Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Faizal Syahreza

http://www.balipost.co.id/

Rebung

bertahanlah rebung-rebung di rumpun aur itu,
hidup kalian memang akan sampai di situ.

akan sampai kalian ke dalam mangkuk-mangkuk
yang wajar, juga dilahap kami orang-orang sabar.

jangan lagi hiraukan masa depan,
merasuki langit, terlibat seteru angin yang sengit,
kalian akan direbus sekian menit dalam kuali
sampai hilang rasa pahit, sampai hilang kenangan sepi.

ruap kalian yang membubung
memanggil selera kami bangkit
menuju kuah yang legit
jangan menjerit, jangan pula merasa sakit!

kami lebih tahu apa itu namanya perih
nyeri, juga sedih.

karena dalam menghadapi kalian yang telah sempurna
di gigir nasi sebakul, di sindir ikan asin.

inilah waktunya menyantap kalian, kami saling berkeliling
lapar saling merangkul, nafsu saling ingin.

kalian bergiliran tersuap ke mulut kami yang dzikir,
yang karib. setelah kehabisan usianya menebak
apa itu takdir, apa itu nasib dan apa itu
kebahagian.



Tungku Gunung Wayang

di depan tungku, kuhangat-hangatkan tubuhku
kuasuh-asuh jiwaku, agar membara merah
arang menyala, agar mengembara menemukan
ruang-ruang di mana dia berjaga.

kubasuh-basuh diriku, dengan pancar api
menyingkap kabut dan sepi
yang melumpuhkan dengan dinginnya,
di tepi malam hari.

dengan sisa-sisa tenaga
mengusir kantuk, sengat lelah sehabis bekerja
menggarap kebun-kebun warisan surga,
kuingat-ingat musim panen yang kelak tiba,
yang akan segera.

di mana melimpah labu-labu petikan
tangan manja, kentang-kentang lonjong
bulat mematut bulan, kubis-kubis merekah
dalam singgasananya
dan susu dari sapi perah yang telah kupelihara
dengan rumput-rumput tanpa noda.

di depan tungku, kayu-kayu kutumpang lima
saling sulang, tabah menunggu giliran
dilahap lesap api dan akan lekas menjadi abu.

lelaplah gelisahku
ya lelah, ya payah
lenyaplah sudah.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan