Langsung ke konten utama

Kemana Emha Ainun Nadjib?

Syaripudin Zuhri
http://www.kompasiana.com/virays

Di jaman Orde Baru(ORBA) namanya hampir setiap hari terpampang di media cetak, baik di surat kabar maupun majalah. Boleh dibilang tak ada hari tanpa Emha Ainun Nadjib. Kritikan yang tajam terhadap pemerintahan ORBA tak habis-habisnya dengan gaya tulisannya yang sangat menarik, lancar dan menginspirasi setiap pembaca. Dan sebagai budayawan yang luas wawasannya membuat gaya tarik sendiri.

Pada jaman ORBA selain Rendra, Taufik Ismail, Gusdur, Nurkholis Majid, Iwan Fals dan terakhir Emha Ainun Nadjib adalah pilar-pilar yang kokoh dan “tahan banting” dengan caranya masing-masing. Saya tidak bicara tentang mereka semuanya, diantara enam orang yang bergelar budayawan, seniman dan pejuangan demokrasi, yang tiga orang sudah tiada( Randra, Gus Durs dan Nurkholis Madjid) dan yang masih berkiprah di dunianya masing-masing juga tiga( Taufik Islamil, Iwan Fals dan Emha Ainun Nadjib).

Setelah ORBA tumbang dan berganti Orde Reformasi, seakan semuanya “tenggelam” kemana mereka? Tidak adakah yang dapat mereka kritisi lagi atau memang jaman sudah lain. Di jaman Reformasi semua orang bisa “teriak” sekencang-kencangnya atau mengkritik pemerintah semaua-maunya tanpa takut berhadapan dengan Pangkopkamtib atau pihak keamanan. Apa lagi setelah medan internet menguasai jagat raya di dunia maya, siapaun bisa menulis dan bisa mengkritik pemerintah habis-habisan!

Nah di sinilah uniknya, diantara 3 orang tokoh budayawan dan seniman itu “hilang” seakan “lenyap” di telan bumi, tak terdengar kifrahnya atau memang sengaja “menghilang”. Mungkin yang suka dengan tulisan-tulisan Emha Inun Nadjib merasa kehilangan, karena memang Emha yang sekarang “memproklamirkan” namanya bukan lagi EMHA, hurup” M”nya tidak lagi ditulis “EM” namun tegas “Muhammad”. Emha Ainun Nadjib yang lebih dikenal dengan sebutan Cak Nun begitu produktif menulis di jaman ORBA.

Penulis berbagai macam buku, diantaranya: Slilit Sang Kiayi, Sang Markisot, Lautan Jilbab, Kiayi Bejo, Kiayi Sudrun Gugat, Surat kepada Kanjeng Nabi, Marseksot Bertutur dan lain sebagainya. Ya tulisan Cak Nun mengalir begitu saja dan sangat produktif. Namun setelah ORBA tumbang Cak Nun ikut “menenggelamkan” dirinya dari dunia tulis menulis, terutama menulis buku dan di kolom-kolom surat kabar atau majalah. Mungkin selain “takut” dengan bajakan dia sibuk dengan Kiayi Kanjengnya yang berkeliling Nusantara dan Dunia.

Dan yang lebih lagi kita, saya atau mungkin anda, merasa kehilangan adalah kita tak akan menemukan tulisan Cak Nun yang aktual di dunia Internet, Cak Nun seakan lari mejauh dari tulisan yang penuh dengan copas mengcopas ini! Silahkan anda cari tulisan Cak Nun di dunia maya, baik di jaringan sosial Facebook dan yang sejenisnya, anda tak akan menemukannya! Kecuali dari buku-bukunya yang di kutif di sana dan di sini.

Lalu dimana kita temukan Cak Nun? Bagi yang “rindu” pada Cak Nun bisa melihatnya Youtube dan anda akan melihat Cak Nun yang “sebenarnya”. Nah di Youtube anda bisa menemukan: Kenduri Cinta, Presiden Balkadaba, Mocopat dan lain sebagainya. Namun jangan harap anda menemukan tulisan Cak Nun di dunia maya yang di tulisnya sendiri. Ya artikel atau kolom-kolomnya susah ditemukan, kalau adapun tidak “seramai” jaman Orba. Atau memang Cak Nun sedang “bertapa” dari hiruk pikuk dunia politik dan dunia tulis menulis.

Namun ada satu yang menjadi catatan saya: Cak Nun tak akan ada di partai manapun dan tak akan terlibat politik secara langsung, walaupun mungkin tewaran itu menjadi birokrat tak kurang-kurangnya. Ini prinsip yang harus dipegang teguh, harus ada budayawan yang tetap kokoh berada di luar partai, tak perlu ke mana-mana, tapi ada di mana-mana! Ya harus ada budayawan sekokoh Rendra, Taufik Ismail atau Gus Dur. Cak Nun harus tetap ada di luar partai manapun, agar dia tetap bebas “terbang” ke mana dia suka dan dia bebas dari carut marut perpolitikan Indonesia.

Setelah Gus Dur, Nurkholis Madjid dan Rendra tiada, belum ada lagi tokoh tokoh budayawan yang dapat menggantikan ketiga budayawan itu. Secara nasional budayawan yang tetap tegar dan berdiri kokoh ya Emha ini. Cak Nun dengan caranya sendiri tetap kritis pada pemerintah dalam pagelaran-pagelaran Kiayi Kanjengnya. Dan anda akan terkesima atau tertegun menyaksikan “Presiden Balkadaba” atau ” Laba Untuk Rakyat”!

10 June 2011
Dijumput dari: http://sosok.kompasiana.com/2011/06/10/kemana-emha-ainun-nadjib/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…