Langsung ke konten utama

Bahasa Serantau

Abdul Gaffar Ruskhan*
Media Indonesia, 17 Maret 2007

ADA yang mengatakan bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu juga. Soalnya bukankah bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu? Pertanyaan itu ada benar dan ada salahnya.

Jika kita kembali ke sejarah bahasa, memang bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Tidak ada yang membantah bahasa Indonesia yang diikrarkan pada Sumpah Pemuda sebagai bahasa persatuan bersumber dari bahasa Melayu.

Pada masa itu dan jauh sebelumnya, bahasa Melayu sudah digunakan sebagai bahasa perdagangan/perhubungan di Nusantara ini. Karena itu, bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa persatuan di Indonesia.

Kalau begitu, mengapa bahasa Indonesia tidak disebut saja dengan bahasa Melayu Indonesia? Penamaan itu sudah berlaku di Malaysia dan Brunei Darussalam, yakni bahasa Melayu Malaysia dan bahasa Melayu Brunei Darussalam. Persoalannya bukanlah sekadar historisnya. Segi politisnya sangat berperan dalam penamaan bahasa Indonesia.

Ada perbedaan bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu Malaysia dan Melayu Brunei Darussalam. Kedua negara jiran itu pada dasarnya menggunakan bahasa Melayu dengan berbagai dialeknya. Tentu berbeda halnya dengan Indonesia.

Di Indonesia bahasa yang digunakan, baik sebelum maupun sesudah Sumpah Pemuda, bermacam-macam. Berdasarkan penelitian, ada 731 bahasa daerah. Dalam Linguistic Lists dikatakan 746 bahasa daerah yang dituturkan ratusan etnik di Indonesia. Karena keragaman bahasa yang dituturkan masyarakat Indonesia, bahasa Indonesia tidak dapat disebut bahasa Melayu Indonesia. Jika hal itu digunakan, ada kemungkinan bahasa Indonesia merupakan dialek bahasa Melayu. Secara politis hal itu tidak dapat demikian. Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan bahasa negara yang digunakan oleh lebih ratusan etnik di Indonesia. Karena itu, penamaan bahasa Indonesia merupakan pilihan politis bagi bangsa Indonesia.

Ada kemauan untuk menjadikan bahasa serumpun ini (bahasa Indonesia, Melayu Malaysia, dan Melayu Brunei Darussalam) menjadi bahasa resmi di kawasan tanah Serantau. Penggunaan bahasa Serantau diharapkan dapat memudahkan penyatuan ketiga bahasa negara ditambah bahasa Melayu Singapura di kawasan negara-negara itu.

Pada dasarnya penyatuan bahasa negara-negara Serantau sudah lama dirintis. Pada 1972 sudah ada kesepakatan pemberlakuan ejaan bahasa Indonesia dan Malaysia. Pada 1974 disepakati wadah kerja sama kebahasaan di antara dua negara, yakni Majelis Bahasa Indonesia-Malaysia (Mabim). Selanjutnya, keanggotaan wadah itu bertambah dengan masuknya Brunei Darussalam pada 1985. Nama wadahnya pun berganti dengan Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia (Mabbim).

Kerja sama kebahasaan di tingkat tiga negara lebih banyak terlihat di bidang peristilahan. Ada sekira 350 ribu istilah yang dipadankan ke bahasa tiga negara. Kira-kira 70% istilah yang dipadankan memiliki kesamaan. Hal itu menunjukkan adanya kesamaan istilah yang digunakan. Istilah padanan disepakati dalam sidang pakar tiga negara. Pelaksanaan sidang itu berlangsung di negara anggota setiap tahun secara bergantian.

Perencanaan, kebijakan, dan berbagai keputusan majelis dilakukan pada Sidang Eksekutif Mabbim yang berlangsung setiap tahun di negara anggota secara bergantian juga. Biasanya sidang dilaksanakan menjelang pertengahan Maret setiap tahun. Pada tahun ini sidang diadakan di Malaysia. Sementara itu, tahun depan bertepatan dengan Tahun Bahasa dan 80 tahun Sumpah Pemuda sidang majelis akan diadakan di Indonesia.

Salah satu program majelis yang belum terlaksana adalah keinginan menjadikan bahasa Serantau sebagai bahasa resmi pada tingkat Asia Tenggara (ASEAN). Kendalanya adalah kurangnya dukungan dari negara lain, seperti Singapura dan negara-negara yang tidak memiliki bahasa Indonesia/Melayu sebagai bahasa resmi.

*) Abdul Gaffar Ruskhan, Kabid Pengkajian Bahasa dan Sastra Pusat Bahasa
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/03/ulasan-bahasa-bahasa-serantau.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…