Langsung ke konten utama

Baik, Tunggu Baru

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

Perubahan besar terjadi setelah lengsernya Lurah Arta dari jabatan superpanjang. Ribuan orang-orang pandai berbondong ketika itu, memenuhi pusat Kelurahan Luruh Indon yang porak-poranda karenakan uang yang tidak bersahabat. Rakyat kelaparan. Pejabat kelurahan banyak menimbun bahan makanan.

Kelurahan bertemu pagebluk, banyak orang yang tidak kebagian bagi-bagi uang merencanakan sesuatu. Pemuda-pemudi disatukan. Seperti tahun-tahun lalu, dalam masa perjuangan. Mereka berpakaian Kuning, Merah, Hijau, Abu-Abu sampai pada Kelabu. Memadati jalan-jalan utama. Memenuhi lapangan Luruh Indon sambil berteriak: “Gantung Lurah Arta! Lengserkan Lurah Arta!” sampai membabi, meruntuhkan segala yang ada.

Masa, Kelurahan di ambang kehancuran. Pemuda-Pemudi berpakaian aneka warna seolah ingin berkudeta. Berkumpul, membajiri Kantor Perwakilan Ketoprak Kelurahan. Seperti lalat di atas tumpukan darah. Menggenang air mata, perlawanan, api menjalar dan satu, dua, tiga, empat gugur.

Teriakan pemberontakan yang getir, mengukuhkan semangat kemerdekaan. Kerajaan Lurah Arta, diganyang habis. Sang Lurah terpaksa turun keprabon dan orang-orang dengan bangga menamai momentum: Reformasi Kelurahan. “Kelurahan kita tidak siap dengan revolusi, makanya kita memilih jalur alternatif, reformasi.” Begitu kata seorang ahli politik yang menjadi Bapak Reformasi Kelurahan Luruh Indon.

Hingar-bingar teriakan semakin mengabur. Sampailah hari ini, teriakan itu terdengar layaknya jerit anjing kesakitan yang dilibas kekuasaan mupakat.

Terurai sewaktu malam berjalan dengan dingin dan kabut tebal dipagi harinya. Menghalangi cahaya mentari reformasi yang menelan habis setiap perjuangan, “Ah, mereka hanya ditunggangi!” teriak politisi yang tidak mau disebut namanya.

“Lha, siapa yang menunggangi?” tanya seseorang yang melihat politisi dari depan televisi.

Dhimas Gathuk berjalan. Di atas kepalanya sekarung rumput hijau untuk dua sapinya. Ia melintas di jalan kelurahan. Berjalan sempoyongan, menahan lapar setelah seharian bekerja. Kakinya pun menginjak trotoar Kantor Perwakilan Ketroprak. Mengamati seorang anggota Perwakilan yang cas-cis-cus di depan wartawan. Dhimas Gathuk meletakkan seranjang rumput dan menyongsong pada pemburu berita.

“Ini ada apa?” tanya Dhimas Gathuk pada seorang wartawan yang berdiri di barisan belakang.

“Gagasan gedung baru untuk kantor Perwakilan Ketoprak!” jawab wartawan itu sambil terus mencatat di buku kecilnya.

“Memanganya mau buat kantor baru, Mas Warta?” tanya Dhimas Gathuk sambil menggaruk kakinya.

“Katanya,”

“Lha, yang benar?”

“Ini baru dikonfirmasi. Yah, mereka akan membuat gedung baru. Katanya, gedung yang sekarang, lambang pemerintahan korup.” Wartawan itu terus mencatat tanpa memperhatikan Dhimas Gathuk yang kini menggaruk pantatnya.

“Terus?”

“Ya, katanya kalau masih pakai gedung ini, wajar kalau kinerja Perwakilan Ketoprak tidak baik. Karena gedungnya masih mewarisi pemerintahan korup, jadinya ya seperti masa lalu.”

“Gak ngerti aku, Mas Warta!” Dhimas Gathuk menggaruk pantat dengan lebih keras.

Wartawan itu berhenti menulis. Mengalihkan pandangan pada Dhimas Gathuk dengan tatapan jengkel. Dia merasa kalau petani di sampingnya terlalu cerewet. Lha, dia sendiri yang wartawan tidak secerewet ini, pikirnya.

“Agar kinerja Perwakilan Ketoprak itu menjadi baik dan berkembang, dibutuhkan gedung baru. Sejalan dengan cita-cita reformasi.” Wartawan itu menegaskan dengan pandangan melotot.

“Lha, gedung yang ini mau buat apa?”

Wartawan itu mengangkat bahunya. “Aku juga tidak tahu, Mas!”

“Memangnya kita punya uang untuk gedung baru?” Dhimas Gathuk melontarkan pertanyaan.

“Sudah dianggarkan!”

“Memang perlu gedung baru?”

“Kalau kita meninginkan kinerja yang lebih baik.”

“Ada hubungannya, kinerja dan gedung?” Dhimas Gathuk mengangkat alisnya tinggi-tinggi namun si Wartawan tidak memberikan jawaban apa-apa. “Berarti aku perlu sawah baru. Perlu rumah baru. Perlu kandang baru untuk sapi-sapiku.” Dhimas Gathuk terdiam sejenak. “Tapi bagaimana bisa?”

“Lha kenapa?” Wartawan itu menyahuti tanpa ekspresi.

“Yang dimakan saja tidak ada…” Dhimas Gathuk muram merasakan perutnya yang berdentum kelaparan.

Wartawan itu tersenyum lebar. Buru-buru dia mengangkat tangannya. Si pembicara di depan podium langsung mempersilahkan.

“Masih banyak rakyat miskin, Pak Wakil!” ucap Wartawan itu sambil menganggukkan kepala. “Daripada dana untuk membuat gedung, lebih baik dialokasikan untuk pemberdayaan petani. Seperti dia!” wartawan menunjuk Dhimas Gathuk yang tengah menggaruk pantat.

“Tidak ada hubungannya. Rakyat miskin ya rakyat miskin. Gedung baru ya gedung baru. Tapi terserah rakyat Luruh Indon saja, kok, kalau mereka ingin kinerja Perwakilan yang lebih baik, ya musti ada gedung baru. Kalau menolak gedung baru, rakyat jangan menyalahkan Perwakilan kalau masih saja korup.”

“Nah, itu!” ungkap Wartawan pada Dhimas Gathuk dalam seringai lebar.

Sekonyong-konyong, Dhimas Gathuk kembali pada rumput. Dia menuju rumah. Langsung ke kandang sapi. Dia menjulurkan sabit di tangannya. “Sapi edan, kalau kamu sampai minta kandang baru, awas ya, tak bakar untuk makan seluruh kampung!” Dhimas Gathuk bersunggut masuk rumah. Dan sapi pun lahap menyantap rumput tanpa perduli.

Lengkong – Banjarnegara, 09 September 2010.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com