Langsung ke konten utama

Teks Klasik Dan Pembentukan Budaya Daerah

Agus Sulton
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

/1/
Penyebutan istilah ”klasik” pada teks-teks sastra atau teks sumber sejarah hakikatnya lebih berkenaan dengan masalah waktu. Apabila dilihat dari sifat pengungkapannya, dapat dikatakan bahwa kebanyakan isinya mengacu kepada sifat religius, histories, didaktis, dan belletri. Ini berarti bahwa penetapan periodisasi bagi periode sastra klasik tidak dapat dipastikan secara pasti, seperti apa yang terjadi dalam sastra Indonesia, mungkin karena penciptaan manuskrip tidak dapat diketahui secara pasti. Dalam hal ini, sastra klasik konsep awalnya lebih mengarah untuk mempengarui suatu kelompok masyarakat agar mengikuti pada kelompok tertentu, atas dasar menyampaikan ajaran-ajaran yang akhirnya dapat mendogmatisasi kemudian menjalankannya secara taqlid, sehingga bagi literator atau pencipta dari kalangan bukan abdi dalem keraton jarang mencantumkan nama pengarang atau tahun penciptaan teks itu sendiri.

Teks klasik yang tulis tangan ini dipandang sebagai hasil budaya masa lampau yang dinamakan dengan manuskrip. Teks manuskrip merupakan suatu keutuhan dan di dalamnya banyak menyimpan pesan atau ajaran tertentu. Pesan yang terbaca dalam teks secara fungsional berhubungan erat dengan culture society dan dengan bentuk kesenian lainnya. Dilihat dari makna yang dikandugnya, wacana yang berupa teks klasik itu mengemban fungsi tertentu, yaitu pembentukan pola pikir, nilai kejujuran, nilai kedisiplinan, nilai cinta kasih sesamanya, atau bahkan norma-norma lain, yang bisa diaktualisasi (relevan) bila diterapkan dalam kehidupan pada masa sekarang. Seperti apa yang terdapat dalam teks Syair Kanjeng Nabi (As. Ar. 12) dan Aji Saka Versi Islam (As. Ar. 7), dalam teks manuskrip tersebut banyak mengajarkan mengenai cara bersikap dan bertingkah laku yang baik, serta digambarkan pula mengenai sikap dan tingkah laku yang semestinya tidak kita dilakukan.

/2/
Menggali dan menemukan kembali sumber-sumber budaya masa lampau dengan memperhitungkan kearifan lokal (daerah) merupakan bagian dari upaya membangun identitas bangsa sebagai landasan bagi pembentukan jatidiri bangsa, karena kearifan ini merupakan akar suatu bangsa dalam pembentukan karakter dan akhirnya memunculkan suatu yang kreatif dan intensif.

Dalam perspektif historis, proses semacam itu tidak lepas dari ketergantungan daya dukung masyarakat sebagai agen pewaris sekaligus pengembang kultural yang seharusnya mampu bersikap plural akan dunia hiperrealitas, tetapi ada semacam imperatis yang mendesak untuk diaktualisasikan dari berbagai sudut pandang bukannya penjinakan sosial budaya atau sejenis tumbal modernitas.

Persoalan minat lagi-lagi menjadi suatu kendala tersendiri, mengingat karagu-raguan atau bahkan melestarikan suatu budaya lokal seringkali kurang bisa diuntungkan secara meterial atau rasa gensi yang begitu tinggi, Prof. Sayuti menyebutnya sebagai isu kemanusiaan yang bersifat sentral. Hal tersebut akan menjadi lebih jelas takkala peneliti dari luar negeri saat ini banyak bergentayangan memburu dan menggali berlian yang terkandung di dalam manuskrip (teks klasik). Kita (masyarakat Indonesia) sudah merasa kesakitan terhadap perampasan dan pembakaran manuskrip-manuskrip daerah yang dilakukan oleh pihak Kolonial akan pelegitimasian seseorang yang haus kekuasaan, akhirnya berakibat pada teror mental generasi berikutnya yang lebih memandang sikap apatis terhadap manuskrip. Kondisi seperti ini—diperparah lagi dengan sikap masyarakat kita saat ini yang selalu bersabar menunggu pihak asing untuk menggali sumber budaya lokal dan akhirnya menentukan arah gerak sejarah Indonesia atau daerah.

Dari situasi yang seperti itu, seharusnya kita bisa jadikan sebagai kristalisasi dan rasa nasionalisme, bukan sekedar obrolan ”warung kopi” oleh para mahasiswa atau dosen yang berkecimpung di ranah budaya atau filologi. Karena dengan cara demikian kita dapat berkomunikasi dengan orang-orang pada abad lalu, atau semacam penghubung terhadap orang pendahulu kita, salah satunya berupa manuskrip.

/3/
Tidak ada salahnya kita belajar dari sejarah masa lampau, dari sini kita dapat memperoleh berbagai macam informasi baik mengenai sejarah babad atau sejenisnya. Misalnya, kita dapat mengisahkan tentang pembakaran buku keagamaan dan kesejarahan atas perintah Sultan Demak sesudah Majapahit jatuh—sumber ini juga diperoleh dari manuskrip, yaitu dalam salah satu episode manuskrip Babad Kediri.

Manuskrip di sini diperankan sebagai sumber dari budaya itu sendiri, penggalian internalisasi terhadap nilai-nilai yang terbentuk bertahun-tahun yang membentuk budaya, hal ini akan tergerogoti oleh nilai-nilai luar apabila tidak dibarengi dengan komitmen yang kuat. Karena budaya merupakan suatu cara pandang akan dunia dan realitas yang dijalani saat ini atau sebagai word of view bagi pembentukan jiwa seseorang.

Dasar budaya suatu masyarakat itulah yang akhirnya membuka kemungkinan bagi demokrasi pluralisme secara Nasional. Manuskrip atau sumber budaya lainnya— menjadikan kristalisasi akan hal ini. Apabila kristalisasi ini benar-benar dipahami, maka akan memberikan poin untuk menuju pintu gerbang sebagai masyarakat yang bangga terhadap budaya daerah. Bukan suatu yang harus terbelakang dan rasa hormat yang dibuat-buat atas segala sesuatu yang modern, Robson menyebutnya sebagai masyarakat yang mempunyai rasa rendah diri budaya, padahal membentuk kebudaya nasional tidak lepas dari puncak-puncak budaya daerah.

Namun, kita petut berbangga diri dengan kondisi globalisasi yang semakin seragam ini, saudara Fahrudin Nasrullah mampu memberikan sumbangan dengan mengungkap sejarah ludruk Jombang—yang selama ini dianggap sebagai poros produk Jombang. Posisi harmoni seperti ini akhirnya mampu memberikan suatu ”roh pembangunan” dengan mengkristalisasi kearifan-kearifan lokal—yang selanjutnya budaya daerah tersebut memiliki aspek definitif, yaitu budi dan daya. Budi merupakan bagian dari sistem nilai dan estetika yang terwujud dalam perilaku. Sementara daya merupakan keberdayaan buah tangan dari pemahaman hidup seseorang.

Sudah saatnya bagi pihak yang sadar akan perstasi masa lampau—untuk segera melakukan gerakan atau semacam reaksi penggalian dan melestarikan budaya daerah. Dalam hal ini, Departeman Pendidikan Nasional, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Dewan Kesenian, atau sanggar-sanggar budaya yang mempunyai orientasi signifikan untuk meningkatkan kinerja dan kerjasamanya.

Dengan demikian, ajaran ”wulung”, ”niti”, atau ”tutur” dan beberapa kesenian daerah atau sumber budaya (teks klasik) lainnya tetap menjadi sesuatu yang dikenal dan diaplikasikan oleh generasi sekarang. Semangat ini akhirnya memberi penyimakan yang cermat akan peninggalan-peninggalan masa lampau yang tetap relevan untuk dijadikan suatu cerminan (kristalisasi), walaupun dengan kemasan yang agak berbeda, tetapi tetap berpegang pada aspek budaya daerah dan mampu mempertahankan diri dari sirkulasi alamiah.

Pernah dimuat di Radar Mojokerto (Jawa Pos Group)

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com