Langsung ke konten utama

Buruh Bicara, Buruh Bersastra

Sony Wibisono
http://www.suaramerdeka.com/

KEMARIN, 1 Mei, adalah Hari Buruh Internasional. Jika para buruh di berbagai belahan dunia berdemonstrasi, sekelompok buruh merayakan hari itu dengan cara lain. Ya, para buruh migran itu mengadakan Festival Sastra Buruh di Gogodesa, Kecamatan Kanigoro, Blitar, Jawa Timur, pada 30 April-1 Mei.

Sejak awal mereka memang bersepakat untuk memperkenalkan karya seni, membaca puisi, dan berteater. Ajang itu juga menjadi bagi pengalaman lewat sastra mengenai kehidupan kaum buruh.

Ya, nasib buruh migran ternyata tak jauh beda dari buruh lokal. Namun memang masalah buruh migran lebih kompleks. AA Syifai, salah seorang penggagas festival itu, menuturkan kebijakan pemerintah sejak penyaluran tenaga kerja sampai soal perlindungan amat longgar.

"Lebih dari 50% biaya pengurusan kerja di luar negeri habis di tangan penyalur. Ya, dari pialang sampai menteri ambil jatah," ujarnya.

Rumah tangga juga sering bermasalah karena kepergian mereka ke luar negeri. " Banyak teman saya mengeluh sang suami kawin lagi," ujar Maria Bo Niok.

Mantan buruh migran di Hong Kong yang sekarang menjadi penulis itu menuturkan banyak rekannya ternyata menulis. Nah, Festival Sastra Buruh adalah ajang bagi para buruh migran yang menjadi penulis, khususnya yang bekerja di Hong Kong.

Apa yang melatarbelakangi kepenulisan menulis? "Tidak lain tak bukan adalah keadaan," kata Maria.

"Dulu saya beranggapan mereka menulis untuk sekedar curhat. Ternyata karya mereka luar biasa," ucap Bonari Nabonenar, sastrawan yang belakangan dekat dengan buruh migran.

Dia bersama bersama rekan-rekannya tak mempermasalahkan apakah genre sastra buruh benar-benar ada. "Saya hanya berproses dengan teman-teman buruh yang menulis. Lepas dari ukuran apakah itu sastra buruh atau bukan."

Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Unnesa, Surabaya, Setyo Yuwono, menilai buruh menulis sungguh positif. "Di kampus saja saya kesulitan mengembangkan atmosfer bersastra," ujarnya.

Dia menyatakan salut karena di sela kesibukan sebagai buruh, mereka bisa memanfaatkan teknologi untuk menjalin komunikasi antarpenulis. "Padahal, banyak mahasiswa gagap teknologi. Membuka internet saja tak bisa," katanya.

Beni Setia menganggap stigma ideologi kiri yang melekat pada buruh bukan kesalahan mereka. "Kita harus bisa melihat sastra secara objektif. Jangan dilihat semata-mata dari latar belakang sang pengarang," ujar cerpenis yang bermukim di Madiun itu.

"Kalaupun ada ideologi dari luar, itu semata-mata karena ada penggerak dari luar yang bisa menerapkan teori pada buruh," katanya. Sastra karya buruh migran, ujar dia, membuktikan bahwa karya tak bisa dilihat cuma dari satu sisi. "Kualitas karya mereka mematahkan banyak pendapat miring tentang buruh."

Para buruh migran itu menulis karena kegelisahan. Dan, aksi budaya mereka bisa menjadi representasi keperihan hidup di negeri orang.

03 Mei 2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…