Langsung ke konten utama

Nyanyi Sunyi Usai Gemuruh

Judul : Nyanyian Tanah Bharata
Sajak-sajak Sunyi
Penulis : I Dewa Rai Oka
Penerbit : Yayasan Dewi Saraswati, Mataram
Cetakan : I, tahun 2004
Tebal : i-iii, 36 halaman
Peresensi : Sindu Putra
http://www.balipost.co.id/

KESUSASTRAAN, dalam pandangan seorang postmodernis Fredric Jameson, ditentukan oleh aktivitas politik tak sadar dan oleh karena itu harus dibaca sebagai suatu meditasi simbolik tentang takdir komunitas. Kesusastraan juga sebagai sebuah pembacaan lain yang berfungssi menelanjangi artefak-artefak kultural sebagai tindakan sosial simbolis.

Dalam konteks itu, maka menarik untuk mengkaji kembali pendapat penyair dan novelis asal Ghana Afrika, Kofi Awoonor, saat membicarakan tempat dan posisi sastra Afrika dalam hubungan pergaulan dan ketika sastra Afrika membangun relasinya di tengah wacana sastra postkolonial. Kofi Awoonor menyatakan bahwa seniman harus kembali ke sumber-sumber tradisional mereka untuk mendapatkan inspirasi.

Bagi masyarakat Bali, juga pada komunitas Bali yang tinggal di Lombok sejak zaman kerajaan abad XVIII, Mahabharata dapat dipandang sebagai sumber tradisional. Meskipun mahakarya ini datang dari sumber yang jauh, India, seluruh ceritanya telah mengalami pribumisasi. Kesenian tradisional, baik seni pertunjukan, seni rupa, serta juga seni sastra selalu merujuk dan menggali inspirasi dari sumur-sumur cerita Mahabharata. Maka, kehadiran buku “Nyanyian Tanah Bharata” (NTB), kumpulan puisi karya I Dewa Rai Oka ini, memperpanjang barisan itu. Buku ini memberi kesaksian lagi bahwa Mahabharata merupakan mata air ilham yang tak pernah kering. Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama bersub judul “Nyanyian Tanah Bharata” yang terdiri dari 18 judul, sajak I sampai XVIII, yang merupakan karya puitisasi sloka-sloka dalam kitab suci Bhagawad Gita. Sementara bagian kedua bersub judul “Renungan-renungan Putih dari Aksara-aksara Putih”, merupakan puitisasi sejumlah sloka kitab Sarasamuscaya, kitab yang mengandung makna himpunan intisari kisah-kisah Mahabharata.

Puisi menjembatani antara yang faktual dengan yang fiksional. Puisi tumbuh sebagai seni, seperti dalam asumsi filsuf Theodor Adorno, bisa memberi imajinasi kontemplatif dan spekulatif dari berbagai dunia dan berbagai konsepsi tentang hidup yang bahagia (dan tentu saja yang bukan bahagia).

Mahabharata adalah sejarah. Sejarah merupakan politik di masa lalu. Dalam Mahabharata, politik dapat dilihat sebagai bacaan yang lahir dari interaksi berbagai pemaknaan, baik dari sudut sosiologis, antropologis maupun theologis. Mahabharata mengandung kisah perang, kisah yang bisa berdimensi simbolik, bisa pula bermatra faktual, tergantung dari sudut mana membacanya.

Upaya membahasakan kembali cerita ini dalam bentuk baru, seperti puisi modern, membutuhkan energi lebih dan tantangan tambahan. Transformasi bentuk dan nilai yang dikandungnya ke dalam puisi sudah dikenal sejak zaman Jawa Kuno. Proyek membahasajawakan Astadasa Parwa hingga kini masih bisa dilacak jejaknya dengan jelas. Karya-karya kekawin yang mengambil tema dari parwa-parwa itu masih terus dibaca dan dikupas artinya.

Hal ini menunjukkan kekawin sendiri sebagai puisi dari zaman dulu sudah menemukan khalayaknya. Di sisi itu, maka hadirnya “Nyanyian Tanah Bharata” karya Rai Oka ini sebagai bentuk puisi modern yang membungkus tema mayor Mahabharata, tentu mengandung dan mengundang pertanyaan kritis: sampaikah makna Mahabharata kepada khalayak yang hendak disasarnya? Jadi, puisi-puisi ini masih terus akan diuji. Sampaikah juga ia pada sasaran yang lebih luas, khalayak yang lintas bahasa lintas, budaya dan bahkan lintas agama.

Pada kumpulan ini, I Dewa Rai Oka menarik Mahabharata ke dalam ruang asketis dan meditatif. Puisi-puisi dalam kumpulan ini adalah wilayah monolog. Gemuruh sosial politik dalam kisah-kisah India ini dibawa ke dalam ruang sunyi, sehingga terjadi perjumpaan yang sangat individual. Gegap gempita perang, lika-liku intrik kekuasaan sampai melankoli percintaan, dalam puisi-puisi ini tidak saja menjadi sebuah peristiwa fisik, namun juga hidup sebagai peristiwa rohani. Dengan mengambil bentuk puisi, Rai Oka menjadikannya soliloqui. Peristiwa yang hiruk pikuk mengalami pengheningan. Proses ini merupakan penyulingan makna. Maka akan datang kembali pertanyaan: apakah puitisasi ini akan menemukan pembacanya?

Jawaban yang masih kita tunggu, barangkali tidak dalam tempo yang secepat-cepatnya, jika mengingat kembali minat baca, kultur baca yang kita miliki. Namun paling tidak, sebagaimana ditulis Putu Arya Tirtawirya yang bertindak sebagai editor buku puisi ini, “Nyanyian Tanah Bharata” ini diharapkan bakal menimbulkan gaung: suatu imbauan positif, terutama bagi generasi muda Hindu untuk menghayati ajaran agama.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com