Langsung ke konten utama

Gemerincing Malam

Han Gagas
Kedaulatan Rakyat, 24 Juli 2011

Pada peristiwa itu, mulanya aku sungguh tak percaya. Malam turun bersama rintik hujan yang membawa angin basah. Hawa dingin tak biasanya merajam tulang. Rasanya, sebenarnya, telingaku tak cukup mendengar, suara gemerincing pasukan berderap menembus malam. Tapi, akhirnya kepalaku disudutkan untuk menerimanya sebagai sebuah kenyataan. Karenanya, dengan akal sehat aku berani menyiarkan peristiwa itu sekarang ini.

Rasa ingin tahu menyeret tubuhku mendekat. Dengan kedua tangan melindungi kepala dari paku-paku air langit, aku berlari kecil keluar rumah, menuju jalan lebar yang lengang, dan mendekati sebuah kanal yang kering-kerontang karena kemarau panjang. Suara deru bergemerincing datang dari ujung kanal di utara, tampaknya dari sebuah bendungan, aku menoleh, memicingkan mata.

Mataku menatap lurus sepanjang kanal yang memanjang ke utara. Di atasnya, tampak kerlip dua lampu berpendar halus, dengan bayang-bayang hitam berkerjaran di belakangnya. Tampak ujung-ujung baju melambai tertiup angin. Juga ikat kepala dan sepasang bendera. Kaki-kaki melayang jauh laksana terbang. Aku tak percaya, bukankah tak ada lagi pendekar sakti di jaman sekarang?

Derap kuda bagian depan pasukan terdengar diantara derai hujaman paku air, dan suara ringkikkan sesekali melengking menyengat telinga. Aku kemudian berpikir, bukankah hujan ini nyata, tubuhku yang berdiri ini juga nyata, dan suara itu, kerlip lampu itu, bayangan-bayangan hitam itu jelas nyata di mataku, tiada lagi hal yang membuatku tak lagi sepenuhnya percaya.

Sembari memikirkan peristiwa ganjil yang nyata ini, rombongan itu makin dekat, deru lari mereka, sosok-sosok tubuh itu berlarian meninggalkan bayangan-bayangannya yang terus menguntit. Makin dekat jarakku dengan mereka, makin kencang degup jantungku. Kerlip lampu makin membesar, benderang menyibak gelap malam. Hujaman gerimis nyaris tiada ampun lagi membasahi rambutku, juga baju bagian bahu.

Serentak dengan pasti, tinggal beberapa jengkal lagi mereka berlarian di depan hidungku, jantungku makin terpacu, dan... plashh... Tercenung aku menatapnya. Hujan berhenti. Hawa dingin terusir pergi, hangat menyebar, kuda-kuda semberani tertarik tali kekangnya, pasukan seakan berhenti sesaat, rombongan di belakangnya yang berlarian mematung.

Mataku tak lepas dari peristiwa yang aneh ini, menatap tak percaya melihat tiap paras yang bening seperti kaca, rata, tanpa raut wajah, tiada hidung, bibir, hanya cekungan mata, aku diserang perasaan ganjil yang mencekam! Lalu wajah itu memucat, putih pekat, dan dari cekungan mata mengalir cairan merah kental berbau anyir, mengalir, terus mengalir.

Mataku tak mampu beralih, menatap darah merah kental itu terus mengalir dari matanya, membasahi pipi, mengalir ke dagu, leher, hingga meluber ke baju-baju hitam mereka, menetes makin banyak hingga alirannya sampai ke kaki-kaki telanjang mereka yang melayang! Aliran itu mulai menggenangi kanal, mengalir tanpa henti menambah volumenya. Tetesannya yang tiada henti, memenuhi sungai yang semula kering itu, volume makin tinggi, perlahan menaik hingga meluber membasahi kakiku. Aku tertegun!

***

Aku terbangun ketika dikerumuni banyak orang. Matahari sudah membereskan gelapnya malam, fajar sudah terbentuk di barat. Udara pagi menyisir kulit, mengisi hawa segar di rongga dadaku. Aku melayang menatap tubuhku dan orang-orang yang mengerumuni.

“Sudah matikah?”

“Coba pencet nadinya! Atau sentuhkan jarimu depan hidungnya, adakah hawa napas keluar?”

“Tak mau, takut berurusan dengan polisi.”

“Sepertinya dia sudah mati, kasihan betul, masih muda.”

“Apa yang terjadi?” Seorang lelaki berseragam polisi mendekat.

“Wah cepat betul, Bapak.”

“Kebetulan pas lewat, hendak apel ke kantor.”

“Kenapa anak muda ini mati di dalam sungai yang kering ini, tak ada bekas luka sedikipun, sepertinya juga bukan bunuh diri.”

“Apakah ada hubungannya dengan apa yang kudengar semalam, suara gemerincing kembali terdengar.”

“Masak, seh? Takhayul kamu!”

“Telingaku belum tuli, tahu!”

“Bukankah kejadian itu sudah lama, bukankah arwah-arwah itu sudah tentram di sana.”

“Mungkin karena sejumlah wartawan mencoba mencari tahu jejak-jejak mereka jadi terusik.”

“Maksudmu, arwah tentara DI TII yang nekat mendirikan NII itu? Di bendungan sana.”

“Iya, siapa lagi.”

“Rasanya ini bukan mereka tapi pasukan Nyai Blorong. Bukankah semalam adalah malam Jumat Kliwon, dan bukankah kanal ini –yang kau sebut sebagai Selokan Mataram- adalah jalur pasukan hantu itu menuju muaranya di Laut Selatan?”

“Mungkin juga, tapi kalau pasukan hantu yang benar-benar lewat, bukankah mestinya tubuh pemuda itu juga ikut terbawa sebagai tambahan pasukan mereka, atau mungkin jadi suami baru buat Nyai.”

“Iya, ya.”

Suara-suara itu berebut tempat benar dan mungkin, makin banyak yang berkata, makin banyak yang menanggap, makin terdengar serupa dengung tawon di telingaku. Aku cuma heran dan bingung kenapa aku bisa melayang-layang, dan terlepas dari tubuhku.

Graha Aksara Solo, 20 Juni 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…