Langsung ke konten utama

Hikayat Prapanca

Dwicipta
http://suaramerdeka.com/

BILA suatu saat anak cucuku bertanya kenapa aku menuliskan kakawin ini, adakah mereka tahu jika telah kusuling dendam kesumatku menjadi puji-pujian memabukkan dalam kakawin ini?”

Dadanya berdegup kencang menyaksikan hasil karyanya selama ini. Udara pegunungan sore hari terasa semilir. Mestinya bisa mendamaikan kekisruhan dalam dirinya. Sayang, ia diliput bayang-bayang kelam masa lalu. Pertanyaannya lesap begitu saja pada angin semilir yang tak juga mendamaikan hatinya, pada keping demi keping penghinaan seperti yang ia terima pada sidang para pujangga di depan Baginda beberapa tahun lalu, peristiwa pahit yang kini tetap saja bagai tiada berjarak dan terus meluapkan amarah. Di tiap keping penghinaan itu seolah terdedah rabu, memanaskan darah dan mendesirkan hati. Kulit mukanya terasa terus menerus terkelupas bila membayangkannya.

“Demi tujuh turunanku kelak, aku, yang oleh mereka disebut Prapanca, tak akan melupakan ucapan mereka di depan Baginda Raja. Hanya aku seorang yang memamah dendam ini, selamanya,” ikrarnya ketika ia meninggalkan istana.

Sungguh menggelikan bila dipikir-pikir sekarang. Ia putar kedua biji mata tuanya menikmati alam pegunungan. Ia biarkan cantrik-nya, seorang remaja tanggung yang menemani di kaki gunung ini, pergi entah ke mana. Tak biasanya ia membiarkan cantrik polos itu bermain-main tiada guna. Bila telah selesai melakukan berbagai pekerjaan, ia meminta pada remaja tanggung itu membaca kitab-kitab kuno di dalam ruangan belajarnya atau menyalin tulisannya ke kain sutera. Ah, kenapa ia harus memaksakan sesuatu hal yang belum tentu bisa diterima oleh orang seusianya? Dunia anak kecil seperti cantriknya itu adalah ladang dan teman-teman sebaya, bukan pekerjaan serius seperti yang ia lakukan saat ini. Aih, betapa waktu membuatnya makin tak menyadari segala hal, Semakin uzur ia merasa makin takut kehilangan segala hal sementara pada saat bersamaan ia telah banyak kehilangan berbagai hal tersebut. Sungguh menjengkelkan.

Berpuluh tahun ia telah bersusah payah mengikuti setiap anjangsana baginda Hayam Wuruk ke wilayah-wilayah bawahan, bahkan sampai ke mancanegara. Tiada kurang ia menjelaskan pada Sang Putra Langit betapa seluruh negeri telah makmur di bawah dulinya, betapa rakyat tenang dan berwajah sumringah selalu, tiada peperangan atau pencurian. Gemah ripah loh jinawi. Ia haturkan tembang-tembang terbaik yang mampu ia ciptakan, tentang air hujan yang menjadi tirai mutiara, atau matahari yang laksana cahaya gaib raja dan tunduk pada titah paduka. Tapi apa kata mereka semua dalam persidangan para pujangga itu.

“Tampaksara, Tampaksara, kau tak bisa membuat kakawin! Kau tetap lelaki kasar dari desa. Yang meluncur dari mulutmu hanya lagu-lagu pujian rakyat jelata. Tak layak dihaturkan kepada duli paduka,” seru Mpu Dwipayana.

Nada suaranya menggelegar bagai petir, meresap ke liang telinganya seperti amukan Dewa Agni.

“Kau mau mencari muka di depan Baginda? Ah, mengimpi! Kau bukan dari kelas brahmana. Tiada sedikit pun kau mewarisi kesaktian dan mantra dari jalinan kata-kata seperti kami. Kau hanya cantrik gagal Resi Sedapati, brahmana gunung yang hanya tahu bertapa itu,” ujar Wikana.

Ketika ia berani mencuri pandang ke arah sang Baginda, ia mengunci mulut, menatap lurus padanya tanpa menghakimi ataupun membela. Dewa Batara, duka apa yang harus kutanggungkan ini? Di hadapan para pujangga, hanya Resi Jagat Maya yang bisa mendinginkan suasana, dan menatap lembut padanya yang telah menjadi kambing congek.

“Sudahlah. Tampaksara, sekarang pergilah ke pertapaan gurumu, dan mawas diri di sana agar kau bisa memahami laku raja dan dunia, memahami dunia seluruh kaum,” katanya.

Kini getir di mulutnya terasa makin keras oleh warna-warna kelam dan jingga langit.

“Jagad Dewa Batara, Penguasa Alam Raya, bumi Jawa tiada lagi memiliki penghargaan layak pada para kawula yang mengabdi dan memberikan sembah bakti pada Sang Raja. Setelah Sang Airlangga wafat, siapa lagi yang mampu menghidupkan pandangan bahwa semua manusia setara? Prabu Hayam Wuruk kuharapkan mewarisi kebesaran Sang Airlangga. Namun apa mau dikata? Ia dikelilingi oleh para pujangga dan kaum brahmana, golongan yang memiliki keagungan pejal dengan menistakan kaum di bawahnya. Betapa diri ini tersiksa!”

“Kau pantas mendapat sebutan baru, wahai Pertapa Gunung. Prapanca, ya, kaulah Prapanca. Tahukah engkau arti Prapanca? Cakapnya lucu, pipinya sembab, matanya ngeliyap dan gelaknya terbahak-bahak. Kau terlalu kurang ajar, tidak pantas ditiru atau menjadi panutan. Sifatmu adalah bodoh, tak menurut ajaran tutur, dan pantasnya dipukul berulang-ulang,” sebut Mpu Dwipayana.

Sembari berbicara, ia menirukan segala mimik wajahnya seperti badut, membuat seluruh hadirin di istana tertawa-tawa seperti melihat sebuah pementasan para pelawak.

Ibu, kutuk apa yang kau timpakan padaku? Bukankah ketika aku berada dalam kandunganmu, Sang Hyang Jagat telah mewariskan dalam diriku cahaya keagungan yang terpancar ketika kau mengandungku, cahaya yang berpendar-pendar ketika kau hendak tidur. Ibu, apakah kau telah timpakan kutuk padaku sebab telah meninggalkanmu tanpa pulang, tak menyembah kaki sucimu dan menyambangi abu sucimu. Oh, betapa swargaloka di bawah telapak kakimu itu telah menistakan aku.

Ia menyentuh seloka terakhir yang dituliskan. Semuanya ada sembilan puluh empat seloka. Dari tiap seloka, seolah darah mengalir dari tubuhnya, membuka kembali luka-luka yang berusaha ia kubur dalam ketenangan yoga, namun juga luka yang tak pernah bisa terobati. Air menderas dari kedua kelopak matanya, menghilir di wajah perempuan bermata mutiara yang terbayang di pelupuk matanya. Berpuluh-puluh tahun sudah ia melupakan di mana kuburnya. Panggilan pulang lewat mimpi demi mimpi hanya singgah sebentar dalam pertimbangannya. Ia terlalu suka bertualang, menghamba pada kekosongan, takhta yang tak memberi apa-apa padanya selain penghinaan.

Sekali dalam hidupnya, pernah ia menemani Mpu Winada yang tinggal di kaki Gunung Mahameru. Betapa ia baru memahami palapa yang ditakutkan oleh Winada. Lelaki itu tiada silau oleh gemerlap kuasa, tak lekang oleh goda dunia dan selalu bertekun dalam tapa. Sepuluh musim tinggal bersamanya, ia tahu bagaimana lelaki itu membalas dengan cinta kasih perbuatan mereka yang senang menghina, tak mendebat atau meremehkan orang-orang yang puas dalam ketenangan dan menjauhkan diri dari dari kesukaan pada sesuatu benda maupun kewibawaan, tiada mau mencacat.

Kini, apa yang ditulis, mengapa kulit mukanya terasa terbakar? Ia diliput dendam, dan menghina diri sendiri karena dendam pada semua dan segala?

“Jagad Dewa Batara, setelah kutuliskan kakawin ini, apalagikah yang bisa kulakukan untuk membersihkan diri dari segala cacat dunia? Ibu, Mpu Winada, ampunkan ketamakanku dalam memuaskan dendam,” ia terus merintih dalam selimut senja.

Mulutnya makin getir. Ia tiada terdorong sedikit pun atas suatu perasaan cinta bakti kepada Baginda dalam menuliskan kisah perjalanan Sang Raja. Lagipula, untuk apa menghamba pada raja tanpa alasan? Ia membuat puja sastra ini dengan berkorban rasa, dan walaupun bersiap akan kembali ditertawakan, lebih dikarenakan oleh balas dendam. Jauh pada masa kecil, ia telah mendengar dari mulut ibunya tali tak putus yang telah menghanguskan dan meluluh-lantakkan bumi Jawa.

“Tiada lain, Nak, karena tali dendam mengikat kita semua, terutama orang-orang di lingkar kuasa dan kata. Tiada hari bagi mereka tanpa memikirkan bagaimana mengagulkan diri di hadapan orang, sembari mematikan orang lain. Tiada mereka menggunakan pedang atau tombak kecuali atas nama darah keluarga dan kemegahan kuasa. Manusia alangkah menyakitkannya hidup dalam temali dendam semacam itu.”

“Apakah tali itu menakutkan dan menyesatkan kita semua?” ia bertanya dengan bola mata membeliak karena tak mampu menjangkau apa yang dikatakan perempuan bermata mutiara itu.

“Aku bertahan hidup karena dibiayai oleh dendam, Nak. Semenjak ayahmu tiada, kau mesti tahu bagaimana aku dihinakan oleh kerabat dan sanak saudara. Kau tahu muka-muka mereka. Ingatlah, manusia semakin cantik, ia semakin licik. Manusia semakin tampan, ia semakin kejam tiada tandingan. Makin berkuasa, makin lihai ia menindas kita. Dalam satu masa hidupku, aku bersumpah atas nama Hyang Widhi supaya bisa meruntuhkan mereka. Namun seiring waktu, aku tahu perasaan semacam itu hanya merusak batin kita,” katanya.

Alangkah benarnya. Ia ragu untuk apakah semua daya upayanya selama ini. Apakah untuk membungkam mulut Dwipayana, Mpu Agung istana yang telah merendahkan swarga loka di bawah nafsu-nafsu serakahnya?

Ia telah melarikan diri dari lingkar kemunafikan, lari oleh nasib badan terhinakan. Kemewahan istana telah membuatnya canggung dari rakyat jelata. Hatinya gundah selama bertahun-tahun karena ketidaksenangan tinggal di dusun terpencil, berhadapan dengan kata-kata kasar dan kepolosan bagai telanjang. Tiada jarang ia nelangsa, rugi tiada mendengar ujar manis…

“Ujar manis, betapa itu juga membelenggu. Aku telah menjadi buta, tuli, tak mampu memancarkan sinar memancar dalam kesedihan seperti Mpu Winada.”

Ia teringat ajaran sang Mahamuni. Sampai sekarang tidak pernah ia resapkan ajaran sang Mahamuni akan kerendahan diri dan pengabian pada yang kecil dalam hidupnya.

“Berharap kasih sayang yang tak kunjung datang akan membuat kau cepat layu, mati sebelum sempat memiliki keturunan.”

Duh, Gusti, Jagad Dewa Batara, kenapa semua pemahaman ini baru datang setelah aku menyelesaikan kakawin ini? Ingin rasanya membakar semua kemunafikan yang telah ia tulia itu. Ia melirik pada kakawin itu dan melihat pupuh terakhir, pupuh ke sembilan puluh empat.

Kelam senja menebalkan warna jingga terakhir, membuarkan aroma kematian yang sangit di lubang hidungnya. Gegap gempita istana dan sampur di sepanjang perjalanan membahana di telinganya. Wajah-wajah angkara yang semula begitu amat dibenci sekaligus dirindukannya. Tiba-tiba ia tertawa-tawa.

?Winada, Ibu, dan sang Mahamuni, aku ini disebut Prapanca oleh para pembesar istana! Akulah memang Prapanca itu, manusia yang terus munafik, penggubah kakawin demi tujuan memuja diri sendiri! Jika tiada kutambahkan sedikit lagi pada kakawin ini dengan membubuhkan siapa aku, akan terkutuklah aku selama-lamanya. Swargaloka tiada mau menerimaku. Demi Jagad Dewa Bathara, akan kuberanikan diri membubuhkan jati diriku. Akan kuberitahukan kepada anak cucuku kelak siapa sebenarnya aku ini!? katanya pada diri sendiri, setengah berteriak di depan pondoknya.

Ia membawa masuk kakawin yang terkumpul dalam bilah-bilah bambu itu dan mulai menyalakan api, mempersiapkan alat tulisnya. Tangannya bergerak-gerak tanpa berhenti, menambahkan empat pupuh tanpa membutuhkan waktu lama.

Hari telah sempurna malam ketika ia meletakkan alat tulis terakhirnya. Baru disadari tenaganya telah luruh semua dalam karya yang telah ia dedahkan selama mengasingkan diri. Ia tak merindukan lagi gegap gempita istana, seloka-seloka yang diperdengarkan di depan baginda, gegap gempita para kawula di sepanjang anjangsana, atau perubahan musim yang tak boleh ia luputkan demi kebahagiaan pembesar kerajaan.

Angin meniup dingin. Cantriknya, seorang anak lelaki muda belia dengan raut muka cemas, masuk dan berniat membasuh kakinya. Ia merebut tempayan air dan membasuh kakinya sendiri.

“Kau dan aku sama. Kita bukan siapa-siapa. Mulai besok bantulah aku menyalin ini ke dalam daun-daun lontar atau kain sutera simpananku yang dihaiahkan seorang saudagar China. Sedapat-dapatnya tidak ada kesalahan. Ambil makanan dan kita makan bersama,” katanya dengan nada lembut.

Anak lelaki yang beranjak dewasa itu ternganga oleh sikapnya, dan hanya mengikuti perintahnya dengan gerakan tubuh tanpa roh. Malam turun di kaki gunung itu, dingin dan senyap. Keduanya bersiap makan malam, dalam satu piring. Lelaki tua itu kini merasa api panas dalam dadanya menyurut, perlahan-lahan bagai api kecil, berlenggak-lenggok tertiup angin keras.

Yogyakarta, 11 Februari 2006

Komentar

Sastra-Indonesia.com