Kesaksian Kelopak Mawar Hutan

Siska Afriani
http://pawonsastra.blogspot.com/

Dan ketika subuh itu berada dalam kedamaian tak bertuan,
Kau selalu terbangun dari mimpi-mimpi tak beralasan,
Lalu bersicepat dengan waktu,
Menyibak kerumunan embun pagi yang mungkin
akan meremukkan tubuh ringkihmu,
Mendaki punggung bukit yang tak lagi sepantaran dengan usiamu.

Kau tau…..?
Semua orang masih terlelap menjemput mimpinya dalam angan tak nyata,
Nyonya-nyonya besar itu masih berpeluk erat dengan suami mereka,
Dan para pelacur itu baru saja menikmati hidup yang baru mereka rengkuh,
Sementara kau…..
Harus bergelut dengan dinginnya pagi,
Memunguti kelopak-kelopak mawar hutan
Untuk memuaskan cacing-cacing yang selalu berkerontangan dalam perutmu.
Lalu adilkah hidup ini bagimu…?

***

Alunan lagu sunyi disubuh itu
selalu membangunkanku dari mimpi-mimpi yang berkesan,
Lalu berpacu dengan waktu,
Menyibak kerumunan embun pagi yang menyejukkan tubuh ringkihku,
Bercengkrama dengan punggung bukit yang mematangkanku bersama dengan waktu.

Ketika aku melangkah dalam hening subuh itu
Mungkin saja orang-orang di kota besar-yang tak pernah kutahu pasti namanya-
masih terlelap menjemput mimpi,
Tapi bagiku ini kenikmatan hidup tak terperi.

Bagiku inilah kenikmatan hidup,
Menjadi tua tanpa perlu bergantung pada anak cucu,
Memberi hidup pada hidupku tanpa perlu menunggu,
Mengumpulkan mawar-mawar hutan yang akan menyenangkan
cacing-cacing yang kadang berontak dalam perutku,
Dan kembali menunggu pagi,
Untuk kembali berpacu dengan waktu,
Bukankah hidup ini adil padaku…???

Januari 2011

*) Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, 2009, Universitas Negeri Padang.

Komentar