Bunga, Jangan Menusukku…!

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

Semalam hujan rintik. Basah mengalir lembut di pucuk daunan. Kedinginan dan manja bermandi murni air yang ditransfer dari gumpalan hitam menggantung. Tanah merekah, menerima pancaran halus yang hangat. Mulut-mulut hitam berkecap menikmati cairan yang membawa kesuburan. Basah dan anggun. Alam raya memukau di selimut keindahan yang tak menjemukan.

Daunan yang basah, disiangi matahari. Terlihat riang dalam tarian setelah dipupus hujan semalam. Dingin itu sirna. Tinggal ranum yang terbuahi. Terkecap di bibir-bibir daunan nan hijau. Menangkap hangat cemerlang sinar. Lalu mengalirkan kehidupan.

Pada hamparan sejuk itu, tumbuhan mawar berbaris indah. Merah dan putih. Mengisi pandangan. Sejuk merasuk ke dalam hati. Lalu menari dan berganti rupa menjadi semangat membawa. Merah darah dan putih tulang manusia. Jenang merah dan jenang putih, darah dan nutfah, berpadu dalam irama indah yang mencengangkan. Mengajak setiap pikiran untuk meluncur ke masa lalu saat merah dan putih itu belum tercipta. Atau lebih jauh lagi, proses penciptaan pertama.

Lelaki kurus berdiri memandang ke hamparan luas yang basah. Senyuman lebar. Nampak puas di pancaran mata yang mengambang menaiki angin. Hujan memandikan bumi kebanggannya. Mengenyangkan tanaman. Dia duduk mengangkat gelas cangklong dipenuhi teh panas ke depan mulut. Kumpulan asap pun menyembur setelah segulung tembakau kering dia bakar.

“Lebih baik,” gumamnya pada diri sendiri, “hari ini akan cerah.”

Dia meletakkan gelas di atas meja lalu mendekati taman yang basah. Pandangannya jatuh pada kelopak mawar. Merah merekah dan basah. Ia pun teringat pada senyuman gadis manis yang bermanja di dalam pelukan. Kembali, ia merindu. Cinta yang mengetuk Dhimas Gathuk membawa dirinya pada pergulatan indah sampai akhirnya dia merawat mawar-mawar itu. Memahami kelembutan. Memahami rasa sakitnya duri andai tidak berhati-hati. Dhimas Gathuk tersenyum. Ia menunduk sebentar. Tidak lama, Dhimas Gathuk mengangkat pandangan pada bunga-bunga yang ayu menggoda.

“Selamat pagi, Bunga sekalian!” ucap Dhimas Gathuk dengan pipi memerah. “Bagaimana kabar kalian hari ini? Sehat?” Dhimas Gathuk tersenyum menunggu namun tidak ada jawaban. “Yah, semoga saja demikian.”

Senyuman kecil berkesemu merah telah merekah bersamaan dengan pandangan berbinar yang jatuh ke kelopak basah.

“Bunga, aku mohon, jangan menusukku.” Ucap Dhimas Gathuk dengan pandangan penuh harap.

“Sudah sinting, Dhi?” tanya Kangmas Gothak yang duduk di teras.

Dhimas Gathuk menoleh dalam senyuman. Gigi putih yang berderet membentengi diri.

“Lha, Kang, namanya juga usaha.”

“Usaha apa? Usaha jadi sinting, apa?”

Untuk menanggapi Kakaknya, Dhimas Gathuk menggelengkan kepala sambil tersenyum. Dia duduk di dekat bunga-bunga dengan sopan. Seperti seorang perjaka yang duduk di samping seorang perawan.

“Bukan sinting, Kang. Berusaha sebaik mungkin menjaga alam sekitar kita.”

“Maksudmu, Dhi?”

“Semalam, Kang Jambrong berkunjung, Kang! Kata Kang Jambrong, kita musti bersahabat dengan alam kalau mau selamat. Isu pemanasan global terus saja menuju pada kenyataan, Kang. Dimana-mana banyak bencana. Itu, kata Kang Jambrong, disebabkan karena manusia tidak bersahabat dengan alam.”

“Dhi?”

“Nah, Kang, pemerintahan Pak Lurah Beye suka membuat kebijakan yang anti keselarasan dengan alam. Bumi kita ini rusak, Kang. Kang Jambrong juga mengkritisi pemerintahan Pak Lurah Beye. Selama ini, banyak kebijakan yang semena-mena. Tidak saja dengan manusia kecil. Tapi juga dengan alam. Untuk menjaga kelestarian dan siklus kehidupan yang baik, kita musti menggalakkan kebijakan yang ramah lingkungan.”

Kangmas Gothak menggelengkan kepala. Dia lalu menggaruk-garuk kepala sementara adiknya terus saja berbicara tentang keramahan lingkungan yang didengar dari Jambrong.

“Untuk menciptakan alam yang sehat, kita menggalakkan persahabatan dengan alam. Kalau pemerintahan Pak Lurah Beye tidak memperhatikan ini, Kang Jambrong menyarankan pada warga untuk memulai keramahan dari setiap pribadi. Bersahabat dengan alam, ramah dengan sekitar kita adalah langkah hidup nyata yang dapat menjaga kelestarian hidup manusia.”

Kangmas Gothak tersenyum sambil membakar rokok. “Sakarepmu, Dhi. Terserah!”

“Kakangku itu memang ngeyel, bunga.” Ucap Dhimas Gathuk tanpa memperdulikan Kakaknya yang cengengesan. Bunga, jangan menusukku! Aku akan merawatmu dengan baik. Maafkan juga Kangmas Gothak, dia memang begitu tapi hatinya semerah kelopakmu.”

“Lha…?” Kangmas Gothak melongos menyaksikan adiknya yang terus berbicara ramah pada bunga-bunga di taman.

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 24 September 2010

Komentar