Langsung ke konten utama

Sebastio

Sudirman HN
http://www.sinarharapan.co.id/

Namanya Sebastio. Sebastio Gomez. Kulitnya legam, matanya sering kali kelam. Ia datang dari sebuah negeri kecil dan gersang di selatan. Suaranya kerap bergetar ketika bercerita tentang masa lalunya. Jemarinya kurus, wajahnya tirus.

Ia sekali lagi meraih kretek yang aku letakkan di atas meja di sebuah kafe yang lengang pada sebuah senja yang murung. Kusodorkan korek api yang menyala dan ia menyedotnya kuat-kuat. Asapnya berkesiur ditiup angin samudera Pasifik di kota yang asing ini. Kami cukup lama saling berdiam diri. Meresapi suara angin, cericit burung yang beranjak ke sarang dan percakapan tergesa orang-orang yang usai bekerja seharian, yang seperti kami singgah di sini sekedar membunuh waktu dan kebosanan sebelum pulang ke rumah.

Juni 2002, Brisbane mulai disergap musim dingin. Desau angin agak kencang menyisakan gigil bagi kami, dua orang anak muda yang terbiasa dengan matahari tropika. Langit mendung. Kami berhadap-hadapan, masing-masing dengan segelas espresso yang kental dan pahit. Ia menyeruputnya dengan segumpal rasa kecewa. ”Tak seharum aroma kopi Timor. Kopi yang kupetik, kujemur dan kuolah dengan tanganku sendiri,” tandasnya dengan mata menerawang jauh.

”Musim dingin seperti ini selalu membuatku semakin rindu kampung halaman,” masih juga ia meneruskan keluh-kesahnya. Mati-matian aku berusaha membayangkan kampung halamannya di Los Palos sana. Mungkin sebuah kampung kusam dengan anak-anak kecil bertelanjang dada berlarian memburu capung di padang-padang yang gersang. Anak-anak bermata bening bermain perang-perangan. Mungkin tidak menyadari betapa perang sesungguhnya baru saja berlalu di negerinya. Betapa perang telah mencekam negeri mereka bahkan jauh sebelum mereka lahir.

”Kamu terlalu sentimental. Apalah arti musim dingin di Brisbane ini. Tak seberapa dingin sebenarnya. Melbourne dan Hobart jauh lebih dingin.” Aku menghiburnya dengan nada kurang meyakinkan. Aku tiba-tiba merasa heran, ke mana gerangan ketangguhan anak muda legam ini. Bukankah dulu ia pejuang bawah tanah Timor yang teruji menghadapi segala macam penderitaan dan kesusahan. Inilah dia anak muda yang ikut melompati pagar kedutaan besar sebuah negeri adidaya ketika seorang jenderal tua pemimpin di negeriku sedang jumawa menjamu tamu-tamunya yang berdatangan dari segenap penjuru angin. Tamu-tamu yang datang dengan burung-burung besi raksasa yang mendengung sekedar untuk menyimak kisah-kisah hebat berlumur bualan dari sang orang tua. Inilah dia anak muda yang pernah menggemparkan buana dan mempercepat terteranya sebuah negara baru di peta dunia itu.

Aksi lompat pagar anak muda dan kawan-kawannya itu tentu saja membuat orang tua renta itu sangat berang, dan ia harus mendekam sembilan bulan dalam bui karenanya. Ah, kini aksi lompat pagar itu bahkan telah menjadi legenda di negerinya, memesona anak-anak kecil yang berlarian di lorong-lorong kota Dili dan di kampung-kampung pulau kecil itu.

Lalu kami dipertemukan nasib di benua ini. Mungkin pula dipertemukan sebuah kebetulan belaka. Sebagai mantan pejuang bawah tanah ia termasuk barisan pertama anak muda Timor yang melampiaskan kegembiraannya setelah jajak pendapat yang menjadi tapal batas masa lalu dan masa depan di negerinya. Sejak dulu ia memang sangat yakin jajak pendapat itu cepat atau lambat akan terwujud dan pasti dimenangkan negerinya. Namun setahun setelah jajak pendapat itu ia menjadi lebih sadar bahwa kemerdekaan bukan obat yang bisa serta merta menyembuhkan segenap luka negerinya. Ia pun menjadi barisan pertama anak-anak muda yang kecewa terhadap elite-elite dari kalangan tua di negerinya yang begitu cepat kembali saling bertikai. Maka ketika ada tawaran beasiswa melanjutkan kuliah di benua kering ini, ia segera menyambarnya. Ia mengambil kuliah jurnalisme, membayangkan dirinya suatu hari nanti menjadi seorang pemimpin redaksi harian ternama di negerinya.

”Jurnalisme senantiasa membuat darah dan adrenalinku menggelegak” ujarnya berapi-api.
”Jurnalisme pun bisa membuatmu muak,” kalimat itu aku tahan di tenggorokan. Tak sampai hati merusak semangatnya. Sebagai anak muda yang nyaris putus asa melihat pertikaian, kerakusan dan nasib buruk yang tak henti-henti menderai negeriku, aku rasanya tidak punya hak memberangus mimpi-mimpinya. Apalagi dulu orang-orang tua dari negeriku sempat pula menularkan nasib buruk dan kerakusan ke negerinya.

Maka aku kenang kembali perkenalan kami dalam sebuah aksi damai menentang perang di depan balai kota, pada sebuah senja yang kelabu. Ia menyapaku dengan nada keras setelah menghirup aroma kretek yang kuhisap.

”Rokok kretek. Rokok yang sering diisap tentara-tentara yang dulu membakari kampungku,” katanya setengah berteriak di tengah keriuhan orang-orang yang memadati lapangan. Tanpa basa-basi ia pun meminta sebatang yang lantas ia isap dengan mata menyipit penuh kenikmatan. Seperti mengejek kepenatanku mencari rokok kretek di kota asing ini dan menebusnya dengan harga mahal. Asapnya ia hembuskan ke mukaku, lalu kami pun terbahak dan ikut menyoraki seorang perempuan orator berambut pirang yang tengah mengutip kalimat-kalimat Gandhi. ”Ah, di zaman seperti ini, di manakah sukma Gandhi?”, keluhku diam-diam.

Sering aku merasa iri melihat semangat dan energinya yang terus meluap-luap. Usia yang lebih muda jelas bukan alasan. Ia baru saja berulang tahun yang kedua puluh enam, sedangkan aku akan menginjak usia ketiga puluh akhir tahun ini. Tetapi mengapa mimpi-mimpiku nyaris telah menguap rasanya? Lalu apa yang kukerjakan di benua asing ini?

Art residency? Apa pula gerangan? Hidup dari belas kasihan penduduk negeri ini? Penduduk yang nenek-moyangnya datang dengan perahu dan bedil di tangan mengusiri pribumi yang berabad hidup di padang berburu binatang-binatang melata dan beranak pinak tanpa rasa cemas? Apalah arti lukisan bagi para pribumi yang senantiasa menggambari tubuhnya dengan tanah liat, yang tak pernah kenal dengan peta dunia itu? Lalu sebagai pelukis yang dibiayai berbulan-bulan hidup di benua ini, apa yang telah kulakukan?

Melukis seadanya. Menyimak orang-orang yang terus berbicara tentang lukisan, tentang dewi kesenian sepanjang hari. Memelototi berita-berita tentang pertikaian tak henti-henti di negeriku lewat layar komputer yang memerihkan mata. Tidak sabaran menunggu akhir pekan, untuk sekedar berpesta di pub-pub yang dipenuhi orang-orang yang tak henti-hentinya memaki dan bergegas ke kamar mandi dan muntah di kloset.

”Tapi apalah pula bedanya dengan Sebastio? Ia pun seperti aku, hidup dari belas kasihan?”, aku berusaha menghibur diri. Bedanya hanya ia masih memiliki mimpi. Dan aku nyaris tak….

Ah, tanah air, tak bisakah kita hidup tanpa mencintaimu. Aku tiba-tiba teringat sepenggal sajak itu. Sajak seorang kawan lama yang kini entah di mana. Masihkah ia memiliki mimpi? Mimpi-mimpi apa gerangan? Bukankah ia telah kawin dengan seorang gadis manis dan konon telah pula memiliki seorang putri yang mungil?

Lalu Sebastio? Sebastio Gomez. Bukankah sebentar lagi ia akan pulang ke negerinya, dengan segenap mimpi dan harapannya. Bukankah ia begitu gelisah menanti-nanti hari kepulangannya? Bukankah ia akan disambut kawan-kawannya, juga bocah-bocah yang mengaguminya? Ia pasti akan melahirkan dan membesarkan surat kabarnya, seperti membesarkan bayinya yang pertama.

Lalu aku si pelukis yang tak sanggup lagi bermimpi ini, justru sedang tergoda melamar menjadi permanent resident di benua ini? Mencoba melarikan diri dari kesumpekan, kesusahan hidup dan kesia-siaan negeriku? Negeri yang setiap saat memaksaku melukis dengan warna-warna kelam itu.

Lalu Sebastio, ah Sebastio! Tuluskah kau mengajakku ke negerimu?. ”Negeri di mana impian sedang dilayarkan,” katamu.. Dan katamu lagi kau akan sanggup bertarung hingga berdarah-darah dengan penyamun-penyamun yang setiap saat mengintai dan siap membajak mimpi-mimpimu itu.

Sebastio, mengapa pula kau selalu yakin bahwa aku pun tak akan betah di benua ini? Apakah lantaran kita sama-sama anak-anak muda yang dibesarkan angin, laut, gunung dan matahari tropika? Ah Sebastio, mestinya kamu mengajari aku kembali bermimpi?

Dan Sebastio pun kemudian terbang dengan burung besi raksasa pulang ke negerinya. Di kafe bandara seusai melepasnya, aku masih termangu memandangi gelas espressonya yang hanya ia teguk sekali. Bayangan sepasang matanya yang menyala-nyala penuh mimpi membuatku begitu kesepian.

Januari, 2002

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com