Setangkai Anggur

Akhmad Muhaimin Azzet *
http://www.kompasiana.com/akhmad_muhaimin_azzet

Setiap lepas Maghrib, lelaki setengah abad yang entah datang dari mana itu, terlihat khusyuk memutar-mutar biji tasbih di pojok kanan shaf awal mushala. Dia baru berhenti tatkala kentongan pangkal bambu yang tergantung di dekat tempat wudhu, dipukul bertalu-talu. Kemudian dia dengan khusyuk pula, mendengar lantunan adzan Isya’ dari mulut anak-anak yang kerap masih belum fasih benar. Meski untuk hal yang satu ini, dia kadang mengelus dada. Prihatin. Sebab, remaja tanggung, orang dewasa, dan bahkan yang tua-tua, baru berdatangan menjelang iqamah. Itu pun paling banyak tiga shaf, belum pernah penuh.

Namun demikian, lelaki yang selalu berbaju dan barsarung putih itu, tampak senang setiap malam singgah di satu-satunya mushala kampung kaki bukit ini. Kehadirannya tidak dicurigai. Penghuni kampung ini orangnya ramah-ramah. Dan, sering pula, beberapa warga kampung menyeret-nyeret tangan kurus lelaki itu seusai shalat Isya’, mengajaknya untuk sekadar turut makan nasi, ketela goreng, jagung godok, atau kue serabi di rumahnya. Lantas, lelaki itu lenyap ditelan kegelapan malam. Entah ke mana. Hal ini berlangsung sudah ada setengah bulan. Sampai warga kampung, apalagi yang rajin ke mushala, hapal betul tingkah lakunya. Lelaki itu kembali muncul dengan tiba-tiba, menenteng tas hitam di pundaknya, ketika senja di barat sedang merah saga. Kemudian cepat-cepat ia mengambil air wudhu di mushala, lalu duduk di pojok kanan seperti biasanya. Menunggu shalat Maghrib.

Lek Marto, tampaknya satu-satunya warga kampung yang merasa gerah dengan kehadiran lelaki asing itu.

“Masalah nama dan asal-usulnya saja disembunyikan, ini yang namanya kesombongan, Wak Saleh!” demikian ucap Lek Marto dengan nada tinggi kepada Wak Saleh, tetangganya, pada suatu hari.

“Ya… tidak mesti seperti itu, Lek. Barangkali lelaki tua itu punya alasan tersendiri akan perbuatannya. Yang penting bagi kita, dia itu orangnya baik. Lihatlah, dia merunduk-runduk kepada setiap orang yang ditemuinya saking sopannya. Tak ada alasan bagi kita untuk membencinya,” Wak Saleh tampaknya membela lelaki yang hingga kini belum ada yang mengenal namanya itu.

“Sekarang ini banyak orang jahat berperangai terhormat, Wak!”

“Sampean menuduh lelaki itu?”

“Aku tidak bilang seperti itu. Tapi, tidak ada salahnya bila kita waspada.”

“Kalau begitu, terserah kamulah!” Wak Saleh tersungut-sungut.

Tapi, kejadian ini, perdebatan antara Wak Saleh dan Lek Marto tersebut sudah berlangsung empat hari yang lalu. Dan sekarang, malam ini, sebagian besar warga kampung yang laki-laki, tua maupun muda, berkumpul di mushala. Mengadakan acara pengajian rutin sebulan sekali. Membaca al-Qur’an bersama, biasanya surat-surat pendek. Dan setelah itu, Mbah Mustafa, satu-satunya ustadz di kampung ini, memberikan pengajian, sebelum makan bersama.

Mbah Mustafa duduk dekat pengimaman. Orang-orang kampung yang sedari tadi bergemuruh mengaji, serentak mencintai sunyi. Siap mendengar pengajian dari sang ustadz.

“Saudara-saudaraku, malam ini saya tidak bisa memberikan pengajian,” Mbah Mustafa tiba-tiba memecah hening setelah mengucapkan salam. Belum sempat orang kampung bertanya mengapa, Mbah Mustafa sudah melanjutkan kata-katanya.

“Malam ini, dan juga hari-hari terakhir ini, kita kehadiran hamba Allah. Meski kita belum tahu asalnya dan bahkan tidak pernah kenal namanya, namun patut bagi kita untuk mendengar nasihat-nasihat dan ceramah agama dari beliau. Untuk itu, saya atas nama warga kampung sini, memohon Bapak untuk berkenan mengisi pengajian saat ini,” dengan santun Mbah Mustafa mempersilakan lelaki yang duduk paling ujung itu.

Tak bisa tidak. Lelaki tua itu sama sekali tak mungkin bisa menolak. Seperti halnya tadi, usai shalat Isya’ ia buru-buru meninggalkan mushala. Namun, Mbah Mustafa dan orang-orang kampung mencegahnya. Apalagi saat ini, seluruh perhatian tertuju kepadanya. Akhirnya, lelaki itu pun menggerakkan bibirnya.

“Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh!”

“Wa’alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh….”

“Sebelumnya saya minta maaf. Saudaraku semua di kampung ini sangat baik. Sebenarnya, malam ini adalah malam terakhir saya singgah di kampung ini. Dan sekali lagi saya mohon maaf, sebab saya belum pernah mengenalkan diri. Karena saya memang tidak punya tempat tinggal. Hidup saya dalam jalanan. Mengenai nama, silakan panggil dengan nama apa saja.”

Warga kampung mendengar ungkapan lelaki yang sebentar lagi akan meninggalkannya itu dengan saksama. Ada yang mengangguk-anggukkan kepala. Tapi, Lek Marto, dalam hati malah merutuk-rutuk.

“Tidak masuk akal. Sama sekali tidak bisa dinalar. Seandainya bukan Mbah Mustafa yang menyuruhnya bicara, tentu sudah kuhentikan omongan yang tidak jelas ujungnya ini,” demikian benak Lek Marto membuncah.

“Baiklah, hanya ada satu hal yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan ini. Yakni, tentang ajaran Islam yang menyuruh kita untuk menolak yang haram dan mengambil yang halal. Seperti makanan atau minuman. Jangan sampai tubuh kita kemasukan barang yang haram. Dari hasil curian, menipu, misalnya. Sedikit pun. Sebab, makanan yang masuk ke dalam tubuh akan disebar oleh darah ke seluruh daerah jasad. Bila makanan atau minuman yang masuk ke dalam tubuh kita diperoleh dengan cara yang tidak halal, lalu kita bergerak, bepikir, bahkan beribadah, jangan berharap akan memperoleh berkah.”

Lek Marto yang kebetulan duduk di sebelah pintu, tiba-tiba menghilang. Berjalan kaki menembus kegelapan. Sementara lelaki tua itu masih meneruskan pengajian. Dan tidak berselang lama, Lek Marto sudah berada kembali di mushala. Pengajian telah usai. Acara makan-makan telah tiba. Suasana jadi riuh penuh keakraban.

Usai makan, Lek Marto duduk di tengah ruangan dan membuka plastik kresek hitam yang dibawanya.

“Saudara-saudara, tidak mengurangi nikmat makan-minum dan suasana kekeluargaan malam ini, izinkan saya berbicara sebentar,” Lek Marto mengucapkan kata-kata dengan santun.

“Silakan….”

“Monggo, Lek Marto,” beberapa orang menyahut.

“Begini, tadi saat saudara kita ini mengisi pengajian, saya bergegas pulang sebentar. Ingin mengambil sedikit buah anggur yang ada di depan rumah saya. Paling tidak, sebagai kenangan malam terakhir beliau di kampung ini. Sayang sekali, anggur itu mungkin tadi sore diambil anak-anak saya. Sekarang tinggal setangkai ini,” Lek Marto langsung memberikan setangkai anggur yang dibawanya itu kepada lelaki asing yang kini sudah duduk di samping Mbah Mustafa.

Warga kampung tertawa-tawa melihat ulah Lek Marto. Turut bergembira dengan ketulusannya. Namun, ada yang merasa haru, sebab perpisahan sebentar lagi akan terjadi. Terutama Wak Saleh, sejak tadi mulutnya terasa gugu.

Lelaki tua itu dengan haru pula menerima pemberian Lek Marto. Tapi, dia tidak mungkin bisa memakannya sendiri di tengah banyak orang seperti ini. Akhirnya, ia petik anggur itu satu-satu dari tangkainya dan dibagikan kepada orang-orang yang ada di dekatnya, termasuk Mbah Mustafa.

Orang-orang kembali tertawa. Menyaksikan sebagian warga memakan sebutir-sebutir anggur itu. Namun, tiba-tiba Mbah Mustafa dan lelaki tua itu serentak berdiri. Bergegas keluar. Lalu, muntah-muntah di depan mushalla.

Warga kampung kebingungan.

“Apakah karena makan anggur. Tapi, selain Mbah Mustafa dan lelaki itu, tidak muntah,” suara-suara bermunculan.

Namun Lek Marto, seperti maling ayam yang tertangkap basah. Wajahnya tampak pucat.

“Sudah…, sudah…. Ayo berkumpul kembali di mushala. Hanya muntah biasa,” Mbah Mustafa menenangkan suasana.

Sementara lelaki tua itu mendekati Lek Marto. Menepuk-nepuk punggungnya. Lalu, berbisik di dekat telinganya, “Setangkai anggur tadi hasil mencuri, ya?”

Lek Marto semakin pucat pasi. Mengangguk. Lelaki tua itu hanya tersenyum. Sedang orang-orang tidak begitu memerhatikannya, setelah berkumpul sebentar di mushala, kemudian membubarkan diri. Dan, lelaki asing itu, meneruskan perjalanannya dalam gelap malam.

Sedangkan Lek Marto, langkah-langkah kakinya pulang ke rumah tampak berat dan lunglai. Sebenarnya tadi, ia ingin mempermalukan lelaki itu untuk makan barang curian setelah ceramah melarang makan hal yang haram. Setangkai anggur itu, ia ambil dari halaman pak guru Munajat yang tidak jauh dari mushala. Satu-satunya orang di kampung kaki bukit ini yang mempunyai tanaman anggur selain Lek Marto.

*) Suka membaca dan menulis. Di antara tulisannya pernah dimuat di Republika, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Suara Karya, Elka Sabili, Ummi, Annida, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Bernas, Solo Pos, Suara Merdeka, Wawasan, Surabaya Post, Lampung Post, Analisa, Medan Pos, Waspada, Pedoman Rakyat, dan beberapa media kalangan terbatas. Menulis juga buku (nonfiksi) yang sudah diterbitkan oleh beberapa penerbit. Suka pula bersepeda dan aktif di Lereng Merapi Onthel Community, Yogyakarta ---[twitter: @kangazzet]

Komentar