Pengantar PuJa: Wanita Yang Kencing Di Semak :)

(Kumpulan Esay & Puisi H.U. Mardiluhung, terbitan PUstaka puJAngga, Cetakan ke II, 2006)
Nurel Javissyarqi *
http://sastra-indonesia.com/

Ketika realitas masuk dalam angan ke depan (harapan), lalu terjadilah pergumulan, lantas kabut mitos menyempurnakan gagasan awal, saat bergerak maju terlahirlah puisi. Puisi, salah satu cabang ilmu pengetahuan, sebab ia memiliki logika, meski tersendiri. Ia lebih sempurna daripada ilmu lain, lantaran di kedalamannya bersimpan logika rasa, itulah sebagian jalan terciptanya puisi, meski juga bisa berbalik arah.

Penciptaan puisi dalam masa-masa lembut yang terlahir kadang seolah spontan, tetapi semua berangkat dari angan lalu, panalaran lampau yang kemarin belum menemui juntrung. Ketika pena terangkat, aliran asosiasi pencarian dulu mendapati muara kejelasan, walau awalnya kadang belum menjelaskan keseluruhan. Tapi sedikit-banyak telah mewakili kehadiran gelisah tempo lama. Waktu-waktu lembut termaksudkan ialah masa-masa pelan jalannya menjelajahi pepadang rumput tanpa merusaknya, umpama bayu pelahan mengelus kemungkinan menjadi dekat, dan kita merasai keakraban teramat sangat.

Ketika telah akrab realitas lain (yang tak dalam peredaran nalar umum), kita diajak ke dunia hening, wilayah tanpa batas, yang asalnya dari batas-batas kebebasan manusia. Atau, ternyata kebebasan berekspresi terbentur patokan-patokan nasib, dan penyair membuka kemungkinan bagi penyembuh, namun bukan obat meringankan sakit lantas kambuh oleh kaplet hayalan, tapi jamu terminum sungguh yang di ujungnya tertancap keyakinan. Inilah yang menentukan gerak logika hati menterjemah tanda menjelma pelajaran, demi langkah ke muka lebih gemilang.

Para seniman dianugerahkan jiwa-jiwa berlimpah, cara ekspresikan jiwanya bisa melewati apa saja; cat, kata, pahatan, tarian, &lsb. Para seniman-lah yang ulet lagi tekun mengembangkan jiwa merdeka demi menemukan hari ini untuk temuan di hari selanjutnya. Jiwanya senantiasa dahaga akan masa kelahirannya di setiap pagi pun senja. Para penyair memekarkan jiwa tersebut melewati guratan kata atas mata pena setajam malam, sebening ombak lautan. Hanya berjiwa seni-lah, pemampu mendengar sapaan angin bisikan gerimis, lelambaian perkenalanan dedaunan tepian jalan, juga bebatuan ia telah mengenalnya di atas kelembutan menterjemah bersalam akrab sesama ciptaan Yang Kuasa. Tranformasi dari getaran bahasa alam itulah yang diambil bagi jalan ia tempuh, agar tetap ingat waspada perubahan serta tingkah-pakolahnya.

Malam itu di dermaga kota Gersik, penyair Mardi Luhung, Raudal Tanjung Banua beserta Nur Wahida Idris. Saya di tempat itu juga, mata-mata memandangi kapal-kapal bertengger di pelabuhan lama, tak ada cerecah camar, waktu itu begitu larut memalam, perjalanan masa mengendap di cela-cela perbincangan, dari BBM sampai keringat pekerja kuli, dari puisi hingga posisi kaki, dari bau khas ikan pada amis darah. Seakan angan lama timbul, hantu muncul dari tengah-tengah laut kesadaran, atau bayangan cagak (tiang) lampu dermaga bersandar di dinding layar. Entah suasana tertangkap itu (kelak) puisi…, yang jelas kami teguk penuh akrab, semacam teknik kedekatan asap rokok mengepul, dan sebuah kepastian ternyata kenangan.

Malam berkah, bintang merangkai realitas harum dalam hidung mulut percakapan mengendap, kami saling belajar bagaimana kerja esok hari, ketika langit sudah bukan milik siapa-siapa, atau suatu kali akan menyusurinya kembali, jalan-jalan lalu nampak jauh dan menjelma sejengkal rindu dalam ciuman guyub berpadu, meski kabel-kabel bergelantungan itu diantarkan angin diam dalam kesendirian kamar masing-masing. Pastinya, kata demi kata, kalimah demi makna lain, sewaktu nilai lampau tak lagi mengganggu, kesadaran bertumpu keyakinan sendiri-sendiri, meski entah kapan balik bertemu, tetapi kangen tersimpan sudah, ketika binaran mata meretaskan airmata setia.

Karya-karya Mardi Luhung telah berdiri kokoh sendiri. Saya hanya sekilas menggambarkan kebertemuan itu, menyentuh sentak membangunkan lelapisan kabut tengah malam. Diriku teringat pohon-pohon Jati ditinggal pergi musim hujan, kerontangnya bersimpan ketegasan, ketegaran, seakan tak berharap lahirnya kata “menanti.” Dan pastilah musim berganti busana kesegaran, tak kecuali cita-cita yang selalu diemban para insan; ayunan langkah kaki terkantuk, rupa kapal dirayu ombak terlena tak bertujuan, tapi pagi senantiasa memberi kabar mengembangkan bunga Jati (“Opo,” sebutan kembang Jati, kalau ditulis ke dalam bahasa Nusantara, menjadi “apa”). Bunga yang mengembalikan pertanyaan tanpa nama atau tak ingin disebut, malu atas sanjungan (Kembang Jati Jengene: Opo).

Demikian mungkin yang ditawarkan penyair atas gambaran memakai kacamatanya, memandangi dengan sudut lain, ia tak perbincangkan normatif sebab telah ada, tak menyampaikan ateis, tersebab tuhan ateis. Seperti dua cermin berhadap di antara satu sosok, ketika mata melihat kebersamaan; kesadaran menjadi berbagi, padahal tidak sama sekali.

*) Pengelana.
Sabtu Pon, 1 April 2006, Lamongan.

Komentar