Langsung ke konten utama

Tebing

Yetti A. KA
http://lampungpost.com/

BELAKANGAN, aku sering merasa tiba-tiba berada di tepi tebing. Tebing yang sangat sepi. Aku tak berani melihat ke bawah, tapi aku bisa menyelam ke dasar yang gelap, teramat gelap; dinding napal yang basah, pohon-pohon dengan duri di sepanjang batang atau ranting-ranting kecil yang tajam, juga nyanyian sayup yang misterius dan terus membujuk: biarkan kami mengambil jiwamu yang sakit dan gelap.

Maka cepat sekali aku menggigil. Rambut di keningku basah. Juga di tengkuk. Pipiku panas dan sepertinya terus membengkak. Dadaku seakan dialiri cairan asam yang terus naik hingga ke mulut. Sebelum benar-benar limbung, segera kutampar wajah keras-keras hingga kudapatkan kembali diriku sedang duduk beku di depan laptop yang berkedip, kertas kerja yang berserakan, dan buku agenda bersampul hitam.

Berjam-jam kemudian aku tetap duduk di sana. Gemetar.

***

AKU ingat saat pertama kali merasa berada di tepi tebing itu. Suatu malam, tepat pukul 01.00, aku terbangun dari tidur yang gelisah. Pikiranku sumpek. Aku ingin melihat dunia di luar, maka kubuka semua gorden di ruang tengah apartemanku. Aku melihat ke bawah. Lampu kendaraan melintas cepat, satu-satu. Tiang listrik membeku, berjejer di sepanjang jalan. Tukang satai bersuara parau. Serombongan anak muda setengah mabuk. Aku sedikit mundur. Menatap bayangan samar diriku di kaca. Rambutku sudah melewati bahu. Tanpa poni. Mataku tampak lelah. Astaga, aku terkesiap. Itu bukan mata yang lelah, melainkan mata yang telah mati. Di sana hanya terlihat sisa-sisa tumbuhan yang membusuk. Betapa mengerikan memiliki mata semacam itu. Bukankah dulu dia, kekasihku, bahkan bisa melihat bermacam-macam buah semak di sana, bergelantungan di dahan-dahan kecil namun kuat? “Imajinasimu liar,” ujar kekasihku itu sambil memetik satu buah semak, entah apa namanya, dalam mataku. “Dan kau menyukainya?” tanyaku manja. “Aku menginginkannya, Marinda,” dia berkata, memikat.

Sepanjang malam kami berbahagia. Kami saling berjanji dan berciuman di jalan yang sepi. “Ini tentang hati, bisa apa kita,” katanya. Dia memandangku, lekat. “Ini tentang kita yang bertemu di waktu yang tidak tepat,” tukasku sambil melepaskan syal di leher yang mulai membuat sesak. Kami sama-sama tertegun.

Aku mengusap-usap mataku. Bermalam-malam aku tidak tidur, wajar saja mata itu lelah, lalu mati.

Sesaat aku melupakan soal mata dan tumbuhan yang membusuk di dalamnya, sebab perhatianku tiba-tiba tertuju pada pintu yang tertutup yang juga tampak samar di kaca. Aku kurang suka pintu yang tertutup karena itu dapat membungkam khayalanku tentang seseorang yang muncul dari kelokan lorong, berdiri di depan pintu membawa seikat bunga lalang (aku tak pernah menginginkan mawar atau krisan, jenis bunga yang mudah saja dibeli pada penjual kembang). Namun begitu, ini penting kukatakan, aku memang jenis orang yang terlampau banyak bermain-main dengan pikiran sendiri. Sebenarnya, tidak pernah ada bunga lalang dalam hidupku seperti juga tidak pernah satu kalipun aku berani membiarkan pintu itu terbuka, terutama pada jam satu dini hari.

“Marinda, kau belum tidur?” kekasihku terdengar mengantuk saat aku tak kuasa menghalau rindu dan nekat meneleponnya.

Aku malas menanggapinya, dan berkata, “Aku sedang mengingat saat kau memetik buah semak, yang entah apa namanya, dalam mataku. Aku juga membayangkan tentang pintu yang terbuka dan kau….”

“Istriku bangun….” Tut…tut…tut….

Berjam-jam aku mengingat nada itu, berjam-jam aku termangu di depan kaca yang ingin sekali kupecahkan. Tapi… aku tetap menunggu dia meneleponku kembali, hingga aku punya kesempatan menyambung kalimat yang putus, “…dan kau muncul dari lorong, berdiri di depan pintu itu membawa seikat bunga lalang.”

Tidak. Dia bahkan tidak mengirim pesan pendek. Dengan cepat sesuatu menyesak di dadaku. Sangat penuh, rasanya. Kemudian aku kedinginan, cemas, lembab. Aku meronta-ronta ingin lepas dari semua yang terasa kejam itu, sampai aku kelelahan, sampai aku berada di tepi tebing yang tidak kukenali, tapi mencoba menarikku amat kuat.

***

SEIRING dengan itu, lalu aku mulai terbiasa pula meringkuk dan memeluk kedua kaki di sudut ruangan hingga lewat tengah malam. Aku mirip anak kecil yang ditinggal sendirian di rumah dan tak tahu mesti melakukan apa. Seekor cicak menyergap nyamuk di dinding dan nyamuk itu langsung lenyap tanpa bekas. Laptop di atas meja sudah lama kulupakan, termasuk beberapa pekerjaan yang seharusnya kuselesaikan bulan ini dan sudah kutandai dengan stabilo hijau. Selebihnya, hidupku adalah sunyi. Sunyi membuatku tergelitik untuk kembali menyusuri jalan kenangan. Hanya saja, saat ini semua kenangan menjadi pahit untuk dibicarakan.

“Kau belum tidur?” tanya suamiku saat kuhubungi.

“Tidak bisa,” ujarku.

“Kau perlu obat tidur lagi.”

“Aku ingin kau segera pulang. Temani aku. Sungguh, aku merasa tidak tenang. Kau bisa?” tanyaku.

“Kau tahu ini pukul tiga pagi dan aku sedang berada di sebuah pulau… jauh di Sumatera. Aku tidak mungkin pulang sekarang.”

Berjam-jam aku duduk terdiam. Aku tetap mengharapkan ia benar-benar datang, membawakanku aroma laut yang lembut atau tubuh garam yang berpasir. Kami akan berpelukan, sedalam-dalamnya, untuk pertama kali. Ah, sekali saja, kenapa ia susah sekali melakukan sesuatu yang bisa membuatku menangis saat membayangkan kehilangannya?

Namun ia memang tak pernah datang, juga sesudah aku membuang semua obat tidur ke dalam saluran air yang membuatku kembali berada di tepi tebing dengan amat mudah. Berjam-jam aku ketakutan. Merasa sendirian. Kesakitan.

***

AKU tidak tidur hingga matahari mulai membuat mataku silau. Biasanya buru-buru aku menutup gorden dan menyandarkan tubuhku di sana, dalam bingkai kaca. Seperti pagi ini, aku menyandarkan tubuhku dalam bingkai kaca itu sambil berpikir bagaimana caranya agar aku bisa menemui kekasihku. Satu kali lagi saja. Aku tidak akan memintanya untuk kembali padaku, tapi paling tidak aku mau berteriak di hadapannya untuk terakhir kali. Teriakan yang mungkin saja ia ingat seumur hidup. Bisa jadi ini caraku menghukumnya. Dan selanjutnya, tepat pada hari itu juga, aku akan memulai hidup dengan bahagia. Tidur di hamparan rumput di alam terbuka. Berjam-jam. Tanpa siapa-siapa. Bernyanyi riang dalam hati. Menari sesukanya.

“Ini rumit, Marinda.”

“Aku hanya mau bertemu. Tidak untuk membicarakan apa-apa.”

“Marinda….”

“Sekali saja. Kau yang tentukan harinya,” kataku.

“Tak bisakah kau mengerti?”

“Tidak bisa,” ujarku.

“Apa sulit sekali bagimu?”

“Hmm.”

“Aku sudah katakan, jangan hidup dalam kenangan.”

“Aku sudah hidup di dalamnya, mau apalagi.”

“Aku tak suka jika kita menyakitinya.”

“Istrimu?” tanyaku.

“Ibu dari anak-anakku kelak.”

“Kaubilang….”

“Mengertilah, jangan hidup dalam kenangan. Bukankah itu sudah terlalu sering kita bincangkan?”

Harapanku terlalu sering patah, memang. Ah, sebenarnya kami berdua yang telah membuatnya patah. Kami membiarkan hati kami membentuk diri menjadi pohon yang getas, kemudian patah teramat mudah. Meskipun tentu saja dia berusaha membuat alasan sendiri, “Istriku hamil muda. Aku tak bisa lagi menemui atau menerima teleponmu.” Dia segera mematikan ponsel, seperti biasa.

Berjam-jam aku tetap diam di tempat seolah-olah dia mencemaskanku, lantas muncul secara tiba-tiba di hadapanku, mengulurkan tangannya. Hanya saja, sekali lagi, kenyataan telah melemparkanku ke lantai paling keras. Aku lebam. Biru. Hitam.

***

“AKU mengubah rencana dan akan segera pulang akhir minggu ini.” Suara suamiku terdengar bening.

“Tidak perlu. Aku sudah tidak ingin kau pulang,” kataku dingin. Sedingin lantai tempat akhir-akhir ini aku sering berbaring.

“Kau masih marah?” tanyanya, tak sebening tadi.

“Mungkin.”

“Kau membuatku selalu bingung.” Suaranya mulai keruh.

“Kau benar.”

“Bertahun-tahun kita terjebak dalam kekacauan. Kapan kau berhenti begini, Marinda?”

“Aku tidak tahu,” ujarku, lebih dingin.

“Ini benar-benar gila, hidup kita.”

“Aku sungguh menyesal. Maaf.”

“Marinda, kau…”

Telepon ditutup. Ia menyerah terlampau cepat. Begitu selalu. Kenapa ia tidak membujukku sedikit lagi saja, menunjukkan kalau aku cukup penting untuk ia pertahankan meski tanpa cinta sekalipun? Ia seringkali berbalik arah ketika sudah berada di tengah-tengah, membuatku setengah bahagia setengah terluka.

Berhari-hari setelah itu aku tetap bertahan di apartemen. Membiarkan matahari berlalu begitu saja. Membiarkan semua rencana, termasuk sejumlah seminar, berantakan tanpa aku memperjuangkannya sedikit pun. Aku memilih meringkuk atau rebahan di lantai, menatap langit-langit dengan cat yang mulai mengelupas di beberapa bagian yang tak sempat kusadari selama ini sambil membayangkan bintang-bintang yang berkilat.

***

LANGIT mulai gelap di atas kepalaku, lampu-lampu mulai dihidupkan ketika aku memutuskan keluar apartemen dan berdiri di pinggir jalan. Beberapa taksi sengaja berjalan lambat, dan aku membiarkannya berlalu.

“Sudah malam lagi,” aku bergumam sambil melihat ke langit. “Apa yang akan kulakukan sekarang?”

Aku bahkan tidak punya rencana apa-apa. Aku sama sekali tidak punya gambaran hendak melakukan apa atau mau pergi ke mana. Aku hanya menginginkan keluar dari apartemen. Hanya begitu. Selanjutnya adalah sesuatu yang benar-benar buram. Mungkin saja ini lebih baik daripada aku duduk terdiam menunggu seseorang yang akan pulang dari sebuah pulau dan setelah bertemu kami bertengkar, berulang-ulang.

Tidak. Aku merasa sudah cukup. Aku tidak mau membicarakan apa-apa lagi. Saat ini, aku tidak menginginkan siapa pun memandang mataku dan tumbuhan yang membusuk di dalamnya, lantas meraih bahuku dengan cara yang membuatku terus bersedih beberapa waktu ke depan.

Sungguh, kini aku justru menginginkan berdiri di tepi tebing. Tebing yang sangat sepi. Aku tak berani melihat ke bawah, tapi aku bisa menyelam ke dasar yang gelap, teramat gelap; dinding napal yang basah, pohon-pohon dengan duri di sepanjang batang atau ranting-ranting kecil yang tajam, juga nyanyian sayup yang misterius dan terus membujuk: biarkan kami mengambil jiwamu yang sakit dan gelap.

Aku tersenyum dan menangis, sama lebarnya.

Jalan Enam Mei, 11-12

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com