Puisi-Puisi Syifa Aulia

http://sastra-indonesia.com/
Sisa Purnama

Bulan telah sejengkal
di kepala
bintang-bintang telah
ada di genggaman
cuma yang kurasakan
temaram begitu mendalam

Pada cermin kupalingkan
muka
namun rengkah kaca
pecah
bersiap membidik
nyawa.

14-9-2011



Yang Tertunda

Sekali lagi
rindu menunda kedatangannya
meski jalan begitu di hapal
sesak kerikil dan kesiur angin
menghantam kecamuk
kekasih
dalam ruang perjanjian
yang sunyi

Ini kali bukan waktu
bagai pantai dan buih
hanya ombak menepi
dan bulan pun urung
tampak dimatanya.

24-9-2011



Layang Jingga (1)

Seribu putaran matahari telah kita lewati
kekasihku, dan satu purnama
lagi musti kita lalui untuk sampai pada
tempat yang kita sasar.
Ini kali kesekian saat suci bulan
menaungi dunia, kita masih saja
merapal jarak meniti jejak.

Gelombang telah
membesarkanmu, ombak
setia membelaimu
dalam rengkuhan luas
samudera
kau menyulam masa depan
yang kita impikan.
Kalau laut mendebur akulah yang paling khawatir
bila angin berkesiur akulah
yang paling menggigil,
biarpun tak lelah kau
menenangkan aku dengan
caramu
agar percaya pada kekuatan doa
dan kehendak-Nya, tapi hati
tak bisa dibohongi sebab
mengkhawatirkanmu
sama pentingnya dengan
makan tiga kali sehari.

Kau memang tak pandai
menulis seperti mereka,
juga bukan lelaki puisi yang
merayuku ditiap baitnya
tapi kau telah melukis sempurna
di jiwaku, memahat nama begitu
indah di hatiku.
Kau telah mengajariku cara paling
kasih perihal hati
untuk berhati-hati dalam menjaga hati,
untuk tidak bermain hati
baik secara diam-diam
maupun terus terang.
Kau mengajariku arti tanggung jawab
atas kepercayaan yang kita saling
embankan dipundak jiwa masing-masing,
kau mengajariku makna setia
bukan dengan kata-kata
tapi lakumu yang selalu madu.

Ah, betapa padamu aku
berkesudian menjadi pohon
paling gurun sebab kaulah
kekasihku yang paling hati.

19-8-2011



Layang Jingga (2)

Berpuluh purnama telah
terlewati
waktu telah berkesudian
menjadi saksi
atas luruhnya janji
yang terabaikan

Kau telah menggulung
seluruh ingatan
tentang masa depan
yang pernah kita bincangkan

Lihatlah setia itu telah menua
dan binasa diperjalanan
menujumu
terbujur dalam sunyi
paling tak terbagi

dan rindu yang begitu
biru padamu
kugantungkan diranting
perdu
kiranya hujan melarungnya
tanpa bermuara.

13-10-2011

Komentar