Langsung ke konten utama

Ara

Wa Ode Wulan Ratna
http://kendaripos.co.id/

Hampir selama tiga tahun, semua perempuan cantik yang ia lihat di televisi adalah Ara. Sebelumnya, masa-masa sebelum bertemu gadis itu adalah saat-saat tersulitnya. Ia pulang ke Kendari tanpa pernah menyelesaikan akhir kuliahnya saat orang tuanya tewas dalam kecelakaan mobil dan menyisakan dokumen-dokumen warisan kepada pengacaranya. Harta peninggalan keluarganya pun jatuh ke tangannya. Sebuah rumah besar di Kemaraya dan perkebunan cokelat di Puwatu.

Itu adalah masa-masa sepinya sebagai anak tunggal yang jauh dari keramaian, pergaulan yang diinginkannya, juga perempuan-perempuan kota. Waktunya habis di perkebunan. Ia pulang pergi ke kebun itu untuk mengawasi setiap pekerja. Mengomando mereka untuk memetik cokelat yang telah matang, membantu menjemur biji-biji cokelat, menimbang dan menghitung karung-karung cokelat yang telah jadi, mengecek buku pemasukan, dan membayar upah para buruh.

Awalnya, meski kegiatan itu terasa menjemukan dan memang bukan keinginannya mendadak menjadi kaya dengan menjadi kepala kebun, ia masihlah seorang mahasiswa yang senantiasa disiplin mematuhi jadwal. Ia juga masih bergaya layaknya orang kota yang rapi dan gengsi. Ia sering mencukur kumisnya tiga hari sekali. Mandi dua kali sehari, dan sedapat mungkin menghindari matahari yang mengelamkan warna kulitnya. Ia masih ingin terlihat terpelajar sebagaimana kota agung itu mengajarinya bersolek. Dengan deodoran dan parfum laki-laki ia menjadi segar dan lebih percaya diri. Ia memakai minyak rambut hingga membuat rambutnya licin dan klimis. Ia pun menjaga otot-ototnya agar tetap kencang tanpa membuat urat-uratnya keluar.

Namun nampaknya ia memang tak akan kembali lagi ke kota besar itu dan meneruskan kuliahnya. Ia merasa seperti babi peliharaan yang manja. Kerapiannya tidak pernah membuatnya nampak berwibawa di depan buruh-buruhnya, bahkan beberapa penjaga kebunnya. Ia mendengar sendiri suaranya kurang lantang sehingga seperti hilang ditiup angin saat memerintah ini itu kepada pekerjanya. Mungkin, buruh-buruh itu menganggapnya memang seperti babi yang manja.

“Tak pernah terpikirkan olehku tinggal di kampung bersama nyamuk-nyamuk hutan.” Katanya di meja makan kepada pembantunya yang sedang menyiapkan makan malam. “Duduk di situ! Campurkan sinongginya dengan air ikan itu dan telan bersama-sama denganku!” Malam itu, di atas meja makan ia makan malam dengan pembantunya.

Setelah kejadian itu ia pun melupakan mimpinya hidup di kota, mendapat kekasih seorang terpelajar yang cantik dan kaya, atau mungkin pemain sinetron atau bintang iklan sabun mandi yang memiliki kulit putih dan lencir. Ia juga mulai mengabaikan jadwal-jadwalnya juga kebiasaannya membaca buku menjelang tidur. Suatu upaya yang dulu ia biasakan sebagai syarat menjadi orang terpelajar.

Ia mulai menerima lingkungannya, kampungnya, dengan segala bentuk kekerasan yang ia punya. Ia belajar dari orang-orang bajo yang dulu ia temui di masa kecilnya. Orang-orang teluk itu mengangkut barang-barang berat ke kapal-kapal pada dermaga yang mengapung sampai malam. Suara mereka keras, lantang menantang deru gelombang dan menghancurkan karang. Kulit mereka matang tersengat matahari. Keringat mereka rata melumeri seluruh tubuh mereka dan membuat ketiak mereka senantiasa basah dan berbau asam. Ada bau amis yang melekat pada rambut mereka yang kasar dan kumis serta jenggot mereka yang panjang tak beraturan. Mereka membiarkan otot mereka menonjol dengan urat-urat tebal keluar. Dan mata mereka yang selalu menyipit karena sengatan matahari membuat pandangan mereka seperti menyelidik.

Ia pun menjadi jarang bercukur dan kadang tidak mandi. Ia ingin mendapatkan warna kulit yang ia inginkan untuk membuatnya menjadi garang, juga bau ketiak dan matahari yang membuat tubuhnya asam. Ia membuang semua peralatan kerapiannya, doedoran, parfum, minyak rambut, dan pelembab kulit. Ia menjadi lebih banyak merokok. Menghabiskan waktu liburannya di beranda rumah sambil membaca koran, mengamati ayam-ayam yang dilepaskan, atau memanggil tetangga untuk bermain catur dengannya.

Di perkebunannya ia menjadi lebih banyak marah-marah dan mengancam menurunkan gaji para buruhnya. Tak jarang ia melakukan sendiri pekerjaan kasar dengan bertelanjang dada untuk memberikan contoh kerja yang tidak lambat. Ia pun menjadi lebih sering memaki dan memukul buruh perempuan yang tidak becus memilih cokelat atau yang datang terlambat. Ia juga mengangkat beberapa orang sebagai kepala penjaga di malam hari untuk mengawasi kebun cokelatnya dari para pencuri atau babi hutan. Sebenarnya ia melakukan itu semua tentu agar ia tidak terlalu sering ke kebun itu dan menghabiskan seluruh umurnya di sana.

“Sekarang dia sudah seperti babi betulan.” Ia cuma cekikikan mencuri dengar perkataan seorang pekerja laki-lakinya di gudang penyimpanan.

Sebenarnya ia merasa telah kehilangan warna hidupnya. Dulu memang ia sering melihat Ayahnya bekerja sekasar itu juga tetapi orang tua itu menyukainya. Kini di dalam rumah ia hanya menghabiskan waktu menonton televisi sambil menyalakan kipas angin besar-besar. Kadang mimpinya kembali melayang-layang saat sebuah stasiun televisi menampilkan perempuan-perempuan kota dengan tubuh sintal dan molek. Ia menjadi terinspirasi untuk menjual kebun dan rumahnya untuk kembali ke kota padat itu dan memperistri satu atau dua di antara sekian perempuan cantik yang pernah tampil di televisi. Tapi pikiran itu hanya selintas. Ia pun telah lama menyudahi membuang pulsa telepon rumahnya untuk mengobrol panjang-panjang dengan teman-teman perempuannya.

Entah di rumah atau di kebun, ia tetap marah-marah dan sering memaki-maki tanpa alasan yang jelas. Ia minum terlalu banyak kopi, bergadang berhari-hari, dan terus terjaga sampai pagi dengan mata merah dan lingkar hitam di pelupuknya. Insomnia telah menodai matanya seperti jelaga.

Pada suatu pagi yang sejuk ia terbangun tiba-tiba dan menyadari ia masih terduduk di beranda rumahnya dengan masih dirubung nyamuk kebun. Ia memperhatikan ayam-ayam itu sudah berkeok-keok dengan anak-anaknya. Fantasinya mulai tidak karuan. Paha ayam betina itu dilihatnya sama sekali tidak cocok untuk dimakan dalam keadaan matang. Tak karuan ia berlari mengambil kunci mobil pick upnya dan membawa dirinya dalam guncangan yang berat menuju pantai Kendari. Dan ketika melihat laut, tanpa berpikir lagi ia pun menyemplungkan dirinya di sana dan memuntahkan segala imajinasi dan penderitaannya yang telah membatu dalam air asin itu. Ia kembali ke rumah dengan memaki-maki sambil menendang-nendangi pintu mobilnya karena sulit tertutup. Ia merasa begitu konyol dan telah lengkap menjadi hewan liar.

Ia membuang dahak dan berteriak, “Ambilkan aku kopi! Cepat!” pembantu itu keluar cepat-cepat dengan segelas kopi panas. Ia menjadi merasa cukup tenang hanya dengan melihat kopi itu mengantarkan aroma sedapnya lewat kepulannya yang mengambang di udara.

“Jangan pergi dulu. Temani aku.” Katanya perlahan dan mulai menyeruput kopinya. Ia memandangi pembantunya. Pahanya yang besar dan perutnya yang lebar. Sepasang dadanya bergelantungan terlalu jatuh karena telah banyak yang disusuinya. Kaki dan lengannya kecil, suatu hal yang semestinya tidak proporsional. Ia mendehem dan memperhatikan rahang di wajah perempuan itu. Pipinya dulu pernah montok, ia dapat menafsirkan itu dan memang masih mengenangnya. Tapi ternyata mungkin ia memang telah menjadi gila. Ia masih lebih bernafsu melihat paha ayam betina pagi tadi dibanding perempuan tua seperti pembantunya.

“Coba katakan, aku kenapa?” katanya dengan nada sedikit rendah sambil memperhatikan jalan yang tidak rata di luar pagar rumahnya.

“Tidak tahu, Pak.” Katanya pelan. Ia telah mengenal pembantunya sejak lama. Ia tahu perempuan itu tidak seperti pembantu kebanyakan yang memendam rasa takut dan gemetarnya kepada tuan rumahnya.

“Anggap saja aku anakmu. Aku dulu pernah kecil dan kau biarkan bergelendot seperti anak kambing di antara dadamu itu. Cepat bilang saja apa yang kau lihat tentang aku.” Katanya mendesis tapi darahnya tidak tersirat dan tidak mendidih. Begitulah cara ia menghargai pembantunya yang dulu juga mengasuhnya.

“Anak kesepian.”
“Lalu?”
“Jadi stres. Perlu jalan-jalan dan berpikir.”

“Berpikir?” ia merasakan pikirannya goyang. Selalu goyang seperti pohon-pohon di pinggir laut itu. Gamang dan berbayang-bayang bila ditiup angin. “Sudah.” Katanya, seakan-akan dirinya sudah mulai tenang.

“Ke mana?”
“Laut.”
“Laut selalu menenangkan. Cobalah pergi ke Batu Gong sering-sering. Di sana tidak seramai di pantai Kendari,” Ia mendehem. “Lagi pula lebih dekat dengan kebun.” Ia mendehem lagi.
“Aku mau mati terima kenyataan ini. Di sini aku cepat tua dan susah mimpi basah. Coba carikan aku perempuan.”
“Apa?”
“Buat istri. Tapi yang seperti kau waktu masih muda.”
“Apa?”

“Ya, cari yang tidak terlalu manja. Kulitnya putih mulus, cantik. Rambut hitam panjang. Bisa bercanda dan sedikit membual. Keibuan. E…, apa lagi? Ya, yang menggairahkanku. Dengan dada penuh berputing seperti anggur. Sempurna seperti punyamu dulu.” Ia masih memerhatikan jalan sambil menghisap rokoknya. Pembantunya hanya berdiri dan mendengar celotehannya. Diam-diam ia rasai sesuatu yang hangat dan asin jatuh dari matanya dan menyelinap masuk ke dalam bibirnya.
***

Namanya Ara. Ia menjumpai perempuan itu beberapa saat setelah matahari menenggelamkan diri. Saat kabut sore sebentar lagi oranye dan pohon-pohon sepanjang pantai mulai memberikan bayang-bayang kebiruan pada lubang hidung perempuan itu. Dan ia kadung jatuh cinta pada lubang hidung perempuan itu. Siapa pun mungkin tak akan pernah melupakan lubang hidung perempuan itu.

Perempuan itu berumur sembilan belas tahun kala itu dan sedang jatuh cinta. Ia tak yakin bahwa perempuan seperti itu akan datang lagi seumur hidupnya. Matanya besar dengan rambut sebahu. Rambut yang berwana kuning seperti rambut yang terkena matahari. Kulitnya cokelat seperti warna cokelat-cokelatnya yang setengah kering dan memerah dalam jemuran matahari. Perempuan itu berbau seperti matahari.

Ara berdiri dengan kaki telanjang di atas pasir pantai yang hitam keperakan. Roknya setengah basah dan tampak padu dengan sepasang kaki kecilnya yang seperti bambu muda. Pinggangnya seperti lingkar cemara yang ramping dan kokoh dengan sepasang dadanya yang kecil dan menyempil keluar, mengingatkannya pada dada putri-putri duyung dalam dongeng-dongeng itu yang kecil subur dan berwarna keemasan dan terselip di antara helaian rambut mereka yang amis.

Bertemu dengan Ara, membuatnya yakin kalau pembantunya memang benar-benar berguna.
“Mengapa?”
“Aku sudah bilang cintaku ditolak.” Ara terus memandangi cakrawala. Tapi wajahnya jauh bersemu merah dan nampak berseri.
“Bodoh benar ada laki-laki yang menolak cintamu.” Ara memincingkan mata. Perempuan itu menjarah wajahnya dengan pandangan geli lalu tertawa.
“Bukan masalah uang. Kalau hanya untuk hidup senang aku sudah sangat lebih dari senang. Ini masalah umur.”
“Kau masih muda.”
“Aku takut jadi perawan tua.”
“Maksudmu?”
“Aku bukan seperti perempuan di televisi itu yang cantik-cantik dan menawarkan produk-produk kecantikan. Sebab aku tahu kecantikan saja tidak pernah cukup untuk perempuan manapun.”
“Ara, aku tidak mengerti.”
“Kau pasti laki-laki penggombal.”
“Tidak. Kau memang cantik.”

“Patokan cantikmu itu umum, seperti perempuan-perempuan di televisi.” Ara melihat karang-karang yang bisa berbunyi itu. Sekali lagi perempuan itu berjalan ke laut dan membiarkan roknya basah. “Bagaimana kalau kita bunyikan karang itu agar terdengar seperti ‘gong’, ‘gong’.” Ara menirukan suara batu yang bisa menghantarkan bunyi itu dengan mulut yang dimoyong-monyongkan. Dari jauh perempuan itu terlihat seperti menggonggong. Ia menggelengkan kepala tetapi Ara sudah keburu lari ke batu yang paling besar. Ia terpaksa mengejarnya.

“Bagaimana menurutmu?” Ara membunyikannya dengan mengetuknya keras-keras dengan batu. Suaranya terdengar seperti gemuruh benturan dari dasar laut. Begitu dalam dan tidak terlalu keras. Ia pun turut memukul dengan lebih keras di sisi paling keras hingga suara ‘gong’ itu terdengar lebih jelas dan bersih.

“Kata pembantuku di rumah, laut adalah tempat yang menenangkan dan aku harus lebih sering ke sini.”
“Bagus. Jumpai aku di sini saja setiap hari.”
“Setiap hari?”
“Ya. Setiap hari.”
“Apa kekasihmu tidak marah?”
“Aku sudah bilang, cintaku ditolak.”
“Mengapa?”
“Kau tanya lagi. Ia tidak suka melihat darah perawan.”

“Apa?” perempuan itu tidak menyahut. “Begitulah pikiran laki-laki.” Ia melihat pada mata perempuan itu dan tak menemukan pantulan laut yang menenangkan kecuali guratan-guratan kecemasan yang kemudian membuat wajah perempuan itu tegang.

Semenjak itu hampir setiap hari ia datang ke pantai itu. Kadang termenung sendiri, kadang bila Ara datang, mendengarkan keluh-kesah perempuan itu seputar hidupnya atau cerita-cerita tentang kekasihnya.
***

Malam yang hitam turun ke bumi ketika bulan hampir tinggi dan tak ada lagi penerang selain lampu-lampu jalan, mereka pulang dengan mobil pick upnya. Ia berbelok ke lorong Konggoasa. Jalannya kasar karena belum diaspal sehingga mereka terguncang-guncang dalam mobil. Ia memberhentikan dan mematikan lampu mobilnya ketika sampai di sebuah rumah kecil yang dibangunnya di pinggir perkebunannya. Bangunannya tak bertingkat, terbuat dari bata putih yang disemen dan hanya dikapur. Berbeda dengan gudang penyimpanan dan kantornya.

Lampu luar rumah itu menyala. Dan dari jendela terlihat temaram lampu di dalamnya. Bau asap pembakaran daun kering masih meruap dan masih tersisa gemeratak bara yang terdengar merdu entah di mana. Malam pekat selalu membuat manusia benar-benar buta untuk mengimla, bahkan untuk menduga. Ia mengetuk pintu seperti tergesa-gesa dan berteriak keras kepada penjaganya. Ia memberi sekotak rokok kepada kedua penjaga kebunnya itu dan menyuruh mereka pergi berjaga-jaga di luar sampai subuh berubah menjadi cahaya.

Dilihatnya Ara menggosok-gosokkan tangannya dan merasakan hidung perempuan itu mengendus-endus seperti kucing. Embun masih jauh menggantung di atas kepala dan laut telah menjadi jauh. Perempuan itu kedinginan sebab roknya basah. Ia mengunci pintu dari dalam dan menyuruh Ara membersihkan telapak kakinya yang dekil karena masih penuh dengan gumpalan pasir yang kehitaman.

“Terima kasih.” Kata perempuan itu ketika ia mendapatkan tehnya. Mereka pun terlibat pembicaraan yang aneh dan mulai romantis. Lama-kelamaan perempuan itu menjadi kemalu-maluan dan mulai mengantuk. Pembicaraan pun menjadi begitu lirih, seperti bisik-bisik hingga mereka dapat mendengar suara-suara malam yang penuh misteri di antara pepohonan yang mengepung rumah itu.

“Ada apa di luar sana?”
“Hanya lolongan anjing, babi hutan, sunyi yang terusik dan mimpi-mimpi.”
“Kasihan sekali malam.”
“Kasihan sekali kau.” Ara diam. Perempuan itu jadi ingat rumahnya, laut yang dalam. Ia jadi mulai merasa ragu. “Apa yang kau takutkan?”

“Kekasihku.”
“Ia tak akan lagi berani menolakmu setelah ini.” Sedikit demi sedikit lubang hidung perempuan itu merekah.

Di meja makan Ara terjungkal bersama kursinya dengan bunyi yang berat tapi pelan. Ia mendapatkan air matanya luruh dan ceceran darah di lantai. Perempuan itu nampak tak mengerti. Hidungnya hanya mengendus-endus mengusir bau amis yang begitu asing. Di sampingnya, ia memperhatikan perempuan itu kebingungan.

“Kau tidak apa-apa?” perempuan itu menggeleng. Ia membopong perempuan itu ke sofa.
“Terima kasih, aku tidur di sini saja.” Suara perempuan itu terdengar seperti gumam. Seperti suara dari dasar laut.

“Aku suka lubang hidungmu, Ara. Caramu mengendus-endus tidak seperti hewan apa pun, atau siapapun.” Kemudian ia memperhatikan sarang laba-laba yang begitu rumit di atas langit-langit sampai perempuan itu memejamkan mata.

Beberapa hari setelah itu. Tak ada seorang pun yang tahu ke mana Ara pergi. Orang bilang ia lenyap begitu saja di sebuah senja. Orang lain bilang ia menenggelamkan dirinya ke laut bersama matahari. Semua orang selalu mengidentikan Ara dengan laut dan matahari. Dan mungkin ia sendiri menduga perempuan yang memiliki lubang hidung indah itu telah menjelma batu gong dengan suara yang merdu atau putri duyung berdada emas. Ia hanya tak habis pikir, darah itu membebani hidupnya hingga bagaimana pun perempuan itu menghilang, itu sungguh tidak masuk akal.

Ia pun menjadi tidak mengerti, setelah sepeninggalan gadis itu tahun-tahun berganti dengan cepat secepat musim hujan yang jatuh lebih lurus di atas kepalanya. Ia mengenang pertemuan pertamanya dengan Ara. Dan hampir selama tiga tahun, semua perempuan cantik yang ia lihat di televisi adalah Ara.

Bahkan hingga kini, ketika istrinya tengah hamil kedua dengan umur kandungan tujuh bulan, perempuan berkulit putih, berambut hitam, dan tubuh berisi di depannya itu terlihat seperti Ara.

Gading rawan, 13 September 2008

Komentar

Sastra-Indonesia.com