Masygul di Bulan Baik

Yusi Avianto Pareanom
Sumber: ruang baca koran tempo

Hari-hari ini saya banyak masygul. Sebetulnya ini bukan cara yang baik untuk menjalani bulan baik. Tapi mau bagaimana lagi, saya bukan orang yang terlalu baik saat berhadapan dengan hal-hal yang kurang baik. Apalagi kalau hal-hal kurang baik itu berkaitan dengan dunia saya mencari nafkah (hal baik), yaitu penulisan dan buku.

Sebelumnya, izinkan saya berputar sedikit. Di kawasan Depok ada sebuah toko buah yang sering saya singgahi. Sebelumnya, saya nyaman saja berbelanja di sana. Buahnya bagus, harganya masuk akal. Suatu hari, mata saya tertumbuk pada tulisan di atas tumpukan mangga yang ranum. Bunyinya menggelitik, buah yang satu ini bagus untuk golongan darah A. Di sebelahnya untuk golongan darah B. Semula saya berniat membeli, tapi lantas kecut, golongan darah saya O. Saya lantas memanggil penjaga toko.

“Kenapa hanya bagus untuk golongan darah A dan B?” tanya saya.

“Sudah dari sananya kok, Mas,” kata si penjaga. Ketika saya kejar, jawabannya tak berubah. Tidak puas dengan penjelasannya saya meminta manajer keluar.

“Begini, golongan darah saya O, kalau makan mangga ini kira-kira saya bakal mampus tidak?”

“Bapak kok nanyanya ‘gitu, tapi... anu, saya tidak tahu” kata si manajer.

“Kalau tidak tahu, mengapa tulisan itu dipasang?”

Mantra “dari sananya” kembali keluar. Hari itu saya tidak jadi beli buah. Saya kesal, sekalipun saya yakin si penjaga dan manajer toko jauh lebih kesal ketimbang saya.

Kejadian di toko buah itu adalah salah satu yang bikin saya masygul. Mereka mempraktekkan apa yang secara main-main saya sebut “Steven Seagalisme”. Pernah lihat film bintang laga Hollywood yang satu ini? Sok gagah walau sebenarnya mengundang tawa. Di toko buah itu, Steven Seagalisme-nya adalah aksi pasang tulisan yang sepertinya ilmiah, tetapi sebenarnya asal-asalan.

Celakanya, ini gejala umum (saya sedang melebih-lebihkan, tentu). Lebih celaka lagi, dan ini yang membuat saya sangat masygul, gejala ini bertaburan di dunia penulisan. Contoh paling anyar yang saya temui adalah artikel tentang soto kemiri yang dimuat di Kompas (23/09/07). Dalam tulisan ini, si penulis merasa perlu mencantumkan nama Latin untuk seledri dan kunyit, padahal tulisannya bukan diperuntukkan untuk jurnal kesehatan. Alasannya, Steven Seagalisme.

Bagaimana dengan buku-buku yang beredar? Supaya tidak dituduh asal comot, saya memilih untuk memeriksa Hubbu, pemenang pertama Sayembara Novel DKJ 2006, karya Mashuri (GPU, 2007). Sampul buku ini memikat, demikian juga premis yang ditawarkan. Krisis identitas sang protagonis di tengah tarikan tiga budaya: Islam, Jawa, dan modern. Novel ini disebut oleh Ahmad Tohari, salah seorang juri, sebagai “sangat utuh dan padu ceritanya”.

Setelah membaca Hubbu, saya jadi ingin bertanya, “Benarkah kita membaca buku yang sama?” Saya tak menjumpai “yang utuh dan padu” sedikit pun dalam buku ini. Malah Hubbu adalah salah satu cerita paling mbulet yang pernah saya baca. Saya mesti menabahkan diri untuk membacanya. Saya tak merasa terajak menikmati kegelisahan si tokoh utama. Alih-alih, si penulis membombardir pembaca dengan kalimat-kalimat mengambang penuh bunga tapi sama sekali tak bertenaga.

Hubbu juga bereksperimen dengan menggunakan narator lebih dari satu orang. Lucunya, suara semua narator sama. Terpaksa, saya hadirkan novel asing sebagai pembanding, Dancer karya Colum McCann. Novel yang berkisah tentang Rudolf Hamitovich Nureyev, pebalet kelas dunia keturunan muslim Tartar, ini menggunakan beberapa belas narator. Nureyev diceritakan melalui mata tukang cuci yang mengenalnya semasa bocah, penata panggung di balet Kirov, pasangan sejenisnya, dan masih banyak lagi. Semua narator memiliki suaranya sendiri. Saya tak menjumpai ini di Hubbu. Alhasil, yang muncul hanyalah kecentilan, atau setidaknya eksperimen yang gagal.

Tidak cukup cuma itu. Pada halaman 39 tertulis, “Aku seakan-akan pernah di sini, berjalan di sekitar ini”. Aku sendiri tak mengerti, entah kapan itu terjadi. De javu model begitu memang sering menghantuiku…

De javu, dari mana kata ini berasal? Saya yakin, dari paparan sebelumnya penulis bermaksud menulis deja vu yang berasal dari bahasa Prancis, yang artinya kira-kira “seperti sudah pernah melihat” (deja = pernah; sementara vu, bentuk past participle dari voir, = melihat ). Salah ketik? Saya bermaksud bersangka baik. Tapi di halaman 202, De Javu muncul lagi besar-besar sebagai judul bab. Salah ketik dari Hongkong? Yang ada adalah Steven Seagalisme. Penulisnya mau kelihatan gagah dengan mengutip frasa asing, tapi ia tak cukup punya pengetahuan sederhana tentangnya. Penyuntingnya (kalau ada) juga tak mau ketinggalan keren, maka loloslah de javu yang barangkali masih sepupuan dengan de Java itu.

Sebelum membaca Hubbu, sebetulnya saya sudah mendapat SMS dari kawan saya Rani Ambyo yang isinya melarang saya membaca buku itu. Ia tahu perangai saya yang gampang tersulut kalau ada bacaan yang terlalu “ajaib”. Saya bandel. Bagaimanapun, ini novel pemenang sayembara, pikir saya. Ternyata, Rani benar.

Saya masygul karena sebenarnya bahan baku Hubbu sangat menjanjikan. Banyak adegan yang sangat khas pesantren Jawa, dan bagi saya ini menarik, seperti ketika tokoh Jarot mencucup ubun-ubun Kiai Adnan yang baru saja meninggal. Pula ketika para santri dimarahi usai menonton wayang. Bahkan paparan buku harian ketika tokohnya berbahasa Inggris secara ngawur malah tepat penggunaannya.

Saya terus terang cemas setelah membaca Hubbu. Jika ini pemenang pertama sebuah sayembara nasional, bagaimana dengan mutu pemenang-pemenang di bawahnya? Bagaimana pula mutu yang tidak menang? Untuk menjawab rasa penasaran itu saya memungut Glonggong (Serambi, 2007) karya Junaedi Setiyono. Dan, saya mesti bilang, saya mendapat jeda kemasygulan. Glonggong ditulis dengan kerendahan hati. Tak ada Steven Seagalisme di sini. Banyak paparan memikat. Kalimat pembukanya juga imajinatif, Kanjeng Sultan Ngabdulkamid meninggal dunia pada 8 Januari 1855 pukul setengah tujuh pagi waktu Makasar. Perhatikan frasa “waktu Makasar”. Dengan dua kata ini, pembaca langsung dibawa ke masa silam.

Sayangnya, Glonggong seperti terbit tanpa disiangi penyuntingnya. Perhatikan banyaknya penggunaan ‘hanya’ yang kemudian masih diikuti ‘saja’. Pula muncul kalimat-kalimat yang tak kena di logika, seperti ketika tokoh utamanya mengingat apa yang dilihatnya ketika ia masih dalam gendongan ibunya. Ini tidak mungkin, sekalipun bisa diakali dengan cerdik bila ia menyisipkan alasan yang kuat. Sherman Alexie melakukannya dengan asyik dalam novel terbarunya, Flight. Dalam buku ini, tokoh utamanya mengingat ketika sewaktu bayi ibunya sering menyanyikan lagu I Love You More Than You’ll Ever Know dari Blood, Sweat, and Tears. “Aku tahu aku tak semestinya ingat hal itu. Tapi aku benar-benar ingat.” Dengan cara ini, pembaca dikenalkan pada sosok yang suka ngeyel namun pada dasarnya melankolis.

Glonggong yang tampil bersahaja celakanya justru dicederai blurb Stephen Seagalisme dari ketiga juri (Ahmad Tohari, Bambang Sugiharto, dan Dr. Apsanti Djokosujatno). Kawan saya AS Laksana sudah membahas ini dengan sangat baik dalam diskusi Glonggong beberapa waktu di Jakarta, saya tak akan mengulangnya di sini (silakan kirim surat elektronik ke aslaksana@yahoo.com bila ingin mendapatkan salinan makalahnya --itu juga dengan catatan yang bersangkutan sudi membagi).

Asal tahu saja, masih banyak lagi hal yang membuat saya masygul. Tetapi kali ini saya batasi untuk urusan buku sajalah. Saya bukan klon dari Smurf Penggerutu kok. Kalaupun dalam tulisan ini kemasygulan ini saya tujukan kepada para pemenang sayembara DKJ, itu karena mereka semestinya bisa dijadikan barometer. Dan, yang lebih penting, saya sebetulnya sangat ngeman kepada Hubbu maupun Glonggong. Dengan penulisan ulang untuk Hubbu, dan penyuntingan ketat untuk Glonggong, keduanya bakal punya peluang untuk mendapatkan perhatian khusus dari juri bila dibawa ke lomba semisal Man Asia Prize. Namun, premis menjanjikan saja tidak cukup. Bila dilepas glondongan macam yang beredar di pasar, wah bisa kena “de javu” lagi saya.

Komentar