Langsung ke konten utama

Masih Ada Jalan untuk Bangsa yang Gagal

Hasnan Bachtiar*
http://sastra-indonesia.com/

Bagaikan dalam cerita lama bencana di bumi ini/ Sekeping taman surga taman dalam pelukan, menjadi neraka dunia/ Banyak anak bangsa menjadi durhaka, menjarah segalanya/ Bumipun menghilang barokahnya.

Demikianlah petikan dari syair Bimbo tatkala menangisi pilunya negeri ini: Indonesia. Sedemikian getir penderitaan bangsa sehingga tiada daya dan upaya untuk sekedar membersihkan kembali toreh dosa-dosa yang mengotori sejarah.

Silang sengkarut politik kebangsaan, merubah hakikat sejatinya menjadi politik kebangsatan. Melacurkan diri, kehormatan, intelektualitas, kesadaran, dan bahkan kemanusiaan demi meraih hal yang fana, seperti kekuasaan, pengakuan, harta dan moralitas palsu. Korupsi, kolusi, nepotisme, penguasaan, dominasi, hegemoni dan eksploitasi menjadi pola-pola yang lumrah sebagai tindak laku birahi anak bangsa yang tiada tertahan.

Apa yang terjadi dengan Indonesia kerana ulah orang bangsa sendiri? Agama telah mati, tuhan dan ilahi tak dihiraukan lagi, kemiskinan, kelaparan, dehumanisasi, pendidikan yang merosot, moralitas manusia yang tersungkur dalam jurang, infrastruktur kenegaraan yang rapuh, trend dan mode yang konsumeristik, gaya hidup yang bebas sebebas-bebasnya, kriminalitas tanpa batas dan seribu ketragisan lainnya.

Apa pasal bumi yang pernah dijuluki taman surga ini menjadi neraka? Karena tanah gemah ripah loh jinawi telah musnah, hilang barokah. Seluruh kehidupan penuh dengan gejolak syahwat ketubuhan yang tiada kendali. Manusia kini menjelma menjadi iblis yang lebih dari iblis sebenarnya. Sangat kejam. Banyak orang bernyawa lupa jika hidup hanya sementara. Tiada satupun yang pernah menghitung-hitung untuk masa depan manusia lainnya.

Kiranya para pendiri bangsa ini diundang untuk hadir sekedar memperingati bahwa bangsa Indonesia ini pernah ada, niscaya mereka akan menangis sejadi-jadinya. Betapa umat yang dulunya menjunjung Pancasila, menanam benih di tanah nusantara, kini telah punah.

Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantoro, Agus Salim, lalu Hasjim Asyari, Ahmad Dahlan, dan seluruh arwah penggede bangsa akan sedih tiada tara, padahal mereka yang telah menata cita bangsa demi masa depan kemerdekaan kemanusiaan.

Benarlah dugaan Soedjatmoko (1988) bahwa tatkala orang bangsa tiada pernah lagi berpijak pada bumi dan kemanusiaan, lalu mengabaikan masa depan negerinya, bersiaplah untuk menjadi negeri yang gagal. Kini benar, negeri ini gagal.

Adakah keadilan sosial, kesejahteraan, kemanusiaan dan demokrasi hadir di negeri ini? Tiada pernah. Karena itu, jangan sungkan untuk mengakui bahwa negeri ini gagal. Tidak ada wakil rakyat yang memiliki rakyat, pula tidak ada rakyat yang memiliki wakil. Yang ada bahwa pemodal telah membeli suara rakyat dan rakyat rela hati nurani kebangsaannya terbeli hanya untuk beberapa lembar rupiah.

Presiden dan para menteri bukanlah pemikul amanah rakyat, dewan perwakilan rakyat atau legislatif juga tiada pernah bersuara untuk rakyat, para ksatria keadilan atau pejabat yudikatif juga alpa untuk teguh dan istiqomah menegakkan keadilan hingga langit runtuh. Seluruh sistem, struktur, proses, bahkan kultur berbangsa dan bernegara jauh panggang dari api dengan kebenaran. Matilah apa yang disebut dengan demokrasi.

Agama, para ulama, orang-orang saleh, intelektual universitas, bahkan beberapa jiwa spesial yang menyatakan diri hidup selibat, murah sekali dibeli oleh kekuasaan. Semuanya semu dan bertopeng. Tiada lagi spiritualitas, intelektualitas, humanitas, kecuali hanya pura-pura, dan sebagian adalah trend yang menjadi kebutuhan infotainmen. Siapa yang paling diuntungkan? Semuanya untung dan semuanya rugi sekaligus, kecuali para pemilik modal (kapitalis).

Bagaimana kita menjadi bangsa yang hidup kembali dari mati? Selama matahari, masih terbit dari timur, selama badan ini masih bisa digerakkan dan selama kemauan masih dapat dinyalakan, selama doa-doa tetap menjadi dorongan, maka selalu ada harapan, selalu ada jalan. Mari kita coret kata putus asa dari kamus kehidupan kita, jangan sesali apapun juga, jangan salahkan siapapun juga. Mari kita hapus kata tidak bisa, dari buku harian kita. Demikianlah kata Bimbo. Para pembaca, marilah kita mulai di bulan Ramadhan yang penuh barokah ini.

01 Agustus 2011
*) Penulis adalah anak bangsa, bekerja di Center for Religious and Social Studies

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…