Langsung ke konten utama

Senandung teresa Teng

M. Dawam Rahardjo
http://kendaripos.co.id/

Hari sudah larut malam. Rembulan nampak mengapung di langit di malam yang sudah sunyi itu, sehingga bunyi musik itu terdengar cukup nyaring dari rumah sebelah yang dihuni anak saya, Heri. Bunyi musik itu jelas menyenandungkan suara Teresa Teng, penyayi China asal Hongkong yang terkenal. Teresa Teng, meninggal di Bangkok dalam usia yang masih cukup muda pada masa kejayaannya. Lagu yang berulang diputar dari kaset itu adalah Sushata yang menceriterakan dua anak muda yang telah berpisah dari berpacaran.

Lagu itu agaknya mencerminkan suasana hati yang dirasakan anak saya itu. Ia lagi berpisah dari pacarnya Lilie, gadis China yang tinggal di Kun Ming, kota bunga beriklim subtropis dengan musim semi sepanjang tahun dari Provinsi Yunan yang banyak berpenduduk muslim itu. Perpisahan itu harus ia alami, tapi ia merasa sangat sedih karena masih menaruh cinta yang mendalam pada Lilie.

Heri adalah anak kedua saya yang memegang jabatan manager perusahaan impor-ekspor yang saya miliki, khususnya dalam hubungan dagang China dan Vietnam yang terkenal dengan produk tekstil murah. Selain China, Vietnam juga memproduksi tekstil yang sangat murah, sehingga saya memilih Kun Ming sebagai basis. Karena berdekatan dengan Vietnam, yang bisa ditempuh dengan pesawat ke Kota Ho Chin Min yang dulu Saigon itu.

Kakaknya Heru adalah direktur eksekutif yang khusus bertugas melakukan distribusi atau penjualan di Indonesia. Sedang adiknya perempuan, Hera, memegang jabatan manajer keuangan. Sebagai manajer impor-ekspor Heri sering pergi ke Kun Ming dan tinggal sebulan di sana. Di Kun Ming itulah ia berkenalan dengan Lilie, seorang gadis remaja yang bekerja pada biro perjalanan yang menjadi langganan kami menyiapkan tiket. Sebagai pegawai biro perjalanan yang sering melayani orang asing, Lilie lancar berbahasa Inggris yang jarang dimiliki orang China. Melalui percakapan dalam bahasa Inggris itulah Heri menjalin hubungan yang makin akrab.

Salah satu hobi Lilie adalah mendengarkan dan ikut menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan Teresa Teng. Ia belajar lagu-lagu itu melalui VCD karaoke, sehingga ia bisa menghafal lirik-liriknya. Ketika sudah akrab, Heri juga tertarik dengan lagu-lagu Teresa dan ikut belajar melalui karaoke bersama-sama dengan Lilie. Heri bisa cepat menghafal karena ia sudah lancar berbahasa China. Di Kun Ming Heri mengambil kursus bahasa China dan melatihnya dengan Lilie. Heri yang kulitnya putih seperti ibunya yang berasal dari Palembang itu, juga mirip orang China, sehingga di Kun Ming tak ada yang mengira bahwa ia adalah orang Indonesia.

Ternyata Lilie berstatus anak angkat Pak Susanto, orang China yang lama tinggal di Indonesia –persisnya di Kota Surabaya. Pada masa G 30 S, ia termasuk orang China yang dipulangkan ke negeri asalnya, karena keluarganya masih berstatus warga negara China. Istrinya yang orang Indonesia tidak mau diajak pindah ke China. Demikian juga dua anaknya, laki-laki dan perampuan, sehingga Pak Susanto terpaksa harus pulang ke China sendirian. Di China ia menjadi padagang teksil dan masih memelihara hubungan dagang dengan Indonesia yang sering dikunjunginya ketika menengok anak istrinya. Dengan Pak Susanto itulah saya berkorespondensi dagang. Kenyataan ini rupanya ikut mempererat hubungan Heri dengan Lilie. Selain Pak Susanto, saya juga menjalin hubungan dagang dengan Pak Komar yang dulu tinggal di Pontianak. Keduanya punya nasib yang sama, harus pulang ke negeri asalnya, tapi masih memelihara hubungan dengan Indonesia. Keduanya memelihara hubungan persaudaraan dengan saya dan anak saya. Heri dianggap sebagai keponakan.

Heri sering bepergian bersama Lilie, bermain-main di taman kota yang ramai dikunjungi orang, duduk bersama di bawah pohon-pohon yang rindang dan dikelilingi oleh taman bunga yang didominasi warna kuning itu. Hubungan cinta itu makin lama makin mendalam dan Heri memberi tahu pada saya bahwa mereka akan mengikat hubungan itu dengan sebuah perkawinan. Sampai pada suatu hari sahabat saya, Pak Komar, datang ke rumah. Ia rupanya memprihatinkan hubungan Heri dan Lilie. Ketika bertemu di rumah dalam kunjunganya ke Jakarta, Pak Komar berkata, ’’Mas, tanpa maksud mencampuri urusan keluarga Mas, saya ingin memberi tahu sesuatu demi Heri,’’ katanya.

’’ Apa itu Pak Komar?’’

’’Begini, saya sarankan agar Heri mempertimbangkan rencana perkawinannya dengan Lilie.’’

’’Lho, emangnya kenapa?’’

’’Saya beritahukan bahwa Lilie itu sebenarnya bukan anak angkat Pak Susanto sesungguhnya.’’

’’Lalu, hubungannya apa?’’

’’Pak Susanto itu sebenarnya bujang lokal di Kun Ming yang mengangkat Lilie dan Susy sebagai anak angkat. Tapi, sebenarnya keduanya dipelihara sebagai perempuan simpanan. Mereka itu tinggal serumah dan bisa melakukan apa saja. Pak Susanto, sekembalinya ke China tidak mau kawin lagi, tapi ia butuh perempuan karena kebutuhan seksnya tinggi. Saya diberi tahu bahwa ia butuh tiga kali hubungan badan seminggu. Karena itu, ia memerlukan dua perempuan. Anak angkat lainnya adalah Susy yang dipungut dari keluarga miskin, ketika menginjak remaja.’’

Tentu saja saya sangat terkejut mendengar cerita Pak Komar itu. Hal itu kemudian saya sampaikan kepada ibunya Heri, kakaknya Heru, dan adiknya Hera. Mereka sebenarnya belum pernah ketemu dengan Lilie maupun Susy. Tapi kesemuanya percaya kepada cerita Pak Komar.

Kami kemudian sepakat menyampaikan hal itu kepada Heri langsung. Anak saya itu tak kurang terkejutnya dan menjawab ingin mengecek hal itu kepada Lilie. Ketika pulang dari Kun Ming Heri memberi tahu kepada kami terus terang bahwa cerita Pak Komar itu benar. Lilie mengakui sendiri. Hanya saja, Lilie memberi tahu bahwa semenjak berpacaran dengan Heri, ia berhenti berhubungan seks dengan Pak Susanto. Lilie juga telah menyampaikan niatnya kepada bapak angkatnya itu bahwa ia ingin membebaskan diri dari pemeliharaan Pak Susanto dan minta diizinkan kawin dengan Heri.

Heri ternyata menerima kejujuran Lilie, walaupun tidak bisa menyembuhkan kekecewaannya. Dua saudara Heri tegas menolak perkawinan keduanya. Ibunya netral, demikian pula saya sendiri. Yang saya hargai adalah niat Heri untuk membebaskan Lilie dari kehidupan berdosa dan menjadikan Lilie sebagai orang merdeka. Dengan kawin itulah Lilie bisa terbebas. Dan, Heri bersedia menolong Lilie yang memang ia cintai itu. Tapi, kedua saudaranya tetap menolak, sehingga Heri tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memutuskan hubungan cintanya pada Lilie. Itulah dilema yang dihapi Heri ketika mendengarkan senandung lagu Sushata. Sebagai bapaknya yang menyayanginya, saya ikut sedih melihatnya.

Pada malam berikutnya, dalam suasana senandung Sushata yang sama, ketika saya menengoknya, tiba-tiba Heri menerima telepon. Saya bertanya siapa yang menelepon, Heri menjawab, Pak Susanto dari Kun Ming. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi saya mendengar perkataan Heri bahwa ia akan segera berangkat ke Kun Ming dan memecahkan masalahnya. Setelah selesai berbicara di telepon saya bertanya kepada Heri, mengapa ia harus pergi ke Kun Ming dan bagaimana memecahkan masalahnya. Heri tidak memberi jawaban apa-apa. Dan, memang, tiga hari bertikutnya Heri berangkat ke Kun Ming dengan tidak memberi tahu apa yang akan ia lakukan.

Sesampai di Kun Ming, Heri berkirim surat yang menceritakan bahwa kondisi Lilie sangat memprihatinkan setelah putus cinta. Ia bahkan mengancam hendak bunuh diri jika tidak dikembalikan cintanya. Ia tidak mau makan dan terus-menerus menangis. Hati Heri menjadi sangat terenyuh dan akhirnya memutuskan untuk menyambung cintanya, bahkan meminta Lilie untuk jadi istrinya, asalkan Lilie mau menikah secara tradisi muslim China dan bersedia untuk tinggal di Indonesia. Mendengar lamaran Heri itu, kontan Lilie merasa sangat berbahagia dan bersedia memenuhi permintaan Heri.

Akhirnya, pada hari pernikahan yang ditentukan, saya dan ibu Heri datang ke Kun Ming untuk menghadiri dan ikut serta dalam upacara pernikahan menurut adat China muslim itu. Kahadiran saya dan istri menandai persetujuan kami sebagai orang tua atas perkawinan dua remaja itu. Dengan perkawinan itu, maka Lilie terbebas dari hidup di kubang dosa yang selama ini ia jalani.

Kembang-kembang musim semi ketika itu seolah-olah ikut menyambut perkawinan dua remaja lain bangsa dan lain kepercayaan itu, walapun pada akhirnya Lilie dengan sukarela memeluk agama Islam dan menjadi anggota komunitas muslim Provinsi Yunan. ***

Jakarta, 8 Juli 2008

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com