Langsung ke konten utama

Setahun Pelangi Sastra Malang

Denny Mizhar
__Pelangi Sastra Malang

Pada mulanya adalah pertemuan yang sering terjadi antara saya dan Ragil Supriyanto yang biasa dipanggil Ragil Sukriwul. Saya diajak gabung di Komunitas Mozaik Malang dengan gerak yang merambah dunia seni dan sastra. Tetapi saya belum intens, hanya ketika Mozaik dengan penerbitannya menggarap antologi cerpen yang diberi judul “Pledoi: Pelangi Sastra Malang dalam cerpen” saya dimintanya untuk memegang tanggung jawab di bagian produksi: membantu mencari dana penerbitan hingga buku tersebut terbit pada tahun 2009.

Di tahun berikutnya tepatnya bulan tahun 2010, saya yang masih sering kertemu dan berdiskusi tentang sastra, diajaknya membuat agenda sastra yang diberi nama Pelangi Sastra Malang [On Stage], dengan agenda pertama melakukan pembacaan atas karya puisi Wahyu Prasetya. Saya yang masih tertatih dalam wacana sastra dan dunia kesusastraan baru tahu kalau ada penyair yang bernama Wahyu Parsetya, kami mencari-cari karya Wahyu Prasetya ke rumah Pak Joko Saryono tetapi hasilnya nihil, arsip Pak Joko Saryono terselip entah dimana. Padahal kami bergembira waktu itu, akan dapat kumpulan puisi kalau tidak salah berjudul “Di Balik Jendela Merci” karya Wahyu Parsetya. Setelah dari Pak Joko Saryono, kami mengunjungi penyair Nanang Suryadi, tetap saja hasilnya nihil kami tak menemukan karya-karya Wahyu Prsetya. Tetapi bukan kami tidak punya, Ragil telah menyimpan karya-karya Wahyu Parsetya, dari situ bermula. Lalu esais Abdul Aziz Rasjid sekarang sedang menuntaskan studi di Purwokerto pulang ke Malang. Ragil pun memintanya untuk membuat esai atas karya-karya Wahyu Parsetya. Kami berharap dapat menghadirkan penyair tersebut, tetapi setelah kami telisik di kediamannya dulu di Malang beliau sudah tidak ada, katanya sudah pindah di Jakarta.

Maka terselengaralah agenda kami yang perdana, Pelangi sastra Malang [On Stage] # 1 pada akhir bulan Juni 2010, dengan tema “Membaca Wahyu Parsetya” digelar di Kedai Apresisi Jl. Blitas No 14 A. Beberapa penyair dan satrawan hadir waktu itu, ada Nanang Suryadi, Tengsoe Tjahjono, penyair-penyair muda, Joko Saryono (dosen sastra UM), dan lain sebagainya. Kehadiran musisi Malang menambah ramai acara pada waktu itu, di antaranya ada kelompok Swara Akustik (Antok Yunus dan Abia Kana), Gembo yang memiliki kelompok musik “Unen-Unen” setelah “Ketek Ogleng” tak kelihatan lagi, Hera yang sekarang mempunyai kelompok perkusi “Monggo Kerso,” Redy musisi Jazz kontemporer, dan lain sebagainya. Kehangatan mencair pada pembacaan puisi diiringi musik dalam satu panggung.

Lantas, apa hanya sampai situ? Tidak. Kami intens bertemu dalam pertemuan di warung kopi yang berpindah-pindah. Waktu itu yang sering bergabung di pertemuan ngopi adalah, Ratna Satyavati, Noval Jubbek, Nadia Agustina, Ragil Sukriwul, Syafira Farar, Mila Irawati, Grace, Asrina dan saya. Dan terus berkembang lebih banyak lagi. Hingga mengagendakan Pelangi Sastra Malang [On Satge] # 2 dengan judul “Word War: dalam laga puisi dan prosa” pada bulan Juli 2010, yang tetap digelar di Kedai Apresiasi. Tak kalah ramai dengan PSM # 2 beberapa komunitas sastra yang ada di Malang pun turut hadir di antaranya ada UKMP (Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis) Universitas Negeri Malang, Lembah Ibarat, FLP Malang, penyair-penyair Malang tak ketinggalan meramaikan acara tersebut dan juga penggerak sastra etnik dari Bojonegoro turut hadir yakni Arieyoko, selain itu ada W. Harianto dari Blitar, dan lain sebagainya. Sesuasi acara tersebut Syarifah Farah membuat catatan dengan judul “Membaca Puisi: Proses Eksklusifitas atau Tabur Makna”, dapat dibaca di http://www.facebook.com/note.php?note_id=429437187840

Pada tanggal 8 Agustus 2010, kami mendapat undangan untuk hadir di “Konser Simfoni Cinta Tanah Air” terselengara atas kerjasama Arbanat String Ansamble dan Perguruan Taman Siswa Cabang Turen. Di sela-sela gesekan biola Arbanat String Ansamble pada konser tersebut, kami membaca puisi di sana. Setelah itu, kami mampir di rumahnya Doniq (Elwiq) sastrawan Malang yang bertempat tinggal di Turen- Malang.

Pertemuan kami semakin intens untuk sekedar ngopi bersama dan berbincang tentang sastra. Harapan dari kami dengan membuat Pelangi Sastra Malang adalah adanya forum yang dapat menjadi jujukan sastrawan atau penikmat sastra pada tiap bulannya di Malang. Tiba pada agenda Pelangi Sastra Malang [On Stage] # 3 pada tanggal 24 Agustus 2010, dengan tema “Membaca Ratna” waktu itu bulan Ramadhan. Acara kami gelar di Rumah Budaya Jl. Diponegoro No. 3 Malang di kediaman Almarhum. Ratna Indraswari Ibrahim. Tiga orang kami tunjuk untuk membaca karya-karya Ratna Indraswari Ibrahim yakni Lucy Vita (Penikmat Sastra), Titik (Mahasiswi FKIP UMM) dan Aini (Mahasiswi Sastra Inggris UM). Dengan hasil pembacaan karya Ratna dengan prespektif Feminisme, di sela-sela acara tersebut Sugik Arbanat menemani kami dengan gesekan biolanya berduet dengan pembaca puisi dan prosa. Acara selesai kami lanjutkan dengan ngobrol bersama Almarhum. Ratna Indraswari Ibrahim, soal penulisan sastra dan tema-temanya hingga larut malam yang membuat kami harus mengakhiri pertemuan tersebut. Yesi Devisa yang semakin intens bergabung dengan kami menulis catatan atas acara tersebut, dapat dilihat di http://www.surya.co.id/2010/08/27/feminisme-dan-sastra-feminis

Selain itu, kami juga melakukan pembacaan atas surat-surat aktivis. Hal tersebut atas saran Ragil setelah bertemu dengan keluarga Bimo Petrus Anugra dan menelisik surat-suratnya yang ditujukan pada keluarganya ataupun rekan-rekan seperjuangannya. Acara kami gelar di Pelangi Sastra Malang [On Stage] # 4 dengan tema diskusi “Catatan Perlawanan, Sastra Perlawanan”, Narasumber: Tengsoe Tjahjono, D.T Utomo Rahardjo [bersama ibu G. Misiati], dan Pradana Boy ZTF pada Sabtu, 25 september 2010 pukul, 19.00 – 21.00 bertempat di Lobby Perpustakaan Kota Malang Jl. Ijen no.30A. Menandai permulaan acara tersebut dilakukan pembacaan surat Bimo oleh Lodzi Hadi (penyair yang juga aktivis) diiringi gesekan biola Sugik Arbanat.

Kepulangan Yusri Fajar dari Jerman setelah menuntaskan S2-nya tak kami sia-siakan. Mengagendakan Pelangi Sastra Malang [On Stage] # 5 dengan tema “Membaca Teks-Teks Sastra Poskolonial”, selain Yusri Fajar ada Wawan Eko Yulianto yang kami hubungi, dia juga baru datang dari Arkansas menempuh studi S2-nya untuk menjadi pembicara. Tetapi Wawan Eko Yulianto memberikan rekomendasi Pak Amri dan Wawan sendiri menjadi moderator pada acara tersebut. Acara yang diawali dengan Performent Art dari Meizhtruation Performance (Enny Asrinawati dan Vivi) dan Penampilan dari Swara Akustik (Antok Yunus dan Abia Kana) dilanjutkan pembacaan puisi Akaha Taufan (penyair yang menggawangi HP3N Batu, namanya pernah besar). Acara terselengara pada sabtu, 20 November 2010, Pukul: 19.00-22.00 di Kedai Apresiasi jl. Blitar 14a Malang. Diskusi sangat menarik sekali dengan telaah teori-teori poskolonial untuk membedah teks-teks sastra.

Demi menelusuri jejak sastra di Malang kami pun mengadakan diskusi yang bekerjas sama dengan Teater Ego FE Brawijaya yakni Pelangi Sastra Malang [On Stage] #6 dengan “Catatan Penyair-Penyair Muda Malang” Pembicara Wahyu Hariyanto dan Yusri Fajar. Sabtu, 18 Desember 2010 Pukul. 15.00 WIB – selesai, bertempat RUANG PPA LAMA Fakultas Ekonomi Brawijaya. Beberapa penyair hadir dan mencoba mereka ulang kehadiran penyair-penyair akan kekaryaan secara tematik ataupun bentuk pada perjalanannya. Tetapi, hal ini menurut pendapat Yusri Fajar bahwa puisi di Malang tak ada yang seragam sehingga untuk menarik keterpengaruhan penyair antar penyair pun tak ada. Selain itu W. Hariyanto memberikan gambaran akan keterlibatan penyair Malang dengan dinamika sastra terutama puisi di luar Malang.

Selain agenda-agenda serupa di atas, kami pun mengadakan agenda beda buku. Pada acara Pelangi Sastra Malang [On Stage] # 6 bekerja sama dengan FPKM (Forum Penulis Kota Malang yang dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 2011. Pada acara tersebut, kami membedah buku penyair Tengsoe Tjahjono yang berjudul “Salam Mempelai” sebagai pembicara yakni Yusri Fajar. Entah kenapa kami selalu meminta bantuan Yusri Fajar. Pertama alasan kami adalah kami tak punya dana untuk membayar pembicara lain sekaliber Yusri Fajar dan yang mendukung dan memberikan suport pada kami. Kami ucapkan terima kasih yang besar pada Yusri Fajar. Tetapi tak lupa juga kami ucapkan pada Pustaka Pujangga yang telah memberikan buku-buku terbitannya untuk kami berikan pada pembicara.

Waktu pun berjalan tiba pada bulan kami mengagendakan kembali Word War II, tetapi pada kali ini khusus prosa dengan agenda Pelangi Sastra Malang [On Stage] #8 Words War II “Perang Kata dalam Prosa” bekerja sama dengan UKMP (Unit Kegiatan Mahasiwa Penulis) Universitas Negeri Malang yang kami laksanakan pada tanggal 27, Februari 2011 bertempat di Gazebo (Belakang Komplek UKM Universitas Negeri Malang). Dari acara tersebut Yesi Devisa membuat catatan dapat dilihat di http://sastra-indonesia.com/2011/03/memaknai-perang-kata-dalam-prosa/

Setelah prosa kami kembali menggelar Pelangi Satra Malang [On Satge] # 9 dengan puisi cinta yang kami angkat. Acara yang terselenggara atas kerjasma dengan HMJ Bastra FIKP UMM pada 11 Maret 2011 dan bertempat di Lorog Masjid AR. Fachrudin Lantai 1 Universitas Muhammadiyah Malang. Pada PSM # 9 dihadiri oleh Teater Hompimpah, Teater Cremona, Teater Kata Mati, Teater Belbaba, Komunitas sastra dari UB, Komunitas Tinta Langit, UKMP UM, FLP UM, LKP2M UIN Maliki, Komunitas Lembah Ibarat, STKIP Trenggalek, Arisan Sastra Trenggalek, Komunitas Fiksi Mini Malang, Ronggowarsito UM, Yusri Fajar, Nanang Surya, Juma’ali, Didik Meong, Didik Madiun, PSIF, Ashley dari Estonia dan banyak Mahasiwa-Mahsiswi UMM. Masih tetap dengan tugasnya Yesi Devisa pembuat catatan pada acara PSM. Catatan tersebut dapat dilihat di http://sastra-indonesia.com/2011/04/puisi-cinta-di-panggung-pelangi-sastra-malang/ Pada acara tersebut Nanang Suryadi mengenalkan kumpulan puisinya yang terbaru dengan judul “BIAR!”. Kumpulan puisi Nanang Suryadi juga diLaunching dan dibeda pada agenda Pelangi Sastra Malang [On Stage] # 10 bekerja sama dengan Teater Ego FE Brawijaya pada 17 April 2011 dengan pembicara Djoko Saryono, Yusri Fajar, dimoderatori Liza Wahyu. Pada acara tersebut kami mengundang Ledome Perkusi untuk tampil dan berkalaborasi dalam pembacaan puisi-puisi karya Nanang Suryadi. Pada agenda pelangi sastra [On Stage] 10 Wawan Eko Yulianto membuat catatan, dapat dilihat http://berbagi-mimpi.info/2011/04/17/peluncuran-antologi-puisi-biar-karya-nanang-suryadi/

Tak hanya sastrawan Malang, Jawa Timur yang hadir di Pelangi Sastra Malang, tak ketinggalan penyair Y. Thendra BP dari Yogya juga hadir di Kota Malang untuk mengenalkan Buku Puisinya yang terbaru dengan judul “Manusia Utama” yang diterbitkan Indie Book Corner, pemilik penerbit tersebut juga turut hadir di Kota Malang. Membincang Buku Puisi “Manusia Utama” kami laksanakan di Kedai Sinau yang pada saat itu baru saja pindah dari jalan Bogor ke Jalan Wilis depan pasar buku Wilis. Pada acara tersebut Pelangi Sastra Malang [On Satge] # 11 “Bincang Buku Manusia Utama” sebagai pembicara Nanang Suryadi, Y. Thendra BP dan dimoderatori Ratna Satyavati dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2011. Tak banyak yang hadir pada waktu itu, tetapi cukup hangat perbincangan tentang buku “Manusia Utama” karya Y.Thendra BP. Setelah perbincangan tentang puisi-puisi Y. Thendra BP dilanjutkan membaca puisi secara bergilir hingga acara pun usai.

Pada tanggal 28 Mei 2011, kami mendapat undangan dari sekolompok Mahasiswa-Mahasiswi Universitas seni Rupa yang sedang mengadakan pamerana seni rupa dengan tema “Umbar Wacana: Sang Penemu” dalam agenda tersebut kami diminta untuk membuat acara pada penutupan pameran dengan judul “Geliat kata dalam Puisi bersama Pelangi Sastra Malang” di Galeri Idea Circuit Jl.Ki Ageng Gribik Bratan Madyopuro Sawojajar yang dikelola ole perupa Yosa. Beberapa musisi turut hadir diantaranya ada Charles yang dulu pernah gabung di kelompok musik Ketek Okleng, juga Feri yang mempunyai kelompok musik Sak Iso’e tak ketinggalan Antok Yunus dan Abia kana (SWARA) selalu menghadiri acara-acara kami bila mereka tak disibukkan ditempat lain. Hingga akhirnya tiba pada penyelenggaraan Pelangi Sastra Malang [On Stage] # 12 yang membahas buku karya Nurel Javissyarqi dengan judul “Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri.” dengan pembicara Wawan Eko Yulianto esai-nya dapat dibaca di http://berbagi-mimpi.info/2011/07/ Selain itu Noval Jubbek membuat catatan atas acara tersebut dapat dibaca di http://sastra-indonesia.com/2011/07/meruntuhkan-mitos-sutardji/

Selain itu kami juga diminta untuk menyelenggarakan program Dewan Kesenian Jawa Timur yakni Diskusi Sastra “Pemikiran Lokalitas dalam Sastra di Jawa Timur” dengan pembicara: Acep Zamzam Noor, M. Shoim Anwar, Yusri Fajar dan dimoderatori oleh Wawan Eko Yulianto pada saat itu kami mengundang kelompok musik yang sering mengiringi kami membaca puisi yakni Swara Akustik, juga menampilkan Komunitas Seni-Sastra Ronggowarsito dengan melakukan dramatikalisasi puisi, sedang Nanang Suryadi dan Abdul Mukhid membaca puisi. Acara tersebut dilaksanakan pada tanggal 12 Juni 2011 bertempat Aula Kampus I Universitas Muhammadiyah Malang. Kami juga menggandengan beberapa komunitas demi lancarnya acara tersebut diantaranya Pusat Studi Islam dan Filsafat UMM, UKMP UM, Mata Pena UB, Lembah Ibarat Malang, Teater Ego FE UB, Teater Pelangi UM, Komunitas Fiksi Mini Malang dan Komunitas Seni Sastra Ronggowarsito. Beberapa tamu dari luar kota pun hadir untuk mengikuti acara tersebut.

Adapun bentuk-bentuk agenda kami bervariasi di antaranya membaca karya-karya sastrawan Malang, membaca karya-karya sastra Indonesia, panggung publikasi karya, bincang buku, serta diskusi sastra dengan berbagai perspektif keilmuan. Di balik layar, kami berupaya melakukan telisik atas sastra yang pernah ada di Malang. Meskipun sampai saat ini masih belum berjalan maksimal dengan yang kami harapkan. Setahun Pelangi Sastra Malang berjalan, sebenarnya bulan yang juni tepat lahirnya tetapi Ratna Satyavati membuat FB ini bulan Juli maka mengulang tahun yang perdana jatuh bulan Juli, masi dini punya usia tentu masih harus banyak belajar.

Demikianlah catatan saya buat selaku penggiat Pelangi Sastra Malang. Saya mengucapkan banyak terima kasih pada siapapun yang selalu memberikan dukungan baik secara spiritual ataupun material. Ada beberapa agenda yang belum tergarap secara maksimal, sehingga diperlukan kerja keras untuk mewujudkan agenda-agenda tersebut.

Malang, 07 Juli 2011
Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=239916276037364

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com