Lelaki Puisi dan Perempuan Menanti

Kunthi Hastorini
http://www.sinarharapan.co.id/

Sebaris puisi mendarat di pinggir jendela tua. Lirih suaranya menyapa perempuan yang tengah pulas dalam pembaringannya. Diusapnya pipi perempuan itu dengan mesra.

”Selamat pagi cintaku,” demikian ia bersuara.

Perlahan mata perempuan yang terpejam itu terbuka. Sebinar cahaya melesat dari kedua bilik matanya yang bening. Demi melihat kehadiran puisi, ia tersenyum.

”Selamat pagi,” sahutnya manja.

Perlahan disibaknya selimut tebal yang menutup tubuh rampingnya. Direntangkan kedua tangannya ke udara sambil mendesah pelan, ”Kau tahu aku begitu merindumu. Tadi malam aku bermimpi tentangmu.”

Dan sebaris demi sebaris kata menyatu menjadi sebait puisi. Mengangkasa ia ke udara berputar-putar selaksa tiba-tiba berubah menjadi sosok manusia. Dengan matanya yang lembut menyerpih rindu ke bilik jiwa perempuan. Demikian ia kerap hadir, sebagaimana perempuan menyebutnya: lelaki puisi.

”Kau tahu aku rindu padamu,” lirih suara perempuan. Lelaki puisi menatap perempuan, lalu seusap jemarinya menyentuh wajah perempuan.

”Aku pun merindumu,” bisiknya lembut, ”Tapi bukankah aku selalu hadir bagimu, perempuanku. Meski melalui puisi cukuplah basuh dahagamu.”

Perempuan tertunduk pilu, ”Puisi-puisi telah berterbangan mengusap letihku. Tapi, tak-kah Kau tahu semakin kurengkuh ia semakin dahaga jiwaku.”

”Kau adalah puisiku, perempuanku. Tak henti mengalir menganak-sungai muara rinduku,” sahut lelaki.

”Tak kau merindu aku,” rintih perempuan dengan nyala mata menahan resah.

”Aku merindukan dirimu. Jika tak, untuk apa aku hadir di sini tuk sapa dirimu,”

”Ahhh…rindu sebatas puisi bagimu,” desah perempuan meratap menatap angkasa yang biru. Perlahan bulir bening mengalir dari kelopak matanya.

Sekerjap mata lelaki tak mengerti mencoba meraih wajah perempuan berlinang airmata. Namun, perempuan menepis.

”Pergilah!” desahnya di sela rimis gerimis tiba-tiba meluncur dari angkasa, ”Aku harus segera memulai aktivitasku,” usirnya.

Lelaki puisi membisu. Segurat luka terbaca dari matanya. Namun, perempuan tak peduli. Dilipatnya selimut tanpa menoleh ke arah lelaki.

Demikian udara tiba-tiba berputar-putar. Bercerai-berai sosok lelaki, menyerpih menjadi huruf-huruf yang bersedih, mengucap, ”Aku akan kembali padamu.” Lalu menghilang dalam hitungan detik waktu.Dan perempuan tertunduk pilu.

****
Hari begitu terik, perempuan melangkah telusuri trotoar. Seperti hari-hari lalu, ia harus segera tuntaskan agenda-agendanya. Jika tak ingin Pak Agus, bosnya, menegur dan mengejeknya sebagai pemalas. Bukan sekali-dua kali lelaki itu menyemprotnya dengan kata-kata yang tajam, tapi hampir setiapkali. Dan, perempuan mulai bosan dengan sikap bosanya itu. Di mata bosnya seolah-olah tak satu pun tugas yang dikerjakannya dengan benar.

Memasuki kantor full ac perempuan mencoba menebar senyum, sembunyikan capai batinnya. Segamit tangan menyapanya dari belakang. Kiranya May, sahabatnya tersenyum padanya.

”Sas, Pak Agus sudah datang. Ia mencarimu,” ujarnya.

Sudah datang? Sepagi ini? Saskia terbelalak, padahal satu laporan belum lagi selesai dikerjakannya. Terbayang di benaknya wajah dingin Pak Agus menatapnya sinis dengan mulut penuh cacian.

”Sudahlah! Tak usah tegang, Sas!” May coba menghiburnya, ”Tak separah bayanganmu.”

Saskia menghela napas pelan. ”Aku pergi, May,” ujarnya.

Krek. Pintu ruang Pak Agus terkuak perlahan.

”Permisi, Pak,” ujar Saskia dekat pintu, ”Bapak mencari saya?”

Lelaki berperawakan kurus itu mengangguk tanpa menoleh sedikit pun ke arah Saskia. Saskia mendekat seraya duduk di hadapannya.

”Bagaimana dengan laporan kemarin, Sas?” tanyanya.

”Sudah saya kerjakan, Pak” sahut Saskia sambil mengangsurkan lembar-lembar pekerjaannya ke dekat Pak Agus.

Lembar-lembar itu kini ada di tangan lelaki itu. Matanya tajam meneliti satu-satu lembarnya. Kepalanya yang botak menganguk-angguk, ”Bagus juga!” pujinya.

”Tapi…,” ujarnya, ”Ada yang kurang kan Sas?”

Saskia mengangguk pelan, ”Ya Pak, laporan pemasaran yang kemarin baru separuh saya selesaikan. Rencananya saya selesaikan siang ini. ”

”Lambat sekali Kau Sas!” tandas lelaki itu tajam.

Setajam belati matanya menusuk ulu hati Saskia. Saskia tak bersuara. Hanya, hatinya berontak, sungguh tak berperikemanusiaan! Begitu banyak laporan harus diselesaikan dalam satu waktu. Aku bukannya mesin tapi manusia biasa!.

”Sudahlah! Aku beri waktu sampai siang ini,” tak seperti biasa lelaki itu mengakhiri cemoohannya begitu cepat.

Setelah mengucapkan salam, Saskia segera meninggalkan ruang yang terasa kian pengap baginya itu. Wajah gelisah May menyambutnya di luar.

****
Senja demikian jingga, perempuan menatap cakrawala nun di sana. Seperti ingin diadukannya segala peristiwa yang mendera hatinya sehari itu. Tapi, hanya bisu memburu, sebab cakrawala pun tak berkata-kata.

Helaian rambutnya menari-nari dipermainkan udara. Dingin tiba-tiba menelusup di antara lapisan epidermis kulitnya. Seperti sajak yang tiba-tiba merajuk bersama udara, bergumul ia dalam sebentuk puisi.

”Aku datang, Sayang,” bisiknya pelan sepelan desirnya meniup telinga Saskia, ”Kenapa kau tampak begitu sedih?”

Saskia meronta, seperti coba ditepisnya bayang dari jasad yang lama dinantinya. Namun, tak ketika tiba-tiba ia merengkuh bahu Saskia dengan telapak lembutnya.

”Usah bersedih, sedang hari begitu indah untuk kau nikmati,” bisiknya.

”Aku letih, Kau tahu?” demikian rintih perempuan, ”Seharian ini atasanku yang sinis itu mencemoohku. Seolah aku benda mati yang tak punya hati, ”

” Bersabarlah, sayang!”
”Aku sudah cukup bersabar!” protesnya, ”Tapi apa yang kudapat. Aku ingin pindah kerja saja!”

Seusap jemari menyentuh helai rambut perempuan, ”Tak-kah kau pikir dulu baik-buruknya?”

Perempuan mengeluh. Seiris pilu kembali menikam batinnya.

”Harusnya kau hadir di sini menemani aku, ” keluhnya.

Jemari itu berhenti mengusap. Sebisu cakrawala, ia membeku.

”Tak-kah kau tahu. Aku bosan dengan imajimu. Aku tak butuh imaji itu, aku butuh kamu sebagai dirimu sendiri, aku letih.”

Lelaki puisi memandang perempuan dalam-dalam. Perempuan yang selalu menjadi inspirasi baginya, terus mengalir seperti air. Seperti napas yang diirup dan diembuskannya, seperti itu pula ia selalu mencintai perempuannya itu.

”Mengapa tak kau nikmati saja kehadiranku ini?” bisik lembut lelaki merajuk, ”Bukankah Kau mencintai aku sebagai adanya aku,”

” Ya, tapi…”

”Sudahlah. Usah kau menuntut jasadku untuk merengkuh jasadmu. Biar saja jiwa kita yang bertemu berpadu seperti ini,” bisiknya lagi, ”Akan lebih indah bagi kita. Jasad hanya akan membuat gesekan-gesekan meniada sebentuk ideal.”

”Aku tak butuh sebuah keidealan semu! Aku butuh kamu!” lengking suara perempuan, ”Aku telah bosan menantimu.”

”Hidup hanya sebuah kesemuan, sayang.”

Sebisu cakrawala bibir perempuan terkatup. Segores luka kembali menganga. Tak lebih dari sekadar inspirasi aku bagimu, lelakiku. Demikian jerit batin perempuan berloncatan. Bulir-bulir bening tiba-tiba menghening. Sekuyup harap basah meresah punah. Punah digilas gelisah.

”Pergilah!” tiba-tiba mulut beku perempuan kembali bersuara. Matanya tak siratkan bahagia. Hatinya seakan meratap ke arah cakrawala yang masih tetap jingga.

Lelaki menggeleng, ”Tak kan kutinggalkan kau.”

”Pergilah!” ulang perempuan, ”Tak-kah jelas bagimu ucapku!”

”Aku mencintamu.”

”Cukuplah itu menipuku,” sahut perempuan, ”Pergilah!”

”Beri aku kata itu sekali lagi, sayang!”

Perempuan menggeleng. Hening semakin menikam teduh matanya. Tak sampai tangan lelaki yang mencoba meraihnya.

Seketika itu huruf-huruf berhamburan ke udara. Huruf–huruf yang menangis seperti gerimis yang tiba-tiba meluncur dari angkasa. Teduh mata perempuan memandang rimisnya. Huruf-huruf yang tertiup membawa pergi Lelaki Puisi, menghilang. Seperti gersang yang ditinggalkannya dalam ruang. Perempuan berdiri seketika merentang tangan menyapa udara. Seakan ucapkan salam perpisahan bagi sebuah penantian yang panjang.

****
Di tempat yang jauh, di waktu yang sama. Lelaki dengan jasadnya tengah terpekur di hadapan kotak komputernya yang bisu. Tiba-tiba jemarinya berhenti menari di atas tuts keyboard-nya. Sesepi senja yang menyelinap pergi dengan kerudung jingganya. Tak perempuan hadir dalam kata. Tak mengalir seperti biasa. Beku! Bisu! Mencumbu pilu. Mungkin, rindu pun telah membatu. Menatap monitor masihlah kosong!.

Malang, 2002

Komentar