Langsung ke konten utama

‘Negeri Riau’, Pilar Agung Sastra Melayu

Edy A Effendi *
Media Indonesia, 2 Des 2007

DALAM jejak sejarah, tradisi penulisan kesusastraan Melayu selalu melahirkan ‘prasasti’. Prasasti itu membiak ke berbagai wilayah, yang pada akhirnya membangun identitas Melayu sebagai poros besar dalam lajur kehidupan sastra di ranah Nusantara ini.

Prasasti yang bisa dibaca dalam lajur tapak sejarah sastra Melayu adalah lahirnya tokoh-tokoh agung, sebutlah Hamzah Fansuri, Raja Ali Haji, Tuan Guru Abdurrahman Sidik, Soeman HS, BM Syamsuddin. Mereka telah menitikkan jejak sejarah kesusastraan Melayu sejak 500 tahun silam.

Seperti kita tahu, tradisi itu dimulai dari Hamzah Fansuri. Seorang pelanjut warisan sastra Melayu, Umar Usman Hamidy (UU Hamidy), atau lebih akrab disapa Pak UU, bertutur, Hamzah Fansuri berangkat dari Aceh. Ia digelari sebagai Pilar Agung Sastrawan Melayu Abad XVI.

Pada abad XVII, posisi itu diteruskan Tun Sri Lanang. Ia menulis Sulatus Salatin yang berisi sejarah Melayu. Sesudah itu, gemanya terus mengalir hingga ke Riau. Pada dekade itu, lahir tokoh agung dalam sastra Melayu, Raja Ali Haji. Ia berkibar pada kurun waktu abad XIX.

Raja Ali Haji ialah sastrawan Melayu yang tumbuh dari negeri Riau. Ia menulis kurang lebih 13 karya dan yang paling populer disimak generasi sastra di jagat nusantara ini, Gurindam Dua Belas.

Pak UU, budayawan dan sekaligus kritikus sastra Melayu, pada 26 November, menerima Anugerah Sagang sebagai Tokoh Budayawan Pilihan Sagang 2007 di Pekanbaru, ia pun berkisah bahwa Raja Ali Haji menulis berbagai persoalan dari sejarah, kitab hukum serta tata bahasa dan sastra. Raja Ali Haji berhasil membina generasi penulis Melayu dan melahirkan kelompok cendekiawan Riau bernama Rusydiah Club pada abad XX.

Rusydiah Club itulah yang menebar pesona Melayu. Ia bisa dicap sebagai paguyuban terbesar di Asia Tenggara pada abad XIX. Tempat menyimak berbagai delik persoalan.

Sumbangan bahasa

Dalam percakapan informal dengan berbagai wartawan Ibu Kota, Rida K Liamsi, Ketua Yayasan Sagang, di Pekanbaru, mengurai sumbangan terbesar dari khasanah Melayu adalah soal bahasa. Bahasa menjadi identitas penulis yang lahir dari ranah Melayu dan menjadi pembeda dengan penulis-penulis di luar wilayah Melayu. Maka, tidak salah jika UU Hamidy menulis buku bertajuk Riau sebagai Pusat Bahasa dan Kebudayaan Melayu.

Dalam konteks itulah, Rida mempersoalkan adakah sumbangan lain setelah bahasa? Rida layak mempersoalkan sumbangan lain dari daratan Melayu ini selain bahasa karena seperti kita tahu, satu identitas yang tidak luput kesusastraan Melayu adalah bahasa. Dan identitas-identitas lain selain bahasa dalam kultur Melayu, tidak ubahnya identitas lokal dari berbagai kultur lokal di bumi Indonesia ini. Pertanyaan sekaligus gugatan Rida sebetulnya masalah dasar dari semua elemen kehidupan masyarakat Melayu.

Memang dalam bahasa selalu terdapat keselarasan, bahkan terkandung dalam kata-kata atau substansi bahasa, maka menjadi lebih membekas dan mendalam hingga terwujudlah sebuah puisi; melalui puisilah menggema kembali keselarasan fundamental yang memungkinkan manusia untuk kembali kepada keberadaan dan kesadarannya yang lebih tinggi.

Di sinilah bahasa sastra menemukan karakternya. Ia hadir sebagai ragam ekspresi yang melewati perakitan-perakitan psiko-psikis dalam diri seseorang. Mengenai bahasa dalam wilayah sastra, Sutan Takdir Alisjahbana pun memberi komentar, “Bahasa hanyalah alat untuk menjelmakan perasaan dan pikiran yang terkandung dalam sanubari pujangga. Bagi saya, tiap-tiap pujangga itu bebas memakai alat sekehendak hatinya, asal saja dengan jalan demikian terang dan indah ia menggambarkan perasaan dan pikirannya. Apa pula salahnya kalau orang hendak melagukan dendangnya dengan perkataan arianingsun, mayapada, laksamana, imbang irama, kesturi.”

Di tepi lain, fakta-fakta sejarah yang lurus harus dibangun atas keselarasan antara bahasa dan pikiran. Seperti kata Roger Trigg, ‘Thought without language becomes impossible, and difereent languages will produce different thought. Berpikir tidak mungkin dipisahkan dari bahasa dan adanya perbedaan bahasa akan melahirkan perbedaan produk pemikiran.

Kekuatan bahasa sastra sebagai sarana representasi dari mekanisme kerja keseharian senantiasa menawarkan ruang-ruang subjek untuk beroperasi melakukan tindakan-tindakan sosial serta menentukan strategi-strategi dan tema-tema yang diyakini mampu membangun medan kesadaran publik. Dari sanalah posisi bahasa, tidak sekadar alat korespondensi antarsubjek, tapi bahasa telah membangun satu peta kekuatan di luar dirinya. Bahasa dalam takaran ini, menurut Benjamin Lee Whorf, tidak hanya medium untuk berkomunikasi, tapi bahasa pada wilayah tertentu, berfungsi untuk mendefinisikan kehidupan dirinya. Bahasa, mengikuti jejak pikiran Whorf, bukan hanya alat reproduksi untuk menyuarakan kembali gagasan-gagasan, melainkan justru bahasa itu sendirilah yang menjadi pembuat gagasan, program, dan panduan aktivitas mental individu, untuk menganalisis kesan dan untuk sintesis kemampuan mentalnya.

Pikiran Whorf, setidak-tidaknya menolak doktrin tradisional bahasa, yang dihinggapi definisi-definisi normatif sebagai alat komunikasi dan pemekaran yurisdiksi kata-kata. Menurut doktrin tradisional, kata-kata yang tertuang dalam puisi memerlukan penjelasan lebih lanjut karena hubungan antara realitas kosmis dan bahasa manusia telah memudar selama kurun waktu tertentu, yang menilai alam secara kuantitatif dan mempelajari bahasa secara analitis belaka, dengan mengabaikan aspek kualitatif sintetis puitis. Dalam bahasa, kata menjadi substansi yang menggantikan hakikat materi dunia eksternal, dan menyiratkan keselarasan kosmis.

Anugerah Sagang

Sejatinya, Anugerah Sagang merupakan representasi lain untuk menjaga tanah Melayu, khususnya Riau, menjaga bahasa ibu, bahasa Melayu. Dan tentu segenap apresiasi kita tumpahkan untuk para pengelola Yayasan Sagang, yang mau membuang energi mereka untuk menjaga kultur Melayu dari sergapan budaya lain. Anugerah Sagang ke-12 ini merupakan cermin dari perjalanan panjang Rida K Liamsi dalam menjejakkan kakinya ke dalam wilayah kultur Melayu.

Rida, sosok yang perlu diberi catatan. Energi yang ia tumpahkan untuk menjaga bahasa ibu seperti mengabaikan energi lain yang seharusnya ia sandarkan dengan sepenuh jiwa untuk keluarga dan kerabatnya. Yayasan Sagang seolah-olah sebagai rumah pertama Rida untuk berpijak dan meneruskan akar kemelayuan.

Di sisi lain, Gubernur Riau Rizal Nurdin pun merupakan sosok yang punya dedikasi yang tinggi terhadap kultur Melayu. Nurdin sendiri berujar bahwa visi dan misi Riau 2020 adalah menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Dedikasi Nurdin juga tercermin dari dana APBD untuk Dewan Kesenian Riau yang merangkak sampai kisaran Rp4 miliar. Untuk ukuran Indonesia, itulah bujet terbesar yang diberikan kepada dewan kesenian. Selamat untuk Rida, Nurdin, dan tentunya Eddy Akhmad RM, Ketua Dewan Kesenian Riau, yang menuai berkah dari apresiasi yang tinggi dari berbagai sosok Riau tersebut. Sebuah berkah apresiasi. Tidak lebih dari itu.

* Edy A Effendi, Wartawan Media Indonesia
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/12/negeri-riau-pilar-agung-sastra-melayu.html

Komentar

Sastra-Indonesia.com