Esai Bahasa: Cendera Mata

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Sewaktu menyiarkan berita tentang “Opak” atau kerupuk singkong yang sering dibawa oleh wisatawan asal Malaysia, seorang penyiar stasiun TV yang terdepan mengabarkan menyebut ungkapan “oleh tangan”.

Mungkin dia salah baca atau terlalu cepat membaca teks yang seharusnnya berbunyi “oleh-oleh” atau “buah tangan” menjadi “oleh tangan” saja. Kecuali saya salah dengar.

Di dalam KBBI, kata buah dapat digabungkan dengan berbagai kata lain yang jumlahnya puluhan ungkapan yang sering tidak mudah dilihat hubungan langsungnya dengan kata buah segar seperti mangga, apel, nanas dsb, namun sering pula diasosiasikan dengan sesuatu yang merupakan bagian dari suatu benda.

Sebagai misal, “buah baju”, yang berupa kancing baju, seolah-olah “buah baju” berupakan hasil produksi sebuah baju yang hidup sehingga mampu berbuah.

Namun banyak pula yang maknanya harus ditelusuri di dalam kamus seperti “buah kalam, buah mata, buah bibir, buah betis” dan banyak lagi. Kita tidak boleh sembarangan menduga makna “buah betis” sebagai “buah yang dihasilkan oleh betis”.

Bagian mana dari betis yang dapat dianggap sebagai buahnya? Pasti tidak mudah menduga-duga, dan barulah kita paham kalau kita sudah membuka kamus.

Demikian pula dengan “buah bibir”, yang menjadi mudah kita pahami sebab pemakaiannya yang bertubi-tubi di dalam kehidupan sehari-hari, di dalam infotainment. Kalau hanya menduga-duga pasti juga sulit menetapkan bagian mana dari bibir yang bisa dianggap sebagai buahnya.

Sama halnya, tampak sederhana namun sulit untuk menetapkan bagian mana dari mata yang dapat dianggap sebagai buahnya.

Buah tangan, buah hati, buah dada, dengan mudah dapat dikenali maknanya sebab ungkapan tersebut sering kita jumpai sehari-hari.

Tampaknya kemudian dirasakan lebih sopan kalau memakai ungkapan ‘payudara’, padahal kata “payu” sama sekali tidak berhubungan dengan apa pun yang ada di dada kita. Kata “payu” tampaknya kata pinjaman dari bahasa Jawa yang bermakna “laku” menyangkut barang-barang yang dijual.

Tentu saja “payudara” tak ada hubungannya dengan perdagangan, apalagi perdaganan buah dada.

Kata “mata” juga banyak punya makna dasar (1) indera untuk melihat, (2) sesuatu yang menjadi pusat, (3) menyerupai mata (lubang kecil), seperti mata jarum, (4) bagian yang tajam, (5) sela antara dua baris pada mistar, (6) pupil hitam, dan (7) yang terpenting.

Begitu banyak ungkapan pada lema “mata” yang dapat kita baca pada KBBI, membuat kita yakin bahwa bahasa kita memang kaya dan harus terus dieksploitasi secara kreatif. Ini pasti menjadi tantangan bagi para penulis baik fiksi maupun nonfiksi.

Anehnya “matahari” dapat kita jumpai pada lema “hari”. Yah, pasti berbeda maknanya dengan judul cerber “Aku Mata Hari” karya Remy Sylado yang memikat itu. Para pengarang harus iri (bukan dengki) pada kepiawaian Remy dalam mengolah kata.

Saya menemukan makna “kirmizi” dan “tulat tubin” dalam novel tulisannya. Yang terakhir itu saya kira dia bermain-main dengan kata dalam novel tebalnya Sam Po Kong, namun saya keliru.

“Tulat tubin” ternyata terdapat di dalam KBBI, tetapi di dalam Tesaurus Bahasa Indonesia susunan Eko Endarmoko kata itu dijelaskan di bawah dua lema yakni tulat dan tubin.

* Sunaryono Basuki Ks, sastrawan tinggal di Singaraja

Komentar