Langsung ke konten utama

Burung Cenderawasih

Burung Cenderawasih (Bahasa Sentani: Hiyare)

Diceritakan kembali oleh: Ramses Ohee
http://sastralisanpapua.blogspot.com/

Burung cenderawasih sangat indah dilihat, namun sangat sulit untuk didapatkan. Bulu burung cenderawasih yang halus memiliki daya tarik tersendiri untuk dimiliki. Bulunya yang berwarna putih dan kuning cerah sangat serasi dengan kombinasi warna coklat di bagian ekor.

Ada seorang ibu Ondofolo (istri dari Ondoafi) bernama Nolokom yang bertempat tinggal di kampung Yonorom di Kwadewareh, Sentani Timur yang sangat tertarik pada keindahan burung cenderawasih. Ia bermaksud menggunakan bulu burung cenderawasih untuk hiasan di kepalanya. Pada suatu hari, saat Ondofolo sedang mencari ikan di danau Sentani bersama-sama kaum ibu, ada seekor burung cenderawasih yang terbang rendah di atas perahu dengan suara yang indah. Kepak sayap cenderawasih yang lembut membuat burung itu melayang di angkasa, terbang rendah dan menukik, kemudian burung itu terbang menjauh ke arah gunung. Ondofolo hanya diam memandangi burung cenderawasih itu hilang dari pandangannya. Ondofolo diam agar tidak ada orang lain yang tahu tentang keinginannya. Terlebih lagi Ondofolo tidak mau ada orang lain yang lebih dulu menangkap burung cenderawasih itu daripada dirinya. Dalam diamnya Ondofolo memuji keindahan mahluk angkasa yang menjadi impiannya. Hari demi hari berlalu, Ondofolo semakin menginginkan burung cenderawasih itu berada di kepalanya. Ondofolo kemudian menyusun sebuah rencana.

Setiap hari kaum ibu di sekitar danau Sentani pergi mencari ikan menggunakan perahu dan jaring, tidak terkecuali Ondofolo. Setiap pagi Ondofolo menjala ikan di danau sampai hari menjelang siang. Hasil tangkapannya kemudian dimasak. Saat makan siang itulah Ondofolo memanggil para jago memanah yang sedang duduk-duduk di para-para adat tak jauh dari rumah Ondoafi- Ondofolo. Para jago panah di desa itu menerima perjamuan yang istimewa dari Ondofolo setiap hari. Hasil tangkapan ikan yang besar-besar selalu diolah menjadi masakan yang bervariasi. Pesuruh Ondofolo selalu diperintahkan mengundang jagoan-jagoan untuk makan siang dengan menu istimewa. Namun Ondofolo samasekali tidak menyampaikan apa maksud dan tujuannya kepada para jago panah itu. Sehingga timbul tanda tanya di hati para pendekar-pendekar panah, ada apa gerangan istri Ondoafi selalu masak papeda dengan ikan-ikan besar serta mengundang mereka. Ikan-ikan yang besar hasil tangkapan ibu-ibu lain juga terkadang diserahkan kepada Ondofolo untuk dimasak.

Apakah Ondoafi dan Ondofolo memiliki maksud tersembunyi atau menginginkan sesuatu dari masyarakatnya?. Pertanyaan para jago panah tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, Ondofolo hanya mengatakan tidak ada maksud apa-apa. Ondofolo menjawab bahwa ia hanya ingin mengundang makan para jago panah yang sedang duduk-duduk di balai adat. Begitu seterusnya. Para jago panah berhari-hari selalu diundang makan papeda dan ikan di rumah Ondoafi-Ondofolo tanpa mengetahui maksud di balik itu. Akhirnya para jago panah memutuskan untuk berkumpul di para-para adat dan sekali lagi menanyakan maksud Ondofolo yang sesungguhnya karena tidak mungkin Ondofolo menyediakan papeda dengan ikan-ikan besar setiap hari jika tidak ada maksud tertentu.

Ondofolo akhirnya menceritakan tentang apa yang selama ini menjadi idamannya. Segala yang ia lakukan selama ini semata-mata karena keinginannya memiliki burung cenderawasih yang berbulu indah. Terbukalah tabir bahwa Ondofolo mengharapkan para jago panah menangkap cebderawasih untuknya. Sejak melihat cenderawasih terbang rendah di atas danau, hatinya tak tenang karena takut burung tersebut telah dipanah oleh salah satu jago panah desa itu. Para jago panah pun sepakat untuk berusaha menangkap dan mempersembahkan seekor burung cenderawasih kepada Ondofolo untuk dijadikan hiasan kepala. Ondofolo sangat senang karena harapannya akan segera terwujud.

Para jago panah mulai melaksanakan tugasnya. Mereka pergi ke hutan dan ke gunung-gunung. Mereka mempelajari kebiasaan burung cenderawasih dari hari ke hari. Burung cenderawasih yang terbang dari ranting ke ranting, dari dahan ke dahan, dan dari pohon ke pohon selalu diawasi. Mereka mengetahui bahwa burung cenderawasih tidak pernah tertidur di dahan atau ranting pohon. Burung ini tidur di dalam pelepah pohon palem hutan yang menggantung. Saat hari berangkat senja, burung cenderawasih merayap naik, kemudian masuk ke sela-sela pelepah tersebut, menyembunyikan diri lalu tidur di situ. Orangtua-tua di kampung sudah memberitahu kebiasaan cenderawasih kepada para jago panah itu.

Saat burung cenderawasih memasuki pelepah pohon palem hutan, para jago panah sudah mengawasi dan bersiap-siap untuk menangkap. Mereka berusaha untuk menangkapnya hidup-hidup karena dengan demikian para jago panah akan mendapat nilai plus sebab mampu menangkap burung cenderawasih dalam keadaan hidup. Sungguh kebanggaan yang luar biasa. Para jago panah menunggu dengan cemas. Setelah burung cenderawasih diperkirakan sudah tertidur pulas, naiklah seorang jago panah perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara. Pelan sekali. Saat mencapai pelepah palem hutan yang berisi cenderawasih maka secepat kilat pelepah itu dikatupkan kemudian diikat erat. Burung cenderawasih kaget namun tidak dapat berbuat apa-apa karena kedua ujung pelepah palem hutan telah diikat erat oleh Sang Jago Panah. Ia pun turun dan langsung menyerahkan burung cenderawasih ke tangan Ondofolo yang telah menunggu dengan cemas di rumahnya.

Sejak saat itu Ondofolo mempersiapkan pesta besar untuk merayakan kebahagiaannya dengan penuh sukacita. Burung cenderawasih diawetkan. Ketika pesta tarian berlangsung Ondofolo memperlihatkan perhiasannya yang selama ini sangat ia impikan. Seluruh masyarakat terkagum-kagum melihat hiasan kepala sang Ondofolo. Sejak saat itu burung cenderawasih menjadi simbol budaya bagi masyarakat Yonorom dan semakin banyak orang yang berburu burung cenderawasih ke kampung ini. Kampung Yonorom di Kwadewareh hingga saat ini memang sangat terkenal dengan tanaman palem hutannya yang besar dan tinggi-tinggi. Hal inilah yang membuat para pemburu cenderawasih berdatangan dari segala penjuru negeri.

March 11, 2010
Dijumput dari: http://sastralisanpapua.blogspot.com/2010/03/238-burung-cenderawasih-bahasa-sentani.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…