Bingkai-berbingkai Dalam Pusaran

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Ini soal mimpi yang aneh. Ketika aku membaca dengan teliti brosur obat penyakit jantung dan tekanan darah tinggi, obat yang kata dokter harus kuminum seumur hidup, aku menemukan bahwa dengan meminum obat itu aku akan mengalami mimpi berulang. Artinya, mimpi yang pernah kualami akan muncul kembali.

Sudah lama aku mengalami mimpi semacam itu, namun sebelum membaca brosur itu, aku tidak menyadari bahwa mimpi yang kualami akibat dari minum obat itu. Di dalam mimpi tersebut, aku merasa bahwa aku pernah berada di tempat itu, dan bisa meramalkan apa yang akan terjadi padaku. Namun, di saat dekat ujung mimpi itu, ternyata mimpiku melenceng.

Aku ingat, semasa aku masih remaja, aku sering membaca novel berbahasa Jawa karangan Basoeki Rachmat dari Surabaya yang menceritakan seseorang mengunjungi suatu tempat yang menurutnya tidak pernah dikunjunginya, namun dia merasa pernah mengunjugi tempat itu di masa lalu. Dia dapat mengatakan tempat apa yang akan dikunjunginya.

Menurut analisa pengarangnya, sebenarnya dia memang pernah berada di tempat itu di dalam kehidupan masa lalunya. Ini masalah menitis ke dalam kehidupan masa kini atas orang-orang dari masa lalu. Di dalam cerita tersebut pembaca dipaksa percaya bahwa hal itu bisa terjadi, sebab siapakah yang mampu membuktikan kehidupan di masa lalu yang kemudian diteruskan di masa kini.

Si dalam pidato pengukuhan sebagai guru besar Prof Nyoman Tirta, mantan Dekan Fakultas dimana aku bekerja, dikatakan bahwa reinkarnasi itu ada, yakni di dalam gen yang diturunkan ke anak-cucu. Itulah hakikat reinkarnasi: hidup kembali bukan di dalam tubuh aslinya tentu, tetapi di dalam tubuh anak-anaknya. Anak mewarisi sifat-sifat biologis dan mungkin juga psikologis atau bahkan bakat dari orang tuanya.

Namun, apakah itu gagasan awal mengena adanya reinkarnasi? Apakah benar bahwa pencetus gagasan reinkarnasi bermaksud bahwa reinkarnasi merupakan bentuk menurunkan gennya, atau sebagaimana dipahami oleh banyak orang, justru merupakan gagasan mengenai seseorang yang menitis pada orang lain dari generasi selanjutnya? Sering kita dengar komentar: “Wayan itu titisan kakeknya.”

Lalu orang-orang yang masih menginga kakek Wayan akan menunjukkan bahwa Wayan benar-benaqr mirip kakeknya, caranya berjalan yang agak membungkuk padahal Wayan masih kanak-kanak, atau terkadang kata-kata yang terlontar dari mulutnya yang diingat orang sebagai kata-kata kakek Wayan. Aku sendiri punya pengalaman yang aneh. Kami tinggal di Bali dan kakakku tinggal di rumah kami di Malang.

Dia mempunyai anak perempuan yang mempunyai tiga orang anak laki-kali yakni Sandy, Aries dan Nabil. Si bungsu ini masih berusia dua tahun saat itu dan karena kami berpisah maka kami juga jarang bertemu.

Pada suatu hari kami pulang ke Malang mengengok ibu yang sakit dan di pintu masuk disambut oleh kakakku yang mengendomg cucu bungsunya itu. Kami berjabat tangan, namun bocah itu langsung berteriak:”Mami!” dan minta digendong istriku.

Aku tertegun. Bagaimana mungkin dia memanggil istriku dengan “mami”, bukan “uti” sebagai singkatan Eyang Putri? Dan dia memangil ibunya dengan kata “ibu” bukan “mami”.

Saat istriku beristirahat di kamar tengah yang punya dua tempat tidur: istriku di tempat tidur besar dan aku tidur di tempat tidur kecil, Nabil mengetuk pintu kamar dan kemudian naik ke tempat istriku berbaring dan memeluknya dengan kasih sayang.

Anak kami sulung, Wawan meninggal di salam sebuah kecelakaan lalu lintas, dan Dina, ibu Nabil ini saat itu belum menikah, masih menjadi mahasiswa sekolah pariwisata di Denpasar dan hadir di Singaraja, menunggui jenazah anak kami. Apakah karenannya kemenakanku ini dipilih Wawan untuk dititisi? Aku tak tahu, namun keanehan itulah yang terjadi.

Anehnya, Nabil selalu memanggilku dengan “mbah”, bukan “bapak”. Tentu saja aku tak boleh memaksanya memanggilku “bapak”, bukankah dia memang cucuku?

Kukira mimpi-mimpiku di masa tua dipengaruhi bacaanku dimasa remaja. Bisa jadi bukan masalah obat, sebab ketika aku berhenti meminum obat dan menggantinya dengan suplemen herbal, aku masih mengalami mimpi yang serupa. Misalnya, yang masih kuingat, aku pergi ke suatu tempat untuk membuang hajat.

Biasanya, kalau aku pergi ke tempat ini, aku selalu takut sebab tempat itu berhantu, menurut ingatanku dalam mimpi itu. Kalau aku menyalakan lampu, maka lampu listrik tak mau menyala. Ruang itu terdiri dari dua bagian, yakni yang luas,dan ada sekat kawat yang memisahkan dengan ruang yang lebih sempit.

Waktu aku datang, ruangan kecil itu menyala dan Pak Made Sutama, dekan fakultas kami, sedang berada di sana. Entah karena dia berada di sana aku tak merasa takut, atau karena dia punya “ilmu”.

Tetapi, soal dia “berilmu” barulah aku sadari sewaktu dia mengucapkan terimakasih kepada guru spiritualnya saat dia mengucapkan pidato pengukuhannya sebagai guru besar. Walau pada kali lain sebelumnya, dia sempat menelpon seseorang yang saya dengar sebagai gurunya sewaktu ada mahasiswa yang kesurupan, aku tidak menyadarinya saat aku bermimpi.

Namun, bisa jadi, menurut ahli psikologi, apa yang kita alami atau pikirkan selalu mengendap di dalam pikiran kita dan mampu muncul ke permukaan walau kita tak menyadarinya.

Itulah sebabnya seseorang pasien yang berkonsultasi psikologi sering diajak ngobrol oleh psikolognya agar yang terpendam bisa muncul ke permukaan. Itu katanya, kalau aku cukup pandai pasti aku sudah lulus dari studiku di Fakultas Psikologi. Nyatanya, aku malah menjadi sarjanan pendidikaan bahasa Inggris.

Padahal di dalam wawancara dengan ibu Munandar puluhan tahun lalu, saat aku melamar di Fakultas Psikologi,UI saat dia bertanya kenapa aku melamar di situ, aku jawab dengan ringkas: aku ingin jadi pengarang. Lho, kan aneh. Kenapa tak masuk Fakultas Sastra saja? Tapi bagiku tidak, sebab tak ada Jurusan Kepengarangan di fakultas itu.

Dan kebanyakan lulusannya memang tidak jadi pengarang, tetapi jadi ahli sastra, seperti puteri dekan kami di Fakultas Psikologi UI. Akhirnya, aku diterima juga sebagai mahasiswa psikoloi, berteman dengan para seniman. Hie Fon Sen adalah penyanyi dengan suara bergetar, menggetarkan ruangan saat dia membawakan lagu seriosa. Ada Sukiat yang akhirnya terkenal menjadi penulis cerita anak-anak, padahal akulah yang memperkenalkannya dengan dunia kepengarangan. Ada Susatiyo yang jadi esais unggul dan kemudian penyair perkemuka, walau dia gagal menjadi psikolog. Dia pasti tidak bodoh, sebab sekeluar dari fakultas, dia pergi ke Belgia dan menempuh ilmu disana.

Ada Hok Djin yang selain seorang sastrawan, juga seorang pelukis. Di rumahnya yang bertetangga dengan rumah Steve di Kebun Jeruk, dia menyimpan lukisannya di bawah kasur tempat tidur. Dia juga piawai memainkan gitar akustik, memainkan lagu klasik yang indah. Dialah yang berhasil menjadi sarjana psikologi dan kemudian menempuh studi doktor di luar negeri.

Katanya, dia dipanggil oleh seorang professor di luar negeri karena sang professor tertarik oleh tulisan-tulisannya yang bermutu. Sukiat juga menjadi doktor lokal.

Salim yang masuk fakultas setelah aku keluar, ikut keluar juga dan akhirnya pindah ke FISIP UI dan lulus sebagai ahli perfilman, namun mengambil program doktor di Ohio State University bidang politik. Eh, di masa tuanya dia malah menjadi duta besar. Di antara kami yang bergelut di bidang seni, hanya Susatyo yang menjadi seniman paling kaya, sebab dia mampu menggabungkan sastra dan jurnalistik, dan para “murid” nya menyebar kemana-mana. Siapa pun yang pernah bekerja di majalah yang dipimpinnya, sewaktu keluar dan mengembangkan di media lain selalu mengakui: “Aku sekolah disitu.”

Walau aku punya buku “The Interpretation of Dreams” yang kubeli saat aku menjadi mahasiswa Psikologi UI, dan sedikit-sedikit aku baca pula untuk melancarkan bahasa Inggrisku, aku tidak benar-benar mengerti isinya. Aku malah kecewa sebab buku itu banyak bercerita mengenai ahli mimpi dari masa yang jauh di masa lampau, dan tidak memberiku penjelasan yang ces-pleng mengenai mimpi.

Wah, kan ceritanya melantur. Lalu, bagimana ya soal mimpi yang berputar-putar? Aku tak tahu apakah akan berputar terus dan berbingkai-bingkai, seperti cerita berbingkai yang kukenal di dalam sastra lama. Bukanlah cerita berbingkai bisa juga diterapkan di dalam sastra masa kini?

Aku tak tahu apakah kisah seperti ini bisa menarik, sebab aku menuliskannya kesana-sini. Ngalor-ngidul, kangin-kauh dalam bahasa Balinya. Pasti pembaca marah dan merasa kupermainkan. Padahal aku benar-benar ingin menuliskannya. Sungguh!***

* Singaraja, November dan Desember 2010 dan Mei 2011

Komentar