Langsung ke konten utama

Jizhongya

TE. Priyono
http://www.kr.co.id/

“awan yang terbang, membawa angan angan kita, salju yang turun, menyuburkan tanah harapan kita, lembah Hebei yang subur, tanah kenangan kita, siapa yang pergi kabarkan cerita, kami menjaga tanah kelahiran sampai saatnya buah buah Jizhongya di petik penuhi keranjang di musim panen raya”

BEGITU potongan syair lagu anak-anak yang masih mengental di ingatannya, selalu dilantunkan meskipun dia tidak faham sepenuhnya akan makna syair itu. Usianya sudah berkepala tujuh, di lingkungan orang orang Tionghoa Malang dia sering dipanggil Opa Jizhong, tetapi sama orang kampung di tempatnya tinggal dia dipanggil Mbah Zis. Dia tidak buat soal, pada panggilan itu. Karena sampai saat ini, dia sendiri belum tahu persis apa maksud orangtuanya dulu kasih nama Jizhongya. Hanya penggalan syair nyanyian lagu anak-anak yang dulu sering diajarkan mendiang Engkongnya yang membuatnya bangga, kalau nama itu adalah nama buah.

Sepanjang umur dia sendiri belum pernah melihat apa lagi menikmati buah Jizhongya, selama ini yang dia tahu hanya buah apel Batu yang pohonnya tumbuh subur di kebun dan pekarangan rumahnya di kota Apel itu.

Kalau menyenandungkan penggalan syair lagu itu, Jizhongya seperti diingatkan pada dongengan mendiang Engkongnya yang salah seorang cikal bakal pendatang orang orang Hebei di tanah Jawa ini. Dulu, sewaktu pertama kali datang di tanah Jawa Zhong Han, begitu nama engkongnya itu, ikut kapal niaga Belanda yang kemudian merapat di Surabaya. Kedatangan Zhong Han mengadu untung ke Jawa, semula dibayangi oleh impian ingin mengubah nasib di tanah surga.

“Tanah Jawa ini, dulu dikenal sebagai tanah surga. Karena kesuburannya. Orang gampang cari makan di sini, itulah yang bikin Engkong bertekad meninggalkan tanah Hebei dengan semua keindahannya,” kisah Zhong Han pada Jizhongya kecil ketika itu.

Untuk sampai ke tanah perantauan ini, mereka harus rela dijadikan budak oleh orang orang Belanda terutama para awak kapal, mandor perkebunan, pemilik maskapai pelayaran itu. Mereka harus terima semua perlakuan yang tidak enak sekalipun, karena kebanyakan dari mereka hanyalah menumpang dalam pelayaran itu dengan gratis.

“Kau tahu artinya menumpang itu ?”

“Tidak Engkong”

“Menumpang itu, sama artinya menyerahkan diri, rela dijajah dan tidak punya pilihan untuk membuat keputusan yang merdeka. Sebab menumpang itu semata karena adanya belas kasihan orang lain. Jadi selama dalam pelayaran kami harus rela dijadikan budak orang orang bule. Orang laki disuruh jadi tukang bersih bersih kapal, orang perempuan jadi tukang masak dan kalau yang sial disuruh jadi pelacur, melayani kebutuhan napsu orang orang bule itu. Kami tidak bisa berbuat banyak, meski kekasih, bini, saudara perempuan dibikin mainan tukang kapal itu”.

“Tidak ada yang melawan Engkong ?”

“Melawan sama saja mati. Itulah susahnya orang yang menumpang hidup. Teman Engkong yang tidak rela istrinya dijailin, dibunuh dan dibuang ke laut.”

“Kenapa mereka mau membayar perjalanan itu dengan penderitaan yang begitu hina, Engkong ?”

“Tanah surga, dimana matahari bersinar sepanjang tahun. Tidak ada udara dingin dan badai salju, tidak ada masa penantian panjang menunggu musim buah buah dipetik, udara hangat dan tanah yang subur sepanjang masa, dimana air mengalirkan kesuburan di sepanjang musim, itulah yang kami cari. Jadi betapa beratnya penderitaan dalam perjalanan semua tidak kami rasakan. Untung saja, Engkongmu ketika itu masih bujangan, jadi tidak terlalu repot. “Zhong Han menarik napas panjang, ada beban yang tak sampai hati untuk dikisahkan pada cucu laki-lakinya itu.

“Ketika merapat di pelabuhan Surabaya, orang-orang memanggil kami dengan kata kata yang tidak enak Xing Kei, artinya orang baru atau orang kapal kurang lebih begitu. Dan karena lidah orang Jawa sering main terabas, kata kata itu disebutnya singkek”.

“Singkek, itu orang Cina yang pelit kan Engkong ?” Jizhongya kecil kasih komentar bikin Zhong Han tertawa terkekeh-kekeh, sampai perutnya yang buncit naik turun.

“Bukan, bukan itu. Itu karena kesalnya orang orang yang iri sama keberhasilan kebanyakan orang kita dalam niaga,” jawab Zhong Han.

Jizhongya memang lebih dekat dengan engkongnya. Sejak kecil dia dalam asuhan engkong Zhong Han, ketika umur tiga tahun, kedua orangtuanya harus meninggalkan Batu, karena ada tawaran bagus untuk membuka usaha dagang gula di Madiun. Karena dipandang Jizhongya masih terlalu kecil untuk ikut mengadu nasib di Madiun. Oleh engkongnya, Jizhongya diminta untuk tinggal saja di Batu. Sampai remaja Jizhongya hidup dalam asuhan engkongnya. Sampai ada kabar, kedua orangtua dan adik perempuannya tewas ketika Madiun terjadi kerusuhan tahun 1948. Orang orang PKI Muso telah merampas kekayaan dan membunuh keluarga mereka. Ketika itu Jizhongya sudah masuk laskar Merah Putih Macan Gunung Welirang yang bergerak di sekitar hutan Tretes. Walaupun hancur tetapi hatinya diteguhkan demi mendengar kabar yang menyedihkan itu.

***

DARI Engkongnya, Jizhongya tidak pernah mendapatkan arti yang dimasudkan dari penggalan syair lagu anak anak itu. Cuma menurut engkongnya dulu, lagu itu sering dinyanyikan selama musim salju turun. Karena biasanya di musim itu tidak ada yang bisa dikerjakan, mereka banyak yang meninggalkan daerah untuk merantau cari kerja di luar wilayah dan kembali ketika musim semi untuk bertanam, begitu.

Menjelang ajal, engkong pernah berwasiat padanya. Begitu menderitanya menjalani hidup ini kalau hanya menumpang, cukuplah penderitaan itu jadi pengalaman orang tua-tua saja. Janganlah generasi selanjutnya menjalani kisah yang sangat menyedihkan itu.

“Jadilah orang merdeka, orang yang memiliki harapan dan masa depannya di tanah kelahiran sendiri. Tanah kelahiran bisa dimana saja, tanah kelahiran tidak mengenal kesukuan, warna kulit dan bentuk mata. Kalau dilahirkan dan dibesarkan di sini, inilah tanah airmu. Kebun apel dan kota Batu, itulah Hebei yang Engkong tinggalkan dulu. Tanah air ini adalah tumpah darahmu, maka janganlah kau menganggap dirimu menumpang di tanah ini. Kamu adalah bagian dari mereka yang mengaku sebagai anak negeri ini,” begitu wasiat terakhir yang masih diingat Jizhongya.

Dongengan Engkongnya ternyata begitu merasuki darah mudanya, perlakuan dan penghinaan orang bule terhadap Engkongnya membakar dendamnya pada orang orang Belanda. Semasa perang kemerdekaan, Jizhongya beberapa kali terlibat pertempuran di kota Malang. Begitu pun ketika kota Surabaya diluluhlantakan oleh NICA, Jizhongya ikut membantu di front Porong sampai ke Waru. Bahkan sekembalinya di kota Malang, sepasukan tentara Belanda yang datang dari arah Blitar berhasil mereka habisi di wilayah Pucung. Dan dalam pengembaraan selama perjuangan itu, hatinya tertambat pada gadis asal Tretes. Setelah keadaan aman, dia mengajukan pengunduran diri dari laskar, lantas menikah dengan Setyowati gadis asal Tretes dan hidup sebagai pedagang dan petani Apel di Batu.

Semasa pemerintahan Orde Baru, pemerintah banyak memperhatikan para veteran perang kemerdekaan. Seorang teman semasa perjuangan dulu yang masih mengenalnya dengan baik, menawarkan untuk penguruskan tuvet (tunjangan veteran), tetapi dia menolaknya.

***

Setyowati, istrinya sudah lama meninggal. Dua orang anaknya yang telah memberikan beberapa cucu dan bahkan cicit, tinggal tidak begitu jauh dari rumahnya. Dan di usia yang terbalut romantisme kehidupan alam kota Batu, selalu saja dia terkenang pada mendiang engkongnya. Terlebih di saat saat udara dingin menyusup ke dalam kamarnya lewat jendela yang menghadap ke arah taman wisata Selekta. Penggalan bait lagu anak-anak yang dulu selalu didengar dari engkongnya, dilantunkannya dengan bergumam, bagai menyejukkan hatinya,

“awan yang terbang, membawa angan angan kita,

salju yang turun, menyuburkan tanah harapan kita,

lembah Hebei yang subur, tanah kenangan kita,

siapa yang pergi kabarkan cerita, kami menjaga tanah kelahiran

sampai saatnya buah buah Jizhongya di petik

penuhi keranjang di musim panen raya”

Kepada pramurukti yang selalu merawatnya, dia katakan tidak ingin diganggu selama beberapa hari. Diijinkan gadis itu mengambil cuti. Jizhongya ingin menyemai ketenangan dalam lembah Hebei yang dirindukan. Untuk beberapa hari, memang tetangga dan anaknya tidak melihat Jizhongya dengan kursi dorongnya berada di teras depan.

Sampai akhirnya diketahui, Jizhongya mati di kamar tidurnya dengan tenang. Jendela masih terbuka, udara dingin masuk menembus impiannya, lembah Hebei dan buah Jizhongya yang dirindukan…

Kota Batu, Malang, 2000

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan