CAMAR PUTIH KAWALAN ROY

Hasbullah Said
http://kendaripos.co.id/

DIKAMPUS tua nan merah itu, matahari pagi beranjak perlahan lamban menyelinap masuk dibalik celah pepehonan rindang.

Hembusan angin pagi terasa sejuk mengelus tubuh para mahasiswa yang sedang duduk santai diatas bangku-bangku beton di halaman depan gedung kuliah berlantai dua itu, menunggu Dosen yang akan memberikan kuliah perdana, pada pagi itu.

Nampak peci-peci mahasiswa berwarna hitam dasar merah diatasnya, tetap setia bertengger di kepala mereka yang habis dicukur plontos, pertanda bahwa mereka baru saja selesai mengikuti acara malam inugrasi pelantikan sebagai mahasiswa di lingkungan fakultasnya.

Suatu kebanggaan tersendiri dihati masing-masing seusai mengikuti perpeloncoan selama seminggu yang disebut MAPRAM *) dikenal orang sangat keras dan kejam, namun terkontrol dengan pengawasan ketat dari panitia lokal dan pusat sehingga acara MAPRAM berjalan aman dan tertib.

Masa itu, mereka lalui dengan rasa suka duka, bahkan tangis disertai deraian air mata sering terjadi bagi CAMI *) karena mendapat hukuman dari kakak seniornya sebab melakukan suatu pelanggaran tata tertib MAPRAM.

Semua itu masih membekas dihati masing-masing namun tak ada yang menaruh rasa dendam sedikitpun terhadap seniornya, kecuali telah menjadi suatu kenangan indah yang tak terlupakan bagi mereka untuk selama-lamanya. Peristiwa semacam itu sama seperti apa yang telah pernah aku alami dulu, sekalipun kejadiannya telah lama berlalu, …..
***

Perempuan bernama Nelly turun dari atas sebuah mobil mikrolet kampus, kemudian dia berjalan sambil mengepit buku catatan persiapan kuliahnya. Langkahnya perlahan-lahan menuju aula tempat kuliah perdana diadakan khusus bagi mahasiswa baru.

Dia Nelly, mengenakan gaun terusan warna pink sangat serasi dengan warna kulitnya yang putih bersih. Pagi itu, aku bersama beberapa teman mahasiswa baru lainnya masih saja duduk diatas bangku-bangku beton tengah asyik ngobrol bercanda bercerita banyak tentang pengalaman kami masing-masing selama menjalani masa MAPRAM sebagai pengisi waktu lowong sambil menunggu dosen yang akan memberi kuliah perdana bagi mahasiswa baru.

“Eh, itu Nelly si Camar Putih datang.” teriak Andhy di sampingku sambil mencolek pangkal lenganku. Hampir semua mahasiswa perhatiannya tertuju pada Nelly, ketika dia sedang berjalan diatas vaping block masuk menuju ruang kuliah.

Camar putih begitu nama samaran yang diberikan oleh kakak seniorku ketika malam pertama MAPRAM diadakan. Entah mengapa dia diberi nama samaran Camar Putih, mungkin karena dia berpenampilan menarik lagi lincah serta memiliki kulit putih bersih sehingga mengundang inspirasi bagi seniorku memberi gelar Si Camar Putih, begitu pikirku dihati.

Memang saat itu Nelly adalah primadona diantara sekian banyak CAMA-CAMI karena dia memiliki penampilan menarik, membuat banyak kakak seniorku menaruh perhatian padanya.
“Halo Nel, apa kabar ?” begitu tegurku padanya ketika dia sedang berlalu dihadapan kami.
“Halo juga, baik-baik saja.” balasnya sembari melempar senyum padaku.

“Yuk, mari kita masuk Bayu.” katanya lagi mengajakku masuk berjalan beriringan menuju ruang kuliah, setiba didalam kami pilih tempat duduk paling depan agar kuliah dapat kami terima dengan jelas. Dan akhirnya tak lama kemudian kami di susul masuk keruang kuliah oleh teman-teman mahasiswa baru lainnya karena kuliah mata pelajaran Pancasila segera dimulai.

Hari itu, kuliah berakhir dengan sangat lancar dan tertib. Mahasiswa pada berhamburan keluar ruangan bergegas hendak pulang kerumahnya masing-masing, karena hari itu kami mendapat hanya satu mata kuliah saja. Nelly disampingku kulihat sangat gelisah, dia bingung dibuatnya menerima tawaran begitu banyak dari beberapa teman-teman untuk mengantarnya pulang bersama.

“Terima kasih banyak.” begitu jawabnya perlahan sopan menolak ajakan mereka.

“Terima kasih, aku pulang nanti bersama Bayu.” ulangnya sekali lagi dengan senyum menolak secara sopan ajakan Roy.

Oke, baik !” jawab Roy salah seorang teman yang menawarkannya pulang bersama, dengan nada sinis kayak mengancam pada Nelly.

Waktu itu, pergi pulang kuliah aku mengendarai sepeda kumbang metallic warna biru pemberian ayahku sebagai hadiah untukku, karena sangat gembira melihat aku berhasil lulus dalam ujian seleksi masuk ke Perguruan Tinggi Negeri.

Ketika itu, sepeda motor masih jarang dipakai kuliah oleh mahasiswa seangkatanku, itupun kalau ada hanya satu dua orang saja mahasiswa yang memilikinya, dan yang banyak dipakai hanyalah sepeda kumbang metallic merk SIM-KING, karena waktu itu menjadi trend bagi anak-anak muda sebayaku, mengendarai sepeda bila hendak bepergian menuju tempat kuliah atau keperluan lainnya.

Bila sore hari jelang malam, ramai anak-anak muda mengendarai sepeda kumbang merk SIM-KING, bergerombol berkeliling kota utamanya disepanjang Jalan Penghibur dan sekitarnya, mengundang perhatian yang mengasyikkan bagi setiap pengguna jalan dari arah selatan hingga utara pantai itu.

Bunyi lonceng sepeda mereka terdengar berdering bising memekakkan telinga, disertai dengan berbagai macam aksesoris lampu aneka warna warni menghiasi sepeda mereka sangat indah kelihatannya dikeremangan malam membuat suasana pantai Losari semakin ramai.

Kini sepeda milikku kukayuh perlahan hendak pulang kerumah bersama Nelly diboncenganku, melaju diatas aspal dengan terpaan matahari siang yang begitu terik mengirimkan panasnya kebumi membuat peluh mengalir sangat derasnya membasahi hampir sekujur tubuhku.

“Nel, apa tidak ada orang merasa cemburu melihat kita berdua.” tanyaku memancing dia dengan suara tersengal-sengal ditenggorokanku karena kecapaian.

“Ah, peduli setan dengan orang-orang yang melihat kita berdua.” begitu jawabnya dengan nada cuek padaku. Aku diam saja tak menanggapi kata-katanya, kecuali sepedaku terus kukayuh diatas jalan aspal panas membara, terus kukayuh dan kukayuh lagi, hingga tak terasa oleh kami telah hampir tiba dipersimpangan jalan Veteran. Disitu, disudut Jalan tumbuh sebuah pohon cempaka berdaun rimbun, tempat banyak orang berteduh dibawahnya ketika musim panas tiba, untuk menghindar dari sengatan terik matahari siang. Aku ajak Nelly singgah sebentar istrahat sambil menikmati es cendol yang banyak dijual orang disekitar situ.

“Mari, kita singgah sebentar istrahat disini Nel.” kataku sambil mengajak Nelly duduk diatas bangku-bangku dibawah teduhnya pohon cempaka. Kupesan dua gelas es cendol, sekedar penawar rasa haus dan dahaga kami yang tak tertahankan.

“Yuk, mari,” kataku mempersilahkan Nelly mencicipinya.

“Terima kasih.” sahutnya senyum sembari duduk diatas bangku-bangku itu. Aku teringat pagi tadi di kampus ketika Roy mengajak Nelly pulang bareng bersamanya, nampak jelas raut wajahnya kelihatan lain dari biasanya, ketika Nelly menolaknya walaupun dengan secara sopan.

Kukenal Roy, karena dia adalah pengawal Nelly disaat MAPRAM diadakan di Fakultas kami. Diberi kepercayaan oleh panitia pelaksana untuk jemput antar Nelly selama MAPRAM berlangsung. Hal tersebut sama dengan CAMA*) lainnya, mereka diberi tugas untuk antar jemput masing-masing satu CAMI, yang disebut kawalan karena dikhawatirkan terjadi sesuatu yang tak diinginkan terhadap mereka diperjalanan bila pulang malam-malam kerumahnya masing-masing. Selama acara MAPRAM berlangsung tidak diperkenangkan bagi CAMA dan CAMI mengendarai kendaraan bermotor ke kampus kecuali naik sepeda.

“Roy itu pengawalmu khan ?” tanyaku setelah beberapa teguk es cendol meluncur masuk membasahi kerongkongannya.

“Ya, benar, ketika MAPRAM berlangsung.”

“Tadi aku perhatikan ketika kamu diajak pulang bersamanya, sepertinya dia sangat kecewa tidak menerima baik penolakanmu.”

“Ah, orangnya memang begitu, arogan.”

“Aku tak senang dengan cara seperti itu, makanya aku selalu berupaya menghindar darinya.” sambungnya lagi sambil meneguk es cendol yang masih tersisa sedikit didalam gelasnya.

“Ehem, kawalan yang tak tahu berterima kasih, dijaga, dikawal, jemput antar setiap hari dari rumah ke kampus dan sebaliknya.” kataku mendehem berpura-pura membela Roy.

“Pengawal arogan, tak loyal terhadap majikannya.” begitu kilahnya sambil menatap wajahku lekat-lekat.

“Buktinya ?”

“Ah, tak usah kita bicara panjang lebar tentang Roy, cukup aku saja yang mengetahuinya, lebih baik kita pulang saja.” pintanya padaku sambil meloncat naik keatas boncenganku. Sepeda kumbang metallic warna biru kembali melaju diatas aspal yang kian membara menelusuri jalan Veteran kemudian belok ke jalan S. S. Tanpa kami duga sebelumnya, tiba-tiba Roy datang menyusulku dari belakang, sambil berteriak memanggil-manggilku.

“Eh, berhenti bila kamu jantan.” teriaknya mencegat aku sambil berhenti menyilang parkir sepedanya tepat dihadapanku.

“Apa-apaan ini Roy ?” tegurku padanya dengan perasaan was-was.

“Berani-beraninya kamu mengantar pulang Nelly kawalanku.” balasnya emosi dengan nada tinggi. Mendengar ucapannya itu Nelly segera turun dari atas boncenganku lalu ia melangkah kedepan mendekati Roy.

“Roy, sekarang aku bukan kawalanmu lagi karena MAPRAM telah lama usai, engkau tak berhak lagi melarangku, siapa-siapa yang kuhendaki bersamaku mengantarku pulang, bahkan pergi kemana saja yang aku inginkan itu adalah hak pribadiku.” kata Nelly dengan suara yang agak tinggi sambil mengacungkan telunjuknya pada ROY. Karena merasa dipermalukan dihadapanku, maka balik Roy memaki-maki aku dengan kata-kata kasar yang sangat menyakitkan hatiku, sambil melangkah berjalan mendekatiku.

“Pengecut tak tahu diri.” begitu bentaknya padaku dengan emosi yang tak terkendalikan kemudian ia melayangkan tinjunya ke arah wajahku, dan dengan gerakan refleks Nelly loncat ketengah-tengah kami hendak meghalang-halangi Roy, namun terlanjur kepalan tinju Roy bersarang mengenai jidat Nelly membuat seketika ia jatuh tersungkur tak sadarkan diri.

Aku berupaya keras untuk memberikan perlawanan terhadapnya, namun sia-sia adanya karena dalam waktu yang sangat singkat orang pada ramai berdatangan berkerumun disekitar kami untuk melerai.

Selanjutnya aku kebingungan dibuatnya, tak tahu apa yang hendak kulakukan, sementara Nelly masih terkapar lemas tak sadarkan diri diatas jalan aspal dan darah segar terus mengucur tak henti-hentinya dari dalam mulut dan hidungnya. Segera kupanggilkan taxi lalu kelarikan ke salah satu rumah sakit terdekat agar secepatnya mendapatkan pertolongan dari dokter.

Untung saat itu, petugas kepolisian cepat tiba ditempat kejadian untuk mengusut tuntas permasalahan kami, dan akhirnya Roy digelandang oleh aparat kepolisian dengan mengendarai mobil patroli polisi meraung-raung disepanjang jalan menuju Mapolsekta untuk selanjutnya dimintai keterangan serta mempertanggung jawabkan perbuatannya yang tak terpuji dan sangat memalukan itu.

Sementara, aku masih berada di Rumah Sakit itu, menunggui Nelly yang sedang terbaring lemas di ruang UGD. Tak tega hati aku meninggalkannya sendirian dalam keadaan tak sadarkan diri. Segera kuhubungi kedua orang tuanya melalui wartel terdekat, menyampaikan bahwa Nelly kini sedang dirawat dirumah sakit akibat suatu kecelakaan, tak kujelaskan sebab kecelakaan apa sehingga dia dibawa kerumah sakit. Setelah tiba, kedua orang tuanya segera menemui aku dan Nelly diruang UGD, keduanya sangat berterima kasih padaku setelah kujelaskan dari awal hingga akhir kejadian perkara.

“Terima kasih banyak nak.” ujarnya padaku sembari menyalamiku.

“Sama-sama Pak.”

Dari atas pembaringan perlahan-lahan Nelly membuka matanya sambil menatap kedua orang tuanya yang sedang berdiri disamping tempat tidurnya, pertanda bahwa dia telah mulai siuman.

Aku sangat gembira melihat kondisi Nelly perlahan-lahan menunjukkan perkembangan yang semakin membaik.

Hari hampir malam, diluar rumah sakit itu lampu-lampu taman telah mulai menyala terang, aku beranjak berjalan perlahan mendekati Nelly dipembaringannya lalu berujar.

“Aku mohon pamit, semoga lekas sembuh.” begitu ujarku menyalami dia.

“Terima kasih banyak.” balasnya perlahan sembari menatapku senyum.

“Permisi, Assalamu Alaikum.” kataku lagi sambil berjalan keluar dari ruang UGD meninggalkan rumah sakit itu, menuju rumah tempat tinggalku dikeremangan malam nan beku.(*)

*) MAPRAM = Masa Pra Mahasiswa.
*) CAMI = Calon Mahasiswi
*) CAMA = Calon Mahasiswa

Komentar