Belajar dari Ketragisan Bandung Bandawasa

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

Kemegahan candi Prambanan di perbatasan Yogyakarta Timur masih menyisakan kemegahan dan misteri. Di tempat itu juga menyimpan kronik sejarah yang dapat dijadikan bahan ajar untuk kita, manusia Indonesia. Prambanan sebagai simbolisme perjuangan melawan kesewenangan kekuasaan yang didorong keserakahan nafsu dan ambisi manusia. Juga mengenai peliknya perjuangan cinta yang disertai hujan air mata yang menderas darah dan berakhir dengan penghianatan. Lalu apa yang musti kita pelajari dari sana?“Ya sejarah, Kang! Berkisar tentang bagaimana kentalnya feodalisme manusia Jawa.” Ucap Dhimas Gathuk yang langsung menerobos ketika saya belum sempat menjelaskan apa pun.

Sejarah? Memang demikian, mengenai sejarah manusia Jawa yang secara khusus mengenai pergolakan sosial politik kerajaan Jawa. Ketika kita menyatakan, “kerajaan feodalnya Jawa” justru memberikan kesan negatif. Pun, sebelum pembicaraan ini dimulai. Tentu saja, kesan negatif untuk manusia Jawa dan feodalisme itu sendiri. Akantetapi, dalam kesempatan ini marilah kita berpikir subjektive untuk tanpa menghakimi, dengan berusaha melihat manusia dan feodalisme sebagai suatu kesatuan. Keberadaan manusia dan feodalisme sebenarnya memiliki nilai positif, meskipun orang-orang Bolshevik terus bersikukuh kalau kehidupan manusia tanpa feodalisme adalah kehidupan yang lebih baik. Suatu impian, bahwa negara digerakkan oleh kekuatan dan kekuasaan rakyat. Toh, dalam struktur pemerintahannya pun, akan tetap menghasilkan feodalisme.

Inti dari sistem feodal tidak hanya mengacu pada tuan tanah, maupun penggolongan manusia borjouis dan proletar. Lebih jauh dari itu semua, feodalisme memiliki hakekat mengenai kepemimpinan di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam negara demokrasi, kapital sampai dengan komunis, sistem feodal masyarakat akan terus ada. Pandangan ini karena meninjau dari segi esensi mengenai feodalisme itu sendiri yang berupa: nilai kepemimpinan. Manusia yang hidup berkelompok, harus ada, salah seorang dari anggota manusia yang maju sebagai pemimpin. Perlu dijadikan bahan perbincangan kali ini adalah bersangkutan dengan nilai kepemimpinan; kepemimpinan yang seperti apa? Mestikah seorang agamawan muncul sebagai pemimpin?

Menurut saya, percuma juga ada kepemimpinan jikalau berbagai penindasan – yang secara langsung maupun tidak langsung, dan ketidak-adilan terus ada untuk menyiksa manusia yang ada di dalam kelompok masyarakat tersebut.

Pasti, orang yang memimpin adalah orang yang memiliki kekuasaan, sebab salah satu pendorong terlaksananya suatu kepemimpinan adalah aspek kekuasaan. Manusia yang memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, jika tidak memiliki kekuasaan tidak bisa menjalankan kepemimpinan yang dimiliki.

“Tapi bisa memimpin dengan memberikan contoh, menjadi teladan dengan memimpin dirinya sendiri!” sahut Kangmas Gathak yang kelihatannya sudah mulai gerah.

Itu idealnya, dan terkadang tidak menjadi alternatif dalam dunia perpolitikan suatu negara yang membutuhkan adanya kekuasaan dan pengakuan. Kepemimpinan sebagai kekuasaan, yang mana memiliki sifat melindungi, menjadi pengayom manusia yang dipimpin, melindungi kehormatannya sendiri sebagai pemimpin, menegakkan keadilan, dan serta mewujudkan kehidupan yang selamat.

Prabu Damar Maya sebagai simbolisme kepemimpinan dan kekuasaan kerajaan Pengging. Ketika kerajaan mendapati suatu ancaman dari Prabu Baka yang ambisius akan kekuasaan, Prabu Damar Maya bertindak. Damar Maya dengan sekuat tenaga melindungi wilayah kerajaannya, yang secara tidak langsung sebagai proses perlindungan terhadap seluruh rakyat yang ada di wilayah itu. Perlu kita ingat, kalau kerajaan Pengging adalah kerajaan ideal, yang mana kehidupan rakyatnya dijalankan dengan penuh keadilan, makmur, tentram dan sentosa. Wilayah Pengging sendiri adalah wilayah yang subur, kekayaan berlimpah ruah yang akhirnya menjelma sebagai godaan yang terus merayu Prabu Baka untuk menguasai.

Hal yang sungguh lumrah, sikap yang dimunculkan oleh Prabu Baka. Karena, meskipun Prabu berwujud Raksasa tetap memiliki sifat alamiah manusia, tidak pernah puas walau sudah memiliki satu kerajaan. Dalam kisah ini, Prabu Baka hadir sebagai simbol dari kejahatan, pemerintahan yang korup dan sewenang-wenang, tidak mampu menjalankan sistem kekuasaan untuk melindungi rakyat Baka. Karena kepemimpinan yang lemah dari kekuasaan Baka, rakyat pun tidak terlindungi bahkan dari diri Prabu itu sendiri.

“Itu artinya, pemimpin seperti Prabu Baka itu orang lemah. Sikapnya itu tidak mencerminkan kekuasaan yang dimiliki.” Ungkap Kangmas Gathak sambil merokok.

“Heh? Mosok seorang Prabu tidak memiliki kekuasaan, Kang?” sahut adik kami, Dhimas Gathuk.

“Kekuasaan itu melindungi yang dikuasai. Melindungi dari berbagai ancaman yang dapat membuat rakyat – atau yang dikuasai, itu menderita. Melindungi sekuat tenaga dan upaya, bahkan melindungi dari diri sendiri. Berani untuk mengorbankan kepentingannya sendiri demi keberlangsungan kebahagiaan orang-orang yang dikuasai. Itu, baru namanya kekuasaan.” Kangmas Gathak menjelaskan.

Dalam konteks ini, memang benar apa yang sudah dijabarkan Kangmas Gathak, hakekat dari kekuasaan adalah perlindungan dan kepemimpinan. Memimpin yang juga berarti melindungi, sebab nasib seluruh manusia yang ada di bawah kekuasaannya bergantung dari bagaimana pemimpin itu menjalankan fungsinya. Jikalau ada pemimpin yang tidak melindungi, sama halnya kita dipaksa untuk masuk ke dalam api. Kepemimpinan yang tidak melindungi sama halnya dengan pembinasahan, pembantaian dan itu bukan esensi dari kepemimpinan dan kekuasaan.

Manusia yang tidak mampu melawan dirinya sendiri dapat dipandang sebagai sebagai manusia lemah, sebab tidak mampu menguasai (memimpin) dirinya sendiri. Lantas, bagaimana bisa diandalkan untuk memimpin orang banyak?

Prabu Damar Maya beraktivitas dalam rangka menjalankan sistem kepemimpinannya, bertindak menghalau invansi Prabu Baka. Bersebab itu, Prabu Damar Maya mengutus anaknya sendiri, Bandung Bandawasa untuk berperang. Maju dan mempertaruhkan nyawa demi keselamatan rakyat Pengging dari kekuasaan Prabu Baka yang merusak. Sebab, dalam cerita ini digambarkan mengenai hasil dari kekuasaan yang merusak yang disimbolkan melalui kerajaan Baka. Diceritakan, rakyat Baka mengalami kesengsaraan karena dipaksa mengikuti nafsu rajanya ketika berambisi menaklukkan Pengging.

Dari fenomena ini dapat kita lihat bagaimana peran Prabu Baka yang tidak mampu menjadi pemimpin, toh walau memiliki kekuasaan. Dan ketika ada seorang pemimpin yang hidup enak, berlimpah, bahagia, bahkan menjadi tambah gemuk, namun kondisi rakyatnya kembang kempis, sehari makan lalu sehari tidak makan, maka pemimpin seperti ini bukanlah seorang pemimpin. Dia adalah Prabu Baka yang menitis dalam diri pemimpin.

“Walau pemimpin itu mendapatkan wahyu keprabon?” sahut Dhimas Gathuk dengan cepat.

Seperti itu.

“Walau sudah terbukti dua kali mendapat wahyu keprabon?” sahut Dhimas Gathuk yang berusaha mempolitisir perbincangan untuk menunjuk hidung panjang seorang pemimpin yang pernah operasi tahi lalat.

“Hahaha…” Kangmas Gathak tertawa saja.

Meskipun Tuhan Semesta Alam telah menunjuk seseorang itu menjadi pemimpin, tidak lantas seorang Prabu berhak untuk menjalankan pemerintahan dengan sewenang-wenang. Membiarkan rakyat yang dititipkan Tuhan Semesta Alam untuk jatuh di dalam penderitaan sama halnya dengan menghina kemudian menantang pemilik rakyat itu, yang juga pemilik kekuasaan yang sebenarnya: Tuhan. Perlu kita memahami, bahwa kepemimpinan yang dititipkan Tuhan Semesta Alam adalah kepemimpinan yang berhati nurani, bukan bernafsu naluri. Ibaratnya, meskipun seorang Prabu harus mati, hal yang terpenting adalah keselamatan rakyatnya.

“Ah, si Bandawasa memang menang dalam peperangan, tapi dia juga kalah.”

Itulah permasalahan mengenai kekuasaan!

Bandung Bandawasa memang sudah memenangkan peperangan, pun akhirnya dengan sendirinya mendapatkan kekuasaan. Kekuasaan atas wilayah dan kerjaan Baka yang sudah berada di bawah kakinya. Sampai akhirnya, Bandung Bandawasa menemukan perempuan cantik, langsing dan cantik bernama Rara Jonggrang. Melalui pertemuan ini, Bandung Bandawasa merasa mendapatkan giliran untuk menguasai kekuasaan, yang secara tidak langsung menempati posisi Prabu Baka yang sudah dikalahkan.

Lagi-lagi, manusia yang berkuasa berusaha memanfaatkan kekuasaan itu untuk memenuhi hasrat diri yang termanifestasikan ke dalam simbol, yaitu Rara Jonggrang itu sendiri. Saya membaca bahwa keberadaan Rara Jonggrang merupakan pengejawantahan dari hasrat manusia. Yang mana selalu menginginkan hal yang indah, menyenangkan, dan tentu saja nikmat. Aspek ini merujuk pada keinginan akan kesenangan duniawi, yang mana kecantikan Jonggrang memancar dari tubuh (duniawi) yang ditangkap oleh pandangan (baca: ranjau hawa nafsu) Bandung Bandawasa.

Bandung Bandawasa berhadapan dengan keinginannya sendiri, untuk menikahi (baca juga: menikmati) kecantikan Jonggrang yang menggiurkan dan menggairahkan. Untuk mencapai hasrat itu, Bandung Bandawasa dihadapkan pada dua syarat yang harus terpenuhi dalam rangka mendapatkan kenikmatan duniawi. Pertama, mengenai pembuatan Sumur Jalatunda yang mana dapat dipahami sebagai lubang gelap dari keinginan (nafsu) manusia yang menjebak. Seperti ketika Bandawasa memasuki sumur Jalatunda, langsung dikubur oleh Patih Gupolo atas perintah Jonggrong. Bandawasa sadar bahwa dirinya telah dipermainkan namun masih saja terbujuk hawa nafsu untuk membuat seribu candi, sebagai persyaratan yang kedua. Seribu candi yang diinginkan Jonggrang dapat kita maknai sebagai seribu keinginan manusia.

“Kenapa Jonggrang harus curang yang jutru membuat seribu candi tidak selesai?” Kangmas Gathak dan Dhimas Gathuk bersepakat menanyakan hal yang sama.

Inilah, penghianatan dari bujuk rayu keinginan (nafsu) manusia. Bandawasa hanya bisa menyelesaikan 999 buah candi, karena keinginan manusia tidak pernah selesai sehingga Jonggrang menyiasati agar tidak genap seribu. Kalau misalkan saja sudah genap seribu candi, berarti keinginan manusia telah selesai, namun sifat dari keinginan manusia itu sendiri tidak pernah selesai sampai mati, sehingga sikap Jonggrang dapat kita pahami. Keadaan ini nampaknya disadari Bandung Bandawasa yang menyelesaikan keinginannya dengan merubah Rara Jonggrang menjadi candi yang keseribu. Artinya kesenangan (hawa nafsu) harus dibunuh untuk mencapai kekuasaan yang sebenarnya, karena sebelum keinginan manusia itu mati, tidak akan mencapai kekuasaan yang sebenarnya, bersebab diri manusia itu sendiri masih dibawah kekuasaan hawa nafsu (keinginan).

“Nah, itulah yang dipesankan Nabi, bahwa memerangi hawa-nafsu, diri manusia sendiri adalah perang terbesar setiap manusia.” Sahut Kangmas Gathak dalam senyuman bangga.

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, Kamis Pon, 11 Maret 2011

Komentar