Kabar Dari Sebrang: BMI Bekerja, BMI Berkarya!

Uly Giznawati
http://www.kompasiana.com/www.ulygiznawati-ar.com

Elly Susanti, Bikin Album Perdana Duet Dengan Marwoto

Semangatnya yang terus membara mengejar cita-cita, walau akhirnya perjalanan hidupnya kemudian menuntunnya bekerja sebagai buruh migrant Indonesia (BMI) di Hong Kong yang mana sebelumnya pernah bekerja di Taiwan selama 3 tahun. Ibu dari dua orang anak, asal Ponorogo, Jawa Timur ini. Disela kesibukannya karena bekerja ikut orang dan setumpuk pekerjaan selama sepekan, namun hal ini tidak menyurutkan keinginannya untuk menjadikan seseorang yang diinginkannya. Impiannya sejak kecil ingin menjadi penyanyi.

Elly menjadikan Hongkong sebagai tempat untuk menimba segala macam ilmu yang bisa ia pelajari, ‘’saya belajar apa saja selama di Hongkong, menjadi seorang BMI adalah suatu hal yang tidak pernah aku bayangkan. Tapi perlahan aku mulai bersyukur dengan apa yang aku jalani sekarang, dimana aku bisa mengambil hikmahnnya, aku juga bersyukur mempunyai teman dan sahabat-sahabat yang saling memperingatkan dan saling mendukung” tuturnya. Ia menyadari keberhasilannya saat ini tak lepas dari peran serta teman-temannya.

Dalam hal menyanyi, bagi Elly sudah tidak asing lagi. Jauh sebelum berangkat menjadi BMI, Ia adalah artis panggung, penyanyi dangdut dari desa ke desa. Di Hongkong pun, disela waktu liburnya, Elly kerap memenangkan berbagai lomba menyanyi yang digelar oleh Organisasi BMI. Dari berbagai kegiatan yang diikutinya, akhirnya membawa Elly bertemu dengan pelawak Marwoto, secara kebetulan, yang beberapa waktu lalu menyambangi Hong Kong bersama Group Ketoprak Humornya. Dan dari situ, Elly dikenalkan oleh Budi Pramono, seseorang yang biasa mengarensemen musik. Butuh satu bulan untuk Elly melakukan proses arasemen musik, pembenahan vokal, rekaman dan syuting video klip. Semua itu dilakukan Elly saat pulang cuti bulan maret lalu di Budi Studio Jogjakarta.

Dialbum ”Mangan Ati”, berisi 8 lagu dan semua lirik lagu hasil karangan Elly sendiri. Yang mana Ia tulis disela waktu bekerja dirumah majikannya. Album tersebut berisi tentang sisi kehidupan BMI diluar negeri, diantaranya mengenai kisah cinta lewat dunia maya, yang lagi nge-trend yaitu Chating.

Wanti Rahayu

Wanti Rahayu, bekerja di Hongkong sejak tahun 2002, merupakan salah satu aktifis buruh migran Indonesia di Hongkong. Gadis manis asal dari Kebumen ini mengaku senang dan enjoy menjalankan tugas-tugas organisasinya. Saat ini dia menjadi salah satu pengurus di organisasi AMANAH (Asosiasi Masyarakat & Mantan Nakerwan Indonesia Hong Kong ) yang menyediakan kursus pendidikan ketrampilan bagi BMI di Hong Kong yaitu kursus menjahit dan Tata rias pengantin. Wanti juga aktif sebagai team Advokasi di KOTKIHO (Koalisi Tenaga Kerja Indonesia Hong Kong). untuk membantu teman-teman senasibnya yang kurang beruntung. Dengan mengikuti berbagai macam training yang menunjang tugas dan pengetahuanya. Wanti juga baru menyelesaikan D1-nya di LPPMI (lembaga pendidikan professional Mandala Indonesia) di Hongkong.

Menyanyi adalah hobynya, setiap ada panggung terbuka, wanti tidak akan menyia-nyikan kesempatan untuk tampil menyanyi di depan Publik. Suaranya yang merdu selalu mendapat aplusan meriah dari penonton. Memang belum banyak prestasi kejuaraan yang ia raih dalam lomba tarik suara, namun demikian tidak menyurutkan semangatnya untuk tampil menyanyi di depan umum, terbukti wanti selalu dapat orderan menyanyi baik di kalangan BMI maupun organisasi local Hongkong.

Prestasi di Hongkong :
1. Juara II Busana Tradisional Sanggar Budaya tahun 2007
2. Masuk 10 Besar Lomba Busana Muslim Sanggar Budaya 2008
3. Masuk 5 Besar Lomba Karoke KJRI tahun 2008

Krisnani

Sebut saja Krisnani ( 41), wanita enerjik asal Banjarnegara ini mengawali karier sebagai Perias dan Penata rambut mulai dari Indonesia, sebelum berangkat ke Hongkong tahun 2002, ia sudah pernah bekerja di beberapa salon baik Jakarta maupun di daerahnya. Tujuan utama ke Hongkong adalah mengumpulakan dolar untuk di jadikan modal usaha salonnya, namun karena mudahnya semua fasilitas yang tersedia di Hongkong akhirnya melenakan krisnani dari tujuan mulianya, namun kemudian ia menyadarinya.

”Dulu pertama datang ke Hongkong saya tidak ada pikiran untuk dapat mengembangkan bakat yang saya punyai, beberapa tahun berlalu hari libur saya gunakan hanya untuk berfoya, jalan-jalan, kumpul dengan teman-teman., hanya itu saja, tetapi kemudian saya menyadarinya kalau selalu begini tidak akan ada manfaatnya, melihat banyaknya teman-teman BMI yang selalu berjilbab akhirnya menumbuhkan kesadaranku untuk belajar, meyakinkanku bahwa aku bisa mengembangkan karya-karyaku,” tutur perempuan yang mempunyai anak satu ini mengawali kisahnya.

Akhirnya ia menemukan keyakinan dan sekaligus membuktikan, bahwa bekerja menjadi TKW adalah pekerjaan mulia, dan berharap pandangan-pandangan miring yang merendahkan harga diri seorang TKW berubah menjadi menghargainya, bahwa TKW mempunyai nilai lebih dari sekedar menjadi pembantu di negeri orang.

Baginya baik umur maupun waktu yang terbatas bukanlah alasan untuk menunda keinginan untuk belajar. Di sela-sela hari liburnya yaitu satu kali dalam sepekan, ia gunakan untuk belajar di suatu lembaga pendidikan swasta di Hongkong. Walaupun ia sudah merasa mampu secara otodidak namun ia masih merasa perlu untuk tetap belajar. Untuk pertama kali ia bergabung pada lembaga pendidikan YMCA Hongkong.

Setelah berhasil menggondoli ijasah dari pendidikan YMCA, Krisnani selalu di percaya dan turut andil dalam setiap event-event seperti “Fashion Show” yang di selenggarakan di kalangan buruh migrant baik Indonesia maupun Philipina.

Sebagai penata rambut pada 10 finalis pemilihan Miss Sahabat Smartone tahun 2006.

Juara satu lomba rias wajah NBF dengan durasi 30 menit tahun 2006.
Pemenang 1 dan 2 Liberty Foto Model Competion BMI 2006.
Penata rambut untuk Cover dalam majalah Liberty bulan oktober 2007.
Penata rambut dan perancang busana untuk pemenang putri Kartini Sanggar Budaya tahun 2007.
Perancang busana untuk juara 2 pemilihan model tabloid Rose Mawar Hongkong 2007
Penata rambut untuk juara 2 pada acara gebyar merah putih Dav Entertaitment 2007
Penata rambut pada juara 1 putri kartini Sanggar Budaya tahun 2008.
Penata rambut pada pemilihan Miss Smartone 2007 Versi Philipina.
Perancang busana untuk juara 1 penganten Muslimah Indonews 2007.
Perancang busana juara 1 kategori Fantasi Versi Philipina.
Penata rambut juara 1 pada lomba fashion show casual, Sanggar Budaya Hongkong.
Penata rambut untuk juara 1 pemilihan Top Model dari Positive Art Hongkong 2008.

Karena banyaknya prestasi yang di dapat, ia banyak di kenal di kalangan BMI Hongkong. Dan hal itu memacu semangatnya untuk terus maju dan berkreatifitas, ia banyak membantu dan memberi inspirasi pada teman-temanya untuk berkembang. Merubah penampilan dengan make-up dan gaya rambut akan menjadikan perubahan total. Disinggung tentang rahasianya ia menekankah bahwa tidak ada ritual khusus, yang penting mau belajar dan berlatih itu saja, ucapnya meyakinkan.

”Ibaratnya menyelam sambil minum air, selain uang yang kita bawa pulang, pengetahuan, wawasan juga ketrampilan kita dapatkan, aku juga ingin membuktikan bahwa kerja di luar negeri menjadi TKW bukan pekerjaaan rendah, banyak kan orang-orang Indonesia selalu memandang kami hanya sebelah mata, hanya melihat bahwa kita penuh penderitaan dan tidak berkembang,” Pungkasnya.

Musik Dari Taiwan
Bekerja dan Bermusik

Di tanah rantau, selain bekerja ”ikut orang”, bisa dijadikan ajang untuk mengekspresikan diri. Dan fakta membuktikan orang-orang yang yang ada diperantauan banyak yang berhasil. Kemampuan atau bakat yang terpendam dapat tersalurkan. Kalau di Hongkong banyak BMI yang mendirikan group dancers, organisasi kerohaniaan, Forum Lingkar Pena, atau kelompok seni budaya lainnya. Beda dengan buruh migrant yang ada di Negeri Formusa atau Taiwan. Yang mana Taiwan sedikit lebih banyak didominasi oleh tenaga kerja laki-laki (TKI). Mereka umumnya bekerja di sektor industri, dan kegiatan diluar yang mereka pilih adalah dengan membentuk suatu kelompok musik. Diantaranya ada, Nasionalize Band, Satoe Band, Bollo Band dan Eye Shadow Band.

Bollo Band sendiri memiliki arti “Semuanya adalah sahabat”. Inspirasi utama kelompok ini berasal dari salah satu personilnya yang bernama Sari (vokalis), dimana ia adalah seorang buruh migrant asal Indonesia yang menikah dengan warga Taiwan. Namun sempat mengalami kekerasan dalam rumahtangga. Sari yang mengalami kisah sedih ini, tidak putus asa, ia malah bersama dengan Bollo Band, menggunakan musik untuk mengobati sakit hati dan keluar dari bayang-bayang kehidupan silam.

Anggota Bollo Band sendiri mayoritas adalah TKI yang berada di Selatan Taiwan, dengan jumlah anggota 9 hingga 15 orang. Jumlah mereka untuk berkumpul memang tidak tentu, karena tidak barengnya mereka mendapat jatah libur. Maka bisa dimaklumi kalau kelompok band ini sering mengalami pergantian personil.

Namun seiring dengan semangat mereka, maka Bollo Band juga telah mendapatkan hati di kalangan para TKI di Taiwan. Bahkan pada bulan Agustus lalu Bollo band terpilih mewakili Indonesia dalam ‘’Bitan Music Festival 2009’’ yang diselenggarakan tepat didepan sungai Bitan. Ajang itu diikuti oleh pekerja asing dari Filiphina, Thailand, Nepal, juga Vietnam.

Dalam satu kesempatan Sari mengatakan, “Dengan musik dan tari, saya mengajak Bollo Band untuk memberikan hiburan bagi para perantau Indonesia di Taiwan untuk tetap semangat, tegar karena hidup di negeri orang.”

Sungguh sebuah kelompok musik yang yang hadir dengan latar belakang seorang BMI yang penuh dengan pengalaman pahit. Namun, memberikan makna arti yang mendalam bagi setiap insan manusia.

Eye Shadow Band

Eyeshadow atau ‘Bayangan Mata’, sekelompok anak muda, yang dimotori oleh empat orang yaitu Dian, Dani, Edi dan Onot. Mereka adalah Tenaga Kerja Indonesia yang mengais dollar Taiwan. Di sela waktu liburnya mereka mencoba mengisi dengan kegiatan positif, yaitu bermain musik. Awal mereka membentuk Band ini secara tidak sengaja, disaat libur mereka kerap bertemu dan nongkrong bareng, dan akhirnya sepakat untuk menjajal kemampuan mereka dalam bermain alat musik.

Eyeshadow Band kerap mengisi acara acara yang digelar oleh organisasi buruh migrant Indonesia di Taiwan dengan menggusung aliran musik pop. Mereka mencoba menghibur semua orang, khususnya adalah para buruh migrant Indonesia yang ada di Taiwan .

Dengan segala keyakinan, dan semangat yang luar biasa, pada tanggal 30 Januari 2009, Eyeshadow telah kelar merampungkan album perdana mereka yang bertajuk ”Jejak Langkah Anak Bangsa”. Album tersebut berisi 10 lagu yang mereka garap dengan sempurna, dan memakan waktu yang lama. Lagu yang sangat sederhana dan lirik yang penuh perenungan, gelisah kerinduan yang melelahkan sebagai pekerja yang hidup di tanah perantauan. Setiap bait lagu yang menampilkan perasaan para personil Eyeshadow teruntuk orang orang yang mereka cintai. Dan album tersebut akan serentak diedarkan di tiga negara, yakni Taiwan, Hong Kong dan Macau.

”Kami masih belum apa apa, dan masih banyak kekurangan disana-sini, tapi kami akan terus belajar. Kami ingin membuktikan sebagai anak bangsa, walau di tanah perantauan, tidak pernah putus asa dalam menggapai mimpi hingga berani mewujudkannya. Dengan segala keterbatasan yang kami punya, kami ingin menunjukkan pada dunia, menggugah semua kalangan, bahwa kami para buruh migrant Indonesia bukan puing yang berserakan, dan tidak pantas dipandang sebelah mata, akan tetapi kami adalah kumpulan berlian yang berkilau,” ujar mereka kompak.

Dengan ”Jejak Langkah Anak Bangsa” Eyeshadow Band ingin mengajak semua kaum buruh migrant Indonesia dimana pun berada, untuk berteriak dengan lantang… bahwa kita bukan kaum yang tersisih tapi, kita adalah kaum buruh migrant yang mempunyai kemampuan dan potensi sebagai aset negara yaitu Indonesia.

Meski di tanah rantau tidak lantas diam dan larut dalam pekerjaan, tanpa berbuat sesuatu. Sungguh semangat yang patut untuk dicontoh! dengan keterbatasan waktu, mereka bisa berkarya. Kayauuu !!

_________________03 January 2011
Terpublikasi di Tabloid Memorandum – Surabaya
Uly Giz
Hong Kong
Sumber: http://regional.kompasiana.com/2011/01/03/kabar-dari-sebrang-bmi-bekerja-bmi-berkarya/

Komentar