Langsung ke konten utama

Senja Memerah

Maria D. Andriana
http://www.sinarharapan.co.id/

Kedai kopi di seberang danau memutar lagu Moonriver yang dilantunkan Shirley Bassey, bunyinya melengking menyapu permukaan danau, menggoyang daun-daun willow yang menjuntai ke air. Ingin ia mematikan lagu itu. Ingin juga ia mematikan suara-suara lain sehingga tak ada sepotong suara pun yang memasuki telinganya. Tapi itu tak mungkin. Pasti tak mungkin!

Kawanan gagak berkumpul dan ribut. Oh… ia benci burung gagak. Bulunya hitam berkilat, matanya jalang, paruh kuning menyala. Burung-burung gagak terbang berkoar-koar, kepak sayapnya mengembuskan angin, mengirimkan suara kelepak….kelepak … kelepak dan mata jalangnya mengancam mangsa. Ia selalu curiga pada gagak. Ia benci pada ulahnya yang suka mengais-ngais sampah.

Gagak tak pernah menghargai jerih payah orang yang membuang sampah dengan rapi, membungkusnya dengan kantung-kantung plastik secara terpisah, sampah basah; sampah kertas; sampah plastik; logam juga kaca. Gagak mana tahu hal semacam itu? Mereka mengaduk semua plastik sampah, mengorek-ngoreknya dan memungut sisa makanan lalu meninggalkan sisa sampah berserakan, menyebarkan bau busuk yang mengundang lalat. Ah lalat terlalu sedikit di Tokyo. Keberadaan mereka tidak berarti, tidak seperti di negaranya, lalat sangat menjijikkan dan menyebar penyakit.

Bayangan Yoshio berkelebat. Mula-mula wajahnya yang tirus berbingkai rambut hitam itu tersenyum tetapi lama-lama matanya mengancam, mirip mata gagak yang berusaha merebut remah roti dari burung gereja!

Ia mengembuskan napas, penuh kesal dan memalingkan wajah ke kanan danau, tepat saat angin bertiup membawa bau dupa dari kuil Shinto di seberang jalan. Kuil itu tersembunyi di bawah rimbunnya pohon-pohon Cedar dan Ginko. Di atas dahan ada satu-dua, tiga ekor gagak. Ah gagak lagi. Ia benci gagak dan mungkin ia benci Yoshio juga.

Perasaannya begitu kesal pada Yoshio, pria yang seharusnya dicintainya. Baru tadi malam mereka bertengkar hebat, Yoshio terlalu cemburu. Yoshio banyak menuntut perhatian, juga banyak melarang dirinya. Yoshio merentangkan tali cinta yang membelenggu, bukan tali cinta yang melindunginya. Bukankah hanya kebetulan ketika di isakaya tadi malam mereka bertemu dan berkenalan dengan seorang pria Bali. Ardisa membangkitkan kenangannya akan tanah air, Ardisa mengingatkannya pada kehangatan pantai Kuta. Senyumnya menawan. Matanya bulat, ramah dan senyumnya memang menawan. Yoshio adalah kekasih yang akan dinikahinya dua bulan lagi dan Ardisa baru mereka kenal dalam satu-dua jam, bagaimana bisa dicemburui?

Tiga ekor bebek dengan bulu musim panas yang baru tumbuh, berenang tenang tepat di depannya sambil sesekali mencelupkan kepala ke dalam air untuk mencari makan. Ah bebek-bebek lebih manis ketimbang gagak. Mereka juga tak pernah mengganggu manusia. Mereka bahkan bisa membuat anak-anak tertawa gembira karena melihat tingkahnya yang lucu. Cara jalan bebek-bebek mengingatkannya pada mbak Hanna, meninggalkan pantat yang egal-egol . Ia hampir tersenyum, tetapi bayangan Yoshio telah menyerobot senyumnya yang belum sempat mekar. Ia kembali melihat ke arah kuil. Yoshio mengajaknya menikah di kuil itu, dengan upacara adat. Ia malah meminta ibunya untuk meminjamkan kimono terindah bagi dirinya.

Beberapa hari lalu rencana itu merupakan mimpi indah, tetapi tidak lagi hari ini, ketika cintanya telah bercampur rasa benci. Ia mencoba mencari-cari, mungkin kegundahan ini akibat senyum Ardisa yang menawan atau sikap kekanak-kanakan Yoshio yang membiarkan diri mabuk, mencolek pantat pelayan perempuan di depan matanya dan berusaha merebut setiap kesempatan bicara bahkan untuk topik-topik yang tidak dikuasainya.

Yoshio menyerobot bicara, membelokkan percakapan tentang penari kecak dengan kenangan liburannya untuk bermain golf di dekat Tanah Lot. Sikapnya tuna tatakrama. Ia muak oleh teriakan gagak-gagak yang tiada henti: gak… gak… gak… Suara Shirley Bassey juga masih melengking tinggi : I’ll never , never, never… ”. Ingin ia mematikan lagu itu lalu menggantinya dengan senandung lullaby yang lembut. Tentu lebih cocok dengan suasana di ambang senja seperti ini.

Ia mencoba memilih mendengarkan nyanyian semi , kumbang yang muncul di awal Juli. Kehadiran semi yang musiman bisa menimbulkan kerinduan, seperti rindu air hujan di musim kemarau, rindu makan rambutan, bukan apel. Jangan-jangan ia rindu pria Indonesia, bukan Yoshio yang ditemuinya setiap hari. Jika menikah, mereka akan tinggal satu atap dan bertemu setiap hari.

Bosankah nanti? Lebih baik ia membatalkan pernikahan saja! Yoshio terlalu mengaturnya: tak boleh merokok; tak boleh pakai rok; tak boleh pergi dengan si A. atau B. Yoshio memaksanya ikut memancing, padahal ia benci memancing — kesenangan yang sadis, melukai dan menyakiti mulut ikan. Yoshio juga mengajaknya bermain bowling, padahal ia lebih suka jogging di taman atau pesiar ke Kawagoe dan mengunjungi mbak Hanna di kota kecil itu.

Ia menoleh dengan gelisah ke arah kuil yang tampak gelap, kusam dan sunyi. Gelisah itu menyelinap makin dalam. Ia tak bisa menyelami seberapa besar cintanya pada Yoshio, seperti ia tak bisa melihat dasar danau dengan air yang keruh oleh algae hijau. Ia melihat perempuan setengah baya, bimbo, mungkin juga setengah tak waras.

Perempuan itu menggenggam biji-bijian makanan burung, tapi ia mengusir gagak, seolah-olah tak rela jika burung-burung hitam itu ikut menikmati santapan gratis darinya. Ia miskin, terlihat pakaiannya kumal, rambut awut-awutan, sepatu murah dan mantel musim semi yang membalut tubuh tipisnya. Tapi perempuan itu mampu membeli biji-bijian untuk memelihara burung-burung liar. Mengertilah ia akan isi Alkitab: ”… dan burung-burung (gagak) tidak menanam tetapi ikut menuai, bunga bakung tidak merajut tetapi berpakaian indah .” Hidup memang rumit, serumit dirinya dalam memahami Yoshio.

Tangannya meraba bangku kayu yang keras. Musim dingin tahun lalu, dia duduk di bangku ini yang menghadap danau. Hari itu cerah dan ia tak menyia-nyiakan sinar matahari yang langka di musim dingin. Ia jogging dan beristirahat di bangku itu dengan terengah-engah. Yoshio datang menuntun seekor anjing, golden retriever yang disapanya dengan nama ”Haru-chan”. Hewan itu mendatangi dan mengendus kakinya, sementara Yoshio membungkuk-bungkuk minta maaf . Ia tidak keberatan dengan ulah Haru-chan. Begitulah mereka berkenalan; bertemu; bertegur sapa; membicarakan cuaca; makanan dan banyak hal lain. Yoshio selalu antusias menanyakan tentang Indonesia dan pulau Bali. Ia juga bersemangat mempromosikan negaranya yang saat itu dirundung krisis ekonomi, krisis politik, krisis sosial dan semua hal mengenai Indonesia. Ibu Yoshio bersimpati padanya dan pada keadaan Indonesia yang kini memburuk. ”Kudengar bangsamu sedang sengsara, harga beras mahal ya? Apakah beras Jepang enak? Terlalu mahal?”

Pertanyaan dan pernyataan itu terasa mengiris harga dirinya. Ia merasa miskin tak berdaya, disumbang beras. Negaranya disumbang beras oleh Jepang –tapi digerogoti tikus-tikus, berkepala besar ataupun kecil. Negaranya diserbu bantuan pakaian bekas, diperdaya membeli kereta api bekas juga bis bekas. Sumbangan mulia itu menutupi kenyataan, bahwa ongkos pemusnahan gerbong-gerbong KRL dan bus akan lebih mahal dan mencemari lingkungan Jepang, ketimbang disumbangkan ke Indonesia. Ia tak berdaya menerima bantuan dari ibu Yoshio, karena ketulusan perempuan itu. Mungkin Indonesia juga tak berdaya menerima sumbangan-sumbangan dari sang ”saudara tua”. Adiknya bilang KRL bekas itu jadi angkutan umum yang eksklusif di Jabotabek, hanya dapat dinikmati oleh karyawan yang bergaji besar. Ia menanak nasi Jepang dan menelannya dengan hati pedih, mengingat banyak orang sebangsanya ketika itu sulit makan, sampai harus menjarah, mempertaruhkan nyawa dalam kobaran api yang menghanguskan pertokoan dan tubuh-tubuh mereka. Ia terguguk menyaksikan siaran televisi di Jepang yang menayangkan suasana departement Store di Klender yang terbakar hangus dan memerangkap ratusan orang di dalamnya. Nasi Jepang melengket di tenggorokan dan butir-butir air matanya menggelincir tak terkendali. Saat itu Yoshio memeluknya, menentramkannya dengan kata-kata dan tepukan tangan di punggung. Saat itu ia pun memeluk Yoshio dan menjatuhkan cintanya. Semudah itu.

Ia hanya merintih diam-diam menyaksikan ibu-ibu pejabat Indonesia berbelanja Chinaware, perhiasan mutiara, hiasan batu, memborong baju juga sepatu yang terkenal empuk dan awet itu. Bagi mereka, krisis keuangan sebenarnya tak ada. Simpanan dolar malah berbunga-bunga! Yang krisis biar krisis, yang nganggur biar nganggur, yang mau belanja juga punya hak belanja, nasib orang beda-beda kok!
Suara kanak-kanak dan ibu mereka yang tadi bermain di taman sudah lama hilang. Senja memerah dan burung-burung bernyanyi lirih, memberi salam perpisahan sebelum beranjak tidur.

Perempuan gembel itu masih memegang kantung plastik, menebar habis biji-bijian ke atas tanah hitam yang lembab dan lembut oleh humus. Alam terasa mengantuk. Gagak-gagakpun menguap lesu dan daun-daun willow diam saat angin mati.

Ia merasa sepi sendiri. Sepi menggigit. Haruskah ia melanjutkan rencana pernikahan mereka? Mbak Hanna menasihati: ”Mertua Jepang sangat cerewet dan posesif. Apalagi Yoshio anak semata wayang, tak ada saudara dan ayahnya sudah meninggal. Kau berkewajiban mengurus ibunya, tapi jangan heran kalau dia akan mengatur hidup kalian sampai mengatur warna sprei kalian. Aku sudah pengalaman jadi istri orang Jepang, menantu orang Jepang dan ibu dari tiga anak Jepang.” Mbak Hanna bercerai dari suaminya karena tak tahan dengan tekanan mertuanya yang selalu mencela ”cara hidup Indonesianya”. Bukankah mertua Indonesia juga begitu? Banyak cerita serupa didengarnya dari orang Indonesia. Apakah ibunya juga menderita akibat kenyinyiran nenek?

Ia mencoba mengingat-ingat kelembutan calon mertuanya. Okasan, begitu ia ikut memanggil, meneleponnya suatu hari menjelang badai untuk mengingatkannya agar tidak keluar rumah. Okasan datang merawatnya ketika ia tiga hari tak bisa bangun akibat flu. Yoshio yang sabar meladeninya, meneleponnya berkali-kali dalam sehari, menyemangatinya untuk menyelesaikan kuliah, menyejukkan jiwanya yang lelah belajar dan arubaito sebagai pencuci piring di kedai makan.

Kedua orang itu mengenal sosoknya sebagai mahasiswa asing yang hidup pas-pasan. Ia tak pernah bercerita orang tuanya punya tiga pembantu dan seorang sopir. Kedua anak-beranak itu tidak bertanya, mungkin tak pernah membayangkan keluarga di Indonesia punya pembantu dan sopir. Mereka tak bertanya, seperti bebek-bebek yang cuek dengan hidupnya sendiri, makan, bercinta, bertelur, berenang … mana mungkin bebek memikirkan nasib petani, peternak atau buruh yang kini sulit mencari nafkah dan tercekik harga-harga kebutuhan yang terus melambung.

Gagak-gagak sudah pergi, burung dara, perkutut dan burung gereja juga sudah tak tampak. Kedai kopi itu sekarang melantunkan lagu-lagu enka kesukaan Yoshio. Apa sebenarnya keberatan dirinya jika menikah dengan Yoshio? Apakah karena perdebatan untuk menentukan tata cara pernikahan, nikah gereja atau di kuil? Apakah karena Yoshio melarangnya bergaul dengan teman-teman laki-lakinya yang lain?

Hilang akalnya untuk membuat Yoshio bisa membebaskan dirinya dalam memilih pekerjaan, memilih kehidupan dan teman. Belum menikah saja, Yoshio sudah banyak melarangnya, bagaimana kelak? Ia juga tersinggung ketika Yoshio menyarankannya untuk pindah kewarganegaraan setelah mereka menikah kelak.

Apa yang salah dengan kewarganegaraan Indonesia? Apa hebat dan pentingnya bangsa Jepang? Ia mengeluh karena mencintai orang Jepang yang bernama Yoshio itu. Belum ada kata sepakat mengenai perdebatan mereka. Kenapa Yoshio pencemburu dan menginginkan dirinya untuk Yoshio seorang? Kenapa mereka berbeda? Ini seperti gagak dan burung dara, hidup di satu taman, tetapi tak pernah bersatu. Bisakah gagak hidup bersama burung dara? Kenapa dulu dia jatuh cinta pada pria ini, tidak pada pria Indonesia saja? Bukankah jatuh cinta tak bisa dipaksakan? Meski disebut dekat, ternyata budaya Jepang dan Indonesia punya banyak perbedaan. Berkali-kali ia mencari tahu pada pasangan campuran Jepang-Indonesia mengenai kunci keberhasilan hidup mereka, tapi jawabannya beranekaragam. Keputusan ada pada mereka sendiri, tak bisa meniru orang lain.

Matahari merah tinggal segaris, menyisakan kehangatan yang lembut. Sejenak ia ingin bermanja dengan senja, menikmati bau dedaunan, bau tanah, bau air danau yang sarat tahi ikan, burung dan bebek. Tiba-tiba tercium bau ikan bakar berbumbu soyu, membangunkan rasa lapar.

Ia ingat senyum Ardisa. Gila! Apakah kebimbangan menghadapi pernikahan ini hanya karena senyum itu? Ardisa tidak berkata apa-apa mengenai cinta dan pernikahan. Mereka hanya bertemu dua jam itu pun dengan Yoshio. Bagaimana cara mengukur cinta pada Yoshio? Sanggupkah ia meninggalkannya? Apa yang terjadi jika mereka berpisah? Perasaannya beku seperti malam yang mulai menggantung. Ia setengah berharap Yoshio menelepon, menghiburnya dan meminta maaf.

Hari sudah semakin petang dan ia harus meninggalkan taman yang mulai gelap dan dingin. Ia bangkit dari kursi, memasukkan bacaan yang sedari tadi dipangkunya ke dalam tas tangan dan berbalik. Seketika ia melihat Yoshio duduk di atas gundukan tanah pembatas jalan, hanya sekitar dua puluh langkah di belakangnya. Mata Yoshio teduh, penuh kasih. Cintanya mekar lagi dengan cepat seperti balon yang diisi angin, kembang dan kempis. Cinta yang rawan karena sewaktu-waktu bisa meletus, seperti balon yang tipis setelah ditiup berulang-ulang.

” Sudah lama?” sapanya, melupakan kejadian semalam. Pria itu bangkit menghampirinya.
”Aku khawatir kau akan menjadi patung, atau kau latihan pantomim?” Yoshio memeluk erat, tubuhnya hangat. Ia menelan pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya diucapkan, cintakah Yoshio padanya, maukah Yoshio menikah di gereja? Sanggupkah menunggu lima tahun untuk menunda punya anak? Ia menangguhkan pertanyaan penting itu seperti malam menunda cahaya matahari sampai esok pagi.

Mereka berjalan melewati makam Katsu Kaishu, pembaharu yang dikagumi Yoshio, menyusuri tepi perpustakaan dan meninggalkan taman Senzoku Ike. Ia memandang pria di sampingnya untuk mencari cinta, tapi sekelilingnya mulai temaram. Tak ada yang bisa dilihatnya lagi. Tiba-tiba ia merasa hampa. Tidakkah kau dengar suara balon meletus? ***

Bekasi, Januari 2003

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com