Langsung ke konten utama

Pertolongan Tak Terduga

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Tiba-tiba telpon genggamku berdering. “Halo ya, saya sendiri,” jawabku.
“Saya dokter dari Klinik Mata Nusantara. Saya, kami, baru saja membaca tulisan tentang Bapak di koran Jakarta Post. Kami ingin mengoperasi katarak Bapak,” “Terimakasih, tapi saya tak punya uang,” potongku.

“Bapak tidak mau? Operasinya gratis,” kata dokter yang mengaku bernama Rudi itu.
“O, mau, mau! Terimakasih banyak!” kataku. “Kalau begitu, besok jam 9 pagi datang ke klinik kami. Kami tunggu.”
Aku menarik nafas lega, terlepas dari tekanan yang bertahun-tahun aku alami. Tekanan batin, sebutlah begitu. Lima tahun yang lalu, mata kananku sudah dioperasi. Biayanya sekitar delapan juta rupiah. Untung anakku yang tertua membiayai semuanya. Tinggal sebelah mataku lagi yang masih belum beres, katarak masih bersemayam di sana.

Selama lima tahun aku menjadi wartawan freelance bermata satu. Beberapa novel dan ratusan cerpen bisa kutulis dengan mengandalkan benda lembek di bagian depan tengkorak kepalaku.

Bayangkan, betapa kuatnya benda lembek yang bernama mata.Beratus-ratus halaman, berjuta-juta huruf yang sudah kutulis dan kukoreksi dengan satu benda lembek yang bernama mata. Akan tetapi, karena keterbatasan biaya maka aku membiarkan mata yang satu tahun demi tahun tak berfungsi lagi.

Aku jadi sedih. Bagaimana jika mata kananku rusak tiba-tiba? Memang, hampir saja mata kananku itu tertusuk besi solder listrik. Ceritanya, pada suatu hari ketika aku memperbaiki alat solder listrik, cucuku mendekat dan memegang-megang alat itu.

Tiba-tiba mulutnya berbunyi dorr sambil ditusuknya alat itu ke mataku. Untung tak kena. Ujung besi solder itu hanya menusuk tulang mataku. Sejak itu, aku harus berhati-hati dengan cucuku yang usianya berada di fase permainan merusak.

Kalau saja mataku tertusuk, gelaplah dunia ini. Aku akan jadi seperti kakak perempuan yang entah mengapa harus hidup dalam gelap selama tiga puluh tahun. Awalnya, katarak akan dioperasi, tetapi menurut anaknya mereka takut karena harus menandatangi surat yang menyebut-nyebut stroke mata dan kematian.

Kakakku lalu diboyong pulang dan sudah tentu cepat atau lambat buta totalah kedua matanya. Akan tetapi saat ini ia sehat-sehat saja di usianya yang ke sembilan puluh. Ia tinggal dengan anak perempuannya dan lima orang cucu.

Pernah aku memberi ia lima lembar uang kertas sepuluh ribuan, uang itu ditaruhnya di lemari pakaian. Aku pikir, lumayan, kakakku bisa belanja makanan kesukaannya. Tetapi kemudian ia bertanya padaku, berapa nilai uang yang aku berikan padanya.
“Lima puluh ribu,” kataku.
“Ah, kok jadinya lima ribuan?” katanya.
“Pasti sudah diambil seorang cucu,” kataku.

Kakak perempuanku tinggal di Kupang. Dia senang sekali kalau aku terbang dari Jakarta menemuinya. Setelah bosan berlibur di Kupang aku ingin pulang ke Jakarta. Tetapi, kakakku melarang. Ia rindu padaku tamaknya.
“Carilah sebuah rumah untuk kita tinggal bersama seperti dulu.” Aku jadi terharu.

Mengenang masa-masa bersama, ketika aku masih kecil dan dia sudah menjadi gadis remaja yang cantik, putih, segar, rajin dan cerdas.

Aku sangat sayang pada kakakku. Ketika balatentara Jepang mendarat, ia dilamar seorang pegawai negeri. Kalau tidak begitu, mungkin kakakku akan diambil tentara Jepang dan dia akan menghilang. Dan aku sangat benci pada suaminya.

Pernah ketika mereka masih berpacaran, aku mengambil batu agak besar dan melemparkan batu itu ke pintu, kakakku memarahi aku. Sampai sekarang, aku masih gondok pada suaminya walaupun sudah almarhum.

Aku gondok karena kakakku melahirkan sembilan anak bagi suaminya itu. Hati kecilku selalu berkata, sontoloyo betul lelaki itu, apalagi ketika kakakku menjadi buta selama tiga puluh tahun, tiga puluh tahun hidup dalam kegelapan, bayangkan!

Anak-anaknya pun sontoloyo semuanya. Ada lima anak lelaki, tiga jadi nakhoda kapal pesiar dan satu nakhoda kapal tanker yang besar dan berlayar ke seluruh dunia. Lalu, mengapa kakakku dibiarkan buta oleh anak-anaknya? Sontoloyo betul!

Anak peremuanku tidak membiarkan aku buta. Operasi katarak mata kanan seperti yang sudah kukatakan, dialah yang membiayainya.

Yang merepotkan aku adalah, anak lelakiku. Kadang-kadang tampak sontoloyonya, contohnya soal mobilnya yang sukar sekali dipinjam. Beberapa kali aku minta pada anak lelakiku untuk membiayai operasi katarak mata kiriku, ia hanya diam saja. Telinganya, telinga terowongan, permintaanku masuk dari telinga kiri dan keluar ke telinga kanan.

Dia lain dengan anak perempuanku, pelitnya luar biasa, anak lelaki kebanggaanku. Aku bangga karena dia pintar, boleh dikata jenius dalam bidang matematika dan IPA. Tapi kata orang, titik-titik sosial di batok kepalanya tidak ada atau kurang sama sekali.
Bahkan anaknya, cucuku, berkata, “Papa, kalau cabut uang dari dompetnya, sama dengan cabut nyawa.”

Persiapan ke klinik mata tidak terlalu merepotkan. Aku hanya berpuasa agar siapa tahu, barangkali, kalau ada gula darah di tubuhku bisa berkurang.

Nah, yang menjadi masalah adalah kendaraan. Aku pinjam mobil anak lelakiku, tetapi malamnya ia menghilang dengan mobilnya dan pulang di pagi hari. Terpaksa aku berjalan kaki mencari angkot dan bus.
Di klinik mata, aku disambut dokter Rudi, manajer klinik serta dokter Syaukan Tahya, ia yang mengoperasiku.

Akhrinya, sebelum Natal, mata kiriku terang kembali, aku kabarkan ke semua kemenakan, anak angkat, mantan murid magang di sanggar jurnalistikku dan sarjana-sarjana yang menulis skripsi mengenai karya sastraku, bahwa aku tidak menjadi buta seperti kakak perempuanku.

Rencanaku, malam-malam aku akan ‘merayap’ ke Jatinegara, ke emper tempat mangkal para tukang pijat buta untuk mencari tukang pijat buta langgananku.

Dulu, begitu si tukang pijat langgananku memegang betisku, ia langsung kenal, “Pak Wartawan, lama tak muncul,”. Oh, matanya ada di jari.

Dalam pengembaraanku sebagai wartawan dan seniman di benua maritim ini, isi kantong terbatas, hotelku adalah tikar tukang pijat buta di terminal-terminal bus.
Bangun pagi segarnya luar biasa karena ayunan tangan dan jari si tukang pijat buta.

Langkah di ayun ke kamar mandi terminal, kemudian melanjutkan pengembaraan ke terminal lain, ke tikar tukang pijat yang lain untuk menikmati pijatan ajaib si tukang pijat buta. Hal yang mengharukan aku adalah bahwa si tukang pijat buta bahkan dapat menciptakan pekerjaan bagi orang lain.

Ceritanya, pada suatu malam, ketika tubuhku yang pegal linu kuserahkan pada si buta, ia bertanya, “Mau pakai bantal?”
“Mau!”

Ternyata, bantal itu adalah paha seorang wanita gemuk, janda berganda beranak lima. Kepalaku berfilsafat; ini adalah semacam moral rebel orang kecil. Akan tetapi hidungku tersengat bau terasi, dan aku merasa itu bau dari kaki perempuan yang pahanya dijadikan bantal.

Aku memang optimis. Seandainya tak ada yang membiayai operasi katarakku sehingga aku buta total seperti kakak perempuanku, maka aku masih bisa cari makan sebagai tukang pijat buta. Mataku ada di jari, kaki dan tongkat.

Sekarang aku lebih optimis lagi setelah memproleh kemurahan hati dokter-dokter, perawat di klinik mata tersebut. Aku bisa mengetik lagi, seandainya satu mataku buta, maka ada satu mata yang masih bisa berfungsi. Dulu, kalau buta yang satu, seterusnya aku tak bisa melihat lagi.

Ya, mata angan-anganku menjadi tukang pijat buta di Jatinegara sudah kuhapus. Beberapa novel dan cerpen kembali kugarap. Paling tidak, sekarang mataku semakin awas melihat huruf-huruf yang menari-nari di hadapanku. Paling tidak, aku bisa memandang jalanan dengan normal tidak bergelombang lagi.

Paling tidak harga diriku sebagai manusia pulih kembali, aku masih bisa menghasilkan uang untuk biaya hidup sehari-hari dengan usahaku sendiri.

Di tengah kreativitasku yang datang bertubi-tubi, aku bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi anak-anak putus sekolah di sekitar temat tinggalku untuk mengetik ulang naskah-naskahn yang kutulis dengan tangan.

Nanti, jika honorku datang beruntun, aku bisa membiayai sekolah mereka, membiayai anak bungsuku dengan empat anak-anaknya yang suaminya pengangguran. Ya, di usiaku yang menginjak delapan puluh tahun ini, aku bukan parasit yang menempel hidup pada siapa saja. ***

* Depok 18 Januari 2011 (Sebuah memori untuk para cucu, cicit dan piat-piut)

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com