembok gedung dan bangunan (grafitti dengan kata-kata puitis: remaja dimanja, muda sukaria, dewasa foya-foya, tua kayaraya, mati masuk surga), sampai di toilet-toilet umum (corat-coret iseng: aku, budak nafsu tak tahu malu).

Ya, puisi adalah kata-kata yang indah. Jadi salah satu kekuatan puisi terletak pada keindahan kata-katanya. Dengan kata lain, esensi puisi terletak pada estetika yang ditampilkan pada kata-kata.

(2)

Bagi saya puisi adalah ekspresi, ungkapan, pesan. Dalam komunikasi, pesan selalu terdiri dari 2 hal: ide (gagasan) dan emosi (perasaan). Karena puisi adalah ungkapan pesan, maka dia mestinya juga terdiri dari 2 hal itu. Ada ide (gagasan) dan emosi (perasaan) yang disampaikan lewat susunan kata-katanya. Menurut saya, di sinilah letak makna dari puisi. Ide (gagasan) apa yang dibungkus dengan emosi (perasaan) yang bagaimana, menjadi isi dari suatu puisi.

Jadi, kalau kita ingin memaknai puisi, selayaknya kita mencoba menangkap ide (gagasan) dan emosi (perasaan) yang tersurat maupun tersirat dalam puisi itu. Hanya saja, untuk menangkap ide (gagasan) dalam puisi ternyata tidaklah mudah. Sebagai produk berpikir, ide juga hanya bisa ditangkap dengan kemampuan berpikir. Di sini berlaku hukum berpikir: ide cemerlang dihasilkan dari otak yang terang, dan ditangkap oleh otak yang lapang. Sedang emosi (perasaan) atau suasana hati dapat ditangkap melalui pilihan kata atau diksi.

(3)

Lalu saya sampai pada satu simpul: puisi adalah rangkaian kata-kata yang indah dan bermakna. Saya sengaja menempatkan keindahan (estetika) di depan, baru makna (isi) mengikuti. Karena pada dasarnya, estetika itulah yang membangun kata-kata menjadi puisi. Sedang makna, kehadirannya menjadi nomor dua, dia boleh ada dan boleh tidak ada. Artinya, kalau puisi itu menyampaikan makna, tentu menjadi puisi yang baik, tetapi kalau pun tidak menyampaikan makna apa-apa, sekedar memberikan (bermain) keindahan kata-kata, juga tidak apa-apa, sah-sah saja.

Tapi, ketika keindahan dan makna itu melebur dalam sebuah kesatuan yang utuh, di situlah letak kekuatan suatu puisi. Puisi dikatakan kuat bila dia memiliki keindahan sekaligus kedalaman makna. Hanya saja, karena keindahan itu begitu melekat, kadangkala keindahan itu membungkus dan mengaburkan makna. Inilah yang disebut obskuritas (obscurity) atau kekaburan makna dalam puisi.

(4)

Obskuritas membuat puisi menjadi unik, istimewa. Makna yang kabur ini yang membuat penikmat bisa saja memaknai berbeda ketika membaca puisi yang sama. Pemaknaan yang berbeda sebagai akibat cara pandang dan cara pikir yang berbeda setiap orang.

Justru obskuritas inilah yang membuat puisi semakin hidup. Ruh atau jiwa puisi pada dasarnya berada di tangan pembacanya. Sebagai penikmat, yang memiliki cara pandang dan cara pikir sendiri, pembaca memiliki kebebasan mutlak untuk memaknai puisi yang dibacanya. Jadi, semakin banyak puisi dibaca, semakin banyak dia dimaknai, semakin hidup dia di tengah publik.

Ada independensi dalam puisi. Puisi sebagai ekspresi, ungkapan, pesan, dia disampaikan secara independen oleh penulisnya. Ketika dia lepas dari penulisnya, dia menjadi sebuah entitas independen, yang bebas lepas untuk dimaknai siapa saja. Begitu pula, penikmat atau pembacanya, dia juga independen, bebas mutlak menikmati dengan memaknai sesuai selera sendiri.

Apa artinya ini? Dunia puisi adalah dunia sangat subyektif. Penulis puisi sangat subyektif ketika menulis puisi. Penikmat puisi juga sangat subyektif ketika menikmati puisi. Jadi tidak selayaknya mereka saling menghakimi.

(5)

Ketika Mas Ganz (Ganjar Sudibyo) menghubungi saya, meminta kesediaan saya untuk menjadi salah seorang pembedah buku Antologi Puisi 10 Penyair Nusantara: Sepuluh Kelok Di Mouseland, dalam pikiran saya sudah terbayang, kira-kira ya pemahaman seperti itulah yang akan saya sampaikan dalam diskusi. Selintas saya sudah membaca, menikmati, memahami, dan mencoba memaknai puisi-puisi karya 10 penyair. Dan sudah pasti, dengan cara pandang dan cara pikir saya sendiri, saya menikmati keindahan, saya menangkap makna, dan saya menangkap emosi dan suasana hati, dari setiap puisi yang saya baca dan nikmati. Dan sudah pasti pula, kenikmatan yang saya peroleh, keindahan yang saya rasakan, kedalaman makna yang saya temukan, berbeda dengan yang anda semua rasakan dan temukan.

Karena begitu banyak puisi yang ada dalam antologi, saya tidak akan mengomentari satu per satu, tetapi ingin berbagi pengalaman tentang kesan yang saya peroleh setelah membaca semua puisi.

Bagi saya, semua puisi yang ada di antologi ini memiliki unsur keindahan yang kuat. Para penyairnya sudah sangat sadar ketika mengeksploitasi keindahan itu lewat diksi.

benar memang ketika bapak berujar
………………………………..
tak tergantung secompang apa layar terkembang
(Aras Sandi: Cadik Kehidupan)
kau baginya hawa, yang suatu hari akan menemaninya menguaskan surga sehabis bertahun-tahun menelan buah pir yang mahir berpura-pura.
(AF Kurniawan: Yang Berhasrat Meminangmu, Kekasihku)

Dalam hal menangkap makna, banyak puisi yang dapat saya tangkap ide (gagasan) maupun emosi (perasaan, suasana hati)-nya. Antara keindahan (dalam diksi) dan makna yang disampaikan, menyatu utuh dalam bangunan puisi. Sudah barang tentu, saya sangat menikmati puisi-puisi semacam ini.

Arghanita: Kamboja Putih, Aku Sebatang Ranting Kering.
Arthur Panther Olii: Seraut Wajah Yang Tertitip di Bebulir Hujan Senja, Senja di Tepi Sungai Bone.
Dalasari Pera: Hidup, Kisah Kursi dan Meja.
Husni Hamisi: Puisi Patah.
Lina Kelana: Mak
Oekusi Arifin Siswanto: Rindu Bahasa, Rindu Cinta, Darahmu atau Darahku.

Tapi ketika saya mencoba menangkap makna beberapa puisi, ternyata saya menemukan kesulitan. Puisi-puisi tersebut boleh dikata memiliki obskuritas (kekaburan) yang pekat. Tidak mudah untuk menangkap apa sesungguhnya ide yang akan disampaikan oleh penyairnya.

Salah satu contoh puisi yang sangat kabur atau samar untuk ditangkap maknanya adalah puisi AF Kurniawan: Januari, Hujan, dan Dongeng Yang Membentuknya. Terus terang saya tidak mampu menangkap makna puisi ini. Puisi ini bernilai estetika tinggi, saya bisa merasakan emosi (perasaan) yang muncul ketika menikmatinya, tetapi otak saya tidak mampu menangkap idenya. Semua ini memberikan pemahaman pada saya tentang satu hal: Oh, saya hanya mampu merasakan keindahan dalam rangkaian kata-katanya, saya hanya mampu merasakan emosi, suasana hati yang terpancar dari rangkaian kata-katanya, tetapi saya tidak mampu menangkap ide (gagasan) dari rangkaian kata-katanya. Ya sudah, berarti hanya sampai di situlah saya bisa menikmati puisi ini.

Puisi-puisi yang memiliki kekaburan makna cukup pekat ini, bisa ditemui pada puisi Lina Kelana: Lagu Hujan, Reski Kuantan: Jika Tidak Pulang Hari Ini. (Sekedar memberi contoh lain, sementara masih banyak puisi dengan tingkat obskuritas dari cukup sampai sangat pekat).

Bahwa saya tidak mampu menguak tabir kekaburan makna sebuah puisi, sekali lagi, berkait erat dengan independensi puisi. Penyair sebagai subyek independen, bebas mengekspresikan ide, gagasan, emosi, suasana hati, dengan pilihan kata dan gayanya sendiri. Sedang puisi yang sudah terlepas dari tangan penyairnya, sebagai ekspresi yang sengaja didesain kabur, tentu memiliki peluang tak terbatas pula untuk dimaknai. Begitu pula, saya sebagai pembaca atau penikmat, sebagai subyek yang bebas, yang juga memiliki ide, gagasan, emosi, suasana hati, boleh pula sekehendak hati menginterpretasikan makna di balik kekaburan sebuah puisi.
Jadi ada atau tidak makna yang saya dapat dari proses menikmati puisi, itu adalah bagian dari totalitas kemampuan saya menikmati suatu puisi. Dan bagi saya, semua itu juga merupakan suatu proses pembelajaran dalam menyentuh keindahan dan mengikat makna dari membaca dan menikmati puisi.

Oleh karena itu, saya tidak akan pernah merasa malu untuk mengakui bahwa banyak puisi yang gagal saya mengerti, gagal saya pahami. Seperti beberapa puisi dalam antologi Sepuluh Kelok Di Mouseland ini, saya gagal menangkap isi. Toh, saya tidak kecewa, karena walau tak menangkap isi, saya tetap bisa menikmati keindahan diksi.

Semarang, 28 Juni 2011
Dijumput dari: http://duniadibalikjendela.blogspot.com/2011/07/esai-i-launching-antologi-puisi-sepuluh.html

Komentar