Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Mahmud Jauhari Ali dan Fajar Alayubi

http://sastra-indonesia.com/
Kasidah Cinta
Fajar Alayubi

Ini pagi yang indah, saat yang tepat buat ku mengganti langit-langit kamarku yang penuh dengan lukisan air dan debu-debu. Ini hari bagi musim semi kita, dan kan kupindai hari ini seperti kupu-kupu yang mencium punggungmu -yang belum pernah kulihat sebelumnya.

aku tidur hanya sesaat. Telingaku semalam amat bergemuruh ketika bintang-jatuh di gerbang subuh. Sesuatu yang meletup-letup dalam dada begitu kuat setelah kukecup pipimu bagai kawah yang merah penuh bara gairah –ketika kau sandarkan tubuh di padang bahuku.

Saatku kusibuk dengan langit-langitku pagi ini, mungkin kau masih memetik bunga-bunga di taman mimpimu untuk kita rangkai jadi pandanan yang serasi dengan semesta jiwa. Bawalah yang banyak bunga-bunga, sampai keranjangmu sesak seperti dadaku.

Di meja kecilmu sudah kuletakan satu kuntum yang kudapat dari puncak malam, ke dalam vas bunga kesayanganmu, juga secarik tulisan ini yang kusandarkan padanya. semoga aroma secangkir coffee-latte dapat cepat menggugahmu, lalu kau basuh wajahmu dengan embun-embun yang kudapat beberapa tangkup dari relung-relungku.



Tanda Tangan Batu *
Mahmud Jauhari Ali

serpihan logam yang kauluncurkan ke jantungku
ialah risalah jelaga dari serambi hatimu yang merah saga
dan segumpal kabut di genggamanmu itu
tak ubahnya bom yang meledak!
menjungkilbalikkan kata
mematahkan langkah-langkah laju,
juga menenggelamkan tangan-tangan tembaga
di antara air-air yang menderas menjelma ombak

o! tampaknya benar kata seekor camar senja itu
bahwa aku, tak lagi manusia di depan matamu yang nanar
melainkan seekor ulat di antara gurat-gurat petaka
yang mudah kauracuni dengan kata-kata,
kaubakar di bawah tumpukan kayu retak, dan
kauhempas-hempaskan ke tanah keras,
melebihi kerasnya cadas di tanah jelata

dan, di bawah bola jingga dan perak ini
hari tetap abu-abu
hingar-bingar, jingkrak pesta pora hilang, lesap
darah impian pun berceceran di jalan-jalan
lalu, aku pun termangu dalam gengamanmu dan kabut yang pekat

Tanah Borneo, 2011
*) dari Akulah Musi, antologi puisi PPN V, Palembang.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com