Mari Menulis Fiksi Islami

Aliansyah
http://www.banjarmasinpost.co.id/

DALAM setiap periodisasi perkembangan kesusastraan Indonesia selalu diwarnai dengan kehadiran fiksi islami. Hal ini bisa dilihat dari karya-karya Abdul Kadir Munsyi, Hamzah Fansuri, Buya Hamka, Danarto, Kuntowijoyo, Emha Ainun Nadjib, Mustafa W Hasyim, Abidah El Khaliqi, dan seterusnya. Pilihan mereka untuk mengusung nilai-nilai islami tentu didasari niat menjadikan karya fiksi sebagai sarana dakwah.

Sayangnya, jumlah penulis di jalur ini kalah banyak dibanding mereka yang berhaluan agak ‘kiri’. Akibatnya, dunia perfiksian di Tanah Air justru didominasi oleh cerita-cerita mistik, tahayul, kekerasan, serta kisah percintaan yang kadang menyerempet pada seks bebas. Bahkan, beberapa waktu lalu sempat mencuat istilah ‘sastrawangi’ atau ‘sastra lendir’ yang gencar mengeksploitasi seputar masalah syahwat. Ironisnya, gerakan yang dipelopori Ayu Utami dan Djenar Mahesa Ayu tersebut berhasil menjadi tren dan mendapat tempat di hati masyarakat.

Maraknya karya-karya fiksi yang seolah mempopulerkan dan merayakan dekadensi moral, tak pelak berimbas pada prilaku khalayak pembaca. Contoh kecil, karena remaja sering direcoki dengan berbagai kisah percintaan, akhirnya pacaran dianggap sebagai kebanggaan.

Kondisi memprihatinkan ini cukup lama berlangsung. Untunglah, pada pertengahan 1990-an muncul komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) yang diprakarsai Helvy Tiana Rosa. Anggotanya mencapai ribuan orang yang tersebar hampir di semua provinsi, bahkan kini sudah memiliki cabang di luar negeri. Mereka gencar mempublikasikan karya-karya fiksi yang sarat dengan semangat (ghirah) dan pesan-pesan islami. Penulis-penulis potensial pun bermunculan, seperti Asma Nadia, Afifah Afra, Sinta Yudisia, Melvy Yendra, Sakti Wibowo, Biru Laut, dll.

Pada era tersebut boleh dikatakan sebagai masa keemasannya fiksi islami. Novel-novel dan kumpulan cerpen islami berlabel FLP rata-rata mengalami booming, laris-manis di pasaran. Melihat tingginya animo masyarakat pada fiksi islami, beberapa penerbit kemudian mengajak FLP untuk bekerjasama. Toko-toko buku pun dipenuhi dengan karya-karya fiksi islami.

Pengaruhnya bukan hanya dirasakan FLP, mereka yang di luar komunitas ini juga tak mau ketinggalan; berangsur turut meramaikan fiksi islami.

Di Kalsel sendiri lumayan banyak lahir para penulis fiksi islami, terutama yang mempublikasikan di Serambi UmmaH. Sebutlah misalnya, Mia Endriza, Rismiyana, Ratih Ayuningrum, Reda Arie Yanti, Yurida Salamah, Aliman Syahrani, Randu Alamsyah, Nailiya Nikmah JFK, dan lain-lain.

Beberapa kalangan memprediksi sebentar lagi masa kejayaan fiksi islami bakalan berakhir. Namun, dugaan itu bisa saja meleset. Semua tergantung pada tingkat penerimaan masyarakat. Apalagi Indonesia dikenal sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Dengan populasi demikian, seharusnya daya serap pasar untuk fiksi islami selalu terbuka lebar.

Tinggal sejauhmana kesungguhan penulis-penulis Muslim untuk melahirkan karya-karya yang bermutu tinggi. Sebab, pada akhirnya kualitas juga yang akan menentukan.

Menggugah Kesadaran

Dalam proses kreatif pengarang senantiasa dihadapkan pada banyak pilihan. Di satu sisi kadang mencuat hasrat untuk mengekspolitasi imajinasi sebebas-bebasnya, sementara di sisi lain sebagai makhluk sosial ia juga punya tanggungjawab moral. Dua kekuatan ini sering mengalami tarik-ulur dalam diri pengarang. Pilihan mana yang diambil akan menentukan aliran yang dianutnya.

Sebagaimana kita ketahui bersama, karya fiksi tidak semata menyuguhkan hiburan, juga dapat diselipi nilai-nilai atau ideologi tertentu. Dengan demikian, ia bisa menjadi alat perjuangan.

Seseorang belum layak dikatakan sebagai Muslim sejati jika sehari saja dia tidak memikirkan untuk kemajuan Islam. Maka, selayaknya pengarang Muslim berusaha menyebarkan syiar Islam lewat goresan penanya. Kalau bukan dia, siapa lagi? Tidak mungkin berharap dari penganut agama lain.

Menulis fiksi islami tidak jauh beda dengan karya sastra pada umumnya. Ada unsur tokoh cerita, dialog, konflik, setting, plus mengandung muatan dakwah.

Menggarap fiksi islami tidak harus berlatarbelakang dunia pesantren, atau dalam setiap percakapan menggunakan istilah berbau kearab-araban seperti ukhti, ikhwan, ummi, abi, dan sejenisnya. Sebab, Islam itu bersifat universal. Begitu pula bila hendak menyampaikan misi dakwah dalam sebuah karya fiksi, tidak mutlak mengutip ayat-ayat suci, apalagi terkesan menggurui. Pengarang tak perlu terjebak pada hal-hal formalistik, yang terpenting adalah substansinya.

Agar fiksi islami bisa diterima oleh banyak kalangan, justru pengarang dituntut lebih fleksibel. Ia mesti jeli melihat ceruk-ceruk pasar yang belum tersentuh. Sebagaimana dilakukan Fahri Ariza yang memadukan antara cerita misteri dengan muatan dakwah.

Artinya, siapapun yang telah terbiasa menulis fiksi, dia pun tidak akan kesulitan menggarap tema yang bernuansa islami — asalkan ada niat untuk itu.

Ingat, barangsiapa meninggikan agama Allah, niscaya derajatnya akan ditinggikan pula. Setiap orang punya potensi dan peluang memberikan sumbangsihnya bagi kemajuan Islam.

Dengan menulis fiksi islami, diharapkan pengarang turut andil mencerahkan dan menggugah kesadaran umat. Jika ini diniatkan dari awal, insya Allah si bersangkutan tak hanya memperoleh keberkahan di dunia, juga mendapatkan pahala di akhirat.

Komentar