Langsung ke konten utama

Tarian Hujan

Uniawati
http://kendaripos.co.id/

Hujan pagi ini telah membuat tubuhku beku oleh rasa dingin yang menusuk semua persendian tulangku. Hariku terasa lebih cepat berkurang dengan datangnya titik hujan. Hujan sepertinya mengantarkan vonis itu lebih cepat tiba. Semua jenis obat yang diberikan dokter padaku tidak juga dapat melenyapkan rasa ngilu ini yang rutin membuatku tidak berkutik setiap kali hujan turun. Entah kenapa setiap hujan datang, aku tidak akan pernah bisa menyambutnya dengan bersuka ria.

Sejak kecil aku hanya dapat menatap titik-titik air hujan yang turun melalui titiran atap rumah dari balik kaca jendela kamar. Padahal aku sangat ingin bergabung dengan teman-temanku, kakak-kakakku, beserta saudara-saudaraku yang lain dan turut menarikan tarian hujan dengan khidmat. Keinginan itu muncul setiap kali bumi ini basah oleh hujan dan setiap kali itu pula ibu akan duduk mengawasiku di dekat pintu kamar. Ibu sangat tidak menginginkan kulitku dibasahi oleh air hujan bahkan sepercik pun.

Entah kenapa ibu begitu berkeras untuk tidak mengenalkanku pada sebuah tarian yang hanya bisa dilakukan di bawah guyuran air hujan. Dalam hal ini, aku merasa ibu telah berlaku tidak adil padaku dibandingkan dengan kakak-kakakku. Pernah suatu kali ketika hujan baru saja turun dan seperti biasa ibu telah duduk manis di dekat pintu, aku menanyakan dengan sedikit memprotes sikap ibu yang tidak pernah bisa kompromi untuk mengijinkanku sekali saja merasakan nikmatnya mandi beratapkan langit. Aku mengharapkan ibu dapat menjelaskan dan memberi alasan yang tepat kenapa aku dilarang sementara kakak-kakakku yang lain bebas menarikan tarian hujan sambil saling bercanda, siram siraman, dan kejar-kejaran.

Apakah karena aku anak yang paling bontot di antara saudaraku ataukah karena aku satu-satunya anak perempuan di keluarga ini? Tapi Heny yang juga anak perempuan satu-satu dalam keluarganya tidak pernah mendapatkan larangan dari ibunya sama seperti aku. Protes yang kulontarkan pada ibu kuharap dapat mengobati rasa kecewa yang sudah menumpuk di dadaku atas setiap omelan ibu jika aku ingin turut bersama kakak-kakakku. Kuharapkan ibu akan mengatakan bahwa kali ini kamu boleh ikut bersama kakak-kakakmu dan belajarlah menarikan tarian hujan karena kesempatan ini datangnya hanya sekali saja. Ibu akan mengantarkanku sampai di teras depan dan menyuruh kakak-kakakku untuk mengajariku tarian hujan. Ibu akan menunggu dengan sabar sampai kami puas dan berlari kedinginan masuk ke dalam rumah.

Tapi yang terjadi kemudian sungguh membuat semua khayalanku itu buyar laksana percikan kembang api. Tanpa aku duga kemarahan ibu meledak mendengar pertanyaanku. Ibu lalu menyeretku masuk ke dalam kamar dan menguncikanku dari luar. Aku yang kaget dan ketakutan mendapatkan kemarahan ibu yang demikian hebat hanya bisa menangis keras dalam ketidakmengertian. Kutumpahkan semua airmataku di atas bantal yang spreinya baru saja diganti. Hatiku sangat sakit diperlakukan tidak adil. Aku jadi membenci ibu saat itu. Ibu yang begitu lembut, sayang, dan perhatian padaku tiba-tiba berubah jadi sosok yang keras, pemarah, dan tidak menaruh belas kasihan sedikit pun padaku hanya gara-gara aku sedikit memprotes sikap ibu yang melarangku menikmati dinginnya air hujan.

Sekali waktu, ibu pernah berkata bahwa air hujan tidak baik untuk anak perempuan seusia saya. Air hujan dapat membuat tubuh kita demam dan kejang-kejang. Tapi menurutku, itu bukanlah alasan yang tepat sehingga ibu begitu keras melarangku untuk bermain bersama hujan. Toh, kakak-kakakku tidak pernah mendapat larangan sama seperti aku. Meskipun demikian, aku tidak berani lagi membantah setiap perkataan ibu tentang hujan. Kutanamkan dalam hati bahwa aku tidak akan pernah menyentuh hujan demi untuk tidak membuat ibu memurkaiku lagi. Kubuang jauh-jauh hasrat dan seluruh keinginanku untuk merasakan kenikmatan seperti yang selalu dirasakan oleh teman-teman dan kakak-kakakku acapkali hujan turun.

Sejak peristiwa ketika ibu begitu murka gara-gara aku memprotes larangan ibu, aku tidak pernah lagi berani menyinggung tentang itu. Aku tidak mau ibu memurkaiku lagi seperti waktu itu. Biarlah ibu tetap menjadi ibu yang lembut, perhatian, dan penuh kasih sayang padaku. Setiap hujan turun, ibu masih saja suka duduk di dekat pintu menungguiku memandangi hujan melalui kaca jendela. Aku tidak perlu mengetahui kenapa ibu begitu teguh dengan larangannya. Aku sangat paham kalau ibu begitu sayang padaku sehingga ibu tidak ingin aku terkena demam dan kejang-kejang gara-gara mandi air hujan. Biarlah saat-saat turunnya hujan menjadi memori tersendiri yang menyimpan sejuta makna bagiku. Tentang canda kakak-kakakku, tentang kilat di balik awan yang sekali-kali muncul menyilaukan mata, tentang riuh suara kodok menyambut musim kawin bagi komunitasnya, dan tentang aku yang terpaku di dekat kaca jendela dengan pikiran yang mengembara. Hujan akan tetap bersamaku meski aku hanya dapat menatapnya melalui kaca jendela tanpa harus bisa menyentuhnya. Dengan menatap hujan, aku dapat menarikan sebuah tarian yang hanya ada dalam benakku. Suatu tarian yang menyimbolkan penyambutan terhadap kekasih yang begitu dirindukan. Tarian Hujan.

Hingga usiaku beranjak dewasa, aku tetap tidak berani menyentuh air hujan meski keinginan itu hampir sama jumlahnya dengan usahaku untuk menahan diri tiap kali hujan datang. Ketika hujan datang, terkadang sebuah pikiran nekad terlintas untuk menikmati air hujan tanpa sepengetahuan ibu. Toh, selama ini aku tidak pernah tahu kenapa tidak diperbolehkan mandi air hujan. Aku bukan lagi anak kecil yang mudah terkena demam dan kejang-kejang hanya gara-gara terkena air hujan. Kalau aku bisa membersihkan diri dengan baik, ibu juga tidak akan pernah tahu kalau aku telah mandi air hujan. Tapi, pikiran-pikiran seperti itu segera kutepis dan menggantikannya dengan senyuman ibu yang menjanjikan begitu banyak kedamaian dan kasih sayang. Sanggupkah aku mengecewakan wajah teduh itu? Tidak! Biarlah keinginan itu kusimpan rapat-rapat di dalam hati. Keinginan ini tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan semua pengorbanan ibu yang dilakukannya untukku.

Aku memang berhasil mengatasi godaan itu setiap kali hujan datang menuntaskan kerinduannya pada bumi. Aku cukup bisa merasakan kebahagiaan hanya dengan menatapnya dari balik kisi jendela. Sampai pada suatu hari, sosok kekasih mengantarkanku mewujudkan impianku yang telah kukubur dalam-dalam. Hasrat itu demikian besar. Hingga akhirnya…
***

Antoni, Juni 2008

Payung merah muda itu masih setia menempati sudut kamar ini. Setiap kali ketika aku hendak ke luar dan menutup pintu kamar, aku selalu menyempatkan untuk melirik payung itu. Dulu, entah kenapa hati ini begitu berbunga tiap kali payung itu tertangkap masuk dalam retina mataku. Rasanya ada sesuatu yang kurang jika tidak melihat payung itu dalam sehari. Pernah suatu kali ketika teman-teman kelompok pecinta alam di kampus sedang melakukan pendakian ke Gunung Bawakaraeng, aku merasakan gelisah yang amat sangat di sepanjang perjalanan. Gara-gara aku terburu-buru berangkat, aku sampai lupa pada keberadaan payung itu. Aku berangkat meninggalkan rumah tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan pada si merah muda itu. Pendakian yang seharusnya menjadi perjalanan yang menarik terasa begitu lama dan membosankan bagiku. Aku tidak dapat menikmati keindahan panorama alam Bawakaraeng karena pikiranku terus tertuju pada payung itu. Canda yang dilontarkan oleh teman-teman terasa tidak menarik bagiku. Aku berjalan dalam kediaman di tengah riuhnya tawa teman-teman seperjalanan. Seorang teman yang iseng menggodaku hanya kutanggapi dengan senyuman malas. Kulihat teman-teman yang lain pada mengangkat bahu. Entah apa yang mereka bingungkan. Aku tidak begitu peduli. Yang jelas setelah itu, tidak ada lagi yang iseng menggodaku. Tidak juga kudengar tawa cekakan mereka. Mungkin mereka mencoba untuk menunjukkan sikap solidaritas di tengah hutan yang mencekam ini dengan ikut diam semua.

Di tengah suasana sunyi itu, hujan tiba-tiba turun. Kulihat teman-teman berusaha mencari tempat perlindungan. Aku pun turut berteduh bersama teman-teman. Untungnya hujan tidak begitu deras sehingga tubuh kami tidak sampai basah kuyup. Di tengah hujan seperti itu, aku makin teringat akan payung itu. Pikiranku makin kaca dibuatnya. Bahkan ketika hujan reda dan kami melanjutkan kembali pendakian hingga ke puncak, pikiranku masih saja tetap tertuju pada benda itu. Udara dingin yang membuat tulang serasa kaku tidak sedikitpun mampu membuatku untuk bergeming. Aku hanya mampu menatap luruh pada tebing-tebing curam yang mengelilingi kami. Kutatapi kabut yang terbang rendah dan sebagian menempel pada permukaan tebing dengan pandangan yang kosong. Padahal sebelumnya akulah yang menjadi pencetus untuk mendaki gunung ini. Mungkin karena melihatku kebanyakan melamun dan tidak begitu bersemangat, maka teman-teman kemudian memutuskan untuk segera turun gunung tidak lama setelah kami berhasil menaklukkan Gunung Bawakaraeng. Gunung yang menjadi kebanggaan masyarakat Gowa. Gunung yang menyimpan berjuta misteri di balik rerimbunan pohon pinus yang mengitarinya.

Masih jelas terbayang dalam ingatanku begitu bersuka citanya aku menyambut keputusan teman-teman untuk segera kembali. Perjalanan pulang terasa begitu cepat dibanding pada saat kami baru akan mendaki. Teman-teman yang melihat perubahan sikapku kulihat sedikit diliputi tanda tanya, tetapi kembali aku tidak begitu peduli dengan mereka. Aku hanya memikirkan untuk segera bisa sampai di rumah dan mendapatkan payung itu. Karena payung itulah, aku tidak dapat menikmati pendakianku kali ini. Terasa ada sesuatu yang begitu kuat memanggil-manggil jiwaku untuk segera pulang dan melihat payung itu. Hingga ketika aku sampai di rumah dan segera menyerbu kamar, kulihat payung itu telah tidak ada ditempatnya. Aku menjadi panik, marah, dan geram. Semua orang yang ada di rumah menjadi sasaran kemarahanku. Ibu yang bahkan sama sekali tidak tahu menahu tentang payung itu kebingungan mendapatkan kemarahanku yang begitu besar. Hingga senja turun, payung itu belum juga dapat kutemukan. Hatiku begitu nelangsa. Serasa ada sesuatu yang hilang dari dalam hati ini.

Aku hampir saja terlelap dalam lelah yang menyerang tubuhku ketika kudengar suara ribut-ribut di luar kamar. Meski enggan, kupaksakan tubuh ini untuk bangun dan melangkah ke luar kamar. Rasa penasaran membuatku menangguhkan tidur sejenak. Ketika kubuka pintu kamar, langkahku langsung terhenti menatap adik semata wayangku tengah cengar-cengir sambil menyodorkan sebuah payung padaku.

“Tadi pagi waktu mau ke kampus hujan. Pas aku masuk ke kamar kakak, kutemukan payung itu.”

Tidak sedikitpun kutemukan rasa bersalah lewat sepasang mata lucunya karena telah berani mengambil barang kesayanganku tanpa izin sehingga membuatku kalang kabut. Rasa amarah yang sudah siap kuledakkan segera tertahan tatkala dengan secepat kilat dia mencium pipiku lalu ngacir ke kamarnya. Dengan perasaan gondok, aku memungut payung yang tidak sempat kuraih sebelum adikku menjatuhkannya lalu berlari meninggalkanku. Aku kembali menutup pintu kamar dengan gemas lalu membawa payung itu ke sudut kamar. Kuletakkan dengan sangat hati-hati seakan hendak meletakkan sebuah barang yang mudah pecah. Payung itu, adalah amanah sekaligus kenangan bagiku. Kenangan terhadap seorang kekasih yang berada jauh di atas surga.

Titik-titik air hujan yang menerpa atap rumah menyadarkanku pada sepenggal cerita tentang payung itu. Dengan malas, kuhampiri jendela kamar lalu menutupnya rapat-rapat. Kupandangi jalan di depan rumah melalui kaca jendela yang belum sempat kututup gordennya. Jauh di bawah sana kulihat sekelompok anak sedang tertawa riang merasakan guyuran air hujan yang bagai sengaja ditumpahkan dari langit. Tawa keceriaan tampaknya begitu lekat dalam diri mereka. Mereka berputar-putar sambil menaikkan kedua tangan seakan hendak menggapai langit.

“Masih ingatkah kamu dengan tarian itu?”

Pertanyaan itu menyentak gendang telingaku. Aku terpaku memandang sekelompok anak-anak yang sedang berpesta hujan di bawah sana. Ada sesak yang tiba-tiba hinggap menyergap sudut hatiku yang paling dalam. Rasa perih kembali membuat kerongkonganku tercekat sehingga tidak dapat bersuara. Aku hanya dapat menatap nanar jauh ke bawah melalui celah jeruji besi yang membatasi jendela kamar. Kembali aku disergap akan sebuah kenangan.

Pada musim semi satu setengah tahun yang lalu, seorang gadis imut berwajah manis menyodorkan sebuah payung berwarna merah muda padaku.

“Simpanlah payung ini, Ton. Sekedar untuk berjaga-jaga apabila hujan turun. Aku tidak mau tubuhmu sampai basah terkena siraman air hujan. Kata ibuku, hujan tidak baik buat tubuh kita”
“Kenapa? Sekali-kali kena hujan kan gak papa. Itung-itung bisa sekalian mengenang masa-masa kecil,” kataku menggodanya.

Ucapanku yang hanya bernada canda ditanggapinya dengan serius. Tanpa kuminta dia lalu bercerita tentang hujan. Tentang masa kecilnya yang tidak pernah sekalipun menikmati belaian air hujan. Tentang larangan-larangan ibunya. Tentang keinginan-keinginannya untuk bergabung bersama-kakak-kakaknya bermain di bawah guyuran air hujan dan tentang ketidakadilan ibunya.

“Aku ingin sekali menari di bawah guyuran hujan, tetapi ibu tidak pernah mengizinkan bahkan ketika aku sudah beranjak dewasa.”

Percakapan itu kusimpan rapi dalam hatiku. Pada suatu senja ketika kami sedang berjalan-jalan di pesisir pantai, hujan turun dengan tiba-tiba. Kulihat wajahnya begitu panik. Dia hendak berlari mencari tempat berteduh, tetapi tangannya sengaja kupegang sehingga dia tidak bisa lari.

“Bukankah sejak kecil kamu sangat ingin menari di bawah hujan? Ayo kita menari bersama,” kataku.
“Tapi, aku takut ibu akan marah,” katanya ragu.

Aku tidak mempedulikan kesan keragu-raguan dalam wajahnya. Aku terus membujuknya setengah memaksa. Selanjutnya, kami larut bersama dalam kegembiraan yang belum pernah kami rasakan di bawah siraman air hujan. Kami seakan lupa diri, seperti anak kecil yang sangat senang memperoleh hadiah mainan yang begitu lama didambakannya. Dia berputar-putar sambil menaikkan kedua tangannya. Katanya, itu adalah tarian hujan ciptannya. Aku tersenyum saja mendengarnya dan mengikuti gerakannya. Kami terus saja berputar tanpa mempedulikan keadaan di sekitar. Di tengah kegembiraan kami, tiba-tiba dia terjatuh dan tidak sadarkan diri. Aku jadi panik dengan keadaan itu dan segera membawanya ke rumah sakit.

“Ah….” Aku tidak kuasa melanjutkan kenangan itu. Aku memilih kembali ke atas tempat tidur. Kulihat payung itu masih setia meringkuk di sudut kamar.

“Adel, aku hanya ingin mewujudkan impianmu. Andai aku tahu…”
***

Uniawati lahir 25 April 1981. Alumnus S1 Universitas Negeri Makassar (2003) dan S2 Universitas Diponegoro (2007) ini mulai berkecimpung sejak menjadi mahasiswa. Pernah aktif di Bengkel Sastra dan sempat mengikuti Festamasio di Samarinda. Karya puisinya antara lain dimuat dalam antologi Kendari (2004). Bekerja di Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, tinggal di Kendari.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan