Sastra Melayu Tionghoa Mencari Pengakuan

KESUSASTRAAN Melayu-Tionghoa adalah tonggak sejarah yang terlupakan di Nusantara.

Satriani
http://www.ujungpandangekspres.com/

Selama nyaris seabad (1870-1960) dihasilkan tidak kurang dari 3.005 karya sastra dengan melibatkan 806 penulis yang jauh melampaui jumlah karya dan penulis dalam sastra Indonesia Modern. Karya sastra Melayu-Tionghoa merupakan refleksi kritis terhadap dinamika yang terjadi semasa puncak Pax Neerlandica (masa keemasan penjajahan Belanda-Red) dan beberapa dekade awal kemerdekaan Indonesia. Pergulatan mencari identitas dan pengakuan yang dialami etnis Tionghoa sebagai warna “Indo” dari Indonesia tergambar dalam karya-karya tersebut.

Keberadaan Tionghoa yang tidak seragam, ada yang berorientasi ke negeri leluhur, berpihak pada Indonesia, atau memuja kolonialisme Belanda, terekam dalam rangkaian karya tersebut. Otomatis ini menggambarkan pluralitas dalam komunitas Tionghoa yang di mata masyarakat banyak sering disamaratakan dengan stereotype tertentu.

Ibnu Wahyudi seorang kritikus sastra dalam diskusi panel “Ide Pembauran Etnis Tionghoa Dalam Masyarakat Pribumi” yang mengacu pada karya Kwee Tik Hoay di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) mengatakan, marjinalisasi terhadap sastra Melayu-Tionghoa sangat bersifat politis.

Penggunaan bahasa Melayu rendah yang merupakan bahasa pasar dijadikan dalih karya sastra ini tidak dianggap sebagai kesusastraan Indonesia. Sementara karya sastra Balai Pustaka yang menggunakan bahasa Melayu tinggi dianggap sebagai bagian kebudayaan bangsa.

“Kebijakan politik berusaha menekankan sebuah karya sastra yang layak diakui disusun dalam bahasa yang baik dan benar. Ini sangat mengada-ada.

Pengingkaran terhadap sastra Melayu-Tionghoa disebabkan hal mendasar, yakni semata karena keberadaan penulisnya yang notabene etnis Cina sehingga tidak diakui sebagai bagian Indonesia. Alasan penggunaan Melayu pasar dalam sastra Melayu-Tionghoa juga tidak masuk akal,” kata Ibnu.

Untuk itu perlu reposisi terhadap pengertian sastra Indonesia modern. Apa yang dimaksud sebagai Indonesia harus dipertegas. Jika Indonesia modern muncul setelah Sumpah Pemuda, atau sesudah Proklamasi 17 Agustus 1945, tentu Angkatan Balai Pustaka tidak menjadi bagian khazanah sastra Indonesia.

Pengakuan atas eksistensi sastra Melayu- Tionghoa, menurut Ketua Paguyuban Indonesia Tionghoa (INTI) Edie Lembong, adalah bagian upaya pembauran. Pembauran yang benar adalah proses asimilasi secara wajar dan alamiah sebagai bagian dari Indonesia yang plural.

Edie yang juga menjadi panelis dalam diskusi bersama Ibnu Wahyudi menambahkan, pengertian pembauran yang dijalankan Orde Baru dengan gerakan asimilasi yang dipaksakan di permukaan adalah sebuah ethnic cleansing yang sangat tidak manusiawi. Sesungguhnya, Indonesia modern adalah sebuah tempat pemupukan hubungan lintas budaya secara intens.

“Semangat sejati dari interaksi Tionghoa dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan adalah penghapusan diskriminasi terhadap pihak mana pun seraya mengikis habis kesenjangan sosial dengan membina serta memahami nilai-nilai budaya ekonomi dari pihak yang sukses di sektor swasta,” ujar Edie Lembong.

Dalam proses itu, sastra Melayu-Tionghoa memberi makna yang mendalam. Karya sastra Melayu-Tionghoa sebetulnya memiliki kelebihan dengan corak bahasa Mandarin atau dialeknya yang memiliki pemahaman lebih dalam terhadap deskripsi suasana, bau wewangian, dan rasa, seperti tergambar dalam karya Kwee Tik Hoay.

Kedalaman makna dalam deskripsi keindahan alam adalah salah satu contoh kelebihan sastra Melayu-Tionghoa. Itu merupakan kelebihan yang dimiliki pengarang berlatar budaya Tionghoa yang menjadi masukan berharga dalam sastra Nusantara.

Karya sastra Melayu-Tionghoa juga penting untuk diterima masyarakat karena makna mendalam yang dimilikinya. Karya klasik ala Kwee Tik Hoay banyak berpesan tentang ketaatan perempuan, kembali pada nilai keluarga, dan terutama menghapus kecurigaan antarkelompok dan persoalan agama. Ini sangat sesuai dengan konteks Indonesia yang sedang kita jalani.

Edie Lembong menambahkan, sebuah pembauran alamiah akan mendorong kehadiran trust society atau rasa saling percaya di antara masyarakat. Ini merupakan modal yang penting untuk membangun Indonesia sebagai sebuah proses tiada henti menjadi sebuah bangsa.

Komentar