Langsung ke konten utama

Gila!

Adji Subela
http://www.sinarharapan.co.id/

Waktu mendengar bahwa pacarnya hendak mengawininya, Sri girang bukan main. Kandungannya sudah berumur tiga bulan dua minggu, perutnya makin buncit dan tetangga sudah menanyakan siapa gerangan bapak si jabang bayi.

Tentu saja ia takkan bilang bahwa bapak janin tak ada, dan itu didapatnya karena ia sudah kebelet untuk dikawini laki-laki, tapi dia sudah tak sabar lagi hingga dia serahkan tubuhnya kepada laki-laki sedapat-dapatnya. ”Dari pada tidak,” tekadnya dalam hati.

Hasilnya cukup spektakuler. Baru sekali saja ia tidur dengan laki-laki itu, bulan berikutnya Sri sudah mual-mual, muntah-muntah dan dokter mendiagnosisnya dia telah hamil.

”Bapaknya mana?” tanya dokter itu usil.

”Ada, di luar,” jawab Sri sedapat-dapatnya. Di luar sana mungkin ada insinyur, ada doktorandus, tapi bisa juga tukang becak atau gelandangan. Tak ada apa-apa di kepala Sri waktu mengucapkannya, dan dokter itu tak menambah keusilannya, dengan misalnya berkata: ”Tolong, ajak dia kemari agar konsultasinya lebih efektif.”

Kalau memang begitu, mungkin yang ditarik Sri untuk masuk ke ruang praktek adalah perjaka pengangguran yang sedang sakit perut dan duduk di sudut dengan ketakutan takkan bisa membayar rekening. Masalahnya, cuma dialah satu-satunya pasien pria. Sri tak mungkin menyeret seorang nyonya gendut, yang ingin berdiet menguruskan tubuhnya, ke dalam ruangan dokter dan mengatakan: ”Inilah dia, dokter.”

Sri lalu pulang. Ia bergembira karena sudah bunting, dan hamil tentu saja adalah kebanggaan bagi setiap wanita. Tapi ia merasa agak bingung karena pria yang telah menghamilinya tempo hari tak juga diketemukannya lagi. Ia harus mendapatkan seseorang yang bisa ia umumkan sebagai suaminya. Dia haruslah seorang laki-laki yang sedikit agak bodoh, hingga takkan membikin dia sulit di kemudian hari.

Malam hari berikutnya, Sri sudah mendapatkan laki-laki itu. Caranya cukup mudah dan efektif. Ia masuk ke sebuah kafe lalu berpura-pura genit dan terjeratlah seorang pria bodoh ke jaring-jaring yang ia pasang. Adegan berikutnya sudah bukan aneh lagi, dan sudah amat terbiasa, yaitu mereka berdua pergi ke sebuah hotel. Belum setengah jam ada di dalam, mereka berdua sudah keluar kembali, hingga membikin room boy bertanya-tanya dalam hati, tapi juga gembira karena kamarnya bisa disewakan lagi dengan harga per 24 jam. Dua hari kemudian Sri dan pacarnya itu datang kembali untuk menyewa kamar hanya untuk seperempat jam dan lantas keluar lagi.

Dan kemudian tepat usia kandungannya genap empat bulan, Sri minta dikawini si pria celaka itu.
ìIt’s okey, no problem,” jawab pria tadi.

Setengah bulan berikutnya, pesta perkawinan diadakan. Akad nikah diadakan pada suatu hari, untuk kemudian resepsinya menyusul esok malamnya. Dan si pria tiba-tiba menghilang begitu saja. Sri mengumpat-ngumpat. Tapi keluarga Sri tak kurang akal, karena mereka ini memang banyak akal, baik akal sehat maupun akal bulus.

Setengah jam sebelum resepsi di hotel berbintang enam itu dimulai, diadakan penodongan tanpa perasaan terhadap seorang pemuda pengangguran yang sering lewat di depan rumah. Pemuda sial itu diancam akan dilaporkan ke polisi sebagai pendatang haram serta pecandu narkoba bila tak mau mengawini Sri. Anak muda pengangguran itu semula mengotot menolak tuduhan yang ngawur dan rencana gila itu, tapi akhirnya luluh dengan iming-iming setumpuk uang ratusan ribu. ”Apa boleh buat, rejeki tak boleh disia-siakan, nanti bisa-bisa semakin jauh,” pikirnya dalam hati.

Lalu terjadi kesepakatan lain yang teramat gila. Seluruh keluarga mengadakan sebuah konspirasi jahat.

Alkisah, tamu-tamu sudah berdatangan di hotel berbintang enam itu. Musik-musik merdu diputar orang, dan makanan mewah digelar di belasan meja prasmanan. Namun pas acara temu pengantin berlangsung, terjadi kegaduhan di antara tetangga dan tamu-tamu yang lain. Pengantin laki-lakinya kurus ceking, bertampang penakut. Padahal waktu akad-nikah kemarin, dia orangnya gemuk, tua dan tampangnya goblok.

Kedua pengantin sudah duduk berdampingan. Pengantin perempuan berwajah tegar dan berbinar-binar dan pengantin pria yang tampak kesakitan.

Kepada orangtua pengantin, seorang tetangga membisikkan pertanyaan kenapa pengantin prianya berbeda.

”Berbeda? Tidak, tidak betul itu. Anda pasti salah lihat. Dia tetap menantu saya yang kemarin,” jawab ayah Sri dengan ketus.

”Tapi kemarin ‘kan orangnya gemuk, tua, dan wajahnya blo’on?” tanya tetangga nekat itu kembali.
”O, Anda jelas salah lihat. Yang kemarin itu ‘kan ayahnya!” bantah sang ayah.

”Jangan-jangan Anda sudah rabun,” kata sang ibu. Tetangga itu diam, dengan seribu pertanyaan di dalam pikirannya, sambil mengutuki dirinya yang lantas dipercayainya bahwa ia memang punya rabun mata.

Beberapa tetangga yang lebih sopan minta penjelasan pada anggota keluarga Sri yang lain. Seluruh anggota keluarga meyakinkan, bahwa pria ceking dan bertampang sengsara itu memang pria gemuk, tua dan berwajah goblok kemarin itu. Begitu meyakinkannya penjelasan mereka, sampai para tetangga itu percaya bahwa mereka kini dilanda penyakit rabun mata.

Hanya ada satu orang yang tidak. Dia adalah Tuan Penghulu. Entah bagaimana asal-usulnya, keluarga Sri mengundangnya. Dan kebetulan sekali, waktunya sedang longgar, pada jam itu dia tidak mengawinkan siapa-siapa. Order sedang sepi.

”Protes!” Teriaknya di tengah acara yang penting itu. ”Saudara-saudara! Di sini, sekarang ini, terjadi manipulasi tak kepalang tanggung, terjadi pelanggaran administrasi dan pelanggaran hukum! Lihat! Pengantin pria itu palsu! Palsu! Saya yang mengawinkannya kemarin, dan itu bukan dia!”

Tiba-tiba ruangan itu mendadak terdiam, hanya kemudian terdengar gelas, piring, dan sendok-sendok berjatuhan. Orang mencari tahu siapa yang berteriak seperti itu. Ternyata dia memang Tuan Penghulu.

”Iya, ya, kayaknya bukan dia tuh!” ucap seorang tetangga yang sok tahu.

”Tuan-tuan, nyonya-nyonya, semua isu itu tidak benar!” teriak ayah Sri di depan mikrofon. ”Yang benar, pria yang menjadi menantu kami ini, adalah pria yang kemarin. Masak kami berbohong dalam sehari saja? Yang benar saja. Kami ini keluarga terhormat yang menjunjung tinggi asas kejujuran dan norma-etika agama dan sosial! Payah sekali kalian ini!”

Seorang pria yang dianggap sebagai orangtua pengantin lelaki maju ke mikropon lalu berkata: ”Enggg apa itu….benar saudara-saudara sekalian, engg….apa itu….. tak ada perubahan, engg…..justru namun …enggg….tak ada manipulasi emmm apa itu. Saya ayah dari anak laki-laki ini. Kalau…engg…apa ya….. muncul kesan yang bukan-bukan, itu jelas tidak berasal dari kami. Percayalah! Hidup! Hidup!”

”Ssst…. kayak kampanye aje. Norak lu!” bentak perempuan kurus, ceking dan pendek yang berdandan agak menor yang sejak awal mengiringinya. Ia diduga kuat istri ayah pengantin pria yang kurus ceking itu, karena duduknya juga di samping para pengantin.

”Iya, nih, siapa sih yang menyebar isu busuk seperti itu? Provokator!” teriak seorang tamu yang tak pernah tahu duduk persoalannya. Dia hanya datang, menulis namanya di buku tamu, lantas memasukkan amplop kosong ke pundi-pundi sumbangan pengantin, lantas makan sekenyang-kenyangnya, melahap apa saja yang disebut makanan dan minuman, tak peduli apa yang menjadi acara pokoknya.

”Tidak! Saya yang mencatat pernikahan itu, dan sebagai pejabat negara yang disumpah, saya menolak kenyataan gila ini dan tidak bertanggungjawab atas segala risiko yang muncul di kemudian hari.”

”Bohong! Bohong! Tuan Penghulu sedang meracau, jangan dipercaya!” pekik seorang anggota keluarga Sri.

”Apa? Aku berbohong, terlaknatlah kamu!” balas penghulu dengan tak kalah kerasnya.
”Emang iya, uweeeek……,” jawab yang bersangkutan sembari menjulurkan lidahnya.

”Pokoknya aku tak mau bertanggungjawab. Titik.”

”Emang dipikirin!” kata anggota keluarga yang lainnya.

Belum lagi suasana tenang kembali sepenuhnya, datanglah serombongan pria dan wanita masuk ke ruangan itu. Di depannya, berjalanlah seorang pria tua, gemuk dan berwajah goblok. Ia mengenakan baju kebesaran pengantin, berkilat-kilat. Mereka tiba-tiba berhenti di depan kursi singgasana pengantin, dan pria gemuk itu terpaku, bengong terlongong-longong. Kini dia tahu kenapa tak ada sambutan meriah kepada rombongan terhormatnya, tak ada musik iringan pengantin atau gending Kodok Ngorek atau apa pun juga.

”Sayalah yang jadi pengantin prianya!” teriak si gendut itu melontarkan protes pertamanya. ”Saudara-saudara! Sayalah pengantinnya! Ini lihat! Lho saya sudah berpakaian pengantin ‘kan?”

Sebentar kemudian para anggota keluarga Sri berpandang-pandangan, kemudian seorang di antaranya, yang berperawakan preman, maju ke depan membuka pidato.

”Saudara sekalian, sabar, sabar….Apa yang kami sampaikan itu benar. Yang datang belakangan ini entah siapa kami tidak tahu. Mungkin mereka salah masuk ruangan saja. Mari, saudara-saudara yang baru datang, silakan menikmati hidangan, tak usah ragu-ragu. Kami tahu taktik kalian mencari makanan gratis. Itu teknik kami di waktu muda dulu.”

Ajakan itu disambut antusias oleh beberapa anggota rombongan baru itu. Mereka segera menyerbu meja hidangan itu dengan amat sangat rakus. Tinggal pria gendut berwajah goblok saja yang masih berdiri tolol di tempatnya.

”Naaaaah, ini dia pengantin aslinya!” pekik Tuan Penghulu sambil melonjak-lonjak gembira, ”Ini baru asli, bukan imitasi seperti yang itu!”

Pengunjung kembali menjadi bingung. Tapi beberapa tamu tak pernah peduli dengan segala lintang-pukang peristiwa yang memalukan itu. Mereka berpindah dari meja satu ke meja lainnya, menyikat semua makanan sebanyak yang perut mereka mampu menampungnya. Ada yang matanya sampai kemerah-merahan dan ada pula yang tersengal-sengal napasnya.

”Tuan-tuan, nyonya-nyonya, semuanya bohong, yang benar adalah kami-kami ini. Awas, jangan sampai pesta ini dikotori provokator yang tidak bertanggung jawab, atau orang-orang yang usil terhadap stabilitas keluarga.”

”Apa? Kami provokator, eee, hati-hati. Jaga mulutmu!” teriak seorang pria berangasan yang langsung melemparkan telor balado ke wajah anggota keluarga yang mencoba membantah keterangan Tuan Penghulu. Korban ini membalas dengan melemparkan sandalnya, tapi tak kena, dan justru mendarat di kepala seorang wanita yang sejak pukul tujuh pagi telah berdandan di salon. Sanggulnya terlepas dari tempatnya semula dijepitkan. Tentu saja suaminya marah tak ampun lagi. Ini menyangkut harga diri seorang pria saudara-saudara!

”Weee, semprul!! Awas kamu!” teriaknya sembari ganti melemparkan sepatunya, tapi luput dan malah mengenai seorang tamu yang sedang asyik nekat menyedot soft drink di dekat panggung.

Lalu tiba-tiba saja pecahlah pertempuran di ruang pesta berbintang enam itu. Suasana luar biasa kacau. Seorang petugas hotel lari tergopoh-gopoh menelepon atasannya. Sedangkan Satpam yang datang belakangan, kerepotan memisah perkelahian massal yang baru pertama kalinya terjadi di hotel yang sangat bergengsi itu. Ia bingung, mana yang baik dan mana yang benar-benar biang kerok.

Meja minuman terguling, gelas-gelas jatuh pecah berantakan, minuman beleberan di lantai. Di sebelah sana meja makanan juga bergelimpangan. Rangkaian bunga yang indah-indah dan juga anyaman janur yang molek-molek runtuh. Suara tangis bayi bersahut-sahutan, ditingkah oleh teriakan-teriakan histeris. Anehnya tiba-tiba saja terdengar lagu dangdut diputar dari kaset. Suaranya kencang dan membikin suasana lebih tak keruan-keruan lagi. Tapi terus terang, adegan ini lebih indah bila disinetronkan. Dinamika gambarnya tinggi. Rupanya operator sound system sangat jengkel dengan kejadian itu dan mulai ambil inisiatif.

Seorang petugas keamanan internal hotel datang lalu naik ke panggung pengantin.

”Tuan, kalau kerusuhan ini tidak bisa segera Tuan atasi, maka kami akan menuntut Anda dan kalau perlu membunuh Anda semuanya,” bisik petugas itu kepada sang ayah. Orang ini ketakutan setengah mati, karena pada dasarnya ia adalah orang yang penakut, pengecut. Tak lama kemudian keluarlah sebuah pengumuman lewat pengeras suara.

”Setooop, setoooooooop….. tuan-tuan, nyonya-nyonya, sudah berhenti, berhenti! Tuan Penghulu memang benar. Kami menipu tuan-tuan dan nyonya-nyonya semuanya. Berhentilah berkelahi. Pengantin yang asli adalah yang datang belakangan ini….”

”Uuuuu dasar guoblok-guobluoooook. He, kunyuk.siapa pangkal kebrengsekan ini semua?” gertak seorang tamu, yang kelihatannya seorang yang punya kekuasaan juga.

”Jelas orangtua pengantin perempuan yang punya hajat ini,” kata Tuan Penghulu.

”Eit. Nanti dulu ini semua gara-gara menantu guuobluok yang gendut kayak babi itu. Dia tahu-tahu menghilang menjelang hari perkawinan tanpa kabar,” jawab ayah Sri.

”Lho, nanti dulu. Kami bukannya menghilang, tapi punya bersoalan lain yang harus kami selesaikan. Dalam perjalanan kami ke sini, kami juga dihadang banjir dan kemacetan lalulintas,” jawab seorang anggota rombongan terakhir itu mencari alasan sekena-kenanya. Yang penting harus ada pihak yang dipersalahkan.

”Telpon dong, goblok!” teriak seorang tamu.

”Ponsel kami semuanya mati, pulsanya habis.”

”Ah, enggak mungkin itu. Alasan! Alasan!”

”Oke, oke, baiklah mari kita lupakan kekalutan ini, kita ‘kan sudah membayar semuanya untuk menikmati pesta? Mari kita berjoged bersama!” seru ayah Sri.

Tiba-tiba anjuran yang paling simpatik dan bijaksana selama pesta itu, dipatuhi oleh sebagian besar peserta tawuran di hotel berbintang enam tersebut. Mereka berjoged dengan sepenuh semangat yang ada. Agaknya mereka sudah kesetanan. Wajah-wajah yang tampak, kebanyakan sudah sangat berantakan. Ada saus tomat di muka mereka, ada juga lebam-lebam biru bercampur kecap.

Tamu wanita tak mau ketinggalan. Beberapa di antaranya kini sudah menjadi Mak Lampir, sanggulnya rusak berat, berantakan seperti sarang burung kondor. Beberapa lembar mie menyelip di antaranya. Polesan merah lipstik sudah pindah ke pipi, eyeshadow mulai luntur turun ke pipi mereka. Ini keadaan yang pasti tak diharapkan oleh kapster salon langganan mereka tadi siang. Beberapa di antaranya bibirnya jontor.

Kaum pria tak mau kalah. Ada yang pecinya kini sudah penyet, berubah menjadi blangkon tanpa mondolan. Ada yang jasnya robek-robek, malahan ada yang telah berubah menjadi rompi. Di tengah hiruk-pikuk sekarang ini ada terdengar teriakan:

ìSompret! Dompetku hilang!”

”Aku juga! Dompetku juga hilang!”

”Husyh, ‘kan kita tadi enggak bawa dompet, Pah,” teriak istrinya.

”Diem, ah, mau cari obyekan gitu aja malah kamu gagalkan.”

Pendeknya, arena joged berjalan amat lancar. Semua berjoged, termasuk Sri. Ia menggoyang-goyangkan pinggulnya sedikit, karena terhalang perutnya yang telah mulai menebal.

””Suit suiiiiitt, goyang Inul, dong, goyang Inul….,” teriak seorang tamu.

”Inuuuuuul……Inuuuuuul…….”

ìMane? Emang si Inul dateng kemari? Asyik, dong!” seru seorang pria setengah baya.

”Husyh. Diem lu! Loyo aje, sok Inul lagi. Kayak jantan bener-bener aje,” hardik seorang perempuan, yang kontan membikin pria itu bungkam, lantas menyelinap menghilang entah bersembunyi di mana lagi. Ia memang takut kepada istrinya karena tak pernah mampu melayani nafkah lahir maupun batinnya.

Pesta dangdut berjalan terus, semakin menggila dan penyelia hotel semakin pusing dibuatnya. Lalu tiba-tiba datang lagi serombongan manusia yang kesemuanya berwajah tegang dan penuh rasa benci, seolah siap melahap siapa saja yang ada di depan mereka. Entah obat apa yang telah mereka minum, tapi kedatangan rombongan ini membikin pengantin pria yang asli mendadak pucat pasi. Ia lantas kontan berhenti berjoged memutar-mutarkan pinggulnya yang sudah teramat tebal ditumbuhi lemak liar.

”Saliiiiiim!” Teriak seorang perempuan berbadan gemuk bulat hampir sempurna. ”Ke sini kamu!”

Orang yang dipanggil sebagai Salim itu mendekat dengan pucat pasi dan salah tingkah. Dialah pengantin pria yang asli, tapi datang terlambat tadi.

”Hayo! Pulang, jangan macam-macam lagi!” lanjut si gendut.

”Iya, sebentar dong Mah, aku masih kondangan pengantin,” kata si Salim.

”Diam! Pulang! Sudah tua bangka calon menghuni kuburan saja bergaya mengawini perempuan muda lagi. Mana tahan kamu?” bentak si perempuan gendut itu lagi.

”Aku di sini menghadiri undangan saja kok Mah.”

”Bohong! Dasar bandot tua. Itu kenapa kamu berkalung rangkaian melati segala.”

”Ini tanda penyambutan Mah, jangan salah sangkalah.”

”Jangan coba-coba membohongi aku terus kunyuk busuk. Ayo pulang,” hardik perempuan bulat itu lagi sambil memegang krah baju Salim.

”Eh, sabar, malu dong Mah. Yang kawin itu orang lain. Itu ada pengantin prianya!”

”Manaaa? Hayo tunjuk!”

”Oh, eh, enggak ada, kok enggak ada ya, barangkali sedang ke WC dia.”

Tanpa menunggu penjelasan lebih rinci lagi, perempuan itu sudah menyeret Salim, pria gemuk dan berwajah goblok itu keluar ruangan diiringi para pengawalnya.

Di luar hotel berbintang enam itu, seorang pemuda kurus ceking membagi rejekinya kepada sepasang pria dan wanita yang tadi mengaku sebagai orangtuanya. Yang pria mendapatkan dua ratus ribu perak, perempuannya seratus ribu. Keduanya tersenyum geli sambil memegangi perutnya yang sudah buncit penuh oleh berbagai makanan lezat. Mereka lantas berlalu mengendarai bajaj-nya.

Pemuda ceking itu pun lantas meninggalkan segala keriuhan hotel mewah itu memakai jasa seorang pengojek sepeda. Lebih hemat.

Di satu malam dingin menggigit di Dieng.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com