Langsung ke konten utama

Sastra Islami Indonesia

Alimuddin
http://blog.harian-aceh.com/

Pembicaraan mengenai sastra Islam di Indonesia, hampir selalu mengundang polemik. Polemik tersebut bahkan tak beranjak dari hal yang itu-itu juga, pro dan kontra mengenai apa yang disebut sebagai “pengkotak-kotakan sastra“, serta masalah definisi dan kriteria sastra Islam. Bahkan, hingga kini, eksistensi Sastra Islami di Indonesia masih ‘mengambang’. Beberapa pihak ada yang menolak apa yang disebut Sastra Islami. Uniknya, kebanyakan dari mereka adalah dari pihak muslim sendiri.

A A Navis bahkan berkata bahwa sastra Islam adalah sesuatu yang utopis saat ini. Sementara itu, Putu Arya Tietawirya dalam buku Antologi Esai dan Kritik Sastra (1982) menulis, Sastra adalah sastra saudaraku, tak perlu dikotak-kotakkan. Tidak usah membuat kepala pening. Muhammad Ali, penulis Ihwal Dunia Sastra: Kumpulan Esai, mengatakan label sastra Islam itu sungguh penuh kekaburan.

Penyebutan sastra Islam berbeda dengan penyebutan sastra Barat, sastra Timur, sastra Arab, sastra Amerika, atau sastra Indonesia. Karena yang disebut-sebut itu jelas definisinya, bahasanya, kecenderungan etnologi, dan paling gampang bisa terdefinisi batasan geografisnya.

Sebaliknya, Abdul Hadi W M berkata bahwa sastra Islami itu ada dan eksis. Sastra Hindu saja ada, mengapa sastra Islami tidak ada? Helvy Tiana Rosa, Suminto A Sayuti dan Kuntowijoyo juga berpendapat hal yang sama.

Abdul Hadi W.M berpendapat bahwa karya sastra Islami sudah eksis di Indonesia sejak abad 14, bersamaan dengan meluasnya pengaruh Islam di Nusantara. Hanya saja karena Indonesia belum ada saat itu, dan yang baru ada hanya Melayu, maka tersebutlah kesusastraan Melayu Islam. Tokoh-tokoh sastra Islami saat itu adalah Hamzah Fansuri, Bukhari al-Jauhari, Syamsudin Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, dan lain-lain.

Sastra Islami

Sebenarnya cukup banyak sastrawan muslim yang memberi istilah sendiri pada karya sastra yang dibuatnya yang mengarah pada “sastra Islam” Istilah-istilah tersebut berakar pada wacana keimanan atau religiusitas yang dibawanya.

Ada yang menyebutnya sastra pencerahan (Danarto), sastra profetik (Kuntowijoyo), sastra sufistik (Abdul Hadi WM), sastra zikir (Taufiq Ismail), sastra terlibat dengan dunia dalam (M. Fudoli Zaini), sastra transenden (Sutardji Calzoum Bachri), dan sebagainya. Namun selain Abdul Hadi WM, tak satu pun yang mengidentikkan penyebutan tersebut dengan sastra Islam, walau sebenarnya hal tersebut, tak bisa dinafikan, merupakan tafsir lain dari sastra Islam.

Menurut Said Hawwa dalam bukunya Al Islam III, seni dan Sastra Islami adalah seni atau sastra yang berlandaskan kepada akhlak Islam. Harun Daud menyatakan, Sebuah karya sastra dalam Islam adalah alat atau bantuan (dalam mengabdi kepada Allah), bukannya cuma pengakhiran realita.

Mudah saja untuk mengenali sebuah karya sastra Islami. Menurut Helvy Tiana Rosa, mereka (karya sastra Islami) mempunyai ciri khusus, yaitu tidak akan melalaikan dari dzikrullah. Justru mereka selalu mengingatkan kita akan kebesaran Allah dalam artikel-artikel, puisi, dan sajak-sajak mereka dengan tanpa menggurui tentunya.

Pendapat Helvy Tiana Rosa itu lebih dipertegas oleh Habiburrahman El-Shirazy, penulis novel best seller Ayat-Ayat Cinta. Sebuah karya itu harus serius, harus bisa dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Karya itu tidak boleh sekedar karya kosong, tapi bermutu, berkualitas, dan bermuatan misi rahmatan lil alamin, karya itu mesti membangun jiwa dan mengandung nilai kebajikan bagi manusia dan kemanusiaan seluruhnya.

Kebijakan pilihan

Dalam konteks Islam, semua yang dilakukan seorang muslim seharusnya merupakan bentuk dari ibadahnya kepada Allah, termasuk dalam berkesenian dan bersastra, sebagaimana yang dikatakan Allah “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia
melainkan untuk beribadah kepadaku.

Sastra Islam bagi pengarangnya adalah suatu pengabdian yang harus dipertanggungjawabkan pada umat dan Allah. Sastra dalam kehidupan seorang muslim atau muslimah pengarang adalah bagian dari ibadah. Tak bisa dipetakan secara tersendiri.

Dan kita tahu, Allah tak pernah memaksa manusia untuk memeluk Islam. Begitu pun tak ada proses pemaksaan bagi para sastrawan muslim sekali pun untuk menulis dengan pola yang sudah digariskan oleh Islam. Seperti pernah terjadi ketika para sastrawan yang dahulu tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memaksa para sastrawan Indonesia untuk menulis dengan memakai ideologi mereka sebagai dasar. Seluruhnya berpulang pada kebijakan pilihan masing-masing.

Dikarenakan adalah sesuatu yang bijak di sini, jikalau kita menghargai dan saling menghormati. Dan pun kita harus menghargai sebagian kalangan sastrawan muslim yang telah memilih sastra Islam sebagai sarana berekspresi sekaligus sarana mereka dalam ber-ammar ma’ruf nahi munkar sebagaimana yang diperintahkan Allah.

Mengutip A Teuw, bagaimana pun, konsep keindahan dan estetika bukan hanya dalam bidang kesusastraan amat berbeda antara kepercayaan Islam dengan kepercayaan Barat sekuler. Sekuler menilai keindahan sebagai freedom of expression, sementara Islam menilai keindahan sebagai sarana untuk menyampaikan kebenaran.[]

7 November 2009

Komentar

Sofiatul Mualimah mengatakan…
posting yang bermanfaat. syari’at Al Qur’an mengatur hubungan antara pria dan wanita dengan syari’at yang dapat menjaga martabat mereka sebagai mahluk yang mulia dan membedakan hubungan sesama mereka dari hubungan binatang sesama binatang. Manusia adalah mahluk yang telah dimuliakan oleh Allah di atas mahluk-mahluk selain mereka, oleh karena itu hendaknya kita sebagai manusia menjaga kehormatan ini dengan cara menjalankan syari’at Al Qur’an yang telah menetapkan kehormatan kita tersebut:

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al Isra’: 70)
Mari jalin tali silaturahmi, memperkuat area penyebaran dakwah. follow www.siteislami.co.cc

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…