Hidayaturrahmah

Zainal Arifin Thoha
http://www.kr.co.id/

LAMA sudah sebenarnya orangtuaku, terutama ayah, menyuruhku agar segera berbaiat dan masuk tarekat, sebagaimana tarekat yang dianut oleh orangtuaku. Namun sejauh itu, aku belum juga melaksanakan permintaan beliau. Bukan aku bermaksud membantah dan apalagi menentang perintah orangtua, melainkan aku merasa bahwa diriku masih terlalu muda. Selain itu, aku pernah bermimpi, dan mimpiku itu menurut guruku adalah bagian dari tarekat. Dan aku, rupanya, lebih sreg atau merasa puas dengan pendapat guruku.

Suatu malam, demikian kisahnya, aku bermimpi bertemu dengan seorang tua berkulit hitam, berjubah putih, orangnya kurus dan lincah. Orang tua itu seakan-akan menyuruhku mengikuti perjalanannya. Anehnya, orang tua itu seperti terbang, meloncat dari satu tempat ke tempat lain, dari satu daerah ke daerah lain, dan lebih aneh lagi aku bisa mengikutinya.

Hingga pada loncatan terbang yang terakhir, dimana aku tak bisa mengejarnya lagi, lantaran orang tua itu terbang meloncati lautan, di situ, di pinggir lautan yang ditinggalkannya, aku mendapati sebuah tulisan Arab, dalam papan petunjuk, berbunyi : “Innal-ladziina yubaayi’uunaka innamaa yubaayi’unnallah, yadullaahi fawqa aidiihim faman-nakasa fainnamaa yankutsu ‘alaa nafsih,waman awfaa bimaa ‘aahada ‘alaihullaaha fasayu’tiihi ajran ‘adhiimaa.”

Saat membaca petunjuk itu, aku ingat sekali, bahwa kalimat itu adalah ayat bagian dari surat Al-Fath. Mimpi itu terus terbayang-bayang dan terasa hingga kini. Namun demikian, saat itu aku penasaran, siapakah sesungguhnya orang tua yang mengajak aku terbang mengikuti loncatan-loncatannya?

Hingga suatu ketika, saat aku berkunjung ke sebuah kota, dimana aku pernah mondok lama di sebuah Pesantren di sana, dan aku mempunyai seorang guru yang telah lama membimbingku dalam spiritualitas, maka kepada beliau aku bertanya perihal mimpiku itu. Menurut beliau, mimpiku itu adalah bagian dari baiat secara langsung dari seorang tokoh. Tokoh ini, menurut beliau, memang biasa memberikan bimbingan secara gaib dan personal kepada para pelaku tarekat.

“Jadi saya tak perlu berbaiat kepada seorang guru pada tarekat tertentu, Guru?” tanyaku saat itu.

“Tak perlu.”

“Walaupun yang menyuruhku memasuki tarekat adalah orangtua saya sendiri?”

“Iya, walaupun yang menyuruhmu adalah orangtuamu. Tapi perlu kau ingat,” lanjut guru, “engkau musti menjelaskan kepada orangtuamu tentang hal ini, seperti apa yang aku paparkan tadi, supaya orangtuamu mengerti dan meridhoi”.

Begitulah, pada kali lain saat aku pulang ke rumah orangtuaku di daerah Jawa Timur (aku tinggal di Yogya) dan orangtuaku mengulangi lagi permintaannya agar aku berbaiat dan memasuki tarekat sebagaimana tarekat yang diikuti kedua orangtuaku, maka apa yang telah dijelaskan guruku, aku jelaskan kepada orangtuaku. Alhamdulillah, orangtuaku dapat memahami, bahkan meridhoi.

“Tapi,” kata ayah, “engkau tetap harus berhati-hati. Sebab tidak tertutup kemungkinan, pada kali lain engkau bermimpi atau bertemu secara langsung dengan sosok tertentu, namun sesungguhnya dia syetan yang hendak menipumu.”

“Baik, Ayah,” jawabku, “tapi saya mohon ayah maupun ibu, senantiasa mendoakan agar saya tidak tersesat, sehingga dapat mengikuti petunjuk yang pernah, yakni petunjuk Allah SWT.”

Sejauh ini, alhamdulillah, keyakinanku semakin mantap, bahwa petunjuk itu memang benar adanya, sebagaimana yang telah dijelaskan guruku. Namun demikian pada saat-saat tertentu, ingin sebenarnya aku bermimpi lagi atau bertemu secara langsung dengan sosok yang pernah menuntunku lewat mimpi itu.

Kondisi yang demikian itu, biasanya muncul saat aku berhadapan dengan orang-orang yang telah berbaiat secara langsung dengan seorang guru tarekat. Apalagi kalau orang itu bercerita mengenai sosok gurunya, juga teladan maupun petunjuk yang telah didapat dari gurunya.

Bersamaan dengan itu, alhamdulillah, aku juga kemudian merasa tenang, terlebih bila mengingat cerita-cerita perjalanan kaum sufi yang aku baca dari buku-buku, bahwa perjalanan menuju Allah SWT itu begitu berliku. Namun bagi orang yang senantiasa berusaha untuk tawakal dan mecintai dengan kesungguhan hati kepada Allah SWT, Insya Allah seseorang akan senantiasa diberi petunjuk dan dibimbing secara langsung oleh Alllah.

Hanya saja, perjalanan kehidupan yang aneh yang berlangsung semenjak aku mendapatkan mimpi itu, adalah bahwa ada saja orang-orang tua yang datang ke rumahku, yang aku tidak mengenal beliau-beliau itu sebelumnya, namun beliau-beliau itu senantiasa memberikan perhatian yang amat baik, bukan saja kepadaku, melainkan juga kepada keluargaku.

Ada seorang tua yang berbulan-bulan secara rutin datang ke rumahku. Lalu menghilang atau pergi begitu saja dan tak pernah datang lagi ke rumah. Lalu datang lagi orang tua yang lain, dan ini berlangsung hingga berbulan-bulan. Kemudian pergi dan tak pernah kembali lagi. Lalu datang orang tua yang lain, begitu seterusnya.

Orang-orang tua itulah yang akhirnya menjadi cerminku, cermin secara tidak langsung, bahwa aku musti bersikap sak madya, dalam istilah Jawa, atau tawakal kepada Allah tanpa berpretensi atau memperlihatkan diri sebagaimana halnya para pelaku sufi atau tarekat pada umumnya.

Nah, di antara orang-orang tua itu, ada seorang tua yang bila datang ke rumahku senantiasa membawakan oleh-oleh berupa kacang dan kelapa. Terus-menerus begitu. Hingga lama-lama aku jadi penasaran, apa sesungguhnya makna dari kacang dan kelapa?

“Kacang”, jawab seorang temanku yang aku percaya, “merupakan buah dari tanah yang secara dhahir tampilannya biasa-biasa saja, tapi di dalamnya terdapat buah putih dua biji yang menyatu di satu tempat. Dan dua buah itu menyatu di dalam satu kacang.”

“Lalu,” kataku tidak sabar,” apa maknanya?”

“Itulah loro-loroning atunggil”.

“Maksudnya apa?”

“Suatu saat, engkau akan diberi tahu, dan mengerti sendiri.”

Pada kali lain, aku bertanya lagi, kali ini tentang makna kelapa itu.

“Kelapa adalah buah yang semuanya berguna,” ucapnya.

“Maksudnya?”

“Kalau engkau mengamati dan merenungi, bukankah tak sesuatu pun yang tak bermanfaat dari buah kelapa itu.”

“Lalu?”

“Itulah makna kelapa. Isinya bermanfaat. Batoknya bermanfaat. Sepetnya bermanfaat. Kulitnya bermanfaat. Bahkan, pohon dari kelapa pun tak ada yang tak bermanfaat, mulai dari akar, pohon, daun, manggar, bahkan hingga kelapa yang muda maupun yang tua, semua ada manfaatnya.”

“Dengan kata lain, sebenarnya hal itu merupakan petunjuk agar aku menjadi orang yang bisa mencerminkan hal itu?”

“Insya Allah, begitu”.

Inikah tarekat itu? Bisa iya, bisa tidak. Hanya Allah yang Maha Tahu. Dan sejauh ini aku selalu berharap, agar Allah senantiasa memberi petunjuk dan selalu membimbingku. Bahkan lebih dari itu, juga memberi kasih sayang padaku.

Itulah, Hidayaturrahmah. Gabungan dari dua ayat yang aku temukan dari Al-Qur’an di bulan Ramadhan, saat aku beristikharah untuk sebuah nama yang diminta seorang kawan untuk keponakannya yang baru lahir.

Dua ayat itu juga merupakan petunjuk bagiku, bahwa tanpa keduanya, tak mungkin aku dapat meniti jalan menuju ridho dan cinta-Nya. Titian jalan inilah tarekatku, yang semoga juga tarekat orang-orang yang tengah dan telah berada di titian ridho dan cinta-Nya Azza wa Jalla. Amin.

Jogja,2004.

Komentar