Langsung ke konten utama

Kampung Halaman yang tak Kunjung Terumuskan

Raudal Tanjung Banua
http://www.kr.co.id/

DISADARI atau tidak, kampung-halaman telah menjadi ikon tersendiri dalam jagad sastra Indonesia. Tidak hanya sebatas ungkapan ekspresi sebuah karya, namun masuk lebih jauh lagi ke dalam wacana dan gerakan sastra kita, dari dulu hingga sekarang. Dulu misalnya, ada gerakan sastra kembali ke akar yang mengidealkan keragaman karya sastra lewat muatan atau warna lokal. Akar dan lokal, secara simbolik dan geografik merujuk kampung-halaman.

Ada pula diskusi panjang menyangkut sastra di antara bahasa nasional dan bahasa ibu, yang menghasilkan tesis “penyair sebagai Si Malin Kundang” (Goenawan Mohamad) dan “penyair sebagai manusia perbatasan” (Subagio Sastrowardoyo). Lalu, ada Gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP) yang memaknai ke-pedalaman-nya dari konteks kampung-halaman (daerah). Ada pula sastra eksil yang menjembatani “tanah buangan” dan “tanah asal”.

Yang menarik, dari sekian banyak diskusi, gerakan dan fenomena yang berbau kampung-halaman dalam sastra Indonesia, ternyata belum ada rumusan yang memuaskan tentang itu. GM misalnya, memang mencoba merumuskan kampung-halaman dari suatu asumsi lingual, yakni perihal penyair dengan bahasa ibu non-Melayu (khususnya Jawa) yang mesti “berkelahi” terus-menerus dengan bahasa Indonesia.

Asumsi ini ternyata gagal merumuskan duduk soal, terutama terlihat dekade terakhir ini, bagaimana penyair yang bahasa ibunya dekat dengan rumpun Melayu pun, mengalami kegagapan artikulasi tersendiri dalam mencapai orgasme estetik dan puitik. Ini tentu wajar, sama wajarnya dengan kegagapan artikulasi penyair yang berbahasa ibu lainnya. Karena yang disebut “lingua-franca” itu sesungguhnya tidaklah sepenuhnya merujuk sebagai “murni” bahasa Melayu. Ingatlah pengertian lingua-franca yang berarti bahasa ucap (tak) resmi di sepanjang Nusantara; yang saling lepas dan menyerap, saling lepas dan tangkap, dengan bahasa lainnya di sepanjang kepulauan lalu-lintas dunia ini.

Maka, yang paling konkret untuk melihat kenyataan ini adalah dari karya-karya sastra kita sendiri, sebagaimana Subagio Sastrowardoyo melakukannya dalam tesis “penyair Indonesia sebagai manusia perbatasan” yang relatif memuaskan. Upaya semacam ini jauh dari kepentingan “politis” dan “ideologis” dalam pengertian praktis, sebab tidak mempersoalkan bahasa dan ekspresi puitik dalam hubungan “bangsa dan negara” akan tetapi sebagai teks kreatif seorang kreator. Dalam konteks inilah menarik melihat puisi Marhalim Zaini, khususnya yang terangkum dalam antologi tunggalnya Segantang Bintang, Sepasang Bulan (Yayasan Pusaka Riau, 2003).

Berisi 73 sajak, SBSB merepresentasikan kampung-halaman dari kefasihannya bertutur-kata, membangun rima yang melodius, dan dengan itu “aroma tanah Melayu Riau” — tanah asal penyair– terhadirkan. Selain itu, berbagai kosa-kata bahasa Melayu-lama yang dihimpun dan dihidupkan kembali, menjadi representasi kampung-halaman seperti kayu api-api, terubuk, jembalang, mempelam, persik dan lain-lain. Sehingga menjadi “Roh waktu yang bangkit dari kuburan pulau-pulau” — meminjam selarik puisi Marhalim dalam “Igau Pulau Riau”. Hanya, di luar itu, Marhalim masih perlu secara harfiah menyebut nama-nama tempat tertentu di Riau seperti Batam atau Bengkalis, yang untunglah pukauannya tak kalah mengena: “//Selat Malaka memandangku serupa hantu/setelah dua belas tahun dendam malam/yang terbenam dalam kuburan kenangan//”

Sejumlah kosa-kata Melayu-Riau itu, masuk cukup leluasa ke dalam sajak Marhalim, sebagaimana lazimnya sajak-sajak yang bernafaskan kampung-halaman. Akan tetapi, berbeda dengan penyair asal Riau lainnya, bahkan mungkin dengan penyair daerah lain, kosa-kota itu tidak mengganggu pemaknaan (dari kepala yang beragam), sebab mampu menyatu dengan keseluruhan sajak. Simak misalnya kalimat: telingkah angin menampar-agar sebati seluruh ombak-Sakai yang disesai atau meningkahi kompang waktu. Bandingkanlah dengan sajak Taufik Ikram Jamil, misalnya dalam buku Tersebab Haku Melayu yang memang hanya dimengerti publik Melayu. Ini membuktikan makna “lingua-franca” yang sebenarnya — yang selama ini justru disalah-persepsi. Beruntunglah, sajak terbaru Taufik mulai mengadakan tawar-menawar dengan kenyataan itu.

Upaya Marhalim menghadirkan (atau merumuskan) kampung-halaman secara estetik dalam teks sajaknya, seperti membuat rujukan tempat, memasukkan kosa-kata bahasa ibu atau membangun irama, sebenarnya baru dapat disebut sebagai upaya “taktis”. Untuk masuk ke upaya “strategis”, saya kira ia harus melakukan lompatan yang lebih jauh lagi seperti menggandakan makna, membangun daya ungkap baru, di luar kemapanan berbahasa. Kita tahu, keterampilan berbahasa di kalangan penyair terkini sebenarnya tidak perlu dicemaskan benar, sebagaimana tampak pada Marhalim, akan tetapi sejauh mana hal tersebut tidak bersifat perayaan, inilah yang agak mencemaskan. Kemampuan berbahasa lebih menekankan kelincahan, bukan pada lain tingkatan semisal eksplorasi dan pemaknaan — itulah yang terjadi. Padahal, kita pun tahu, kemampuan berbahasa hanyalah syarat teknis kepenyairan!

Meski pada sejumlah sajak, Marhalim berhasil masuk pada tingkatan “strategis”, namun pada lebih banyak sajak lainnya ia masih terperangkap persoalan “taktis” dan “teknis”. Ini terlihat dari tak tertahannya hasrat untuk merengkuh sebanyak-banyaknya ungkapan, nama dan istilah (juga silsilah) “daerah” ke dalam sajak. Akibatnya ialah, bangunan sajak menjadi rapuh (kalau tidak runtuh), atau cenderung menjadi sketsa. Sebaliknya, bisa pula sangat sesak, sukar meninggalkan jejak kesan yang mendalam. Di sinilah perlu kembali ditimbang: kampung-halaman, sumber berkah atau sumber kutukan? Kalau tidak, kampung-halaman sebagai konsepsi estetis, sebagai solilokui penyair, tak akan kunjung terumuskan.

Ada baiknya kita sedikit berbanding dengan muatan kampung-halaman D Zawawi Imron, terutama pada sajak-sajak awalnya yang begitu intens menggumuli alam Madura. Realitas alam Madura diolah secara simbolik, sehingga maknanya lebih luas dan universal. Rantau dan pelayaran misalnya, tidak hanya bermakna harfiah, namun memiliki dimensi spiritual. Begitu pula daun siwalan, clurit, sapi karapan, pondok garam dan perahu cadik membentuk dimensi makna yang lebih luas, berdimensi dan kaya-raya. Bahasa ungkap yang sederhana simetris dengan kesederhanaan kampung-halamannya. Dan yang paling menarik adalah terciptanya sajak-sajak yang surealis di tengah realitas alam sehari-hari, sebagai antipoda terhadap kemapanan yang ada.

Ini sebuah tantangan menarik buat Marhalim. Sebab bukankah ungkapan “Segantang Bintang, Sepasang Bulan” setara dengan “Bantalku Ombak, Selimutku Angin” atau “Bulan Tertusuk Lalang”, juga “Berlayar di Pamor Badik” — yang menyiratkan kekayaan simbolik kampung-halaman?

Raudal Tanjung Banua, penikmat sastra, tinggal di Sewon, Bantul.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com