Langsung ke konten utama

Kata Pengantar Buku Kumcer Gusnoy Duadji “Seekor Anjing Menelan Bom” (2010)

Gus Noy
Kata Pengantar

Selama ini buku-buku yang diterbitkan oleh DF Publisher adalah karya-karya BMI, dan seringkali BMI Hong Kong. Memang DF Publisher sangat concern pada karya-karya BMI Hong Kong, dan beritikad mengangkat karya-karya mereka, atau sering digelari “sastra buruh migran Indonesia”, dalam format buku agar lebih terdokumentasi, dan abadi di kalangan pembaca.

Paradigma “buku dan penulis hanya untuk kaum terpelajar berpendidikan tinggi hingga bergelar sarjana bahkan professor, atau seorang pejabat tinggi” sudah usang. Dan paradigma “sastra hanya untuk sastrawan atau berpendidikan tinggi di bidang sastra” sudah tidak relevan. Siapa pun bisa menulis karya sastra, asalkan benar-benar tekun belajar, bertanya, berlatih, dan berproduksi. Sastra buruh migran, sepakat atau tidak, juga adalah bagian dari kekayaan sastra Indonesia kontemporer.

Selama ini pula salah seorang penikmat karya-karya BMI Hong Kong adalah Gus Noy alias Agustinus Wahyono. Beberapa kali Gus Noy ikut memberi pembelajaran sastra jarak jauh via internet, baik melalui Facebook, email, maupun blog pribadinya. Dengan berbagi sedikit teori, istilah sastra, dan ulasan-ulasannya mengenai karya sebagian BMI Hong Kong, khususnya Teater Angin, semakin membuka pemahaman tulis-menulis bagi sebagian rekan BMI Hong Kong yang sedang bersemangat untuk menekuni sastra. Pernah ia memenuhi permintaan panitia lomba menulis cerpen BMI Hong Kong sebagai salah seorang juri.

Sayangnya, segelintir saja dari kalangan pembaca sastra yang mengenal Gus Noy dalam hal karya-karyanya. Tidak sedikit yang bertanya, “Siapa sih Gus Noy itu?” Bahkan, pada pertengahan tahun 2010 ini ada yang lantang menantang melalui sebuah komentar di Facebook, “Selama ini Gus Noy cuma bisa mengritik atau menyebut kekurangan-kekurangan cerpen kami, apakah Gus Noy bisa membuat cerpen?” Dengan santainya Gus Noy menjawab, “Maaf, saya cuma pembaca. Saya sama sekali tidak bisa membuat cerpen.”

Keraguan siapa pun terhadap Gus Noy dalam berkarya memang sah-sah saja. Kalau pun karya-karya Gus Noy sudah beredar di media massa cetak maupun internet bahkan pernah menjadi staf redaktur di situs cybersastra tahun 2002-2003, tetaplah sebatas kalangan kecil yang mengetahuinya.

Oleh karenanya, DF Publisher tertarik untuk membukukan sebagian dari cerpen-cerpen Gus Noy dan menjadikannya buku “Seekor Anjing Menelan Bom” untuk menjembatani para pembaca sastra yang selama ini sama sekali belum pernah membaca cerpen-cerpen Gus Noy. Apakah cerpen-cerpen yang terbukukan ini memiliki kualitas memadai ataukah sama sekali Gus Noy memang gagal membuat cerpen, para pembacalah yang berhak menanggapinya.

Melalui “kata pengantar” ini DF Publisher juga mengucapkan terima kasih kepada Iwan “Bung Kelinci” Sulistiawan, Bonari Nabonenar, dan Sigit Susanto yang telah membaca cerpen-cerpen dalam buku ini dan menanggapinya dengan “komentar pendek” (endorsmen).

Hong Kong, Agustus 2010
Penerbit DF Publisher

Sumber: http://www.facebook.com/topic.php?uid=33090570679&topic=15516

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…