Langsung ke konten utama

Sastrawan Kalsel: Biografi, Jumlah, dan Masalahnya

Mahmud Jauhari Ali
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Kata sastrawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga merupakan lema yang tergolong nomina dengan beberapa makna di dalamnya. Makna-makna itu adalah ’ahli sastra’, ’pujangga’, ’pengarang prosa dan puisi’, ’(orang) pandai-pandai’, dan ’cerdik cendekia’. Akan tetapi, batasan tersebut hanyalah makna umum yang termuat dalam sebuah kamus terbitan Pusat Bahasa. Kita tentu tidaklah wajib untuk mengikutinya karena Pusat Bahasa tidak selalu benar, ada kalanya mereka kurang tepat bahkan salah dalam hal bahasa. Makna-makna dalam lema sastrawan yang dibentuk dari kata sastra dan akhiran –wan itu hanyalah pemberian sepihak oleh sebuah instansi pemerintah. Kita hanya dipaksa untuk mengakuinya secara konvensional. Begitu pula dengan lema-lema yang lainnya dalam kamus terbitan Pusat Bahasa tersebut. Rugilah kita jika hanya mengikuti dan tanpa berpikir tentang produk-produk mereka. Namun, saya tidak ingin berlama-lama dengan produk Kantor Bahasa Pusat itu yang ternyata bukan pusat segala bahasa. Saat ini saya lebih tertarik dengan tulisan yang menyangkut biografi, jumlah, dan masalah sastrawan Kalimantan Selatan.

Ya, tulisan yang ditulis oleh T.N. Ganie dan Hajriansyah telah membuat saya terbuai dengan kata-kata mereka. Begitu indahnya tulisan mereka hingga saya pun bersemangat menggerakkan broca dalam otak saya untuk memproduksi kata-kata. Semoga saja tulisan saya ini bermanfaat bagi kita.

Bagian Pertama

Dalam Gairah Bersastra di Kalsel 2000—2008 (Cakrawala Radar Banjarmasin: 4, terbitan Minggu, 18 Januari 2009) T.N. Ganie menyebutkan dengan jelas bahwa setidak-tidaknya ada enam puluh sastrawan yang muncul pada rentang waktu 2000—2008. Jika kita cermati secara mendalam, jumlah itu tidak dapat kita jadikan sebagai patokan untuk sebuah pengetahuan di bidang sastra. Akan tetapi, hanya dapat kita jadikan sebagai bahan perkiraan jumlah yang sesungguhnya. Mengapa demikian? Karena dalam tulisannya itu, T.N. Ganie memakai kata ulang setidak-tidaknya (lihat kembali paragraf pertama dalam Gairah Bersastra di Kalsel 2000—2008). Kata ulang itu menunjukkan angka yang paling sedikit. Maksudnya, paling sedikit ada enam puluh sastarawan. Kata ulang itu juga menunjukkan sikap tidak yakin dari T.N. Ganie dalam memutuskan jumlah yang tepat.

Setelah saya telusuri nama demi nama sastrawan yang muncul dalam rentang waktu 2000—2008 itu, ternyata nama-nama seperti Hajriansyah, Nailiya Nikmah JKF, dan Sainul Hermawan tidak tertera sebagai sastrawan Kalsel dalam rentang tersebut. Padahal, setahu saya ketiga contoh nama itu kerap muncul di Cakrawala Radar Banjarmasin. Tulisan mereka pun layak untuk dipandang sebagai karya sastra yang bermutu. Jadi, sebenarnya ada lebih daripada enam puluh sastrawan Kalsel yang muncul dalam rentang waktu 2000—2008. Muncul pertanyaan dalam sanubari saya, apa alasan T.N. Ganie yang bergelut dalam bidang sastra di Kalsel selama 28 tahun ini tidak memuat nama-nama seperti dalam contoh itu? Namun sudahlah, mungkin hanya masalah lupa, atau entahlah? Semoga T.N. Ganie juga ikut memikirkannya untuk kebaikan kita bersama.

Dalam judul yang sama, T.N. Ganie juga menyebutkan dengan jelas bahwa berdasarkan hasil pengamatan sekilas, sastrawan yang paling bergairah beraktivitas di jagad sastra pers adalah sastrawan yang muncul dalam rentang waktu 2000—2008. Sastrawan yang lahir sebelumnya tampaknya lebih senang memperkukuh eksistensi kesastrawanannya melalui sastra buku. Jujur, saya dibuat T.N. Ganie terdiam sejenak menyaksikan kata sekilas dalam paragraf ketiga pada Gairah Bersastra di Kalsel 2000—2008 itu. Kata tersebut mengandung maksud bahwa T.N. Ganie tidak mengadakan pengamatan serius di lapangan. Hal ini merupakan tindakan yang fatal dan mengakibatkan tidak dapat diterimanya hasil sebuah pengamatan. Akibatnya, tidak ilmiah karena tidak dapat dipertanggungjawabkan secara akal. Kemudian, saya kaitkan hal ini dengan kalimat seterusnya yakni, soal sastrawan masa sebelumnya yang aktif dalam sastra buku. Setelah saya perhatikan, ternyata dalam sastra pers masih bergeliat sastrawan yang dilahirkan sebelum tahun 2000. Sebut saja contohnya M. Hasbi Salim dan Ibramsyah Amandit yang tetap gigih menulis karya sastra di media massa. Contoh yang paling dekat adalah Tajudin Noor Ganie yang juga masih giat dalam sastra pers. Bukti-bukit ini mempengaruhi pernyataan T.N. Gani tentang kesenangan sastrawan yang lahir sebelum tahun 2000 dengan sastra buku yang juga dinyatakan dengan kata yang meragukan, yakni tampaknya.

Masih dalam tulisan yang sama, T.N. Ganie juga mengabaikan sastra elektronik selain sastra pers dan sastra buku. Kita sekarng hidup di zaman yang canggih. Jadi, tidak menutup kemungkinan terjadi pemanfaatan teknologi internet sebagai ruang bersastra oleh para sastrawan Kalsel. Sebut saja contohnya Arsyad Indradi yang aktif di www.penyairnusantara.blogspot.com, Sandi Firly yang aktif di www.sfirly.wordpress.com, dan Harie Insani Putra yang aktif di www.hariesaja.net.

Dalam tulisan itu juga, T.N. Ganie menyebutkan beberapa simpulan. Dinyantakannya bahwa dominasi sastrawan Kalsel yang muncul dalam rentang 2000—2008 ada kaitannya dengan kemudahan yang diberikan oleh pengasuh rubrik sastra di berbagai koran. Sebenarnya bukan mudah, melainkan lebih mudah daripada menembus koran nasional seperti SKH Kompas dan SKH Republika. Dalam simpulan itu, juga diungkapkan bahwa sastrawan sebelum tahun 2000 tetap produktif menulis karya sastra dengan mutu yang semakin meyakinkan. Sebenarnya hanya sebagian. Tidak semua sastrawan yang dilahirkan sebelum tahun 2000 masih aktif. Jadi, dalam tulisan itu seharusnya, ditambah pula keterangan yang masih hidup di belakang sastrawan kelahiran sebelum tahun 2000.

Di akhir tulisan itu, T.N. Ganie menyatakan bahwa sastrawan yang muncul dalam rentang waktu 2000-2008 dengan kemampuan finansial masih terbatas (masih tergantung pada pemberian orang tua) bagaimana mungkin berani bernekad-ekad menerbitkan buku sastra. Dalam hal ini rupanya T.N. Ganie lupa bahwa tidak semua sastrawan yang dimaksudnya masih menadah uang dari orang tua. Sebut saja M. Nahdiansyah Abdi bekerja di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum, Abdurrahman El Husaini bekerja sebagai guru dengan status PNS, dan Rissari Yayuk bekerja di instansi bahasa dan sastra. Ini berarti penyataan T.N. Ganie itu perlu diperbaiki agar tidak menjadi sebuah pengetahuan sastra yang kurang tepat. Pengetahuan sastra yang baik sangat diperlukan oleh masyarakat di Kalimantan Selatan.

Bagian Kedua

Dalam Menulis, Penulis: Aha, Sastrawan! (Cakrawala Radar Banjarmasin: 4, terbitan Minggu, 25 Januari 2009) Hajriansyah melemparkan sebuah pertanyaan ditujukan kepada T.N. Ganie yang menggelitik otak saya untuk berpikir. Pertanyaan itu adalah apakah dengan cukup pernah menulis satu tulisan saja kemudian orang itu dapat dicatat sebagai sastrawan, meski kemudian si penulis itu tidak pernah menulis lagi? Pertanyaan ini dijawab oleh T.N. Ganie dengan kata Ya dalam tulisannya berjudul Biografi Sastrawan Kalsel: Sumber Data Manuskrip Saya yang diterbitkan pada tanggal 1 Februari 2009 di koran yang sama. Jujur, jawaban T.N. Ganie ini membuat hati saya kurang sependapat dengannya. Mengapa?

Pertama, hal ini dapat berdampak buruk terhadap dunia sastra di Kalimantan Selatan. Para penulis sastra, misalnya puisi, yang baru saja menulis dapat berhenti berkarya karena dirinya sudah dicatat sebagai sastrawan. Mereka yang ingin menjadi sastrawan Kalsel, dengan keputusan T.N. Ganie itu, tentunya sudah mencapai tujuan, yakni diakui sebagai sastrawan. Jadi, untuk apa lagi mereka berkarya? ’Kan sudah menjadi sastrawan Kalsel? Ini namanya meredupkan cahaya dunia sastra di Kalsel. Jawaban T.N. Ganie tersebut juga dapat menyebabkan matinya usaha oleh penulis sastra pemula memperbaiki hasil cipta sastra untuk menjadi lebih baik lagi agar diakui sebagai sastrawan.

Kedua, belumlah layak jika hanya satu kali menulis langsung diakui sebagai sastrawan. Mereka yang baru satu kali menulis ini lebih layak disebut sebagai penulis karya sastra sangat pemula. Karena mereka baru pertama sekali menulis di koran, majalah, buku, atau laman (blog).

Dalam tulisannya, Hajriansyah juga berasumsi. Ya, hanya berasumsi bahwa nama-nama sastrawan Kalsel tak pernah ’dianggap’ di ranah kesusastraan Indonesia karena memang karya-karya sastrawan Kalsel tak cukup ’bagus’ di mata dunia; terlampau mudah menjadi sastrawan Kalsel. Menyangkut masalah ini, T.N. Ganie dalam Biografi Sastrawan Kalsel: Sumber Data Manuskrip Saya menyatakan tidak ada hubungan antara kemudahan menjadi sastrawan Kalsel dengan diakuinya sastrawan Kalsel di ranah kesastraan Indonesia. Sepengetahuan saya tidak semua nama sastrawan Kalsel tidak dianggap di ranah Indonesia. Buktinya, Micky Hidayat dinobatkan sebagai Ketua III Komunitas Sastra Indonesia. Begitu pula dengan Sandi Firly yang cerpen-cerpennya dimuat dalam Jurnal Cerpen Indonesia.

Menurut saya, dengan mudahnya seseorang diakui sebgai sastrawan Kalsel juga mempengaruhi mutu karya sastra yang diciptakannya. Karena sudah menjadi sastrawan Kalsel, penulis pemula sekali tidak bergairah lagi mengejar target menjadi sastrawan. Keadaan yang seperti itu, menyebabkan karya-karya yang dihasilkan kurang bermutu. Namun demikian, sebenarnya dengan tertolaknya naskah puisi, cerpen, atau mungkin novel sasrawan Kalsel di ranah Indonesia, memberikan kesadaran. Kesadaran bahwa untuk dapat diterima di ranah Indonesia dan dunia, perlu kerja keras membuat karya yang bagus dan tentunya juga sesuai selera dewan redaksi di luar sana.

Menganai sastrawan mana yang paling produktif, kreatif, konsisten, terkenal, dan sebagainya, sastrawan Abdul Karim Amar (AKA) yang kini aktif di KSI Cabang Kertak Hanyar memisalkannya seperti obat paten dan generik. Artinya, sastrawan itu ada yang ”paten” dan ada yang ”generik”. Hal itu menurutnya perlu disadari dalam diri masing-masing. Apakah diri kita termasuk ke dalam yang paten ataukah yang generik? Introspeksi dirilah.

Hal yang membuat saya terusik adalah pernyataan T.N. Ganie dalam Biografi Sastrawan Kalsel: Sumber Data Manuskrip Saya bahwa apa perlunya kita memaksa seseorang agar tetap mengukuhi profesinya sebagai sastrawan…. Lanjutnya, padahal kita tahu, profesi sebagai sastrawan, terutama sekali di daerah Kalsel, bukanlah profesi yang dapat dijadikan sebagai penopang hidup. Menurut saya, kita tidak perlu memaksa, melainkan mengajak orang-orang untuk berkarya sastra guna memajukan sastra di Kalsel. Ya, agar lebih maju lagi daripada yang kita capai sekalrang. Bersastra memang bukan sekadar mencari materi, melainkan lebih daripada itu, bersastra adalah untuk kemanusiaan dan keagungan Tuhan. Percayalah, dengan itu batin kita akan menjadi kaya yang melebihi kekayaan materi.

Bagian Tiga

Menyangkut buku Antologi Biografi 426 Sastrawan Kalsel yang disebut-sebut T.N. Ganie dalam Biografi Sastrawan Kalsel: Sumber Data Manuskrip Saya, setelah saya amati, perlu dicek ulang untuk kebaikan kita bersama. Dalam buku itu masih ada kesalahan penulisan tahun lahir. Sebut saja Rissari Yayuk pada halaman 361 dalam buku itu dituliskan tahun lahirnya 1982. Seharusnya ia lahir pada tahun 1976. Contoh lainnya, Abdul Karim Amar pada halaman 21 buku itu dituliskan tahun lahirnya 1945. Seharusnya tahun 1954.

Selain itu, penambahan nama sastrawan juga diperlukan dalam buku itu. Dalam Biografi Sastrawan Kalsel: Sumber Data Manuskrip Saya disebutkan T.N. Ganie bahwa syarat agar masuk dalam Antologi Biografi 426 Sastrawan Kalsel adalah adanya biografi kesastrawanan yang berangkutan. Saya menyarankan, jika seandainya seorang sastrawan yang kerap menulis karya sastra di koran dan tidak ada biografinya, tanyakan saja ke pengasuh rubrik sastra koran tersebut. Karena, biasanya pengasuh rubrik sastra koran yang bersangkutan tahu sedikit banyak dengan para sastrawan yang karyanya dimuat dikoran tersebut. Jadi, tidak harus dengan buku yang memuat biografi sastrawan Kalsel.

Sastrawan Kalimantan Selatan jumlahnya tidaklah sedikit. Dengan jumlah yang banyak itu, ditambah lagi dengan kemunculan sastrawan Kalsel pada tahun-tahun yang berbeda, memang perlu pendokumentasian yang akurat dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan. Apa yang telah dilakukan T.N. Ganie dengan karyanya memang harus kita hargai dengan memberikan perhatian seperti berupa kritik dan semangat kepadanya untuk hasil yang lebih baik lagi. Akhirnya, marilah kita bersama-sama berusaha memberikan kontribusi yang berharga dalam memajukan sastra di Kalimantan Selatan semampu diri kita. Bagaimana menurut Anda?

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan